Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

n a k e d

Death.

Itulah namaku. Terdengar menyeramkan, huh?

Well, seseram apapun namaku terdengar, penampilanku sesungguhnya jauh dari istilah menakutkan. Kau mungkin tidak mengetahui hal ini, tapi aku adalah salah satu makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengubah wujudku. Semacam shape-shifting, kau tahu.

Sekarang, apa sudah terdengar lebih baik?

Walaupun begitu, tentu saja aku bukan ahli sihir atau tokoh cerita fantasi yang dapat berubah seenaknya. Aku adalah prajurit kematian, seorang grim reaper, malaikat pencabut nyawa, pasukan Anubis, atau apapun yang dapat kau sebutkan sebagai 'kurir' ke dunia roh. Dengan kemampuan tadi, aku tidak perlu mengenakan jubah hitam dan memegang sabit raksasa selama dua puluh empat jam seperti yang kalian, manusia, bayangkan. Sejujurnya, baju itu bahkan membuat neraka seratus kali lebih panas ketika aku mampir ke sana atau membuatku terpeleset ketika tidak sengaja menginjak bagian bawah jubah konyol itu. Not cool. Jadi, aku, sebagai Sang Kematian yang menyukai kemudahan, berpikir untuk memanfaatkan kemampuan ini.

Aku bersumpah aku dapat menjadi Beyonce Knowles ataupun Donald Trump dalam satu jentikan jari. Tetapi, berubah menjadi keduanya tidak akan memudahkan pekerjaanku. Maka, kupikir aku akan mencari profil lain yang lebih sederhana, yang tidak akan membuat klienku berteriak histeris ketika aku hendak menjemputnya.


Kala itu, aku tengah berdiri di sudut ruangan, seperti biasa. Tugasku di hari yang cerah itu adalah menjemput seorang wanita berusia dua puluh enam tahun. Ha-ha. Wanita muda selalu menjadi favoritku. Mereka selalu menjadi yang paling naif dan rentan. Paling-paling mereka hanya akan memelas dan menangis saat kujemput. Sulit untuk mengatakan aku tidak terhibur oleh rengekan mereka.

Dari apa yang kulihat, wanita itu adalah seorang perancang busana. Kurasa ia sangat menyukai pekerjaannya, karena ia masih menyempatkan diri untuk menggambar busana pesanan di hari terakhirnya. Aku menatap sebuah televisi besar yang menempel di dinding kuning kamarnya. Sebuah saluran tengah menyiarkan acara peragaan busana yang kutebak berada di New York. Beberapa kali wanita itu terpana dan tersenyum lebar, memandang lekat-lekat pakaian yang dikenakan model-model itu. Aku tidak mengerti. Untukku pakaian-pakaian itu sangat aneh dan konyol. Tetapi wanita ini terus berseri-seri menonton acara itu, tidak menghiraukan selang oksigen yang tengah tertanam di hidungnya. Hingga beberapa menit kemudian ia terperanjat girang. Seperti sebuah bohlam lampu mencuat dari kepalanya yang mulus tanpa sehelai rambut. Ia pun mengernyit, dan menyembulkan ujung lidahnya. Tangannya mulai menggambar lagi. Bergetar sedikit, namun tanpa keraguan.

Aku bergeleng, memejam mata sembari menyandarkan kepalaku ke dinding kamar rumah sakit yang pucat dan dingin itu. Kupikir aku akan mengulur waktu mengulur waktu barang sedikit untuk membiarkannya menyelesaikan gambar itu. Apa yang dapat kukatakan? Lima tahun terbelenggu dengan pekerjaan ini rupanya masih belum membuatku kebal dengan perasaan-perasaan manusia. Aku dapat merasakan kesedihan, penyesalan, maupun kebahagiaan saat aku menyentuh roh mereka dengan tanganku. Tidak seperti para senior yang dengan santai menguap saat menjemput seseorang.

Aku tidak ingin membuat diriku menjadi grim reaper yang cengeng, tapi aku dapat merasakan keinginan hidup yang membara dalam diri wanita ini. Sayang sekali, aku hanya seorang kurir.

Jam menunjukkan pukul 3 siang. Acara peragaan busana itu sudah usai sejak dua puluh menit yang lalu. Begitu pula, wanita itu, yang sekarang tersenyum memandang sketsanya di sebuah buku tebal yang kusam. Aku bergerak mendekatinya, diam-diam ikut melihat gambar itu.

Jaket kulit hitam dengan aksen emas, kaus hijau bertuliskan Gucci tanpa lengan, celana jeans hitam, serta combat boots cokelat menyita perhatianku. Tidak buruk, ujarku dalam hati. Kupikir kau akan terlihat bagus mengenakan semua itu.

Yeah, aku harus mengenakan itu.

Aku pun memutuskan bahwa wanita itu menjadi salah satu manusia yang berpengaruh untukku, dengan membiarkan rancangannya menjadi inspirasiku melarikan diri dari jubah hitam konyol itu.

Saat hendak bertransformasi, aku tiba-tiba teringat akan apa yang Sheet Face, temanku, katakan.

"Ketertarikanmu terhadap sesuatu dipengaruhi oleh siapa jati dirimu di masa lalu, kawan."

Aku pun bergidik. Aku akan berbohong jika ia tidak membuatku bertanya-tanya bagaimana rupaku yang sebelum menjadi seorang grim reaper.

Diingat-ingat, kisahku dengan perancang busana muda itu terjadi hampir setahun yang lalu. Aku berakhir mencabut nyawanya terlambat, setelah para seniorku marah-marah karena mereka menemukanku mengulur waktu penjemputan. Well, waktu adalah uang, bahkan di dunia kematian sekalipun.

Berangkat dari cerita sejarah fashion-ku, hari ini—seperti biasa—aku kembali bekerja. Klienku kali ini seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang mengalami leukemia. 

Sigh.

Dari seratus orang yang kutangani, 70% di antaranya melakukan pertempuran dengan virus kanker. Aku membencinya, kau mau tahu mengapa? Karena orang-orang yang terkena virus itu selalu menjadi yang paling menyedihkan. Mereka hanya dapat menjerit kesakitan dan meringkuk ketakutan, hingga mereka tidak lagi mampu melakukan kedua hal itu. Aku benci itu, karena tentu saja, kengerian mereka lagi-lagi memengaruhi suasana hatiku.

Pekerjaan hari ini mengharuskanku menyusuri sebuah lorong, lorong yang sungguh bersih dan steril kupikir. Sampai-sampai kilau lantai dan temboknya membuatku takut kalau bayanganku akan terpantul dan 'terlihat'.

Aku menghela napas panjang. Jendela-jendela besar berjajar di sepanjang jalan, membiarkan matahari menghujaniku dengan sorotnya. Beberapa perawat dan dokter berpapasan denganku, membawa aroma obat-obatan yang menempel pada seragam mereka. Dengan cepat aku berbelok ke kanan, menuju bagian rumah sakit yang senyap.

Sejujurnya, aku sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik untuk berurusan dengan manusia hari ini. Kejadian semalam membuatku terus berkerut masam dan berdecak kesal sejak pagi tadi. Bagaimana tidak? Pria tua cebol dan bodoh memaki-maki diriku dengan perkataan kasar saat aku hendak baik-baik mengajaknya 'pulang'. Dan, tentu saja, ia sangat merasa harus menggigit tanganku.

Ugh. Manusia bisa menjadi begitu bodoh, bahkan ketika mereka sudah mati. Hanya karena ia tidak bisa menerima kematiannya, lalu kesalahan ada padaku. Ayolah! Aku hanya menjalankan tugas dari secarik kertas papirus yang dikirimkan setiap hari oleh bosku, Tuhanmu. Bukan salahku jika namamu tercantum di sana, 'kan?

Aku berharap gadis yang satu ini tidak membuatku lebih jengkel lagi atau, aku bersumpah, aku tidak akan segan menjadi jahat.

"Tiga kosong empat," ucapku, mengingat-ingat nomor kamar sang gadis.

Segera kutemukan tiga angka itu terpaku di atas sebuah pintu kayu ek biru di ujung lorong. Dari sini dapat kukatakan pintu itu terbuka. Tidak terlalu lebar bagi seseorang untuk melihat ke dalam, namun tidak terlalu sempit untukku melewatinya. Aku pun mendekat sembari menyisir rambutku yang sedikit berantakan dengan jemari.

Here we go again, human.

Baru saja hendak kesembulkan kepala ini dari balik daun pintu ketika sebuah nyanyian menghentikanku. Nyanyian itu begitu lembut. Selembut harpa yang mengalun. Aku tidak terkejut jika ada seorang penyanyi opera di dalam sana. Tapi, terkaanku itu meleset saat aku—pada akhirnya—menyelisip ke dalam kamar ini.

There she is.

Seorang gadis tengah berdiri menghadap ke luar jendela. Tampak jelas rambutnya yang legam namun tipis diterpa cahaya matahari. Aku bahkan bisa melihat kulit kepalanya yang putih dengan jarak tujuh kaki di antara kami. Seutas selang kecil menghubungkan tangannya dengan tiang infus. Ini tentu bukan pemandangan yang biasa kulihat dari seorang penderita leukemia stadium akhir, mengingat mereka seharusnya sedang sekarat di atas tempat tidur.

Aku terdiam, tidak tahu bagaimana cara menghampiri gadis ini. Mengambil jiwanya diam-diam--seperti booyah!--hanya akan memicu pembelotan. Kejadian menyebalkan semalam membuatku tidak sudi menghadapi satu lagi jiwa yang anarkis hari ini. 

Sebelum aku mampu menentukan pilihan, sesuatu yang selanjutnya terjadi benar-benar mengejutkan.

"Jonah?"

Tanpa kusadari nyanyian itu telah berakhir semenit yang lalu. Sebuah pertanyaan justru menggantikannya.

Err, what?

"Jonah! Itu kau, ya ampun!" Gadis itu berseru.

Aku pun segera menoleh ke kanan-kiri, mengantisipasi kehadiran manusia bernama Jonah di belakangku.

Namun, uh-oh.

Tidak ada Jonah di belakangku.

Sekejap saja aku meninggalkan gadis itu dari pengawasanku, kini ia telah berada tepat di hadapanku. Mata birunya menatapku lekat-lekat. Dan kuyakin bibir kering serta pucat itu pun sedang tersenyum padaku.

Awalnya, aku ragu ia bisa mendengarku, namun melihat apa yang baru saja terjadi, kurasa tidak ada yang tidak mungkin. "Kau bisa melihatku?"

"Tentu saja! Hanya hantu yang tidak bisa kulihat, Jonah. Bukan manusia," balasnya sambil tertawa geli.

Baiklah. Gadis ini menyeramkan.

"Uh-oh, ini bukan hal bagus."

Biasanya manusia dapat melihatku hanya atas seizinku. Aku tidak akan memutuskan untuk terlihat jika waktu belum benar-benar menunjukkan detik-detik terakhir. 

"Jonah Rhys Matthewson!" Gadis ini mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Dari mana saja kau selama ini, huh? Kau bilang kau akan mengunjungiku setiap hari kalau aku mau dirawat inap. Tapi ... tapi, kau tidak pernah datang."

"Umm ... ."

"Aku menagih penjelasan!" Nadanya meninggi, namun senyum usil itu tidak juga meninggalkan wajahnya.

Shit. Kurasa ini pertama kalinya seseorang membuat grim reaper  tersudutkan.

"Aku bukan Jonah. Sama sekali bukan Jonah. Namaku De—"

"Kau bohong! Buktinya kau memakai jaket favoritmu. Dan wajahmu ... mana mungkin aku melupakanmu, bodoh."

Aku mengigit bibirku. Damn. Kurasa aku tahu mengapa ia berada di dalam daftar kematian hari ini. Ia terlalu hidup untuk ukuran orang sekarat.

"Aku bukan Jonah, apa kau tuli?"

"Hei! Aku ini penderita leukemia, bukan tuli," sahutnya sambil menjulurkan lidah, "dan tentu saja, aku pun tidak buta untuk mengetahui kalau kau adalah Jonah."

"Berhentilah menjadi keras kepala. Aku bukan Jonah-mu. Meskipun ... yeah, aku ke sini untuk menjemputmu."

Senyumnya seketika sirna. Kini, kedua alisnya bertautan. "Huh? Ini sudah waktunya, ya?"

"Ya, ini waktunya." Aku menghela napas. Lega kesalahpahaman ini berakhir.

"Tapi, tadi perawat Annie baru saja bilang aku tidak akan pulang hingga minggu depan. Apa kau yakin kau telah mengurus perizinannya?"

Slap!

Biar kutarik ucapanku tadi.

"Tidak, tidak! Bukan itu maksudku. Pulang yang kumaksud adalah pulang ... ke rumahmu di 'sana'."

"Rumahku? Oh, tidak, Jonah. Ibu dan Ayah akan memarahiku kalau aku pulang sekarang. Mereka tidak akan mengizinkanku. Mereka bilang aku masih lemah. Yah, meskipun anehnya, aku belum juga merasa lebih baik sejak pertama kali menginjakkan kaki di kamar ini sebulan lalu."

Lagi-lagi aku terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Biasanya aku tidak membutuhkan waktu lama untuk menangani klienku. Terutama penderita kanker. Kau tahu, mereka terlalu lemah untuk berdebat. Dan tentu saja, tidak mengajakku berbicara seperti teman.

"Berbaringlah, Ilsa. Aku akan menjelaskan sesuatu padamu." Melihat tubuhnya yang kurus kering berdiri sejak tadi membuatku meringis. Tidak sepantasnya ia seenergik ini.

Gadis itu untuk pertama kalinya mengindahkan ucapanku dan mulai melangkah ke arah tempat tidur. Tiang infus mengekor di belakangnya dan begitu pula aku, sembari melayangkan pandangan pada setiap inci kamar ini.

Aku tidak ingin berkomentar, namun kamar ini terlihat lebih sederhana dari mayoritas kamar lain di Harris Paxton Hospital. Aneh, mengingat sang gadis adalah putri pengusaha retail terkaya di Amerika Serikat. Kertas papirus tidak akan pernah salah mencantumkan identitas. Gadis ini seharusnya berada di lantai yang ddedikasikan untuknya seorang bahkan.

"Jonah, jujurlah. Tidak apa-apa, aku tidak akan membencimu." Gadis itu kini terbaring, wajahnya mengukir kegelisahan.

"Dengar." Aku menghela napas, mengambil jeda sebelum memulai penjelasan yang sepertinya tidak akan berakhir dengan singkat. "Pertama, aku bukan Jonah Rh—siapapun itu. Namaku Death." Ia sedikit terbelalak, seakan kepala keduaku baru saja tumbuh. "Kedua, aku ke sini tidak untuk membawamu pulang ke rumah. Maksudku, ya, aku akan membawamu pulang ... hanya saja ke alam baka, kau tahu. Dimana temanku nanti akan menentukan destinasi akhirmu, apakah surga atau neraka. Semacam itu."

Ilsa pun tertawa mendengarku, kemudian terbatuk. "Kau ... Death? Surga dan neraka? Apa matahari San Diego akhirnya memanggang otakmu?"

Aku menggulirkan bola mataku. "Aku serius."

"Aku pun serius."

"Tidak, dengar! Aku ini benar-benar Kematian. Grim reaper! Aku mengambil jiwamu dan memasukkannya ke dalam kantung jiwa. Aku bisa kapan saja membuktikannya kalau kau meragukanku."

"Apa?  Mengambil jiwaku dengan tanganmu itu? Kau bahkan tidak tahu cara memetik bunga untukku, Jonah," tantangnya.

"Sudah kubilang, aku bukan Jonah! Namaku Death. D, E, A, T, H." Aku mendesah. Ia benar-benar membuang-buang waktuku.

Tiba-tiba, sebuah ide terbersit. Sempurna! pikirku. Seekor burung gereja yang tengah bertengger di jendela akan menjadi pembuktianku. Dengan cepat aku menunjuk ke arah burung malang itu. Sang gadis pun menoleh kebingungan.

"Lihat ini."

Aku pun mengarahkan tanganku pada burung itu. Meskipun jarakku dan sang burung malang itu terpaut jauh, aku masih bisa merasakan detak jantung kecilnya. Perlahan aku beraksi, membuat gerakan seperti memutar. Ketika kurasakan detak itu semakin kencang, aku menggepalkan tanganku kuat-kuat. Snap! Hanya semudah itu, burung itu pun tumbang, hilang dari pandangan kami.

"Ugh ... kau membunuhnya?"

Aku mengangguk. "Yep! Sudah kukatakan, 'kan?"

"Ha-ha-ha. Bagus sekali trikmu! Di mana kau mempelajarinya?" Sekali lagi ia mencoba mempercayai hal sebaliknya. Gadis bodoh.

Aku pun mengunci mulutku sambil berharap ia mengenali ekspresi tertawalah-sekali-lagi-dan-aku-akan-membunuhmu di wajahku ini.

"Huh ... baiklah, baiklah! Aku memercayaimu. Jadi, kau ... um ... Kematian, begitu?" lanjutnya.

"Kukatakan itu beratus-ratus kali tadi." Aku mendengus. "Tidakkah kau takut padaku?"

"Takut? Tidak."

"Kau sudah tahu aku akan datang, huh?"

Tidak banyak orang yang mengetahui waktu kematiannya, atau dalam hal ini, kedatanganku. Sebagian besar menganggapku bualan semata. Sebagian berbalik menghardik saat kami datang. Tepat seperti yang dilakukan si pria tua idiot semalam.

"Tidak juga." Ilsa tersenyum kecil. "Kau tahu sesuatu yang menyedihkan? Bahwa aku mungkin akan mati dengan cepat karena penyakit ini. Tapi, tenang saja.  Aku akan berjuang untuk bertahan."

Aku pun duduk di salah satu sofa kecil di samping tempat tidurnya, melipat kakiku dan melebarkan tanganku pada bahu sofa. "Coba saja."

"Apa?"

"Aku Death, kau tahu. Aku yang ditugaskan untuk menjemputmu."

"Jadi, maksudmu?"

"Rayulah aku. Mungkin aku bisa mengulur barang satu atau dua jam."

Ia mengernyit. "Benarkah? Satu-dua jam? Rayuanku hanya bisa membeli waktu sependek itu?"

"Ambil atau lupakan. Aku sedang mencoba bermurah hati," ucapku sembari mengintip arloji dari balik lengan jaketku.

Gadis ini pun terkekeh. Sesuatu dari ucapanku sepertinya terdengar menggelikan. "Kau sungguh mirip Jonah."

"Jonah, jonah, jonah," desahku. "Mengapa kau terus-menerus menyebut nama itu? Kau membuatku berpikir dia adalah pacarmu atau semacamnya."

"Jonah itu kakakku," balasnya.

"Oh."

"Jonah Rhys Matthewson dan Jacquelyn Ilsa Matthews adalah kedua anak pasangan Matthew Pollock dan Nina Pollock. Bukan maksudku menyombongkan diri, tapi pernah dengar nama-nama itu?"

Kepalaku bergeleng. "Aku tidak mengenal siapapun selain nama-nama yang tertera di kertas papirus."

"Kertas papirus apa?"

"Semacam berkas mengenai keterangan diri klienku. Kau klienku sekarang, namamu ada di kertas itu. Artinya, kau akan mati sebentar lagi."

Ilsa pun tertawa sambil memegangi perutnya. Tangannya yang dipenuhi bintik-bintik gelap terlihat berusaha mengatasi getaran tubuhnya. "Kau membuat hal itu terdengar seratus kali lebih menyeramkan."

"Bukan aku yang membuatnya menyeramkan, tapi fakta di baliknya. Lagipula kau memang seharusnya takut, eh?" godaku.

"Kurasa aku tidak takut mati."

"Bagaimana bisa?"

"Kalau orang-orang di alam sana sama sepertimu, tidak ada alasan untuk takut."

Well, gadis ini tidak tahu apapun tampaknya. Beruntung aku bukan Shit Face yang mudah meledak-ledak. Gadis ini mungkin sudah terseret berapa juta kilometer jauhnya dari bumi.

Menuju neraka.

"Hei, hei. Aku mungkin mencintai perdamaian. Tapi, jangan sekali-kali kau berpikir bahwa yang lain akan menerima ucapanmu itu. Alam kematian jauh lebih buruk dari bumi."

Isla bergeleng. "Bumi lebih buruk dari kematian."

Aku pun menatapnya takjub. Sungguh manusia dapat menjadi begitu keras kepala bahkan saat yang diketahuinya adalah nol besar. Mereka pikir kematian adalah jalan yang lebih baik dibanding kehidupan. Mereka salah besar.

"Pendapatmu itu tidak valid, kau belum merasakan kematian. Tepatnya, tidak akan merasakannya jika aku masih terus di sini mengobrol denganmu."

Isla menggendikkan bahunya. Sorot matanya yang semula hinggap padaku kini pindah ke langit-langit. "Aku sedang berusaha membeli waktu, ingat?"

"Aku tahu."

"Omong-omong, apa kau selalu seperti ini? Maksudku, menjadi 'oh-tuan-pencabut-nyawa' setiap saat."

"Yep."

"Kedengarannya membosankan."

Aku mengaruk keningku. "Setidaknya lebih baik dari Melon."

"Melon siapa?"

"Si resepsionis. Ia melayani 500 jiwa setiap harinya. Kau pun nanti akan bertemu dengannya. Dia yang mengatur kependudukanmu di alam baka."

"Well, kau benar juga. Itu buruk sekali," ujarnya. "Tapi, apa kau pernah menjadi manusia sebelumnya? Kau tahu, seperti tumimbal lahir. Kau percaya pada hal itu? Semua orang percaya."

Aku mendengus. Ini bukan pertama kalinya aku mendapat pertanyaan itu, pertanyaan yang selalu membuatku gugup tiba-tiba. Entah apa penyebabnya. "Mungkin."

"Keren!" pekiknya. "Kau ingat siapa dirimu dulu?"

"Tidak."

Ya, bagian itu memang benar, sayangnya. Aku tidak bisa mengingat apapun tentang kehidupanku dulu. Hanya ada lubang hitam yang muncul di dalam kepalaku setiap kali aku mencoba mengingatnya. Sampai suatu hari aku memutuskan untuk meninggalkan topik itu.

"Sayang sekali! Aku hampir berharap kau bisa menceritakannya."

"Aku bahkan tidak seharusnya duduk di sini dan mengobrol denganmu, kau tahu. Bosku akan memarahiku jika ia menemukanku di sini bergaul denganmu."

Ilsa tersenyum. "Baiklah, maafkan aku."

Kembali mataku berputar-putar menghinggapi benda-benda di kamar ini. Ada sebuah vas bunga tanpa bunga di pojok ruangan sana. Di sampingnya, televisi 48 inci menempel di dinding berlapis kertas. Korden terbuka lebar, membuat cahaya matahari mendominasi ruangan ini. Tidak membutuhkan waktu lama hingga mataku akhirnya berlabuh pada sebuah foto di samping tempat tidur Ilsa. Aku mendekat, meneliti rupa seorang gadis di dalam foto itu.

Itu Ilsa, dalam versinya yang jauh lebih sehat dan kuat. Warna rambutnya yang hitam legam seakan mengkonfirmasi hal itu, bahwa gadis penunggang kuda di foto dan gadis yang kini terkulai lemah adalah Ilsa yang sama.

"Itu aku," Ilsa berkata pelan, "dua tahun yang lalu, saat memenangkan perlombaan menunggang kuda di Kentucky."

Aku menoleh padanya. Mata kami bertemu, namun bukan sekadar pertemuan biasa. Ia seakan menyampaikan kerinduannya terhadap sesuatu. Pipinya yang tirus sangat jauh berbeda dengan pipi kemerahan milik gadis di foto itu. Di sana ia tengah mengenakan seragamnya yang berwarna biru tua, serasi dengan celana putih dan sepatu bot hitam. Sebuah pelindung kepala berada di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang erat tali kekang kuda. Ia tampak begitu bangga. Aku dapat melihatnya dari postur tegap dan deretan gigi putih yang dipamerkannya.

Entah bagaimana pemandangan ini membuat terdiam. Penyebabnya bukan karena ia terlihat begitu menawan saat itu. Namun pada kenyataan bahwa, hanya dua tahun. Dua tahun, waktu yang dibutuhkan penyakit keparat ini untuk mengubah segalanya.

"Kau terlihat hebat."

Ilsa tersenyum. "Ohh ... kau benar-benar harus melihat bagaimana aku dan Jack, kudaku, saat kami beraksi. Jonah selalu bilang kalau aku gadis paling keren di antara kontestan lain."

"Kurasa dia mengatakan yang sejujurnya," sahutku, kembali memandangi foto itu kemudian beralih pada foto lain. "Apa ini foto keluargamu?"

"Iya."

Aku bisa menemukan Ilsa, lagi-lagi, tampak menawan dengan gaun sore hijau yang ia kenakan. Di samping kiri-kanannya adalah dua orang yang kutebak Tuan dan Nyonya Pollock. Lalu, seorang laki-laki muda juga tampak di sana, menyembulkan kepalanya di samping Mr. Pollock dengan senyuman lebar.

"Apa dia Jonah?" tanyaku, merujuk pada laki-laki itu.

Ilsa menggerakkan kepalanya naik-turun. "Itu dia. Melihatnya sungguh seperti bercermin, 'kan?"

"Sampai sejauh itukah kemiripanku dengannya?" Aku mengangkat alisku sambil berjalan mundur menuju sofa.

"Tentu saja!" Ia tertawa geli.

"Aku ini ... bukan manusia, kau tahu. Aku tidak pernah bercermin. Jadi, aku tidak tahu."

Mata Ilsa seketika melebar. "Oh! Maaf, aku lupa."

"Tidak apa-apa. Ini salahku membiarkanmu akrab denganku dan akhirnya kau lupa kalau aku yang akan mencabut nyawamu."

"Jadi, kau 'membiarkanku' akrab denganmu?" Ia melontarkan pertanyaan yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan.

"Hanya sebentar saja sebelum aku mengambil jiwamu."

"Uh-oh ... kau melakukannya lagi!" serunya.

"Apa?"

"Menjadi menakutkan! Kau tidak mau menjadi penyebab kematianku, 'kan? Ayah dan Ibu bisa membawamu ke pengadilan."

Aku tertawa sambil bergeleng. Gadis ini benar-benar aneh. "Dan kau melakukannya lagi." 

"Apa?" tanyanya dengan polos.

"Kau lupa kalau aku ini Death. Berita baiknya? Pengadilan tidak melayani perkara dengan malaikat pencabut nyawa."

***

Ilsa dan diriku akhirnya menghabiskan setengah hari berbincang-bincang, juga bergurau.

Saat seorang perawat berkunjung untuk melakukan pemeriksaan, maka Ilsa akan berlagak seorang diri di kamar ini. Well, memang benar kenyataannya ia hanya seorang diri. Mereka tidak bisa menghitung diriku sebagai seorang penjenguk, 'kan?

Berbicara tentang penjenguk, aku bertanya-tanya. Ke mana mereka? Hari ini adalah hari Minggu, namun tidak ada satupun yang berkunjung. Bahkan hingga detik ini, saat tengah malam hanya berjarak lima belas menit lagi.

"Di mana ayah dan ibumu?" tanyaku, merobek keheningan.

Ilsa segera mengembuskan napas. Rasanya aku baru saja melihat sebersit kekecewaan di matanya.

"Mereka mungkin sibuk."

"Di hari Minggu?"

"Uh-uh. Entahlah, mereka selalu begitu. Saat berada di rumah, aku pun jarang bertemu dengan mereka. Hanya sebatas hitungan jari pertemuan kami dalam seminggu," jelasnya dengan nada yang membuatku sesak dengan penyesalan. Lagi-lagi, suasana hatiku terpengaruhi. "Biar kukenalkan kau pada mereka suatu saat nanti. Apalagi Jonah, ia pasti terkejut meli—"

"Ilsa," potongku.

"Ups! Salahku." Ia terkekeh, namun anehnya kesedihan itu tetap tinggal di pelupuk matanya. Atau ini hanya penglihatanku yang mulai kabur? "Nanti adalah waktu yang sangat lama, ya? Aku pasti sudah mati sebelum hal itu terwujud."

"Benar," jawabku jujur.

Ilsa menghela napas. Kemudian menerorku dengan tatapannya yang berkilau. "Kau begitu ... manusiawi dan realistis ketimbang manusia sendiri, kau tahu?"

"Itulah alasan mengapa mereka menamaiku Kematian yang Baik Hati."

"Nama itu cocok untukmu."

Aku berdeham. "Kau lihat betapa ironisnya diriku? Bukan maksudku membuatmu tersinggung, aku seharusnya sudah mencabut nyawamu sejak tadi. Namun, di sinilah aku, melanggar kode etik Kematian dengan menjadi temanmu. Terkutuklah aku dengan rasa iba ini."

"Kita memang teman, bukan?" Ilsa tersenyum lemah, kantuk kini tampak menyerang matanya.

Apa kami teman? Aku bertanya-tanya.

Ini seharusnya tidak terjadi. Tidak ada kisah tentang pencabut nyawa yang berteman dengan kliennya. Tidak akan pernah ada. Aku hanya ditugaskan untuk mengambil jiwanya, mengantarnya ke alam baka. Bukan menemaninya seharian seperti seorang sahabat. Ini sebuah kesalahan.

Tapi, mengapa ini terasa benar?

Aku menghela napas. Tak kusangka ia cepat jatuh terlelap—atau setidaknya itu yang kupikirkan—sampai aku memutuskan untuk memanggil namanya dan ia menjawab seketika. Suaranya lembut, selembut nyanyian yang siang tadi kudengar.

"Sudah waktunya, ya?"

Aku menanti. Menanti rasa takut dan kengerian yang seharusnya menggerogoti gadis ini. Akan tetapi, Ilsa tidak memberikanku barang sedikitpun. Ketakutan telah tersapu sejak lama dari wajahnya. Ia hanya terpejam, sesekali menghela napas dengan berat. Ini aneh. Aku tidak mengharapkan ketenangan dari seorang diri Jacquelyn Ilsa Matthews, kau tahu. Ia bisa saja menelepon ayahnya sejak tadi atau lebih buruk, menelepon pastor atau pengusir setan untukku, namun ia tidak melakukannya. Sesungguhnya, yang ia lakukan kini membuat pekerjaanku terasa ringan sekaligus berat untuk pertama kalinya.

"Lagu yang siang tadi kau nyanyikan, aku ingin mendengarnya. Sekali lagi."

Perlahan bibirnya terbelah. Ia pun mulai bernyanyi. Begitu pelan, memang, sampai mustahil rasanya bagi manusia biasa untuk mendengarnya. Perlahan pula air mata mengalir dari pelupuk matanya. Membasahi wajah pucat gadis ini. Sejujurnya, inilah yang kutunggu-tunggu. Air mata. Namun, semakin banyak air mata itu bercucuran semakin sesak dadaku dibuatnya. Mustahil bagi seorang manusia untuk menyakiti Kematian. Tetapi, yang dilakukan Ilsa seakan menyanggah teori itu.

Aku mendekat. Kuletakkan tanganku di atas bahunya. Kulihat berbagai alat penopang hidup terpasang di tubuhnya yang kurus, menembus kulitnya yang rapuh. Mengapa ia, seseorang yang lebih layak hidup dibandingkan seratus manusia lain, harus mati? Mengapa bukan nama para pelaku teror atau pejabat korup itu saja yang tertera di atas kertas papirus? Apa ini sesungguhnya pengampunan Tuhan? Bahwa ia mengambil orang yang baik untuk bergabung ke dalam kerajaan-Nya dan membiarkan orang jahat membusuk di bumi?

Bagi Ilsa, pilihannya seakan hanya dua, mati atau hidup sengsara.

"Ini waktunya," bisikku.

Ilsa mengangguk. Saat inilah tangisnya menjadi-jadi. Tetapi, kemudian ia merapatkan mulutnya sendiri, menghirup napas dalam-dalam sebelum membuangnya perlahan.

"Kau takut?" tanyaku lagi.

"Apa aku akan bertemu denganmu lagi nanti?" Ia bertanya lirih, mengabaikan pertanyaanku.

Aku tahu bahwa hal itu tidak mungkin. Hanya saja, bagaimana ia menatap penuh harapan membuatku ingin mengatakan hal yang sebaliknya. Bahwa aku rela menerobos neraka sekalipun untuk menemuinya.

Dengan tersenyum, aku membalas, "Tidak ada yang tidak mungkin, kau tahu. Ada alasan mengapa kau tidak muncul di kertas papirus kemarin. Ada alasan mengapa kau tetap bernapas sejauh ini. Ada alasan mengapa aku baru menemuimu hari ini, Ilsa. Kau selamat sejauh ini berkat semangatmu, keyakinanmu. Itu sesuatu yang tidak semua orang miliki, Ilsa. Jadi ... jaga yang satu itu, ya?"

Ilsa hanya menggigit bibirnya sambil menyapu air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir. "Ayah, Ibu, Jonah. Aku mencintai kalian. A-Aku ... aku ... tidak takut. Aku akan baik-baik saja."

Inisaatnya, pikirku.

Sekuat apapun aku ingin menolongnya, aku hanyalah seorang grim reaper. Tugasku adalah menjadi penjemputnya dan tidak ada sedikitpun yang dapat kulakukan untuk berbuat sebaliknya. Maka, dengan satu sentuhan aku pun menenangkannya. Dengan satu sentuhan aku mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan dengan satu sentuhan, aku mengakhiri penderitaannya.

Let the last breath be your last fight, Ilsa.

THE END

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com