Chapter II
Setelah berdebat sebentar, Junghwan dan Doyoung memutuskan untuk makan di salah satu restoran yang paling dekat dengan rumah sakit, Doyoung jelas enggan berlama-lama bersama Junghwan di dalam mobil besar miliknya yang nampak menakutkan dari luar.
Junghwan sempat mengajak Jaewon untuk sarapan bersama, namun bawahannya itu menolak dan berkata bahwa ia sudah cukup dengan sashimi yang dirinya habiskan tadi malam.
Kini keduanya berjalan menjauh dari ruang autopsi, sudut bibir Junghwan terangkat ketika mendengar suara berdecit yang berasal dari alas kaki yang Doyoung gunakan.
"Umurmu berapa?" Tanya Junghwan tiba-tiba, Doyoung nampak berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Desember ini dua puluh sembilan. Kamu bukannya udah tau? Kan kita seumuran?"
"Dua puluh sembilan tahun tapi masih pakai sepatu yang bunyi kayak gini?"
"Itu suara dari anti-slipnya!" Protes Doyoung tidak terima, "Kamu gak tau anti-slip? Ini berguna supaya saya gak kepeleset dan gampang jatuh kalau jalan." Lanjutnya, Doyoung sedikit berjinjit ketika menjawab kalimat Junghwan, berusaha menyamakan tinggi mereka.
"Okay okay, saya paham, Kamu gak usah jinjit gitu dong nanti malah jatuh beneran."
Doyoung berdecak pelan sebelum kembali berjalan keluar dari rumah sakit mendahului Junghwan, restoran yang hendak mereka kunjungi ada di seberang jalan, dan Doyoung nampak ragu untuk menyebrang karena kondisi jalanan yang cukup ramai di pagi hari.
"Kenapa? Takut buat nyebrang?" Tanya Junghwan, agenda meledek Doyoung tidak pernah gagal membuatnya terhibur.
"Saya nunggu kamu." Jawab Doyoung asal, tangannya bergerak untuk menarik ujung lengan jaket yang Junghwan kenakan.
Junghwan kembali tertawa sebelum menuntun Doyoung untuk menyebrang jalan, kepribadian dokter forensik ini sangat berbanding terbalik dengan pekerjaan yang ia tekuni.
Siapa yang menyangka bahwa Doyoung merupakan ahli bedah mayat? Berjam-jam menghabiskan waktu di depan jasad yang kadang sudah tidak terbentuk, berusaha mencari jejak dan penyebab kematian, menjadi tumpuan dari para keluarga korban yang butuh kepastian serta keadilan.
Jika mereka sedang bersama, Doyoung malah nampak seperti anak belasan tahun yang mengikuti pamannya ke tempat kerja.
Tepat setelah keduanya duduk di kursi yang berhadapan, Doyoung langsung memesan menu yang biasa ia makan juga dua botol soju, ia sangat ingin mabuk sekarang.
Bertemu dengan Junghwan sebenarnya tidak seburuk itu, ia memang sering menggoda Doyoung dan memancing amarahnya, tapi bukan itu yang membuat Doyoung stress hari ini.
"Kamu tau?" Ucap Doyoung setelah menenggak seloki soju pertamanya.
"Gak tau, kan kamu belum kasih tau."
Doyoung menghela napas, harusnya ia dorong saja kepala Junghwan ke budae jjigae yang sedang bergolak di depan mereka.
Tetapi Doyoung belum mau dipenjara.
"Sebenernya saya benci banget kalau ketemu kamu." Ucap Doyoung lagi.
Junghwan yang tadinya sibuk mengaduk makanan mulai mengangkat kepala, sebenci itukah Doyoung padanya?
"Karena kalau ketemu kamu, itu artinya ada satu mayat baru. Saya ngerasa bego banget karena sampai sekarang belum bisa dapetin jejak pelaku, korbannya udah empat belas." Jelas Doyoung panjang lebar, kalimatnya diakhiri dengan helaan napas panjang.
Andai Doyoung tahu kalau Junghwan juga sama frustasinya.
Kurangnya bukti juga memperhambat proses penyelidikan, pembunuh itu seakan tahu di mana titik buta cctv, tidak ada satupun jejaknya yang tertangkap kamera. Saksi mata pun nihil, tidak ada orang yang lewat selain korban di tempat kejadian.
Yang lebih tinggi ikut menghela napas, ia hendak menanggapi kalimat Doyoung namun ponselnya lebih dulu berbunyi.
"Kepala detektif." Ucap Junghwan, Doyoung mengangguk samar dan Junghwan dengan cepat menjawab panggilan.
Dari tempatnya, Doyoung tahu bahwa percakapan yang terjadi di depannya bukan berisi hal baik, raut Junghwan nampak menyebalkan. Kedua alisnya bertaut, ia juga berulang kali menggigit bibir bagian dalam, sedangkan tangannya malah sibuk membolak-balik sumpit di antara jemari.
"Kenapa? Diomelin lagi?" Tanya Doyoung begitu Junghwan meletakkan ponselnya di atas meja.
Jelas, Junghwan dibodoh-bodohi lagi hari ini. Keluarga korban terus menuntut keadilan, publik juga terus mendesak polisi agar bekerja lebih keras. Namun sekeras apapun usaha mereka, penyelidikan tidak mengalami kemajuan.
"As it should be, saya juga ngerasa bodoh karena gak bisa nangkep pelaku sampai sekarang."
Doyoung tertawa, ia lalu mengisi seloki kosong di depan Junghwan dengan soju yang hampir ia habiskan sendirian.
"You need a break, Detective So." Saran Doyoung.
"Tanpa break aja saya gagal buat usut kasus ini. Saya emang harusnya resign dari sini, jadi detektif gak semudah yang saya kira." Ucap Junghwan setelah menenggak soju di tangan. Kepalanya yang sempat menunduk kembali terangkat, ia menatap Doyoung yang kini sibuk mengisi mangkok kosong dengan makanan yang sudah matang.
"Tapi Doyoung." Lanjut Junghwan lagi.
"Ya?" Jawab Doyoung tanpa menghilangkan fokus pada makanan di depan.
"Saya gak pernah benci ketemu kamu."
Netra Doyoung mengerjap berulang kali, berusaha memproses kalimat Junghwan yang tiba-tiba. Saya gak pernah benci ketemu kamu, apa maksudnya?
"Ketemu kamu saya anggap hiburan karena emosimu yang susah ditebak." Ledek Junghwan dengan senyum jahil di wajah.
Doyoung berdecak dan hampir melempar sendok ke arah Junghwan, "Kamu jangan terlalu sering ngeledek saya." Protesnya kemudian.
"Kenapa?" Tanya Junghwan yang kini mulai menyantap makanan.
"Saya takut Jaewon ikut kurang ajar, dia bawahan kamu kan?"
Junghwan mengangguk, "Saya udah wanti-wanti dia supaya jaga sikap di depan kamu."
"Kenapa?" Tanya Doyoung heran.
"Dia emang harus hormat sama yang lebih tua, kan?" Jawab Junghwan, dengan sengaja menekankan kata tua, berusaha membuat Doyoung kesal.
"Well, since kita seumuran jadi saya gak tersinggung soal itu."
Yang lebih tinggi hanya tertawa mendengar jawaban Doyoung, sisa makanan yang ada mereka habiskan dalam diam, selain karena lapar, keduanya juga ingin cepat pulang. Ini pukul tujuh pagi dan mereka belum tidur sama sekali sejak tadi malam.
Junghwan sempat tidur sebentar di ruang autopsi, walau dengan perasaan khawatir karena takut Doyoung tiba-tiba membedahnya.
Sesuai perjanjian, Junghwan yang membayar sarapan mereka pagi ini. Ia sibuk di depan kasir sedangkan Doyoung menunggunya di bangku panjang yang ada di depan restoran. Setelah selesai membayar, Junghwan menyusul Doyoung lalu berdiri di hadapannya.
"Kenapa?" Tanya Doyoung begitu melihat Junghwan menunduk untuk menatapnya dalam jarak dekat.
"Pipi kamu memar, jatuh? Atau dipukul? Tapi tadi malam kayaknya belum ada?"
Tangan Doyoung bergerak untuk menyentuh pipi yang sebelumnya Junghwan pegang, "Kayaknya karena terlalu lama pakai double masker di ruang autopsi tadi." Ucapnya setelah melihat pantulan wajahnya sendiri melalui ponsel.
Dengan cepat Junghwan kembali masuk ke dalam restoran, Doyoung yang heran hanya diam sambil tetap menunggu di depan karena sebenarnya ia memang takut menyebrang sendirian, ditambah kepalanya mulai berat karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol tadi.
Tidak lama kemudian Junghwan keluar, kali ini dengan es batu yang dilapisi kain bersih di tangan.
"Kompres dulu, saya yakin kamu gak bakal kepikiran buat ngobatin ini di rumah nanti."
Sok tahu sekali, pikir Doyoung dalam hati. Tapi ia tetap membiarkan Junghwan mengompres pipinya dengan hati-hati.
***
"Saya anter." Ucap Junghwan, sedikit memaksa.
Keduanya kini berada di depan rumah sakit, di tempat mobil Junghwan terparkir sejak tadi malam. Junghwan berulang kali menawarkan diri untuk mengantar Doyoung yang nampak mabuk berat, tapi laki-laki itu terus menolak.
"Kamu mabuk, saya gak mau dianter sama orang mabuk. Apalagi naik mobil kamu yang serem ini."
Memar di wajah Doyoung sudah jauh berkurang, namun digantikan dengan semburat merah, efek alkohol yang cukup banyak ia konsumsi di restoran tadi.
"Saya cuma minum satu gelas kecil, itu gak bikin saya mabuk. Ayo saya anter." Ucap Junghwan lagi, sedikit memaksa karena ia mulai menarik lengan Doyoung untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Gak, saya mau naik bus." Tolak Doyoung sambil berusaha melepas jemari Junghwan dari lengannya. "Lepas gak? Sakit." Rengeknya kemudian, dan Junghwan terpaksa melepas pegangannya.
"Yaudah, ayo saya panggilin taksi."
"Gak mau, saya mau naik bus! Udah sana kamu pulang duluan."
Junghwan menghela napas, haruskah ia ambil obat bius dari dalam untuk membuat Doyoung tidak sadarkan diri? Setidaknya itu akan mempermudah upayanya untuk mengantar Doyoung pulang ke rumah.
"Kim Doyoung, Dokter Kim. Liat saya." Ucap Junghwan, ia memegang erat kedua bahu Doyoung, berusaha membuat laki-laki itu sadar sebentar dari mabuknya.
Kedua netra Doyoung yang hampir tertutup mulai terbuka lebar, ia lalu menatap Junghwan yang sedikit menunduk di depannya. "Apa?" Omelnya dengan bibir merengut.
"Kamu mabuk, kamu pikir supir bus bakal ngebolehin orang mabuk buat masuk ke dalam transportasi umum yang isinya anak sekolah sama orang tua?"
Walau kesadaran Doyoung hanya tersisa hampir setengahnya, ia mengangguk setuju, kalimat Junghwan ada benarnya. "Harusnya saya gak mabuk." Ucap Doyoung sambil memukul kepalanya sendiri. Dirinya merasa bodoh karena memutuskan untuk mabuk di pagi hari.
Tangan Junghwan bergerak naik, meraih tangan yang lebih kecil agar berhenti. "Karena udah terlanjur mabuk, saya anter kamu pulang. Saya janji bakal pelan-pelan, saya gak akan ngebut dan gak akan bikin kamu celaka." Bujuk Junghwan lagi, Doyoung melirik mobil besar Junghwan dan pemiliknya bergantian.
"Janji?" Tanya Doyoung dengan kelingking di depan wajah.
Junghwan tertawa sebelum ikut melingkarkan kelingkingnya di sana. "Janji."
Dan untungnya Junghwan menepati janjinya, ia membawa mobil dengan sangat hati-hati, membelah jalanan Seoul menuju apartemen yang Doyoung huni.
Ini pertama kalinya Junghwan mengantar Doyoung karena laki-laki itu selalu naik bus untuk pulang, Junghwan juga heran kenapa Doyoung tidak memiliki kendaraan sendiri dengan pekerjaan serumit ini.
Mereka kerap dipanggil di jam yang tidak wajar, seperti tadi malam. Doyoung dihubungi ketika ia sudah bersiap untuk tidur, untungnya bayaran yang didapat sebanding dengan pekerjaannya.
"Jangan ngebut." Ucap Doyoung ketika merasakan mobil bergerak lebih cepat.
"Iya." Jawab Junghwan singkat, tiga puluh kilometer per jam, ia merasa seperti orang yang sedang latihan mengemudi.
Untungnya jarak kediaman Doyoung tidak terlalu jauh, lima belas menit kemudian mobil Junghwan sampai di depan barisan gedung apartemen. Junghwan ikut keluar dari mobil, memastikan Doyoung sampai dengan selamat ke dalam.
"Bentar." Ucap Junghwan begitu melihat Doyoung mulai berjalan menjauh darinya.
Laki-laki itu kemudian menunduk di depan Doyoung, mengikat tali sepatu yang ternyata lepas entah sejak kapan. Sedangkan Doyoung hanya menatap kepala Junghwan dari atas, dan tanpa sadar tangannya bergerak untuk mengusap rambut yang lebih tinggi berulang kali.
"You've work hard, Detective So. Semua usaha kamu buat ungkap kasus ini pasti berhasil nanti, jangan resign dulu, saya bakal kesulitan buat kerja sama orang baru kalau gak ada kamu."
...
seperti biasa yah kita bangun chemistry dulu sebelum konflik jedar jeder duar gedebak gedebuk nanti.
dan maaf kalau kalian ngerasa tulisanku jelek or such karena aku udah gak nulis tiga bulan huhuhu wajarin aja yah ;-;
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com