Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter III

Satu minggu sejak pertemuan terakhir Junghwan dengan Doyoung, laki-laki manis itu tidak lagi membalas pesannya seperti biasa. 

Apa dirinya berbuat sesuatu yang aneh hari itu? Seingatnya, ia mengantar Doyoung selamat sampai ke rumah, bahkan nyaris masuk ke dalam gedung jika saja yang lebih kecil tidak mencegahnya .

Mungkin tindakannya berlebihan?

Tetapi mereka sudah saling mengenal selama hampir dua tahun, bukankah ini adalah saat yang tepat untuk mengenal lebih jauh lagi?

Junghwan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, apa yang baru saja ia pikirkan?

"Sunbae!" Suara Jaewon membuyarkan lamunannya. Tunggu, sejak kapan dirinya ada di kantor polisi?

"Kenapa?" Tanya Junghwan sambil menatap personelnya yang tengah berdiri di samping meja kerja.

"Laporan soal kasus minggu lalu, mana? Ketua Lim nanyain." 

"Belum selesai, saya masih harus konfirmasi sesuatu sama tim Forensik." 

Jaewon menghela napas sebelum menjawab kalimat atasannya, "Tapi Dokter Kim lagi gak ada di tempat, udah seminggu dia gak muncul di rumah sakit." 

Junghwan mengangguk samar setelah Jaewon selesai bicara, "Saya bakal hubungin dia nanti."

"Saya ikut." Ucap Jaewon, ia hendak bergegas merapikan meja kerjanya, tapi gerakannya berhenti ketika Junghwan mencegahnya.

"Gak usah, saya bisa sendiri." Ucap Junghwan, ia kemudian berdiri dari tempatnya, meraih ponsel serta beberapa berkas yang ada di dalam map lalu berjalan keluar dari kantor polisi.

Sungguh kebetulan yang sangat Junghwan nantikan, setidaknya kini ia punya alasan untuk datang ke rumah dokter yang akhir-akhir ini tanpa sadar selalu ia pikirkan.

Mobil besar Junghwan kembali menyusuri jalanan yang sama dengan yang ia lewati minggu lalu, tanpa sadar ia tertawa saat mengingat betapa lucunya raut Doyoung yang setengah tertidur di kursi penumpang.

Walau dengan mata nyaris tertutup sepenuhnya, laki-laki manis itu tetap mengomel ketika Junghwan tanpa sengaja menambah kecepatan. Entah apa yang membuat Doyoung nampak begitu tidak nyaman ketika naik kendaraan, Junghwan berharap ia dapat menemukan jawaban nanti.

"Saya ke apartemen kamu sekarang."  Isi pesan yang Junghwan kirim ke ponsel Doyoung sejak tadi ternyata belum mendapat jawaban, maka dengan sangat terpaksa ia menekan tombol panggilan yang ada di kemudi.

Dan untungnya panggilannya dijawab kali ini.

"Mau ngapain?" Protes Doyoung begitu ia mengangkat telepon Junghwan.

"Ada yang mau saya bahas soal kasus kemarin."

"Kenapa gak tanya Haewon?'

"Yang bedah mayatnya kemarin kan kamu, Haewon gak tau apa-apa."

"Saya udah kasih semua berkas ke dia, kamu bisa tanya dia dan kalau emang ada hal yang gak bisa dijawab, itu berarti kita emang gak tau jawabannya." Omel Doyoung panjang lebar.

"Kenapa ketawa?" Protesnya lagi begitu mendengar suara kekehan Junghwan.

"Gapapa, saya gak sengaja ketemu bebek di jalanan."

"Gak lucu."

"Saya udah di bawah."

"Nggak! Saya gak nerima tamu! Saya gak akan turun, saya beneran gak mau ketemu siapapun hari ini."

Junghwan menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen, menekan rem tangan sebelum menanggapi omelan Doyoung.

"Kenapa? Kamu sakit?" Tanyanya dengan suara yang jauh lebih lembut.

Ada jeda sebentar sebelum Doyoung menjawab pertanyaan Junghwan.

"Bukan gitu."

"Terus apa? Kamu butuh sesuatu? Atau butuh bantuan? Mau saya naik ke atas buat bantuin kamu?"

Sedangkan Doyoung yang sejak satu minggu lalu memang sedang menikmati waktu cutinya dengan berbaring seharian di kamar mulai keheranan, sejak kapan genre hubungannya dengan Junghwan berubah? Sedrastis ini? Hanya karena laki-laki itu mengantarnya ke rumah ketika ia mabuk? Apa Doyoung bersikap aneh waktu itu?

"Kamu tunggu di taman belakang apartemen, saya ke sana." Ucap Doyoung pada akhirnya sebelum memutus panggilan.

***

Junghwan duduk di salah satu ayunan yang ada di taman, dengan berkas yang ada di tangan, ia tidak yakin apakah ini adalah tempat yang tepat untuk membahas pekerjaan.

Lampu samar yang ada di atasnya menjadi satu-satunya sumber penerangan, membuatnya kesulitan hanya untuk sekadar melihat keadaan sekitar.

Doyoung sedikit berlari saat menghampiri Junghwan. Di tengah musim dingin, ia hanya menggunakan hoodie kebesaran juga celana denim yang entah sejak kapan ada di belakang pintu kamarnya. Doyoung bahkan lupa kapan kali terakhir ia mandi, cuti kerja hanya ia habiskan dengan bermalas-malasan.

"Mau bahas apa?" Tanyanya begitu ikut duduk di ayunan kosong di samping Junghwan.

Hampir dua tahun mereka kenal, namun Doyoung tidak pernah berubah. Laki-laki itu tidak menyukai kalimat basa-basi, apapun yang mereka bahas pasti berkaitan dengan pekerjaan, tidak jarang Junghwan hendak memberi pertanyaan seputar kehidupan pribadi namun ia takut pisau yang sering Doyoung pegang berpindah tempat ke tubuhnya.

Junghwan belum ingin mati, setidaknya sampai ia mengungkap kasus yang sedang dirinya tangani.

"Waktu itu katanya kamu sempat ngobrol sama keluarga korban? Saya masih kosongin kolom penyebab kematian karena kamu belum konfirmasi apa-apa." Ucap Junghwan sembari menyerahkan berkas yang sejak tadi ada di tangan.

Helaan napas berat keluar dari mulut yang lebih kecil, sebenarnya bukan tanpa alasan ia mengambil cuti satu minggu penuh sejak menangani mayat terakhir dari pembunuhan berantai hari itu. Percakapannya dengan keluarga korban terakhir mengungkap satu fakta baru, dan itu tidak berhenti berputar di kepala Doyoung selama berhari-hari.

"Hemofilia.

"Maksudnya?" Tanya Junghwan lagi, kali ini sambil menatap wajah Doyoung yang walau dengan cahaya seadanya, ia dapat melihat raut tidak nyaman yang tercetak jelas.

"Korban punya penyakit hemofilia."

"Jadi itu yang bikin dia meninggal?"

Doyoung mengangguk, "Kelainan pembekuan darah. Singkatnya, darah bakal susah berhenti bahkan dari luka kecil sekalipun." Jelasnya. "Kamu tau darimana darah dia keluar?" Tanya Doyoung tiba-tiba, dan Junghwan menggeleng.

"Kenapa gak tau? Padahal udah saya kasih tau ke Haewon."

"Saya mau denger langsung dari mulut kamu." 

Sudut bibir atas Doyoung terangkat mendengar jawaban Junghwan, kenapa sikap laki-laki ini aneh sekali?

"Dari leher, nadinya diputus sama pembunuhnya. Saya udah nulis itu di berkas yang saya kasih ke Haewon, makanya saya ambil cuti karena gak mungkin kan bakal ada korban baru dalam waktu satu minggu?"

Telinga Junghwan memang menyimak semua kalimat Doyoung, tapi netranya justru fokus pada tangan Doyoung yang nampak bergetar, orang di sampingnya terlihat ketakutan ketika menceritakan perihal korban terakhir yang ia tangani.

"Are you okay?" Tanya Junghwan tiba-tiba, dan berhasil membuat Doyoung makin heran.

"Saya gapapa." Jawab Doyoung singkat.

"But your gesture says otherwise. Saya detektif, Doyoung. Gak semudah itu buat bohongin saya." 

Kali ini Doyoung tertawa, ia lalu menyembunyikan kedua tangannya ke dalam kantong hoodie yang ia gunakan setelah mengembalikan berkas pada Junghwan.

"I'm fine, Detective So. Cuma gak habis pikir aja sama pembunuhnya." Jawabnya kemudian. 

"Mati karena kehabisan darah tuh salah satu penyebab kematian paling menyakitkan, kesadaran manusia akan tetap ada sampai organ berhenti berfungsi, and it took a lot of time. Badan kamu bakal terasa dingin, rasa dingin menusuk yang bahkan gak bisa dijelasin. Untuk kasus kemarin, jantungnya yang berhenti karena gak sanggup buat mompa darah lagi."

Kepala Doyoung menunduk setelah berbicara panjang lebar, mulai menatap ujung sandal yang ia gunakan sambil sesekali menendang pasir yang ada di dekatnya.

"Are you afraid? Kamu tinggal sama siapa sekarang? Apartemen kamu keamanannya terjamin, kan? Mau saya buat surat perlindungan saksi buat jagain kamu di sini?" Junghwan melontarkan pertanyaan berulang, tangan kirinya bergerak untuk mengusap bahu yang lebih kecil.

"Gak gitu, saya gak takut sama pembunuhnya. Dia juga gak akan ke sini karena sampai sekarangpun kita gak berhasil buat ungkap identitasnya." Jelas Doyoung lagi sambil menatap Junghwan. "Stop making that face, I'm totally fine." Lanjutnya, kali ini diiringi dengan senyum manis di wajah, berusaha meyakinkan Junghwan bahwa ia baik-baik saja.

Junghwan menghela napas, ia tahu Doyoung bohong namun dirinya juga tidak bisa menyangkal dan mengajaknya berdebat di tempat ini.

"Kamu udah makan?" Tanya Junghwan, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Suddenly?"

"Pertanyaan saya udah kamu jawab dan diliat dari ekspresi kamu, kayaknya kamu kelaperan sekarang."

Tebakan Junghwan membuat senyum Doyoung makin lebar, "Udah gak ada restoran yang buka jam segini. Atau kamu mau makan ramen di tempat saya?"

Sebuah ajakan menarik yang memiliki banyak arti, namun Junghwan paham bahwa Doyoung pasti tidak ingin naik mobilnya untuk mencari restoran yang buka di malam hari. Junghwan berdiri, merapikan celananya yang kusut lalu mengulurkan tangannya ke depan Doyoung.

"Let's go." Ucap Junghwan setelah ulurannya disambut dengan lembut.

Dan tangan Doyoung yang terasa dingin membuat Junghwan makin yakin kalau Doyoung benar-benar ketakutan, tapi ia belum dapat menebak apa alasan sebenarnya.





...

maaf ya updatenya loyo dan singkat bgd, aku benci banget sama waiji sumpah WKWKWKWK mari berdoa supaya buku ini bisa selesai sebelum aku beneran loncat dari jembatan.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com