Chapter XI
"Detektif So masih ada rapat di dalam sama Kepala Detektif."
Doyoung berdecak saat mendengar penjelasan dari salah satu polisi yang berjaga di depan, hari ini Junghwan berniat untuk kembali menginap di tempatnya, laki-laki itu bahkan sudah membawa beberapa baju ganti agar tidak perlu repot bolak balik dari apartemen Doyoung ke rumahnya seperti tempo hari.
Ia melirik jam yang ada di tangan kiri, belum terlalu malam dan sepertinya akan baik-baik saja jika dirinya kembali ke rumah terlebih dulu dan membiarkan Junghwan menyusul saat rapatnya sudah selesai nanti, lagipula ia sudah tidak pernah melihat orang asing yang sempat mengganggunya waktu itu.
"Aku pulang duluan, sekalian mau beli bahan makanan juga. Ini aku share live location ya." Kirim Doyoung langsung ke ponsel Junghwan, nampaknya rapat malam ini adalah rapat penting karena pesan Doyoung tidak kunjung dibaca bahkan hingga Doyoung sampai ke supermarket terdekat dari apartemennya.
Sambil sesekali memeriksa ponsel, Doyoung mulai memilih beberapa bahan yang nanti akan Junghwan masak, tidak lupa membeli peralatan dapur seperti pisau dan gunting yang tajam karena Doyoung tidak pernah memakai benda-benda itu sebelumnya.
Belanjaan Doyoung tidak terlalu banyak, ia hanya meraih bahan yang nampak familiar karena tidak terlalu mengerti dengan apa yang harus dibeli, ia terlalu sering membeli makanan jadi dibandingkan masak yang akan merepotkan dirinya sendiri.
"Sebentar lagi aku selesai, langsung pulang atau mau aku jemput di supermarket?" Junghwan membalas pesan saat Doyoung sedang mengantre di kasir, ia akhirnya meminta kekasihnya untuk langsung datang ke apartemen karena Doyoung ingin membersihkan tubuh dan membereskan unit sebelum Junghwan sampai.
Sedangkan Junghwan, setelah membalas pesan Doyoung dan mencatat semua isi rapat, ia pun keluar dari ruangan lalu berjalan lurus menuju mobil yang diparkir di depan. Tadinya ia ingin bolos dari rapat dadakan, namun Jaewon sudah lebih dulu mendahului karena katanya Ibunya sedang berada di rumahnya hari ini.
Mana tega Junghwan menolak permintaan bawahannya? Jaewon juga tidak setiap hari mengambil absen dan lebih sering tinggal di kantor polisi dibanding dirinya.
Saat sampai di mobil, ia menyempatkan diri untuk memeriksa live lokasi yang Doyoung kirim, dan ekspresi heran seketika terpampang di wajahnya ketika melihat titik yang tidak bergerak.
Sambil menyalakan mesin, Junghwan berusaha menghubungi Doyoung dengan ponselnya, namun berulang kali ia menelepon, berulang kali juga panggilannya tidak mendapat jawaban.
Rasa khawatir Junghwan kian meninggi saat tahu bahwa lokasi Doyoung berhenti di tempat yang jaraknya cukup dekat dari tkp pembakaran mayat, korban kelima belas yang terakhir kali mereka tangani. Untungnya jalanan mulai sepi, membuat Junghwan dengan cepat sampai ke titik lokasi Doyoung terakhir kali.
Ia keluar dari mobil lalu berjalan dengan senter di tangan, menyusuri lorong gelap yang nampak tidak berujung karena di atasnya terdapat jalan layang penghubung.
Dengan jantung yang terus berdegup cepat karena takut terjadi hal buruk, Junghwan akhirnya berlari saat mendengar teriakan Doyoung, terus berdoa dalam hati agar ketakutannya tidak menjadi kenyataan.
Dan netranya disambut dengan Doyoung yang sibuk berusaha melawan orang yang tidak terlihat asing di depannya, dari tempatnya berdiri, Junghwan menyadari bahwa itu laki-laki yang juga mengikuti Doyoung beberapa hari lalu.
"Kim Doyoung!"
Teriakan Junghwan berhasil membuat sosok itu berlari menjauh, setelah memastikan bahwa Doyoung baik-baik saja, Junghwan yang tidak ingin kehilangan jejak pun mengejarnya hingga akhirnya mereka sampai di depan gang yang cukup terang.
Laki-laki itu kehilangan keseimbangan saat Junghwan menendang tubuhnya dari belakang, pertengkaran tidak dapat dihindari, Junghwan berulang kali memukul wajah dan tubuh orang itu dengan kemampuan yang ia punya.
Namun karena gerak yang cukup lihai, ia berhasil kabur dengan memanjat pagar tinggi pembatas antara jalan setapak dengan jalan tol di seberang.
Meninggalkan Junghwan yang berdecak kesal karena lagi-lagi ia kehilangan jejak.
"Maaf." Ucap Doyoung dengan suara bergetar saat Junghwan langsung mengangkat tubuhnya dengan kedua tangan, ia terus merutuki diri karena lagi-lagi, dirinya hampir celaka karena ulahnya sendiri.
Tadinya Doyoung enggan menangis karena laki-laki asing tadi juga belum sempat melakukan hal buruk padanya, namun sikap Junghwan yang terlampau dingin membuat air mata akhirnya turun dari sudut netra.
Andai Doyoung tahu bahwa saat ini, Junghwan memiliki rasa bersalah besar dalam hatinya. Seharusnya ia menahan Doyoung agar tidak pulang terlebih dulu dan membiarkan kekasihnya kembali ada di situasi berbahaya sendirian.
Langkah Junghwan berhenti saat menyadari bahwa Doyoung tengah menangis di bopongan. Untungnya mereka sudah sampai di depan mobil Junghwan. Yang lebih tinggi langsung membuka pintu dan dengan hati-hati meletakkan tubuh Doyoung di kursi penumpang.
"Kenapa nangis? Gak dibikin luka kan sama orang tadi?" Tanya Junghwan dengan suara lembut, ia lalu menyalakan lampu yang ada di atas kepala lalu memeriksa tubuh kekasihnya.
Doyoung hanya menggeleng dan tidak menjawab pertanyaan Junghwan.
"Terus kenapa nangis? Maaf ya harusnya aku gak ngebiarin kamu pulang sendirian." Ucap Junghwan sambil menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.
Dan gelengan kepala Doyoung makin kuat, ia berusaha keras mengatur napas untuk menjawab kalimat Junghwan. "Harusnya aku yang minta maaf, maaf aku nyusahin kamu lagi hari ini." Jawabnya dengan kepala tertunduk, air mata kembali keluar dari netranya saat melihat tangan Junghwan yang terluka karena ulahnya.
"Maaf aku bego, harusnya aku gak pulang sendirian, padahal aku tau kalau orang itu masih terus ngikutin aku."
Kali ini Junghwan langsung memeluk tubuh yang lebih kecil, mengusap punggungnya yang basah juga kepalanya berulang kali, berusaha menyalurkan ketenangan walau Junghwan sendiri juga tidak punya.
***
Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Junghwan, Doyoung tidak memiliki tenaga untuk berdebat serta Junghwan yang langsung memutuskan tanpa bertanya.
Apartemen Doyoung tidak aman dan mereka berdua tahu faktanya.
Junghwan menyerahkan handuk bersih dan setelan tidur pada Doyoung yang kini duduk di atas sofa ruang tamu. Ia sudah lebih dulu mandi serta berganti pakaian setelah memesan makanan lewat layanan antar, sedangkan Doyoung diminta untuk menghabiskan minuman hangat yang sudah ia siapkan.
"Makanannya belum dateng?" Tanya Junghwan, dan Doyoung jawab dengan gelengan.
"Yaudah sekarang kamu mandi dulu," Perintahnya, telapak tangannya bergerak ke depan dada kekasihnya. "Udah gak takut, kan?" Tanyanya lagi saat merasakan debar jantung Doyoung mulai normal, dan Doyoung kembali menggeleng.
"Pinter, sekarang bersihin dulu badannya terus habis itu kita makan baru istirahat, ya?"
Doyoung mengangguk, ia meraih pakaian dan handuk yang Junghwan sodorkan lalu berjalan lurus menuju kamar mandi di sudut ruangan.
Rumah Junghwan lebih lebar jika dibandingkan dengan unit apartemennya, terdapat tiga kamar tidur yang satunya diubah menjadi ruang kerja pribadi, dapur yang terpisah dengan ruang tengah, juga ruang tamu besar yang menyambut mereka begitu pintu depan dibuka. Junghwan memang tinggal di rumah dinas yang disiapkan dan lokasinya sangat dekat dengan jalan utama.
Setelah selesai mandi, Doyoung berjalan ke arah Junghwan yang tengah sibuk merapikan makanan di atas meja.
"Ada hair dryer di kamar, kamu keringin dulu rambutnya, jangan dibiarin basah lama-lama nanti sakit kepala."
Doyoung tetap menurut meski dalam hati merasa kesal karena ia ingin cepat memeluk Junghwan malam ini, tetapi kekasihnya itu malah memberi terlalu banyak perintah.
"Udah?" Tanya Junghwan ketika Doyoung keluar dari kamar dengan rambut kering, ia menahan tawa saat menyadari bahwa kaosnya terlalu besar di tubuh Doyoung, dirinya juga berulang kali menarik tali sweatpants karena terlalu longgar di pinggangnya.
"Udah." Ucap Doyoung sebelum berlari ke arah Junghwan dengan kedua tangan terbuka lebar untuk memeluk erat tubuh Junghwan.
"Maafin aku, Junghwan." Bisiknya pelan, Junghwan yang heran pun langsung menatap wajah Doyoung yang tenggelam di dadanya.
"Kenapa minta maaf terus, sayang?" Tanyanya dengan suara sama pelan, Doyoung menggeleng dan malah mengeratkan pelukan.
"Gak mau makan? Padahal udah siap semuanya." Tanya Junghwan lagi ketika Doyoung terlihat enggan melepas pegangan.
"Mau, tapi lebih mau peluk kamu dulu."
Junghwan tertawa dan membiarkan Doyoung memeluknya dengan puas, sebelum akhirnya duduk berdampingan di kursi meja makan untuk menyantap makanan yang Junghwan pesan.
Berusaha melupakan kejadian buruk yang menimpa mereka beberapa jam sebelum ini karena baik Junghwan maupun Doyoung, keduanya enggan membahas topik itu terlebih dulu.
Sebab mereka tahu bahwa kasus penguntit adalah kasus paling rumit, polisi tidak dengan mudah menangkap tersangka jika korban belum terluka, atau bahkan meninggal dunia.
"Kamu udah lama tinggal di rumah ini?" Tanya Doyoung pada Junghwan yang sibuk mencuci peralatan makan, ia bersandar pada kitchen counter di belakang. Tadinya Doyoung ingin membantu Junghwan, namun kekasihnya itu melarang.
"Hampir satu tahun. Kenapa?" Jawab Junghwan tanpa menghilangkan fokus pada piring yang kini dipenuhi busa.
"Sebelumnya kamu tinggal di mana?"
"Di Namyangju sama orang tuaku. Kapan-kapan aku ajak kamu ke sana."
Doyoung mengangguk, ia lalu berjalan mendekat ke arah Junghwan dan berdiri tepat di sampingnya.
"Sabar, aku masih cuci piring. Tunggu di kamar dulu." Ucap Junghwan saat Doyoung mengecup sebelah pipinya.
Bibir Doyoung merengut maju, bukannya menurut ia malah memeluk tubuh Junghwan dari samping dan menyandarkan kepala di atas bahu yang lebih tinggi.
"Aku kangen, kamu gak kangen aku ya? Sepanjang minggu ini kamu cuma anter jemput aku karena banyak kerjaan, aku gak masuk daftar prioritasmu ya?" Protes Doyoung dengan nada manja, Junghwan tertawa namun tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya dulu sebelum menanggapi kalimat kekasihnya.
"Tuh kan, kamu udah gak sayang aku ya? Padahal belum ada dua minggu kita pacaran tapi perasaan kamu udah luntur secepat itu?"
Leher Junghwan mulai terasa geli sebab Doyoung tidak berhenti mengoceh di sana, setelah semua peralatan bersih, Junghwan mengeringkan tangan lalu berbalik untuk ikut membalas pelukan Doyoung.
"Siapa yang bilang gitu?" Tanya Junghwan dengan suara berat, "Siapa yang bilang aku udah gak sayang kamu?" Lanjutnya lagi.
Doyoung menggeleng, ia malah membenamkan wajah di leher Junghwan dan memberi kecupan ringan di atas kulitnya. "Aku kangen Junghwan, kangen dipeluk Junghwan, kangen wanginya Junghwan."
Ocehan Doyoung kembali membuat Junghwan tertawa, siapa sangka laki-laki yang awalnya nampak menyebalkan itu justru mempunyai sisi manja berlebihan seperti ini?
"Cium di sini juga dong." Pinta Junghwan sambil menunjuk bibirnya.
Doyoung mengangguk lalu mulai mencium bibir penuh kekasihnya, ia tersenyum saat merasakan aroma mentol dari pasta gigi yang Junghwan pakai setelah makan tadi. Sensasi hangat sekaligus dingin yang membuatnya ingin mencumbu bibir Junghwan lagi dan lagi.
Tanpa sadar kedua tangannya sudah melingkar di belakang leher yang lebih tinggi, sedangkan Junghwan mati-matian menahan diri dengan terus mengusap punggung Doyoung berulang kali.
Erangan pelan keluar dari mulut Doyoung saat Junghwan dengan sengaja menarik tubuhnya untuk mendekat, membuat tidak lagi ada jarak antara keduanya.
Begitu Junghwan membuka mulut, Doyoung memberanikan diri untuk membawa lidahnya masuk, menari di dalam mulut Junghwan dan membelai miliknya dengan gerakan acak namun justru membangkitkan gairah.
Entah sejak kapan tangan Junghwan berada di balik kaos yang Doyoung gunakan, sensasi kulit dingin Doyoung yang bertemu dengan telapak hangat Junghwan membuat Doyoung tidak peduli dengan air liur yang sudah turun membasahi lehernya.
Detak jantung kuat yang saling beradu, sebelah kaki Junghwan juga dengan kurang ajarnya berada di antara kedua paha Doyoung, memberi gesekan lembut pada organ yang mulai mengeras seiring dengan makin dalamnya pagutan mereka.
Doyoung yang melepas ciuman saat merasa kehabisan napas, tapi bukannya berhenti, mulut Junghwan malah justru bergerak di cuping telinga Doyoung, menjilatnya berulang kali dan digigit pelan di antara kedua bibir.
"Nghh— Junghwan." Lenguh Doyoung saat gerakan Junghwan di bawah sana malah makin liar, tungkainya yang terasa lemas kini melingkar di pinggang yang lebih tinggi, dan Junghwan dengan cepat melangkah masuk ke dalam kamar tidur.
Kedua tangan Doyoung kembali menangkup wajah Junghwan, mencium bibir basah kekasihnya dengan lembut, dan ia berteriak saat Junghwan melempar tubuhnya ke atas ranjang.
"Are we doing this?" Tanya Junghwan, meminta izin walau dalam hati ia sangat ingin menghancurkan tubuh Doyoung yang kini ada di bawahnya.
Doyoung mau, namun ia terlalu takut dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi karena baginya, ini juga pertama kali.
"I promise I'll do it gently." Ucap Junghwan, seakan tahu dengan apa yang Doyoung pikirkan.
"Jangan sekarang." Jawab Doyoung setelah menimbang dalam hati, "Aku takut." Lanjutnya lagi.
Junghwan mengangguk, ia tahu apa yang Doyoung takutkan dan kalau boleh jujur, ia juga memiliki ketakutan yang sama.
"Let's cuddle until we fall asleep." Ucap Doyoung lagi, ia membentangkan kedua tangan dan dengan cepat Junghwan memeluk tubuhnya dari atas.
"I love you." Bisik Junghwan pelan, "I love you so much, Kim Doyoung."
Dan malam itu mereka habiskan dengan saling menyentuh namun tidak melewati batas, Junghwan akan dengan sabar menunggu, dan Doyoung juga akan berusaha menyiapkan diri karena suatu saat ia juga ingin melakukan hal lebih dengan orang yang sangat ia cintai.
***
Masih pukul enam pagi namun pintu kediaman Junghwan sudah diketuk dengan keras dari luar, pemilik rumah akhirnya bangun dan ia disambut dengan beberapa anggota polisi tepat setelah pintu dibuka.
"Saudara So Junghwan?" Ucap salah satu dari mereka.
"Ya?" Jawab Junghwan bingung.
Doyoung yang juga terbangun akhirnya menyusul dan ikut terkejut saat melihat beberapa orang berseragam di depan rumah.
"Berdasarkan bukti yang berhasil kami dapat, anda kami tangkap atas kasus pembunuhan."
...
2ribu words bjirrrrr ((insert suara gonjang gonjeng ala sinetron))
btw sorry kalo kalian bingung "ini kapan dah mereka nembaknya kok udah jadian aja?"
kalo umur di atas 25 tuh udah gak ada kalimat "kamu mau gk jd pacar aq?" gitu sumpah tau tau pacaran aja terus ciuman (ini yang lebih penting)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com