Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XV

"Kamu gak punya baju yang lebih kecil lagi, apa?" Protes Doyoung, ia keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Junghwan, yang menunggu di ruang depan hanya dapat tertawa ketika kekasihnya nampak tenggelam di balik kemeja paling kecil yang ia punya.

"Gak ada, sayang. Cuma itu bajuku yang kekecilan." Jawab Junghwan sambil berjalan ke arah Doyoung, merapikan kerah yang sedikit berantakan lalu menunduk untuk menatap wajahnya.

"Bagus kok, cocok juga di badan kamu." Puji Junghwan sebelum mendaratkan kecupan ringan di sisi wajahnya. "Cantik, Doyoungku masih cantik, dan makin cantik karena pake bajuku." Lanjutnya lagi.

Wajah Doyoung bersemu malu, pujian tiba-tiba dari Junghwan memang tidak pernah gagal untuk membuatnya salah tingkah. Entah kemana perginya perasaan kesal yang sebelumnya singgah, kini ia malah bersandar manja sambil memeluk sebelah lengan pemilik rumah sambil berjalan ke mobil yang terparkir di depan.

Pagi ini mereka berniat untuk pergi ke Incheon, menghampiri detektif yang sebelumnya menangani kasus yang kini Junghwan urus. Ada banyak kejanggalan dan Junghwan butuh kesaksian langsung dari sumbernya.

Tadinya ia hendak pergi sendirian, namun Doyoung meminta ikut karena ingin pergi ke kediaman orang tuanya untuk mengambil pakaian. Sekaligus memperkenalkan Junghwan sebagai kekasihnya.

"Beneran gak mau pakai coatku? Di luar masih dingin." Tawar Junghwan sekali lagi, namun Doyoung yang tengah sibuk memakai sepatu itu menggeleng pelan.

"Gak usah lah, lagian kan tujuan kita bukan outdoor juga." Tolaknya sambil mengikat tali sepatunya kuat-kuat.

Junghwan pun mengangguk, ia mengulurkan sebelah tangan dan disambut dengan jemari kekasihnya yang terasa dingin, bertemu dengan telapaknya yang hangat.

"Tuh, aku gak perlu baju hangat karena kamu juga udah cukup." Ucap Doyoung sambil meremat-remat tangan besar Junghwan sebelum ditempelkan di sebelah pipinya.

"So, do you think I'm hot?" Tanya Junghwan dengan suara berat, tengkuk Doyoung bahkan hampir meremang dibuatnya.

"One hundred percent, the hottest detective I've ever seen," Jawab Doyoung, ia lalu mencium telapak tangan Junghwan.

Yang lebih tinggi tertawa pelan, mengusap rambut Doyoung dengan tangannya yang bebas. "Apa kita batalin aja ya janji hari ini? Aku mendadak pengen cium kamu seharian."

"Nggak boleh, lah! Ayo kita berangkat! Aku gak mau kerja pakai baju kebesaran terus." Protes Doyoung sembari menarik tangan Junghwan.

Setelah memastikan bahwa pintu rumah sudah terkunci, mereka akhirnya berjalan menuju mobil yang sudah berada di depan gerbang. Junghwan membukakan pintu penumpang dan membiarkan Doyoung untuk masuk terlebih dulu.

"Padahal aku berulang kali nawarin kamu buat beli baju baru tapi kamu gak mau?" Ucap Junghwan, ia mastikan Doyoung memasang seatbelt nya dengan benar sebelum berlari ke pintu di sisi lainnya.

"Gak mau ah, pemborosan. Mending uangnya ditabung buat beli barang yang lebih berguna." Ucap Doyoung, ia menoleh dan terus memerhatikan Junghwan yang tengah sibuk menyalakan pemanas mobil dan mengarahkannya ke tempat Doyoung duduk.

"Kebutuhan kamu juga berguna."

Tangan Junghwan bergerak naik untuk memperbaiki posisi spion tengah, memastikan mobil benar-benar aman karena perjalanan yang akan mereka lalui lumayan jauh dan Doyoung masih terlihat tidak nyaman saat berada di dalam mobil besarnya.

"Kalau ngerasa pusing atau gimana bilang aku ya, biar kita cari tempat buat istirahat." Pinta Junghwan, ia tersenyum ke arah Doyoung yang juga bersikap serupa.

"Iya." Jawab Doyoung, sebenarnya ia tidak terlalu khawatir karena saat bersama Junghwan, dirinya yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Baru Junghwan ingin menginjak gas, namun ponselnya yang ia titipkan pada Doyoung malah berdering keras, menandakan satu panggilan masuk entah dari siapa.

"Jaewon." Bisik Doyoung sambil menyerahkan ponsel ke pemiliknya.

Dengan cepat Junghwan menerima panggilan, padahal tadi malam ia sudah menginfokan hal ini pada partnernya yang lain, walau ia tidak berkata alasan sebenarnya.

"Kenapa?" Tanya Junghwan langsung.

"Sunbae di mana?"

"Saya mau ke Incheon, kan tadi malam udah bilang juga. Kalau gak ada hal mendesak jangan hubungin saya dulu hari ini."

"Mau ngapain ke sana?" Tanya Jaewon lagi.

Kedua alis Junghwan bertaut heran, sejak kapan Jaewon ingin tahu mengenai urusan pribadinya?

"Saya mau anter pacar saya ke rumah orang tuanya." Jawab Junghwan.

Jaewon akhirnya meminta maaf karena sudah mengganggu urusan Junghwan pagi ini, dan Junghwan juga memintanya agar menghubungi lewat pesan jika bukan menyangkut urusan pekerjaan.

Setelah panggilan terputus, Junghwan kembali menyerahkan ponselnya pada Doyoung dan memulai rute mereka menuju Incheon.

Ini adalah pertama kalinya Doyoung naik mobil Junghwan untuk perjalanan jauh, biasanya ia hanya diantar jemput ke tempat kerja yang jaraknya masih lumayan dekat.

Sebenarnya jarak dari Seoul menuju Incheon tidak terlalu jauh, namun bagi Doyoung, berkendara selama hampir satu jam merupakan rute yang panjang.

Setelah lebih dari satu jam berkendara, mobil Junghwan akhirnya sampai ke kantor polisi Incheon. Untungnya tidak ada kendala apapun dan Doyoung juga masih nampak baik-baik saja.

"Ikut ke dalam, kan?" Tanya Junghwan yang baru saja melepas seatbelt.

Doyoung mengangguk, ia juga enggan menunggu sendirian di mobil.

Mereka berjalan masuk ke dalam kantor polisi, gedungnya lebih kecil jika dibandingkan dengan kantor mereka di Seoul. Mungkin karena tidak menyatu dengan rumah sakit seperti yang ada di Ibukota.

"Detektif Cheon, ada?" Tanya Junghwan pada salah satu polisi yang berjaga di depan.

Tapi belum sempat polisi itu menjawab, Junghwan malah disapa oleh detektif yang suaranya terdengar familiar.

"Detektif So?"

"Ya? Oh, Detektif Shin?" Tanya Junghwan begitu menyadari bahwa itu adalah orang yang menerima panggilannya tadi malam.

***

"Resign?" Tanya Junghwan, memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar.

Detektif yang duduk di seberangnya pun mengangguk, ia lalu menyerahkan kunci ke arah Junghwan.

"Tapi semua barang-barangnya masih ada di ruangan, dan tadi malam kamu bilang kalau kamu butuh informasi soal pembunuh berantai yang Detektif Cheon urus sebelumnya, kan? Saya rasa kamu bisa temuin hal yang kamu butuhin di sana."

"Kenapa Detektif Cheon resign? Dia kasih tau alasannya? Dan kenapa dikasih izin padahal masih ada kasus yang belum selesai?"

Pertanyaan beruntun Junghwan membuat Doyoung yang duduk di sebelahnya mengusap sebelah tangan laki-laki itu, "Tenang dulu." Bisiknya, berusaha menenangkan.

Junghwan menghela napas lalu kembali menatap Detektif yang ada di depannya, masih menuntut jawaban.

"Dia mau urus orang tuanya di Ganghwa, dan kita gak bisa nahan karena kasus itu sekarang jadi tanggung jawab kamu."

Benar, saat Junghwan menandatangani kontrak kerjanya satu tahun lalu, kasus pembunuh berantai ini menjadi tanggung jawab Junghwan sepenuhnya.

Tapi dulu ia pikir kasus ini tidak terlalu rumit karena pembunuhnya memiliki pola, namun lama kelamaan polanya malah semakin acak dan makin sulit terungkap.

"Ruangan Detektif Cheon ada di paling pojok, kamu bebas ambil apa aja dan nanti balikin kuncinya ke saya." Ucap Detektif Shin sambil menepuk bahu Junghwan, ia lalu bangkit dari tempatnya dan berjalan keluar dari ruangan.

Mau tidak mau, Junghwan dan Doyoung mulai memeriksa ruangan yang berdebu itu. Berusaha mencari petunjuk soal kasus yang masih menjadi misteri hingga saat ini.

Ada berbagai berkas dari beberapa kasus, dan kebanyakan berisi kasus kecil yang terjadi di Incheon. Namun keduanya tidak cepat menyerah, mereka masih terus mencari berkas berisi bukti dan laporan kasus yang kini Junghwan urus.

"Fuck." Umpat Junghwan tanpa sadar, ia sedang berusaha menyalakan komputer yang berdebu di ujung ruangan, namun karena tidak terpakai dalam waktu yang lama, komputer itu berjalan dengan sangat lambat.

"Sabar." Ucap Doyoung, dalam hati bertanya-tanya mengapa Junghwan justru menekuni pekerjaan yang sangat membutuhkan kesabaran ini? Padahal ia sangat tidak sabaran.

Sementara Junghwan berkutat dengan komputer itu, Doyoung kembali menyusuri ruangan lalu membuka lemari yang kuncinya masih tergantung di tempat.

"Gotcha." Ucap laki-laki manis itu sambil meraih map berdebu bertuliskan Kasus Pembunuhan Yongsan.

Doyoung berjalan ke arah Junghwan sambil menenteng berkas, "Dapet! Mau dibuka sekarang?" Tanyanya.

Junghwan hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus pada layar di depan, ada satu folder mencurigakan yang tidak dapat ia buka karena harus memasukkan kata sandi ke dalamnya.

"Kira-kira apa passwordnya?" Tanya Junghwan, dan Doyoung jelas menggeleng, ia juga tidak tahu dan tidak dapat menebak karena tidak memiliki clue apapun.

"Copy dulu aja, nanti kita minta bantuan polisi cyber di Seoul."

Dan Junghwan menurut, ia meraih diska lepas dari kantong kemeja lalu menyalin data itu ke dalamnya.

"Udah?" Tanya Doyoung saat melihat Junghwan mematikan daya perangkat.

"Udah, kita urus di Seoul aja besok."

Doyoung mengangguk setuju, mereka akhirnya keluar dari ruangan setelah berhasil menemukan berkas yang mereka harap dapat membantu jalannya penyelidikan.

***

Jarak dari kantor polisi ke rumah orang tua Doyoung tidak terlalu jauh, namun karena rute yang mereka lalui memiliki banyak kelokan dan jalan yang naik turun, Junghwan harus lebih berhati-hati, terlebih ada Doyoung di sampingnya.

"Setelah kita lewatin bukit itu, baru belok kanan." Ucap Doyoung sambil meremat tali seatbelt yang melingkar di tubuhnya.

Perjalanan berjalan sangat lancar, Junghwan juga memiliki kontrol penuh atas kendaraan yang ia bawa, namun entah kenapa sejak keluar dari kantor polisi tadi, ia merasa aneh pada mobilnya sendiri. Tarikan gas yang terasa berat, juga rem yang kadang sulit dikendalikan.

"Shit." Umpat Junghwan saat menyadari bahwa kini remnya tidak berfungsi.

"Kenapa?" Tanya Doyoung, ia ikut panik saat melihat raut Junghwan.

"Remnya blong."

Ketakutan Doyoung kini menjadi kenyataan, kemungkinan untuk mati di dalam mobil yang terlibat kecelakaan sangat tinggi, lebih dari delapan puluh persen dan ia tahu bahwa kondisi tubuhnya akan membuat persentasi angka itu makin besar.

"Terus gimana?" Tanya Doyoung, mereka sedang berada di jalan yang menurun dan laju mobil cukup kencang sekarang.

"Hubungin 119, kasih tau lokasi kita sekarang."

Doyoung menurut, ia menghubungi nomor darurat dan menginformasikan keadaan mereka, berusaha tenang walau dalam hati ia takut setengah mati.

Sementara Doyoung menelepon, netra Junghwan mencari tempat yang dirasa aman untuk ia pakai mendarat.

Melompat adalah solusi terbaik yang masuk ke dalam pikiran Junghwan karena hantaman mobilnya dengan pembatas jalan akan berpotensi besar membuat mereka celaka dan terluka parah.

"Mereka bakal sampai paling cepet lima belas menit lagi." Ucap Doyoung sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Junghwan lalu melepas seatbeltnya. "Sini, kita loncat sama-sama." Ucap Junghwan sambil meraih tas Doyoung dan melepas talinya dari pengait.

"Kamu gila?" Umpat Doyoung tidak percaya.

"Ini solusi satu-satunya. Lepas seatbelt kamu, at least kalau kamu lompatnya bareng aku, luka kamu gak akan parah."

Doyoung menggeleng, ia tidak ingin mengambil resiko sebesar itu.

"Kamu percaya kan sama aku? Ayo kita lompat, kamu mau mati di dalam mobil ini? Di ujung jalan ini ada jurang dan mobilku pasti bakal jatuh ke sana." Ucap Junghwan, setengah berteriak karena ia juga sama paniknya.

Tangis yang Doyoung tahan akhirnya tumpah, sambil berlinang air mata ia akhirnya melepas seatbelt lalu membawa tubuhnya untuk duduk di atas pangkuan Junghwan.

Dengan tali tas yang sebelumnya ia lepas, Junghwan mengikat tubuh mereka agar tidak terpisah saat melompat nanti lalu meletakkan tas berisi berkas penting di antara perut keduanya.

"Jangan takut, aku bakal pastiin kamu baik-baik aja." Tutur Junghwan, sebelah tangannya ia letakkan di belakang kepala Doyoung dan sebelah lagi siap untuk membuka pintu mobil di samping.

Doyoung mengangguk walau terisak sesekali, ikut melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Junghwan dan menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.

Saat kecepatan mobil mulai berkurang, Junghwan akhirnya membuka pintu lalu melompat keluar, berusaha mati-matian melindungi tubuh Doyoung agar tidak terluka atau tergores aspal keras yang langsung menghantam tubuh mereka.




















...

hehehe

btw besok gak update ya

hehe

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com