Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Last Chapter

Dengan tergesa Junghwan menghubungi nomor darurat, dan meminta agar polisi yang lokasinya paling dekat untuk menjemputnya sebelum datang ke tempat yang Doyoung kirim.

Junghwan tidak tahu apa yang akan Cheon Wonbin lakukan dengan kekasihnya, namun firasatnya sungguh tidak baik karena jika dilihat dari rautnya, laki-laki itu nampak tidak senang.

Ia benar-benar tidak ingin Doyoung terluka lagi karena ulahnya.

Butuh waktu lima belas menit hingga mobil polisi datang, Junghwan menceritakan semua hal termasuk janjinya untuk bertemu mantan detektif itu, dan mereka langsung menyalakan sirene lalu bergegas menuju lokasi Doyoung yang lumayan jauh dari sana. 

Kasus ini menjadi kasus terberat yang pernah Junghwan urus selama ia menjadi detektif karena menyangkut orang yang paling ia sayang, ditambah kondisi medis Doyoung yang juga sangat mengkhawatirkan membuatnya terlihat seperti orang gila saat menyusuri jalanan.

Berulang kali ia meminta polisi yang menyetir agar menambah kecepatan karena ponsel Doyoung sudah lagi tidak dapat dihubungi setelah kali terakhir dirinya menerima pesan.

Deretan mobil polisi akhirnya sampai ke titik yang Doyoung kirim, semuanya turun dan bersiap dengan pistol di tangan. Mereka cukup terkejut karena ternyata mereka dituntun ke tempat di mana korban kedua ditemukan, gudang yang tidak terpakai itu nyaris roboh karena tidak lagi ada yang mengurus.

Junghwan yang memimpin kawanan, berjalan sembunyi-sembunyi ke pintu masuk gudang. Setelah memastikan kondisinya aman, mereka mulai memasuki tempat kumuh itu.

Dan netra Junghwan disambut dengan pemandangan yang paling tidak ingin ia lihat, kekasihnya tengah berbaring di atas meja dengan luka terbuka di perutnya.

Fokus Junghwan bukan lagi pada tersangka karena ia justru berlari ke arah Doyoung, tidak memedulikan Wonbin yang terkejut atas kedatangannya.

Masih dengan pisau yang ada di tangan, laki-laki itu berniat menyerang Junghwan. Namun geraknya kalah cepat karena salah satu polisi yang ada di belakang Junghwan menembak timah panas dari pistolnya.

Suara nyaring itu, menjadi suara terakhir yang Doyoung dengar sebelum kehilangan kesadaran. Junghwan yang akhirnya sampai di tempatnya langsung membawa tubuh berlumurah darah untuk keluar dari sana.

"Kita belum panggil ambulans." Ucap anggota polisi yang diminta menyetir oleh Junghwan.

"Gak perlu tunggu ambulans, ini kondisi darurat." Jawab Junghwan, setengah berteriak karena emosi yang tidak lagi dapat ia tahan.

Mobil pun akhirnya bergerak menjauh dari tempat kejadian, Junghwan benar-benar tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakang sekarang karena fokusnya hanya pada Doyoung yang tubuhnya makin lemas di tangan.

Darah akibat luka di perut dan tangannya terus mengalir keluar, Junghwan bahkan sudah tidak dapat menghentikan pendarahan karena terbatasnya peralatan. Ia hanya berharap agar mereka cepat sampai ke rumah sakit, karena Doyoung pasti butuh transfusi dalam jumlah banyak untuk membuat keadaannya membaik.

Tanpa sadar ia terisak pelan, perjalanan yang hanya menghabiskan waktu sepuluh menit itu dipenuhi air mata dan penyesalan, karena semua hal buruk ini tidak akan terjadi jika Junghwan tidak membiarkan Doyoung pergi sendirian dari rumahnya tadi pagi.

Tubuh Doyoung langsung dibawa menuju ruang operasi karena kondisinya yang cukup parah, dan tebakan Junghwan benar, Doyoung butuh banyak transfusi darah.

Junghwan masih menunggu di depan ruang operasi sampai tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depannya.

"Haewon?" Tanya Junghwan heran, wanita di depannya mengangguk canggung lalu meminta izin untuk duduk di sebelah Junghwan karena ada hal yang ingin ia bicarakan.

Tadinya Haewon pikir, Junghwan akan langsung menyeretnya menuju kantor polisi setelah ia mendengar semua pengakuan. Tapi laki-laki itu masih terduduk di tempatnya bahkan hingga dokter berjalan ke arah mereka.

"Ada keluarga yang golongan darahnya B? Atau O? Kita butuh seenggaknya dua kantong."

"Saya." Jawab Junghwan dan Haewon bersamaan, dokter mengangguk lalu meminta keduanya mengikuti perawat yang menuntun mereka menuju salah satu ruangan.

"Jangan bilang Dokter Kim soal ini, saya cuma mau jadi bawahan yang sedikit berguna sebelum masuk penjara." Ucap Haewon yang berjalan di samping Junghwan.

"Setelah ini, saya mau nyerahin diri ke polisi. Termasuk cerita soal Jaewon, dan perintahnya yang minta saya buat sengaja nusuk tangan Dokter Kim waktu itu."

Kejadian itu, jadi Haewon sengaja?

Junghwan benar-benar tidak dapat berpikir soal kasus sialan itu, karena yang ada di otaknya sekarang hanyalah Doyoung yang masih butuh pertolongan.

***

"Doyoung," Panggil Junghwan dengan suara pelan ketika melihat Doyoung mulai membuka mata, hampir dua hari penuh kekasihnya tidak sadarkan diri setelah selesai dioperasi.

Mereka masih berada di ruang ICU, kondisi Doyoung masih harus mendapat pengawasan penuh dari dokter. Doyoung benar-benar hampir mati jika Junghwan terlambat datang, luka di kepala sekaligus kehilangan banyak darah, sungguh beruntung karena ia mendapat perawatan cepat.

Masker oksigen yang ada di wajah sungguh sangat mengganggu pandangannya, Junghwan yang sadar gerak gerik Doyoung pun langsung memanggil perawat yang berjaga di depan, memberi kabar bahagia karena kekasihnya kini sudah sadar dari tidurnya.

Setelah berbagai pengecekan, Doyoung akhirnya dipindah ke ruang rawat inap biasa. Meski masih kesulitan untuk bicara dan membuka mata, Junghwan terus berada di sisinya.

Butuh waktu beberapa jam hingga Doyoung sadar sepenuhnya, pengaruh obat bius yang terus disuntikkan selama dua hari membuatnya terlihat seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

"Junghwan..." Suara Doyoung nyaris tidak terdengar, Junghwan yang duduk di kursi kosong sebelahnya bergerak mendekat.

"Mhm?" Jawab Junghwan dengan suara yang sama pelannya, perasaan bersalah masih menyelimuti, sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak menangis di depan Doyoung saat ini.

Tangan Doyoung yang bebas bergerak untuk mengusap wajah Junghwan, "Kenapa nangis?" Tanyanya, "Kan aku udah bangun." Lanjutnya, berusaha menghibur kekasihnya yang justru makin terisak.

"Maaf." Ucap Junghwan, ia mulai menunduk setelah meraih tangan Doyoung yang ada di wajahnya, menggenggamnya erat dan diusap perlahan dengan ibu jari.

"Kalau bukan karena aku yang marahin kamu kemarin, kamu gak akan keluar dari rumahku dan justru ketemu dia." Jelas Junghwan, masih belum berani menatap wajah Doyoungnya.

Doyoung menghela napas, "Kan sekarang aku udah gapapa." 

Nada polos yang masuk ke telinga Junghwan itu justru membuat rasa bersalahnya kian meninggi, bagaimana bisa ia justru lebih mementingkan pertemuannya dengan Wonbin dibanding memperbaiki hubungannya dengan Doyoung?

Pertengkaran yang membuat Doyoung harus mendapat belasan jahitan di kepala serta perutnya, entah Junghwan harus meminta maaf dengan cara apa sampai Doyoung mau menerimanya.

"Junghwan," Panggil Doyoung, namun kepala laki-laki itu masih betah menunduk.

"So Junghwan, aku beneran udah gapapa." Lanjut Doyoung lagi, ia tersenyum saat Junghwan kembali menatapnya, kali ini dengan mata merah dan wajah basah karena air mata.

"Cengeng banget, jangan nangis terus dong. Kan yang sakit aku." Ucap Doyoung, berusaha menenangkan. "Ini bukan salah kamu, mungkin emang harus kayak gini supaya pelakunya bisa cepet ditangkap, kan?"

Tanpa sadar Junghwan tertawa, bagaimana bisa kekasihnya itu berpikir positif di situasi seburuk ini?

"Daripada nangis, mending kamu urus aku. Suapin aku makan atau usap badanku pakai air, lengket banget aku kayak udah gak mandi tiga hari." 

"Kamu emang udah gak sadar dua hari, ini hari ketiga setelah kejadian itu."

Tadinya Doyoung ingin tidak percaya dengan ucapan kekasihnya, tapi suara keroncongan yang cukup keras dari perutnya sendiri membuat netranya makin membola.

"Pantes aku laper banget, aku mau makan sekarang ayo kasih aku makan." Ucapnya dengan suara paling lucu yang pernah Junghwan dengar.

Junghwan mengangguk dan tertawa pelan, kekasihnya memang tidak pernah gagal memberi kejutan. Padahal Doyoung yang terluka dan harus mendapat perawatan, tapi ia juga yang justru menghibur Junghwan.

Kehadiran Doyoung di hidupnya benar-benar membawa perubahan.

***

"Jadi Jaewon tuh saudaranya Haewon?" Tanya Doyoung dengan mulut penuh makanan. Junghwan meraih botol minum dan menyodorkannya ke arah Doyoung sebelum menjawab.

"Adik kakak, Jaewon sengaja nyuruh dia buat kerja di tempatmu karena sekalian disuruh buat hapus jejak kejahatannya." Junghwan lalu membersihkan noda makanan di ujung bibir Doyoung, "Pelan-pelan makannya." 

Doyoung mengangguk, "Terus sekarang gimana? Mereka udah nyerahin diri?"

"Cuma Haewon yang nyerahin diri. Jaewon yang emang masih ditahan di kantor polisi langsung dipindah begitu Haewon selesai jelasin semuanya. Kalau detektif Cheon, dia masih dirawat di rumah sakit karena luka tembakan." 

"Motifnya?" 

"Kata Jaewon, itu karena dia suka sama aku."

"What the hell, jangan bercanda!" Protes Doyoung.

"Loh, beneran. Kamu gak percaya? Aku juga gak percaya sampe sekarang. Tapi katanya sih gitu, gak tau itu alasan beneran atau dibuat-buat." 

Sebenarnya Junghwan enggan membahas kasus ini, apalagi di depan Doyoung. Alasan yang Jaewon ungkap benar-benar di luar perkiraan, bagaimana bisa ia berkata kalau semua pembunuhan itu ia lakukan hanya karena dirinya menyukai Junghwan?

"Tapi masuk akal sih, pacarku emang seganteng itu, makanya banyak yang suka."

"Tiba-tiba?" Tanya Junghwan, ia tidak mengira bahwa Doyoung akan membawa pembicaraan ke arah sana.

"Aku puji gitu supaya kamu mau nyuapin aku lagi, mana makanannya?" Ucap Doyoung, diiringi dengan mulutnya yang kembali dibuka, menampakkan deretan gigi yang terlihat menggemaskan di mata Junghwan.

Dan Junghwan lagi-lagi tertawa lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut kekasihnya.

"Kamu gak perlu ngerasa bersalah, luka aku, kasus pembunuhan itu, semuanya bukan salah kamu. Mau Jaewon kasih alasan apapun, ya tetep dia tersangkanya. Kamu itu korban, inget kan mobilmu yang tempo hari dibikin blong remnya? Kalau emang dia suka sama kamu, harusnya dia gak ngelakuin itu." Jelas Doyoung panjang lebar.

Semua celetukan asal yang sebelumnya Doyoung lontarkan tentu bukan tanpa alasan, sejak dirinya membuka mata, raut Junghwan benar-benar menyedihkan.

Seolah ada tumpukan beban berat di wajahnya. Perasaan bersalah jelas menghantuinya, ditambah motif Jaewon yang seolah memberatkannya, bagaimana bisa orang itu berlindung di balik kata suka hanya untuk memvalidasi perasaannya?

Junghwan jelas hanya miliknya! Kalimat itu tidak Doyoung ucap, ia tidak ingin terdengar seperti kekasih posesif yang berpotensi membunuh manusia jika ada orang yang menyentuh Junghwannya.

"Jadi daripada kamu terus-terusan ngerasa bersalah, sekarang lebih baik kamu fokus urus aku." Final Doyoung, dan Junghwan mengangguk setuju lalu kembali menyuapkan makanan.

Dan kegiatan mereka terus berlanjut hingga makanan di tangan Junghwan habis tanpa sisa.

"Abis?" Tanya Doyoung saat melihat piring kosong di tangan Junghwan, "Padahal aku masih laper." Lanjutnya dengan raut sedih yang dibuat-buat.

"Mau nambah?" Tanya Junghwan, dan Doyoung menggeleng kuat.

"Nggak usah, nanti beratku nambah kalau makan banyak-banyak."

Junghwan meletakkan piring ke atas nakas sebelum mengusap lembut pipi kekasihnya, "Beratmu kalau nambah juga larinya ke sini, jadi makin bulat." Ucapnya gemas.

Bibir Doyoung justru merengut maju, "Jadi maksud kamu, aku gendut?"

"Gak ada yang bilang gitu?"

"Kamu tadi bilang gitu!"

"Nggak?"

"Iya!"

"Nggak!"

"Iya!"

Perdebatan mereka tidak akan selesai jika Junghwan terus mengelak, maka laki-laki itu memutuskan untuk mengecup bibir Doyoung singkat. "Diem gak. Nanti diomelin dokter kalau berisik, kamu mau dibius lagi?"

Sungguh ancaman tidak berguna karena kini Doyoung siap berteriak keras, namun niatnya belum sempat terlaksana karena Junghwan yang lagi-lagi mendaratkan kecupan di bibirnya, berulang kali.

"Sana gak!" Protes Doyoung sambil mendorong Junghwan yang entah sejak kapan sudah duduk di atas ranjang, namun Junghwan enggan menurut dan malah memperdalam ciuman mereka dengan menghisap bibir bawah dan atasnya bergantian.

Tangan Doyoung meremat kuat bahu Junghwan karena serangan tiba-tiba, kepalanya juga mulai bergerak mencari posisi yang pas agar hidung mereka tidak saling bersinggungan.

Lidah Junghwan hampir menerobos masuk sampai tiba-tiba ada suara familiar di belakangnya.

"What the hell. Kak Doyoung!"

Itu suara Dain, diikuti dengan suara tawa yang ternyata milik kedua orang tua Doyoung.











...

hehe tamat

aku tau ini book kurang banget kayak KURANG BANGET aku tauuu huhuhu maaf kalo kesannya aku gak niat ngetik ini soalnya aku bikin nightfall tuh berawal dari celetukanku aja gitu di akun priv, jadi beneran kayak gak niat...

semoga gak ada plot hole yang ganggu ya, nanti aku buatin bonus chapter kalo lagi mood ok

makasih udah baca sampe habis dan selamat menikmati buku sebelah!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com