Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

Aroma menyengat seketika menyapa indra penciuman Junghwan begitu ia masuk ke dalam bangunan usang di ujung kota, bahkan masker yang ia gunakan sama sekali tidak membuat bau busuknya berkurang.

"Empat hari." Ucap salah satu polisi yang berjaga.

"Penyebab kematian?" Tanya Junghwan, diikuti dengan Jaewon—personel satu timnya— yang sibuk mencatat sesuatu di buku catatan kecilnya.

"Belum tau, tapi ada tanda aneh di tubuhnya."

"Lagi?" Ucap Junghwan dan Jaewon secara bersamaan, pria yang berdiri di samping mereka mengangguk sebelum membuka terpal yang menutupi jasad, menunjukkan tanda tepat di bawah perut yang dimaksud.

"Empat belas."

"Shit." Umpat Junghwan.

"Kayaknya hari ini sunbae juga harus berurusan sama forensik rese itu."

"Kim Doyoung." Koreksi Junghwan sebelum menghela napas panjang, rasanya lebih baik menghirup bau mayat semalaman dibanding harus berinteraksi dengan Dokter Forensik yang selalu mengganggu aktivitasnya.

Walau sepatutnya Detektif dan Dokter Forensik seperti mereka bekerja sama dalam menangani kasus, tapi nampaknya Doyoung tidak berpikir demikian.

Laki-laki bersurai legam itu tidak pernah kehabisan akal untuk membuat Junghwan kesal, seakan memiliki berbagai cara untuk menghalau kinerja Junghwan juga para timnya.

Padahal tujuan dari pekerjaan mereka sama, yaitu mengungkap dan menangkap si pembunuh berencana.

Namun Doyoung terlalu fokus pada korban dan bagaimana cara terbaik untuk memperlakukan mayat dengan lembut, sedangkan Junghwan lebih ingin mengobrak-abrik jasad untuk menemukan tanda yang kemungkinan besar ditinggalkan oleh tersangka.

"Kabarin saya kalau kalian udah sampe ruang autopsi."

"Mau diskusi sama Dokter Doyoung lagi?"

"Diskusi? Percakapan kita lebih cocok disebut debat di depan mayat."

Personelnya tertawa samar sebelum masuk ke dalam ambulans, meninggalkan Junghwan dengan mobil besarnya sendirian di tempat kejadian.

Di tengah perjalanan, ponsel Junghwan berbunyi, menandakan satu panggilan masuk dari nomor yang sudah ia hapal di luar kepala.

"Apa?" Ucapnya setelah menekan salah satu tombol di kemudi.

"Lima jam, saya cuma butuh waktu lima jam tanpa kamu di ruang autopsi."

"Too long, saya butuh hasilnya malam ini."

"So Junghwan, itu mayat manusia."

"Gak ada yang nyuruh kamu autopsi kambing di sini?"

Dapat Junghwan dengar decakan keras di ujung panggilan, dan ia tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum membayangkan betapa lucunya wajah Doyoung sekarang.

Laki-laki itu pasti sibuk menggigit ujung kuku ibu jari sambil berjalan mengelilingi brankar yang ada di tengah ruang autopsi.

"Dasar detektif gak punya hati." Umpat Doyoung dengan suara lembutnya.

"Kamu Dokter, harusnya kamu tau kalau manusia gak akan bisa hidup tanpa hati."

"Whatever, tapi yang jelas saya gak mau liat muka kamu di ruang autopsi malam ini."

Seharusnya Doyoung tahu kalau sekeras apapun usahanya untuk menaikkan intonasi, suaranya tetap terdengar halus di telinga.

"Too bad, sepuluh menit lagi saya sampai."

"Mayatnya aja belum ada di sini?"

"Siapa bilang saya mau ketemu mayat?"

"Ya terus? Kamu mau ketemu Jaewon? Dia juga belum—"

"Saya mau ketemu kamu, Kim Doyoung."






So Junghwan, 29 years old, detective.

Kim Doyoung, 29 years old, a forensic.








...
Hmmmm, chapter 1 mending up besok atau minggu depan atau minggu depannya lagi atau bulan depan sekalian...?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com