Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter X

"Iya ma, kita tinggal nunggu obatnya aja. Kecapekan, sama stress sedikit. Iya karena magang kayaknya, nanti aku kabarin kalau udah di rumah lagi ya."

Junghwan memastikan panggilan sudah terputus sebelum masuk ke dalam ruang tunggu, duduk di samping Doyoung yang tengah bersandar pada tembok di belakangnya.

Ia benar-benar menyeret Doyoung ke klinik yang lokasinya tidak jauh dari rumah, selain takut kondisinya makin parah, Junghwan juga merasa bersalah karena ikut andil membuat demamnya naik lagi.

"Sini," Ucap Junghwan sambil menarik kepala Doyoung agar bersandar di bahunya. Laki-laki itu menurut, kepalanya yang masih terasa berat kini bersandar nyaman di atas bahu Junghwan. "Tadi gue abis hubungin nyokap lo, terus katanya—"

"Astaga!" 

Kalimat Junghwan berhenti karena Doyoung yang tiba-tiba bicara, ia berdiri tegap sambil mencari ponselnya yang ternyata tertinggal di rumah.

"Kenapa?" Tanya Junghwan, ikut panik saat melihat raut Doyoung yang sangat panik di sampingnya.

"CCTV, di hp lo ada akses cctv rumah gak?"

Pertanyaan Doyoung dijawab dengan gelengan, sebab Junghwan memang tidak memiliki akses ke sana.

"Mati gue, bisa mati kita berdua kalau nyokap liat kita ciuman di rumah!"

"Kim Doyoung-ssi." Panggil petugas apotek dari balik pembatas ruangan, keduanya menoleh dan Junghwan berlari ke arahnya, berusaha mendengarkan semua penjelasan soal obat yang harus Doyoung minum.

Sementara Doyoung berdiri gelisah tidak jauh dari sana, kepalanya makin pusing memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika orang tuanya melihat kelakuan anaknya di rumah mereka sendiri.

"Udah, ayo." Ucap Junghwan sambil menyeret tangan Doyoung ke mobil yang diparkir di depan gedung.

Hanya butuh waktu lima menit bagi mereka untuk sampai ke rumah, Doyoung langsung berlari mencari ponselnya yang ada di kamar, membuka aplikasi kamera pengawas yang bisa diakses oleh semua penghuni rumah.

Junghwan ikut duduk di sebelahnya, memandang layar ponsel yang ternyata tidak menunjukkan rekaman apa-apa.

Semua rekaman malam itu tidak ada, berhenti di pukul empat sore seolah ada yang menghapusnya atau justru Ibu Doyoung sudah terlebih dulu menontonnya?

Keduanya saling bertatapan sebelum dikagetkan oleh suara ponsel Junghwan, nama Wonyoung tertera di layar. Doyoung menggeleng pelan, memberi tanda agar Junghwan tidak menjawab karena ia belum mau dimarahi pada kondisi seburuk ini.

Namun Junghwan malah menekan tombol hijau, mengarahkan ponsel ke telinga sambil menggigit pipi bagian dalam, siap dengan apapun yang ingin perempuan itu bicarakan.

"Kak! Liat laptop gak di ruang tengah?"

"Laptop? Laptop apa?"

"Laptopku, aku lupa ketinggalan di rumah atau di rest area. Boleh tolong cariin gak ya?"

Tanpa protes Junghwan turun ke lantai satu, dan ia menemukan benda yang Wonyoung maksud di atas meja besar samping televisi.

"Iya ada, kenapa? Ada tugas yang mau dikerjain sekarang?" Tanya Junghwan sambil menatap kamera pengawas yang ada tepat di sudut ruangan.

"Nggak, aku nanya aja. Bisa tolong pindahin ke kamarku gak? Gak dikunci kok."

"Iya, nanti aku pindahin."

"Thank you kak! Oh iya, tenang aja, rekamannya udah aku hapus. Jagain kak Doyoung ya, jangan dipaksa terus, kasian dia nanti tambah sakit."

Junghwan menepuk kepalanya sendiri sebelum menjawab ucapan Wonyoung, berkata bahwa ia khilaf dan tidak bermaksud melakukan hal yang lebih dari apa yang terjadi sore tadi. Sedangkan Wonyoung hanya tertawa, sekaligus memberi jaminan bahwa ia tidak akan bicara apapun kepada orang tuanya.

"Adek lo yang liat." Ucap Junghwan sambil berjalan masuk ke kamar Doyoung, ia duduk di sisi kosong ranjang tempat Doyoung berbaring.

"Hah? Jadi, Wonyoung yang liat terus langsung hapus rekamannya?"

"Iya, tapi dia janji gak akan bocorin ke orang tua lo asal..."

"Asal apa? Apa syaratnya?"

"Asal lo bertingkah baik ke dia selama satu bulan ke depan. Sapa duluan tiap ketemu di meja makan, tanya gimana kabarnya kalau dia pulang telat dari kampus." Jelas yang lebih tinggi, tangannya bergerak untuk mengusap kening Doyoung, sekaligus memeriksa suhu tubuhnya yang mulai turun.

"Gue doang? Tapi kan itu kesalahan kita berdua?" Protes Doyoung tidak terima, lengkap dengan bibir maju dan raut menyedihkan andalannya.

"Loh kan gue emang selalu nyapa dia. Anyway, ciuman kita bukan kesalahan!" Protes Junghwan tidak terima, bibir Doyoung makin merengut dibuatnya.

"Obatnya udah diminum?" Tanya Junghwan begitu melihat bungkus serta gelas kosong di atas nakas, dan Doyoung mengangguk. Ia menarik tangan Junghwan untuk diletakkan di sisi wajah, telapaknya yang lebar sepertinya dapat menutup seluruh bagian pipinya.

"Tidur di sini dong, temenin gue." Pinta Doyoung kemudian.

Junghwan tertawa, sifat Doyoung sangat tidak mudah ditebak.

"Kenapa? Takut disamperin orang tua gue lagi ya?" Ledeknya, Doyoung yang kesal langsung menepuk perut Junghwan dengan tangan satunya.

"Jangan ngomong sembarangan!" Omelnya.

Tawa kembali keluar dari mulut Junghwan, ia melepas tangannya dari wajah Doyoung lalu ikut berbaring di sebelah. Menarik tubuh yang lebih kecil masuk ke dalam rengkuhan, meskipun suhu tubuhnya masih lumayan tinggi, tetapi Junghwan tidak merasa risih sama sekali.

"Ini gue gak bakal ketularan demam lo kan?" Tanyanya, seakan belum puas membuat Doyoung kesal.

"Demam gak menular, kalau gue pilek tuh baru, lo langsung pilek juga begitu nyium gue tadi sore."

"Emang tadi sore kita ciuman ya?" Junghwan kembali bertanya dengan nada polos yang terdengar menyebalkan.

"Junghwan!" Omel Doyoung sambil merengek, ia memukul dada yang kebih tinggi berulang kali. "Lo tuh bisa stop ngeledek gue gak sih?"

Junghwan mengangguk sambil berpura-pura kesakitan, "Aduh, iya iya maaf." Ujarnya, ia lalu menarik tangan Doyoung untuk digenggam agar tidak lagi memukulnya. "Yaudah sekarang tidur, udah hampir tengah malem, lo gak boleh begadang nanti sakitnya makin parah."

"Bawel." Bisik Doyoung sambil mencari posisi nyaman di pelukan Junghwan, ia juga menuntun tangan Junghwan agar ada di atas keningnya, "Tangan lo hangat, rasanya kayak pakai kompresan."

"Suddenly?" Tanya Junghwan heran. "Oh ini mah bilang aja kalau lo mau diusap-usap gue sampai pagi." Lanjutnya sambil tersenyum ke arah Doyoung yang terus memandangnya dari bawah.

"Emang kenapa? Junghwan gak mau? Beneran gak mau ngusap Doyoung sampai pagi?"

Suara lucu yang dibuat-buat itu membuat Junghwan gemas lalu mengecup pipi Doyoung, "Udah ah mending lo tidur, efek obat nih ngomongnya jadi ngawur." Perintahnya, dan laki-laki di pelukannya pun mengangguk sambil mempererat pegangan di pinggangnya.

Sabtu malam yang kembali mereka habiskan bersama, namun dengan perasaan yang jauh berbeda karena kali ini, Doyoung sudah membuka hati. Dan Junghwan harap, ia tidak pernah menutupnya lagi.

***

"Good morning Wonyoungie," 

Perubahan Doyoung yang sangat tiba-tiba membuat semua orang yang tengah sarapan—kecuali Junghwan— kebingungan. Bukan sekadar menyapa, Doyoung bahkan mengusak rambut panjang adiknya sambil berjalan menuju kursi yang biasa dirinya tempati.

"Morning, kak." Balas Wonyoung canggung, tetapi perasaan tersebut meluap ketika ia melihat Junghwan mengedipkan sebelah mata ke arahnya, memberi tanda bahwa perubahan sikap itu disebabkan olehnya.

Sementara kedua orang tuanya malah berpikir kalau Doyoung salah minum obat ketika ia demam kemarin.

Sarapan pagi yang nampak lebih cerah dibanding biasanya, meskipun Doyoung masih belum banyak bicara, tetapi ia mulai menanggapi ocehan Junghwan serta Ibunya.

Apapun yang Junghwan lakukan ketika ia ditinggal berdua dengan Doyoung weekend lalu, orang tuanya harap hal itu menjadi awal baik untuk keluarga mereka.

"Hari ini kamu langsung ke Ansan atau mampir ke kantor dulu?" Tanya Junghwan setelah menghabiskan sarapannya.

"Hah? Lo nanya gue?" Doyoung balik bertanya, ia bahkan nyaris tersedak roti yang sedang dikunyah saat mendengar kalimat Junghwan.

"Iya, kamu kan yang ada tugas di luar?"

Doyoung mengangguk bagai orang bodoh, sama sekali tidak memahami arti dari perubahan kata ganti yang terlalu tiba-tiba.

"Langsung ke Ansan?"

Kali ini Doyoung menggelengkan kepala, ia harus mengambil beberapa berkas yang ditinggalkan di kantor Ayahnya.

"Yaudah kalau gitu aku bawa mobil biar nanti sore bisa jemput kamu."

"Tapi—"

"Ssst, gak ada penolakan. Cepet habisin sarapannya, nanti diomelin bos kalau kita telat ke kantor." Ucap Junghwan sambil melirik Ayah tiri Doyoung yang tertawa di hadapan.

Walau tidak lagi berada dalam satu kendaraan dengan Ayah tirinya, tetapi Doyoung tetap merasa canggung karena sikap Junghwan yang berubah drastis.

Hari ini ia memperlakukannya bagai pasien yang baru saja divonis mati; membukakan pintu, memakaikannya sabuk pengaman, memastikan posisinya nyaman di kursi penumpang, memastikan suhu kendaraan tidak terlalu rendah agar Doyoung tidak kedinginan, serta melajukan mobil dengan pelan, sangat pelan.

"Kalau lo jalannya pelan kayak siput gini, mending gue turun terus naik taksi." Protes Doyoung.

"Hah?"

"Kalau lo jalannya—"

"Hah?"

"Kalau lo—"

"Hah?"

"Budek ya? Kalau lo—"

"Kamu."

Kata yang keluar dari mulut Junghwan membuat Doyoung mengantukkan kepalanya ke jendela, harusnya tadi ia memilih untuk berangkat bersama Ayah tirinya saja.

"Denger omongan calon suamimu, nggak?" Tanya Junghwan, dan Doyoung berdehem pelan.

"Yaudah, tadi mau ngomong apa?"

Doyoung menarik napas panjang sebelum bicara, "Kalau kamu bawa mobilnya pelan kayak gini, aku bakal loncat—"

"Heh, jangan ngomong sembarangan. Lagian buru-buru banget emang mau ke mana sih? Santai aja, kantor juga punya papamu."

"Nanti aku ditinggal rombongan ke Ansan."

"Bisa aku anterin, papamu juga pasti kasih izin."

"Gue yang gak mau..." Sungut Doyoung dengan suara pelan agar Junghwan tidak mendengar.

Untungnya Doyoung masih punya waktu untuk merapikan semua keperluan yang harus ia bawa, sementara Jeongwoo sudah menunggunya sambil berkacak pinggang.

"Lama banget lo, mentang-mentang anak bos." Protesnya sambil menarik tali ransel yang terasa berat di punggung.

"Berisik, gue pecat ya lo." Protes Doyoung, ia memastikan semuanya sudah masuk ke dalam tas sebelum menutupnya rapat-rapat. "Ayo, kita dianterin sama supir kantor berarti? Atau lo yang bawa mobilnya?"

"Gue lah yang bawa, kalau dianter nanti ketauan banget lo gunain privilege seenaknya."

Keduanya berjalan menuju lift, Jeongwoo menekan tombol lantai dasar karena kendaraan kantor memang sengaja diparkir di depan gedung.

Dan mereka terkejut saat melihat sosok pria tinggi berambut pirang yang seolah sudah menunggu di samping mobil.

"Obatmu, lupa dibawa." Ucap Junghwan sambil menyodorkan tas kecil ke arah Doyoung. "Di situ ada topi juga,dipakai kalau panas."

"Yaelah, di sana juga dia bakal pakai topi proyek, lebih berguna dari topi lo ini." Omel Jeongwoo, ia masuk ke dalam kendaraan dan langsung duduk di kursi pengemudi. "Cepetan." Lanjutnya, memerintahkan Doyoung agar ikut masuk.

"Katanya rombongan, kok cuma berdua?" Tanya Junghwan sambil membukakan pintu belakang untuk calon suaminya.

"Ngapain di belakang anjir emang gue supir? Depan sini." Protes Jeongwoo tidak terima.

"Ngapain di depan anjir emang pacar gue kenek?" Ucap Junghwan dengan nada tidak suka.

Doyoung yang muak dengan pertengkaran konyol mereka langsung membekap mulut Junghwan, "Berisik, gue bukan pacar lo." Dan ia langsung menarik tangannya begitu merasakan lidah Junghwan yang malah menjilat telapaknya. "Jorok, ih!"

"Buruan masuk atau gue tinggal?" Ancam Jeongwoo sambil menyalakan mesin kendaraan, Doyoung mengangguk lalu membuka pintu depan. Ia duduk di kursi penumpang, meletakkan ransel dan tas kecil ke kursi belakang sebelum memakai sabuk pengaman.

Sementara Junghwan masih berdiri di samping mobil dengan wajah ditekuk, Doyoung yang merasa bersalah langsung membuka jendela dan menarik bahu yang lebih tinggi agar menatapnya.

"Maaf, aku gak bermaksud ngomelin kamu. Maaf, okay? Aku minum obatnya nanti, tapi kamu ingetin ya? Hubungin aku, kalau senggang bakal langsung aku bales." Ucapnya panjang lebar sambil menyeka keringat di kening Junghwan. "Panas kan? Kamu masuk sana, jangan kelamaan di luar." 

Junghwan tersenyum lebar saat mendengar kalimat Doyoung, mengangguk seperti anak anjing yang baru diberi kudapan. "Hati-hati ya." Balas Junghwan, ia juga mengusap sisi wajah Doyoung yang terasa hangat di tangan.

Doyoung tidak sempat menjawab karena Jeongwoo yang sudah melajukan kendaraan, ia hanya mengangguk lalu melepas pegangannya pada Junghwan.

"Bucin banget najis.

Umpatan Jeongwoo sama sekali tidak Doyoung tanggapi karena ia sibuk melambaikan tangan hingga kendaraan mereka keluar dari area gedung perkantoran.







...

minta maaf kalau beberapa hari ke depan gak update dulu huhu, tapi kalau ada waktu aku bakal update tapiiii jangan ditungguin :< anw happy long weekend temen-temenn<3

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com