Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XV

Suasana di kediaman keluarga Doyoung nampak jauh lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Setelah pertengkaran kecil antara anak pertama dan calon suaminya akhirnya dapat menemukan titik terang, kini tidak ada lagi kecanggungan di antara semua penghuni rumah.

Kedatangan Junghwan sangat membawa pengaruh baik, karena Doyoung sudah tidak menutup diri atau marah tanpa alasan yang jelas sekarang.

"Hari ini gak ke lapangan, kan? Berarti berangkat sama aku ya?" Tanya Junghwan sambil menuang air ke dalam gelas milik Doyoung yang hampir kosong.

Doyoung mengangguk, "Hari ini mau urus laporan sama Jeongwoo, harus selesai sebelum libur panjang nanti." Jelasnya sambil melempar senyum gemas pada Junghwan.

Pemandangan indah yang dinikmati oleh semua keluarga Doyoung, bahkan di kepala Ibunya mulai terpikir, tanggal berapa yang cocok untuk melangsungkan pernikahan mereka.

"Junghwan lulus tahun ini? Atau tahun depan?" Tanya wanita paruh baya itu sambil menatap anak, serta calon menantunya bergantian.

"Tahun depan Ma. Selesai magang kan bisa langsung urus skripsi kalau laporan magangnya selesai." Jawab Junghwan.

"Bisa langsung selesai aja gak Pa? Magangnya selesai bulan ini biar Junghwan lulus akhir tahun nanti."

Sebuah permintaan tidak masuk akal, sekarang kalian tahu dari mana asalnya sikap aneh Doyoung.

"Emang mau ngapain?" Tanya Doyoung bingung, kenapa Ibunya malah lebih tertarik dengan kehidupan Junghwan dan bukan dirinya?

"Biar kalian bisa cepet nikah!" 

Jawaban yang sangat di luar dugaan itu membuat semua orang menatapnya dengan raut tidak percaya. terlebih bagi dua pemeran utama yang kemudian sibuk saling menendang di bawah meja.

"Apa, sih?" Protes Junghwan dengan suara pelan karena Doyoung terus menendang kakinya dari samping.

"Jangan mau, kita masih kecil. Awas kamu jawab aneh-aneh."

Tetapi bukan Junghwan namanya jika ia tidak menyukai agenda meledek Doyoung di depan banyak orang, laki-laki itu berdehem sebelum menjawab kalimat calon mertuanya.

"Bisa aja sih Ma, nanti aku minta surat rekomendasi papa biar— aduh! Sakit?!" 

Kalimat Junghwan belum rampung sebab Doyoung yang langsung menendang kakinya lagi, dan lebih keras dibanding sebelumnya.

"Aku masih kuliah, Ma. Aku belum siap buat nikah dalam waktu dekat." Tolak Doyoung dengan bibir merengut.

Memang mereka pikir, kehidupan berumah tangga itu mudah? Ditambah Junghwan juga bukan tipe orang yang bisa dengan cepat berubah dan bisa memimpin sebuah keluarga. Umur mereka bahkan belum genap dua puluh tiga, ada banyak hal yang ingin mereka coba sebelum memutuskan untuk berkomitmen selamanya.

Percakapan soal pernikahan akhirnya berhenti ketika Ayah tiri Doyoung bangkit dari kursi, berkata bahwa mereka harus cepat berangkat ke tempat kerja karena waktu yang makin siang. Sekaligus menyelamatkan Doyoung yang nampak tidak nyaman dengan obrolan ini.

Sambil berusaha fokus dengan jalanan di depan, Junghwan sesekali menoleh ke samping, mencuri pandang ke arah Doyoung yang terlihat kesal karena jawaban asalnya tadi.

"Jangan marah dong, aku kan cuma bercanda." Ucap Junghwan dengan nada manja, sebelah tangannya terulur untuk mencolek ujung hidung Doyoung.

Dengan cepat Doyoung menyingkirkan tangan yang lebih tinggi, ia lalu menatapnya dengan raut marah. "Candaan kamu tuh bisa dianggap serius sama Mama, bisa jadi sekarang dia udah mulai cari WO buat nikahin kita akhir tahun ini."

"Emang kamu gak mau banget ya nikah sama aku?" Tanya Junghwan, nada suaranya terdengar menyedihkan, membuat Doyoung menghela napas berat sebelum benar-benar memusatkan perhatian padanya.

"Bukan gitu, Junghwan." Tangan Doyoung bergerak ke atas tangan Junghwan yang memegang persneling, mengusap punggungnya lalu kembali bicara. "Aku mau nikah sama kamu, aku juga gak bisa bayangin buat nikah sama orang selain kamu. Tapi gak secepet ini juga, emang kamu gak mau ngerasain dunia kerja yang sebenarnya? Tinggal berdua, jauh dari rumah dan nikmatin hidup kita sebelum mutusin buat punya komitmen besar." 

Doyoung bicara dengan pelan, juga berusaha merangkai kata agar Junghwan tidak makin kesal dengan reaksinya tadi yang terdengar berlebihan.

"Lagian siapa sih yang gak mau nikah sama kamu? Dari dulu juga aku cuma mau nikah sama kamu, Junghwanie." Lanjutnya sambil membawa sebelah tangan Junghwan ke depan wajah, dikecupnya lembut seraya menunjukkan senyum terbaik yang ia punya.

Junghwan tertawa, tanpa sadar wajah dan telinganya memerah akibat sikap manis calon suaminya. Doyoung ini yang sejak dulu Junghwan kenal, Doyoung ini yang sempat hilang, Doyoung ini juga yang berusaha Junghwan cari dan untungnya dapat ia temukan.

"You know that I love you, right?" Tanya Doyoung, dan Junghwan mengangguk.

"I know."

"Enam tahun kita pisah, aku masih mau nikmatin masa-masa yang sempet hilang itu sebelum nikah sama kamu."

Alasan yang terdengar masuk akal, perasaan kesal Junghwan akhirnya hilang karena Doyoung yang berhasil menenangkan. Meskipun hanya dengan kata-kata, tetapi Junghwan tahu bahwa Doyoung, tidak akan pernah berbohong padanya.

***

Libur Chuseok yang biasanya Junghwan habiskan hanya bertiga dengan Ibu dan Ayahnya, kini jauh berbeda karena tahun ini ia berada di tengah keluarga yang sangat meriah.

Tadinya Doyoung mengajaknya untuk mengunjungi makam orang tuanya di Iksan, namun Junghwan menolak karena untuk saat ini, ia ingin bersenang-senang sepenuhnya.

Ayah tiri Doyoung mengajak keluarganya berlibur ke Gangwon, di sebuah vila yang cukup sering mereka kunjungi ketika anak-anaknya libur sekolah.

Hunian mewah dengan pemandangan danau itu menjadi tujuan terbaik karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Seoul, mereka tidak perlu menyewa supir tambahan sebab waktu tempuhnya kurang dari dua jam.

Awalnya mereka hendak memakai satu kendaraan saja, tetapi karena bawaan yang cukup banyak, memang lebih baik menggunakan dua mobil karena tidak ada yang mau duduk berhimpitan di dalam mobil bersama tiga koper besar serta bawaan lainnya.

"Kabarin mama kalau mampir, jangan sampai dimatiin share lokasinya." Pesan Ibu Doyoung pada anaknya, dan Junghwan yang akan mengekor di belakang.

"Iya, lagian aku bakal di belakang mobil papa terus kok. Ya kan, Junghwan?"

Junghwan mengangguk, "Iya ma, kita gak akan ke mana-mana."

Perjalanan selama hampir dua jam berjalan lancar, mungkin karena mereka berangkat satu hari sebelum libur panjang hingga jalanan tidak terlalu dipadati oleh kendaraan.

Ketika sampai, Doyoung dan adiknya berjalan lurus ke ruang tengah, melempar tubuh ke atas sofa dan langsung merebahkan tubuh di sana.

"Aku emang gak cocok jalan jauh kayak gini," Keluh Wonyoung sambil menatap langit-langit ruangan yang tidak ditutupi plafon.

Doyoung mengangguk setuju, "Kakak juga, harusnya kita liburan di rumah aja."

Keluhan kakak beradik yang mempunyai sifat sejenis itu mengundang tawa orang-orang di sekitarnya. 

"Kalau cuma di rumah bukan liburan namanya," Ucap Ibu Doyoung sambil mengusap kepala anak-anaknya yang berbaring berdampingan, "Makan, yuk? Laper kan?"

Keduanya beranjak seketika saat mendengar kata makanan, sedikit berlari menuju dapur dan tersenyum senang saat melihat meja yang dipenuhi dengan berbagai jenis makanan.

"Barbequenya nanti malem aja, sekarang makan yang udah mama pesen dulu."

"Junghwan! Sini!" Doyoung memanggil calon suaminya yang sejak tadi berdiri sambil menatap ke arahnya lalu menepuk kursi kosong di sebelah.

Agenda makan siang terlambat itu dinikmati oleh semua orang, terutama bagi orang tua dan adik Doyoung yang diam-diam merayakan kembalinya sosok yang sangat mereka rindukan.

Matahari nyaris terbenam ketika Doyoung selesai berbenah dan berganti pakaian, ia mengajak Junghwan berkeliling sebelum gelap karena ingin menikmati pemandangan di sekitar penginapan.

"Pakai jaketnya," Perintah Junghwan saat melihat Doyoung yang hanya menggunakan kaos rumahan.

"Loh, ngapain?"

"Di luar dingin."

"Kan ada kamu, kalau aku kedinginan tinggal peluk kamu aja?"

Untungnya hanya ada mereka berdua di depan pintu, hingga kalimat memalukan itu hanya bisa didengar oleh Junghwan.

"Beneran dingin, Doyoungie. Nanti kamu malah masuk angin terus sakit selama liburan, emang mau?"

Doyoung menggeleng, ia berjalan mendekat ke arah Junghwan lalu memeluk sebelah lengannya erat-erat. "Nggak dingin, Junghwanie.

Junghwan menyerah karena tidak ingin perdebatan kecil itu berubah menjadi pertengkaran. Mereka akhirnya berjalan ke danau yang letaknya tidak jauh dari sana setelah berpamitan dengan orang tua yang sibuk dengan perlengkapan memanggang di belakang vila.

"Kalau nikah nanti aku maunya tinggal sama kamu di tempat kayak gini," Ucap Doyoung tiba-tiba. "Suasananya sepi, cuma ada kita berdua, jauh dari orang lain juga."

"Kamu gak mau punya tetangga?" Tanya Junghwan, berusaha mengimbangi khayalan calon suaminya.

"Bukan gitu, mau aja tapi gak mau yang deket-deket banget. Nanti ada yang berpotensi godain kamu, aku gak rela."

Jawaban Doyoung membuat Junghwan berdecih, "Belum nikah mikirnya udah jauh banget." Ledeknya, ia meraih sebelah tangan Doyoung untuk dimasukkan ke dalam kantong jaket yang ia gunakan.

"Aku visioner ya! Kamu tuh ganteng, gayanya kayak artis pula. Asal kamu tau aja, banyak karyawan kantor papa yang nanyain kamu ke aku karena kita keliatan deket. Mereka bahkan berani minta kontak kamu."

"Terus? Kamu kasih?"

"Nggak lah! Aku bilang aja kamu tuh bule yang gak punya nomor korea."

Kali ini Junghwan tertawa, langkahnya berhenti untuk menatap Doyoung yang terus-terusan mendengus karena hidungnya mulai mampet sebab menghirup udara dingin.

"Tuh kan kedinginan." Omelnya gemas, ia lalu membentangkan kedua tangan, memberi tanda agar tangan Doyoung masuk ke dalam jaket yang ia gunakan sebelum memeluk tubuh kecilnya erat-erat.

Doyoung sedikit menggigil saat ia menyandarkan kepala di depan dada yang lebih tinggi, tubuhnya juga ikut bergerak seiring dengan Junghwan yang mengayunkan badannya ke kanan kiri.

"Kamu deg-degan." Ucap Doyoung ketika merasakan debar jantung Junghwan yang tidak karuan.

"Mhm, siapa juga yang gak grogi kalau dipeluk sama calon suaminya gini."

Pemandangan matahari terbenam di Gangwon sangat tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perasaan mereka yang sangat bahkan terlampau bahagia. 

Hubungan yang membaik, kesalahpahaman yang akhirnya dapat terselesaikan, Junghwan berharap kebahagiaan yang saat ini ia rasakan akan terus bertahan. 

Kepala Doyoung terangkat untuk menatap Junghwan yang mempererat pegangan di tubuhnya, ia tersenyum lalu sedikit berjinjit untuk mendaratkan kecupan singkat pada bibir calon suaminya.

"I love you, I love you so much." Ucapnya dengan suara pelan.

Junghwan membalas senyumannya, sebelah tangannya mengusap tengkuk Doyoung sebelum menunduk dan mencium sudut bibirnya.

"I know, I love you too, Doyoungie.







...

dan yap besok nikah (tapi boonk),,, anw thank you temen temen yang udah doain di chapter kemarinnn, aku dapet tiketnyaa hihi sooo happy<3 makanya ini ku kasih bonus seneng seneng sebelum diterpa badai berikutnya yah.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com