02 | Anne and Time Machine

***
dedicated to Refina, who always pumped up with anything that related to sci-fi, and this one, time travel.
***
Sebelum aku tahu Peter menciptakan mesin waktu, aku sudah tahu dia memang gila.
Bayangkan saja, di saat pagi buta Peter meneleponku berpuluh kali, membuatku tersentak bangun karena baru saja tidur selama beberapa jam. Sepertinya bukan beberapa jam, mungkin beberapa menit. Bukan hanya itu, ia mendesakku datang ke rumahnya segera karena mengaku sudah menciptakan sesuatu yang "fenomenal dan melintasi sesuatu". Maksudku, apa maksudnya "fenomenal dan melintasi sesuatu"? Dia bahkan tak menjelaskannya. Jujur saja, aku kira ia terlalu banyak makan haggis* dan sampai ia berkata tak masuk akal. Namun apa boleh buat, dia temanku. Apakah aku harus mengecewakannya dengan tidak datang karena "baru tidur beberapa menit setelah tetanggaku berisik dengan klarinet sumbangnya"? Kurasa tidak.
Karenanya, saat pukul 6 pagi aku sudah meninggalkan flatku di tengah hujan deras. Memang saat itu sedang musim panas, namun sepertinya hujan tidak mengenal kata "musim panas" di London. Aku menggigil di balik jaket kulit hitam yang sepertinya tidak membantu menghangatkan badan. Aku merutuk pelan sambil mengeratkan peganganku ke gagang payung. Jarak flatku dengan rumah Peter memang hanya dua blok, namun saat kau pergi ke rumahnya saat hujan deras, yah, itu seperti melewati hujan peluru di jalanan perang.
Singkat cerita, saat tiba di rumahnya, aku disambut oleh seorang gadis berambut coklat dengan tatapan mata birunya yang cerdas, Tess Murdock. Ngomong-ngomong, dia keponakan Peter dari Irlandia, yang kadang bisa kubilang sama cerdasnya dengan Peter (maaf jika aku meragukan kemampuanmu Peter, tapi sebenarnya aku serius mengatakan itu). Ia tersenyum ramah dan menyapaku, "Bibi Anne! Kenapa kau pagi sekali datang kemari?"
Aku hanya bisa menggaruk tengkuk mendengar pertanyaannya. "Umm... sebenarnya Peter yang menyuruhku kemari. Dia bilang ia menemukan sesuatu yang "fenomenal dan melintasi sesuatu"? Aku rasa begitu."
Tess mendengus pelan mendengar ucapan tentang pamannya dan tersenyum kecil. "Ah, sudah kuduga," katanya pelan sambil mempersilahkanku masuk. "Kau mau ikut sarapan dengan kami? Aku dan Bibi Cassie baru saja selesai memasak." Ia menunjuk ke arah dapur, sementara aku bisa melihat Cassie, adik Peter yang melambai riang ke arahku. Aku bisa menghirup wanginya sosis, telur dan bakon yang mereka masak. Perutku sudah bergejolak saat itu, namun aku menolak tawaran itu.
"Sepertinya tidak usah. Trims untuk tawarannya, Tess. Tapi sepertinya aku harus ke bawah sekarang," kataku sambil berjalan menuju ruang kerja Peter di basement. Tess mengangguk, lalu mempersilahkanku pergi. Dia memang sopan sekali, begitu pula dengan Cassie. Aku tahu aku memang tinggal sendiri, namun Peter dan keluarganya membuatku seperti memiliki "keluarga dekat" sampai sekarang.
Maksudku Peter seperti kakakku sendiri, oke? Aku tahu kalian sudah berpikiran macam-macam tentang kami berdua.
Swush! Tiba-tiba sesosok bayangan hitam kecil menabrakku, tepat saat aku melangkah ke bawah. Bayangan itu langsung terjungkal jatuh ke lantai, sementara aku tersentak mundur, mengamati siapa "bayangan hitam kecil" itu. Saat aku melihat rambut pirang dari bayangan itu, aku mengerutkan dahi kebingungan. "Tom? Apa itu kau?"
Bayangan berambut pirang itu, Tom, adik Tess (yang bisa menjadi menyebalkan dan menggemaskan di saat bersamaan), sontak terkejut saat bangkit dari lantai. Ia tersenyum bersalah. "Anne! Maafkan aku! Aku tak lihat kau ada di sana tadi!" serunya keras (sekarang bisa kau bisa lihat kan, perbedaannya dengan Tess?). Aku memaafkan kesalahan tidak disengaja itu, sampai Tom melanjutkan kalimatnya. "Aku baru saja bertemu Paman Peter tadi. Tadi ia berbicara soal kejadian malam natal tahun 2016."
Oh, kejadian malam natal tahun 2016. Benar. Aku tak jadi memaafkannya. Mungkin Peter sudah menceritakannya pada kalian, jadi aku tak perlu mengulangnya dua kali. Tiga kata untuk menggambarkannya: Itu sangat buruk. Dan aku sangat ingin menghabisi Tom untuk hal itu.
Setelah mengungkit soal kejadian malam natal, aku mengetuk pintu ruang kerja Peter. Hingga Peter membuka pintu kasar, dengan rambut coklatnya yang mencuat ke atas seperti landak, dasi polkadot seperti badut, dan tampang yang lelah. "Thomas Murdock! Aku tak akan peduli dengan sosis sialanmu- ups." Sepertinya ia sadar telah membentak orang yang salah saat wajahnya mulai merah. Aku bisa tebak ia baru saja berdebat hebat soal sosis sialan dan natal tahun 2016.
"Apa yang kau maksud, Langster? Kau mengiraku sosis sialan atau Thomas, eh?"
"Euhh... Anne! Masuklah! Kau pasti tak ingin dengar ceritaku soal sosis sialan, kan?" katanya dengan senyuman kikuk sambil membuka lebar pintu. Terkadang ia terlihat menggemaskan saat bertingkah seperti itu.
"Tentu saja tidak, Pete," kataku sambil melepas jaket hitam dan memandangi ruangannya yang sangat berantakan, seolah tidak dibersihkan selama satu abad. Aku menyapu debu di meja perkakas dengan tangan dan meniupnya tepat di depan wajah Peter, membuatnya hampir bersin. "Kapan terakhir kali kau membersihkan ruangan ini, eh?"
"Aku tak tahu dan aku tak peduli," gerutu Peter, yang menyapu debu dari wajah dan merapikan perkakasnya. Aku memperhatikan gerak-geriknya saat ia menarik gerobak kecil yang berisi sesuatu berbentuk kotak dan diselimuti oleh selimut. Sepertinya benda itulah yang ingin ditunjukkan. Terlihat tidak fenomenal. Ia bersender di meja sambil memasang wajah keren. "Ngomong-ngomong, penemuan "fenomenal dan melintasi sesuatu" yang akan kutunjukkan hari ini adalah... mesin waktu! Aku membuatnya!"
Sret! Ia langsung menarik selimut itu, dan berteriak "Voila!" dengan keras dan gembira. Jujur saja... itu tak terlihat seperti mesin waktu. Mungkin lebih terlihat seperti sebuah kotak rongsokan dengan per mencuat, kabel, dan tuas mesin yang ditempelkan dengan lem super yang berlebihan. Singkatnya, itu terlihat seperti generator pompa ban yang baru saja diperbaiki setelah dilindas buldoser.
"Itu.. mesin waktu?" kataku lambat sambil menunjuk benda itu.
"YA! Tentu saja itu mesin waktu, Lorianne!" serunya dengan seringainya yang tinggi.
"Peter, berapa banyak wiski Skotlandia yang kau minum tadi malam?"
"Aku tidak mabuk."
"Kalau begitu jelaskan mesin aneh ini!" Aku mengangkat alis tinggi dan melipat tangan di dada. Aku hanya punya sedikit kesabaran dengan omong kosong Peter yang satu ini.
Peter mendeham sambil memperbaiki jasnya. "Jadi mesin ini dapat menciptakan wormhole, yang seperti kau tahu, artinya dapat membuat jalan pintas ke masa yang kau inginkan. Jika kau menekan tombol dan tuas ini, ding! Kau akan tiba di saat apapun. Tapi aku tak bisa menjamin apakah kau bisa kembali lagi ke masa sekarang, jadi begitulah." jelasnya cepat, seperti orang meracau.
Aku kembali mengerutkan dahi. Tentu saja mesin waktu tidak nyata, bahkan tidak ada seorang pun yang berhasil menciptakan wormhole-nya. Apa Peter sebenarnya berkhayal? Maksudku, darimana dia bisa punya ide untuk membuat mesin itu? Apakah dia disambar petir atau baru membaca koleksi komik The Flash-nya lagi dan mendapat ide setelah membaca Barry Allen menghancurkan timeline? Entahlah. Aku tak mendengar lagi apa yang dikatakan Peter, sampai seketika ia memandangku dan pandangannya membulat. Wajahnya berseri-seri, seolah mendapat ide cemerlang.
"Karena mesin waktu itulah, aku menginginkanmu, Anne," Ia berjalan mendekatiku dengan langkah malas dan nada suara yang rendah. Ia mendekatkan wajahnya ke arahku, hingga aku bisa merasakan deru nafasnya. Tunggu, dia bilang ia "menginginkanku"? Maksudku, arti kata itu bisa bermakna ganda, bukan? Aku makin gelisah saat wajahnya berjarak beberapa senti, sementara jantungku berdegup keras hingga suaranya terdengar ke kepalaku sendiri. Aku beringsut mundur di meja, hingga ia melanjutkan kalimat dan mendorong telunjuknya di pundakku. "Aku menginginkanmu... untuk menjadi bahan percobaan mesin waktuku."
Tunggu, apa?
"Jadi bahan percobaan? Kau kira aku ini seorang tikus?"
"Tikus? Tentu saja kau bukan tikus! Kau bahkan seorang manusia!" Peter mengerutkan dahi. Aku menelungkupkan wajah. Bahkan ia tak tahu sarkasme yang kumaksud. Sepertinya aku memang salah sasaran.
"Maksudku tikus percobaan, oke? Objek percobaan," jelasku sambil memasang jaket kulitku. Aku benar-benar harus melarikan diri dari tempat itu. Kalau tidak, bisa-bisa aku terjebak dalam petualangan yang lebih aneh lagi. Terakhir kali ia mengajakku untuk mencoba hal-hal aneh, ia hampir melepuhkan wajahnya dalam kolam asam sulfat. Brilian. Aku pura-pura melihat arloji sambil berwajah terkejut. "Oh! Kau tahu apa? Aku baru ingat ada pertemuan pagi ini. Maaf Peter, aku harus pergi sekarang." kataku sambil memegang gagang pintu. Satu putaran gagang pintu, dan aku bakal selamat.
"Tunggu," Tiba-tiba suara Peter menahanku untuk memutar gagang tersebut. Oh tidak, sepertinya aku melakukan langkah yang salah. Aku justru berbalik, melihat wajah menyedihkan yang dengan rengutan yang semakin rendah. Ia berjalan dengan lambat, sambil mengulurkan tangannya, menggapai tanganku. Matanya tertuju kepadaku dengan penuh harapan. "Kalau kau tak ingin mencobanya sendirian, ikutlah denganku. Aku janji kau tak akan menyesal, Ann."
Entah kenapa, seolah terhipnotis dengan kata-kata Peter, aku mengikutinya perlahan. Tangan kanannya menggenggam tanganku dengan hangat dan erat, menarikku menuju mesin waktunya. Tangan kirinya mulai menekan tombol dan mengatur tuas mesin waktu yang mulai berderu dengan keras. Tepat pada saat itu juga, aku tersadar dan ingin menyentak tangannya.
"Peter, apa yang kau lakukan?" bisikku tajam.
"Kita akan mengetes mesin waktu ini. Bersama-sama." Katanya dengan yakin, tidak ingin melepas tanganku dan pegangannya pada tuas mesin waktu. Pandanganku mulai memburam dan suara deruan itu terdengar memekakan telinga, lebih keras daripada sebelumnya. Aku tahu, sepertinya aku telah melakukan hal yang salah. Dan sesuatu yang salah memang sedang terjadi.
"Kita akan kemana?!"
"Entahlah, mari kita lihat asalkan kau tetap bersamaku sampai kita tiba nanti."
Di saat Peter tersenyum lirih, deruan itu semakin keras. Aku bisa merasakan udara di sekitarku mulai terasa sangat panas dan pandanganku mulai menghitam. Semburat warna-warni tiba-tiba bermunculan di sekitarku. Yang terakhir kali kulihat adalah bagaimana seluruh pemandangan di sekitarku mulai mengabur dan menghilang, begitupula Peter yang ada di depanku. Saat aku ingin berteriak memanggilnya, pandangan dan seluruh tenagaku sudah hilang sepenuhnya ditelan oleh deruan dan udara panas. Aku tahu, sepertinya aku akan mati saat itu juga.
***
Keterangan: 1.) Haggis*:masakan jeroan domba, seperti jeroan domba, seperti hati, jantung, dan paru-paru yang dicincang halus bersama dengan bawang bombai, oatmeal dan beberapa rempah juga garam.
***
Yes, another first chapter from Anne's perspective (karena kita juga sudah pernah membaca sudut pandangnya di Prolog. Tee hee). Btw it's weird to imagine Peter said "come with me," is just like this:

Nah, too dramatic HAHAHAH *brb nosebleed looking at the gif*
Btw ini update terakhir untuk tahun 2016 (juga sebelum masuk sekolah *menangos*), aku harap update kali ini cukup baik (semenjak aku nggak terlalu yakin dengan bagian ini huhu). Jadi SELAMAT TAHUN BARU, SEMUANYA! Semoga tahun depan akan mejadi tahun yang lebih baik, dan terima kasih buat semua dukungan di tahun ini <3
QOTD: Jika kamu punya mesin waktu, masa apa yang akan kamu kunjungi?
(masa setelah PD II atau masa kerajaan romawi kayaknya menarik banget HMMM)
Multimedia: Anne Tyler in 2019 (Karen Gillan)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com