Chapter X
Tangisan Doyoung masih belum berhenti, Junghwan yang tadi sempat keluar untuk menenangkan diri juga masih belum kembali. Doyoung akhirnya pergi ke kamarnya, karena mungkin Junghwan tidak mau berada di ruangan yang sama dengan dirinya.
Tidak, Doyoung menangis bukan karena kalimat Junghwan, melainkan karena rasa bersalah yang makin besar di hatinya. Andai malam itu ia tidak bersikeras untuk datang dan berada di apartemen seorang diri, Junghwan tidak akan terlibat masalah sebesar ini.
Karir yang Junghwan bangun selama lebih dari sepuluh tahun seakan berada di ambang kehancuran, meski banyak orang yang membela, tapi tidak sedikit oknum yang memanfaatkan situasi untuk membuat nama Junghwan makin buruk.
Untungnya kamar Doyoung berada di lantai dua, lumayan jauh dari kamar Ibu Junghwan yang ada di lantai pertama, tapi Junghwan yang menempati kamar tepat sebelahnya, terpaksa harus menahan diri untuk tidak berlari ke kamar hyungnya yang semalaman menangis tanpa henti.
Junghwan tahu seberapa tersiksanya Doyoung atas kasus ini, dan ia tidak mau menambah penderitaan hanya karena klarifikasi yang belum tentu mampu membersihkan namanya nanti.
Ini pertama kalinya Junghwan membuat Doyoung menangis karena keputusan yang ia ambil, dan Junghwan tidak tahu bagaimana cara yang cepat untuk membuat tangisan itu berhenti.
Tepat jam delapan pagi, pintu kamar Junghwan diketuk berulang kali. Alpha itu mengerang pelan sebelum bangkit dan berjalan menuju sumber suara, ia hanya dapat terpejam selama kurang dari empat jam malam tadi, seingatnya tangisan Doyoung juga tidak lagi terdengar setelah jam tiga pagi.
Ibunya menghela napas begitu melihat penampilan berantakan Junghwan, "Makan, Ibu udah siapin sarapan di bawah." Perintahnya, Junghwan mengangguk sambil mengusap wajah.
"Aku cuci muka dulu." Ucap Junghwan sebelum kembali menutup pintu. Ia melangkah ke kamar mandi yang ada di ujung ruangan, menatap pantulan wajah di depan cermin dan menghela napas begitu melihat kantong hitam tepat di bawah mata.
Baru satu hari ia bertengkar dengan Doyoung dan penampilannya sudah seburuk ini.
Dengan cepat Junghwan membasuh wajah, mengusapnya dengan handuk kering yang menggantung di sebelah kemudian berjalan menuju ruang makan di bawah.
"Hyung mana?" Tanya Junghwan begitu menyadari bahwa tidak ada Doyoung di sana.
"Udah sarapan duluan, kamu cepet makan nanti Jeongwoo hyung dateng katanya mau jelasin sesuatu soal kerjaan." Ucap Ibunya, Junghwan mengangguk paham dan duduk di salah satu kursi yang ada.
Susu cokelat dan roti isi kesukaan, siapapun pasti tidak percaya bahwa Junghwan menyukai makanan yang cenderung manis, berbanding terbalik dengan penampilannya yang nampak gelap karena aura dominan.
Junghwan berulang kali menguap sembari menyantap makanan di atas meja, "Kamu tidur kan semalem?" Tanya Ibu Junghwan begitu menyadari keanehan anak semata wayangnya.
"Tidur." Jawab Junghwan singkat, belum sempat ia melanjutkan kalimat tiba-tiba Doyoung turun dari lantai dua, berlari menuju pintu depan untuk menyambut Jeongwoo yang muncul dari sana.
Jeongwoo menyempatkan diri untuk menyapa Ibu Junghwan, berkata bahwa Junghwan bisa menyelesaikan sarapan karena ia harus menjelaskan beberapa hal kepada Doyoung terlebih dulu di ruang kerja.
Sudut mata Junghwan menatap Doyoung yang enggan mendekat, dari jarak sejauh ini Junghwan dapat melihat seberapa bengkak wajah hyungnya, pakaiannya pun masih sama dengan yang tadi malam ia gunakan.
Tapi kemudian Junghwan menggeleng kuat, ia masih tidak ingin bicara dengan Doyoung untuk saat ini.
"Masih belum ngobrol sama hyung?" Tanya Ibu Junghwan yang duduk di seberang kursinya.
"Semalem ngobrol kok." Jawab Junghwan jujur.
Ibunya mengangguk, menuangkan susu dari kotak ke gelas Junghwan yang mulai kosong. "Terus gimana?" Tanyanya lagi.
"Ya gitu."
"Jangan terlalu keras sama hyung, kamu tau kan hyung cuma mau yang terbaik buat kamu?"
Junghwan mengangguk, ia tahu, ia yang paling tahu bahwa Doyoung selalu mengusahakan hal terbaik untuk Junghwan, bahkan hampir seluruh proyeknya dipilih langsung oleh Doyoung yang selalu menuai hasil luar biasa, tidak ada satupun proyek yang gagal jika Doyoung turun tangan langsung untuknya.
Tapi untuk satu kali ini saja, Junghwan juga ingin yang terbaik untuk hyungnya. Untuk kali ini, Junghwan ingin ia yang berkorban untuk Doyoung, bukan malah sebaliknya.
"Langsung ke ruang tengah, Jeongwoo hyung udah nunggu kamu di sana." Perintah Ibu Junghwan begitu anaknya selesai sarapan, Junghwan menurut dan langsung berjalan menuju tempat Jeongwoo menunggunya.
Kini mereka duduk di atas sofa, Junghwan duduk sendirian di sofa panjang sedangkan Jeongwoo berada di seberangnya. Junghwan pikir mereka akan menunggu hingga Doyoung datang, tapi Jeongwoo berkata bahwa hyungnya itu sudah kembali ke kamar sejak tadi.
Bukan hanya Junghwan yang menghindar, Doyoung juga ikut menjauhinya.
"Untuk proyek selain drama, semua diundur sampai keadaan membaik." Ucap Jeongwoo, menjelaskan kelanjutan karir Junghwan karena aktor mereka menolak memberi klarifikasi, mengakibatkan beberapa brand ikut menarik diri karena tidak ingin terkena imbasnya.
"Produser drama udah kenal kamu dari kecil dan gak percaya sama rumor yang beredar, mereka setuju buat lanjutin proyek ini, adegan kamu juga udah banyak yang ditake jadi bakal ngerugiin semua orang kalau kamu mundur dari sana."
Junghwan mengangguk paham, ada perasaan kesal di hatinya karena ia pikir ia akan mendapat libur panjang karena kasus ini.
"Mulai besok kita bakal lanjut syuting drama, cuma butuh sekitar empat hari sampai semua adegan kamu selesai diambil, setelah itu kita harus tunggu reaksi publik reda, baru kamu lanjutin jadwal kayak biasa." Jelas Jeongwoo lagi.
"Karena syuting besok di luar kota, tolong siapin kebutuhan pribadi kamu buat empat hari."
"Cuma kita berdua yang berangkat?"
"Make up artist sama stylist kamu juga ikut, saya gak mungkin bisa ngerias kamu di sana."
"Ya maksudku―"
"Doyoung? Dia bilang dia ada keperluan di Sokcho jadi gak bisa ikut nemenin kamu."
"Sokcho?"
"Dua hari lagi peringatan hari kematian orang tuanya."
Ah, Junghwan hampir lupa, Sokcho adalah kampung halaman Doyoung. Sebelum ia pergi ke Seoul, Doyoung menghabiskan sebagian besar masa remajanya di sana bersama keluarga Ibu dan Ayah yang mengurusnya sejak kedua orang tuanya meninggal.
"Kenapa? Kamu mau dia ikut?"
Junghwan menggeleng, "Aku cuma nanya."
"Good, jadi saya gak harus repot bujuk Doyoung supaya nemenin kamu besok."
Percakapan berakhir, Jeongwoo pun pamit untuk kembali ke kantor agensi, mengurus semua keperluan Junghwan untuk perjalanan empat harinya menuju Mokpo. Ibu Junghwan mengucap terima kasih berulang kali, bersyukur karena Jeongwoo tidak mengundurkan diri meski masalah yang ia hadapi sudah serumit ini.
Andai Ibu Junghwan tahu kalau bukan karena Doyoung, Jeongwoo sudah melarikan diri dari sana dan mencari pekerjaan lain yang lebih mudah, mengurus alpha remaja adalah pekerjaan paling berat yang pernah ia tekuni.
***
Hingga hari keberangkatan Junghwan, Doyoung masih terus menghindar dan enggan memulai pembicaraan. Jika Junghwan berada di ruang tengah, maka Doyoung memutuskan untuk berdiam diri di kamar, begitu pula sebaliknya. Ibu Junghwan paham soal apa yang Doyoung rasakan tapi ia juga tidak dapat menyalahkan Junghwan atas keputusan yang anaknya ambil.
Keduanya hanya ingin saling melindungi, tapi dengan cara yang berbeda.
Ibu Junghwan tidak berniat ikut campur, merasa kedua anaknya sudah cukup besar untuk dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Jeongwoo mengabarkan bahwa ia sudah berangkat dari kantor agensi, butuh dua puluh menit baginya untuk sampai ke kediaman Junghwan. Junghwan menunggu di teras, dengan ransel besar di samping yang berisi keperluan yang ia butuhkan selama empat hari kedepan.
"Lepas coat mu, gak akan dipake di sana." Suara Doyoung membuyarkan lamunan Junghwan, entah sejak kapan hyungnya berjalan mendekat dan kini duduk di kursi di depannya.
Tanpa sadar Junghwan menurut, ia melepas jaket tebal yang menyelimuti tubuhnya.
"Mokpo panas, harusnya kamu cukup bawa kaos aja." Lanjut Doyoung lagi, mengeluarkan jaket dan luaran tebal dari ransel Junghwan.
Doyoung memasukkan beberapa topi juga kacamata hitam ke dalam ransel. "Jangan pergi tanpa Jeongwoo, banyak orang yang lagi ngawasin kamu sekarang, jangan bertindak aneh, jangan bikin masalahmu makin besar." Lanjutnya lagi.
Junghwan hanya menatap hyungnya dalam diam, tidak berniat menginterupsi karena takut salah bicara. Doyoung meraih pakaian Junghwan yang tidak adiknya butuhkan lalu bangkit dan berjalan menjauh dari sana, tapi tiba-tiba langkahnya berhenti karena Junghwan menarik ujung piyama yang Doyoung gunakan.
"We need to talk." Ucap Junghwan.
"Nanti, kita omongin nanti setelah urusanmu selesai." Doyoung melepas pegangan Junghwan dan kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
Tapi lagi-lagi langkahnya berhenti karena Junghwan yang berdiri dan memeluk tubuhnya dengan erat. Masih pukul tujuh pagi tapi feromon kuat Junghwan sudah menguar ke seluruh rumah, membaui tubuh Doyoung dengan aromanya. "At least let me scenting you." Bisik Junghwan tepat di telinga si omega.
Yang lebih kecil terbuai dengan pelukan hangat sang alpha, Doyoung membalas pelukan Junghwan, menyandarkan kepala ke dada bidang Junghwan, merasakan detak jantung beraturan yang mengalun indah di sana.
Karena sumpah demi Tuhan, Doyoung sangat merindukan Junghwan.
Pakaian yang tadi Doyoung bawa kini sudah jatuh berantakan, entah kenapa pelukan kali ini terasa berbeda, jauh lebih hangat, ratusan kali lebih nyaman dari pelukan mereka sebelumnya.
"I'm gonna miss you." Ucap Junghwan lagi, Doyoung mengangguk pelan, setuju dengan kalimat Junghwan karena ia juga akan merasakan hal yang sama.
Empat hari bukan waktu yang sebentar, mereka jarang berpisah dalam kurun waktu selama itu.
Suara klakson mobil terdengar dari luar, itu Jeongwoo. Pelukan keduanya melonggar, Junghwan menatap Doyoung yang juga berlaku serupa. Ia mendaratkan kecupan lembut di kening Doyoung, "Hyung gak mau ikut aja?" Tanya Junghwan, kali ini Doyoung menggeleng.
"Too late, lagian aku masih ada urusan. Cuma empat hari, nanti aku yang bakal jemput kamu di Mokpo."
Bibir Junghwan merengut, ia hendak melayangkan protes tapi klakson mobil di luar gerbang kembali berbunyi.
"Jeongwoo udah nunggu, hati-hati ya, jangan bertindak aneh selama di sana, kontrol amarahmu dan tolong, jangan pernah berubah wujud di depan orang lain." Ucap Doyoung sebelum mengecup singkat sebelah pipi yang lebih muda.
Pelukan mereka akhirnya terlepas, dan kini tubuh Doyoung sepenuhnya berbau feromon Junghwan.
Junghwan pun berjalan ke luar rumah, bersama Doyoung yang ikut mengantarnya hingga ia masuk ke dalam mobil, menitipkan adik kesayangannya kepada Jeongwoo yang terlihat malas melakukan perjalanan dinas pertamanya sejak ia bekerja.
"Kamu bebas hukum Junghwan kalau dia buat kesalahan." Ucap Doyoung pada Jeongwoo yang berada di belakang kemudi.
"Termasuk mukulin dia sampe babak belur?"
"As long as it doesn't ruin his handsome face." Balas Doyoung sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Junghwan.
Jeongwoo menahan diri untuk tidak mengeluarkan isi perutnya, membuat Doyoung dan Junghwan tertawa puas di tempatnya. Mobil pun mulai bergerak menjauh, meninggalkan Doyoung yang terus melambaikan tangan bahkan hingga kendaraan mereka menghilang di tikungan.
***
Tiga hari pertama mereka berjalan lancar, karena jadwal yang padat membuat Junghwan tidak sempat melakukan apapun kecuali terus berakting di depan kamera. Jeongwoo bernapas lega karena aktornya seakan berhenti berbuat ulah.
Tapi di hari terakhir, Nam Sihyun datang dan berniat menghancurkan segalanya.
Mereka berbagi ruang tunggu, Jeongwoo yang sejak tadi menemani Junghwan terpaksa pergi dari sana karena harus menghadiri pertemuan dengan sutradara yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Jangan buat masalah." Pesan Jeongwoo sebelum pergi, Junghwan mengangguk dan kembali fokus dengan ponselnya.
Doyoung bilang ia sedang dalam perjalanan menuju tempat Junghwan, membuat moodnya yang tiga hari belakangan buruk menjadi baik seketika.
"Ini dia serigala yang namanya terus ada di topik paling atas portal berita." Ucap Sihyun begitu Jeongwoo menutup pintu, ia sengaja memancing amarah Junghwan.
Tapi Junghwan tidak peduli, ia masih fokus pada ponsel di tangannya, memandang potret lucu yang Doyoung kirim tadi pagi. Hyungnya terlihat seperti kelinci kecil yang bersembunyi di balik gorden kuning kamarnya.
Junghwan masih memiliki beberapa adegan hari ini, dan ia akan pulang begitu semuanya selesai, membuatnya tidak sabar untuk bertemu Doyoung dan menghabiskan waktu liburan bersama omega kesayangannya.
"Kamu jadi kurang menarik karena gak lagi ditemenin sama omega manis yang baunya bikin serigalaku meronta buat keluar." Lanjut Sihyun lagi, terus berusaha memancing amarah Junghwan, tapi Junghwan masih enggan menanggapi.
"Kenapa? Omega itu masih trauma karena kejadian di apartemennya tempo hari?"
Gerakan tangan Junghwan di ponselnya berhenti, ia yang sejak tadi duduk membelakangi kini mulai memutar kursi, menatap Sihyun yang memandang remeh ke arahnya.
"Dari mana kamu tau soal itu?" Tanya Junghwan dengan suara beratnya.
Sihyun tersenyum miring karena akhirnya berhasil memancing amarah alpha yang kini berjalan mendekat, tinggal satu langkah lagi dan ia pasti berhasil menghancurkan karir yang sudah Junghwan bangun sejak kecil.
Tangan Junghwan terulur, hendak meraih kerah kemeja yang Sihyun gunakan. Tapi gerakannya berhenti karena pintu yang tiba-tiba dibuka dari luar, keduanya menoleh dan menemukan omega yang sejak tadi mereka bicarakan kini memandang Junghwan dengan senyum manis di wajahnya.
"So Junghwan!" Panggil Doyoung dengan nada paling cerah yang pernah keluar dari mulutnya, ia bahkan tidak menyadari kehadiran Sihyun di sana karena terlalu fokus dengan objek paling menarik di matanya.
...
konfliknya tuh panjang, rumit juga, tapi belum mau selesai sih soalnya kalo ini selesai aku bingung mau nulis apa lagi wkkwkw
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com