Prolog
Sebagai permulaan, jangan lupa vote dan comment, yaa~ komen emoji aja gapapa banget! karena aku ingin melihat antusiasme kalian soal cerita ini!
Terima kasih dan happy reading~
⟢
Jakarta, Indonesia
August 2022
"Berhubung Mama Gita sudah meninggal, kapan kamu akan menikahi perempuan yang kamu suka itu?"
Ismail Mananta memberikan sorot pandang pada sang ayah, Khair Mananta, yang tampak sedang menantikan respons sang anak. Saat mama kandungnya, Gita, meninggal karena sakit yang sudah lama diderita, Ismail belum begitu aktif untuk mendekatkan dirinya pada perempuan.
Baik ayah maupun temannya kerap menjodohkan Ismail dengan perempuan yang mereka kenal. Sayangnya, usaha mereka tampak sia-sia karena Ismail kerap merespons dengan: 1) Gita memiliki standar yang tinggi untuk calon menantu, sehingga 2) menolak semua mantan pacar maupun perempuan yang pernah didekati Ismail. Mungkin saja karena 3) memang Gita sudah menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Ismail.
Semua kekhawatiran itu seharusnya sudah berakhir sejak Gita masuk ke liang kubur pada November 2021. Seharusnya juga Ismail sudah kembali untuk mendekati perempuan secara terang-terangan atau kembali menghubungi mantan pacarnya yang sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Sayangnya, Ismail tidak melakukan itu dan memilih untuk menikmati kesendiriannya sembari membantu sang papa bekerja di Venetian Red.
Ismail masih menimbang banyak hal dalam pikirannya jika ia memilih untuk melanjutkan hidup seperti cara yang ditempuh kebanyakan orang.
"Kamu belum pernah memperkenalkan dia ke Gita, 'kan?"
Lelaki berusia 31 tahun itu menggeleng. Ia tidak akan membiarkan wanita yang ia suka mendapatkan penolakan dari Gita tepat di depan wajahnya. Alhasil, ia menahan diri untuk membicarakan wanita yang sudah lama ia dambakan. Well, Khair juga tahu dan memilih untuk mendukung pilihan sang anak.
Apalagi jika berkaitan dengan apa kata hatinya.
"She's so precious, Pa, jadi aku memperkenalkannya kepada Mama Imani saat di Brussels pertengahan tahun lalu." Ismail merespons hingga ia enggan tersenyum. "Mama Imani sangat menyukainya. Sayangnya, kita terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing."
Khair mudah untuk mengerti bagaimana sang anak mendambakan perempuan yang ia suka. Bahkan menunjukkan perempuan itu kepada mantan istri keduanya, Imani, dan bagaimana Imani menjelaskan kesan pertamanya membuat Khair menyimpulkan bahwa Ismail menemukan kenyamannya melalui perwujudan perempuan itu.
"Kalian masih ngobrol, tidak?" tanya Khair. Sebenarnya disayangkan bagaimana pendekatan itu berakhir dengan status yang begitu kabur. "Kamu dan Valerie."
Ismail belum ingin merespons sang papa, terutama setelah Khair menyebutkan nama perempuan yang dimaksud secara gamblang. Ia berniat mengingat bagaimana hubungannya tidak berlanjut. Tidak, bukan hubungan karena sejak awal mereka tidak menjalin hubungan selayaknya kekasih pada umumnya.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, lelaki itu mendambakan sosok Valerie Valverde, perempuan Spanyol-Indonesia yang kini bersinar berkat kariernya sebagai aktris internasional. Bukan sembarang aktris, karena Ismail mengenalnya sebagai perempuan yang pribadinya begitu cemerlang dan berlatar belakang keluarga yang menakjubkan.
Akan tetapi, alasan mereka tidak melanjutkan pendekatan bukanlah karena kepribadian maupun keluarga mereka yang tidak cocok, melainkan karena mereka ingin berkembang sembari mengutamakan diri mereka sendiri. Ismail dengan konglomerasi keluarga dan Valerie dengan karier aktrisnya.
Tidak ada yang salah. Yang salah hanyalah waktu yang tidak tepat.
Khair enggan menanyakan lebih lanjut. Membiarkan anak lelakinya memilih dan menimbang apa yang lebih baik. Pandangan Khair mengarah ke luar rumah dan, secara tiba-tiba, pikiran sang papa terbayang awal mula ia pindah dan memulai hidup barunya.
Setelah Gita meninggal, Khair memutuskan untuk menjual rumahnya di Mega Kuningan dan menyewakan penthouse-nya kepada orang lain. Kemudian Khair, yang tiba-tiba mempertimbangkan secara matang, memutuskan untuk membeli rumah di Patal Senayan. Meskipun rumah baru Khair hadir dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan rumah sebelumnya, Khair sudah memikirkan rencana masa tua di rumah barunya yang masih terasa sentuhan rumah tua pascakolonial itu.
Sebenarnya Ismail memaklumi bahwa keputusan sang ayah untuk meninggalkan perasaan menyakitkan tentang Gita adalah keputusan yang wajar. Bahkan kepindahan Khair ke Patal Senayan membuat kedua anak lelakinya, Ismail dan Ikram, serta mantan istri keduanya, Imani, akhirnya menemukan kenyamanan untuk mengunjungi Khair.
Beberapa hari ini, Khair memiliki ketertarikan untuk mengetahui lebih dalam soal tetangga barunya—yang ia yakini akan mengejutkan Ismail.
"Kalau boleh saran, di jalan ini ada rumah Dokter Frida Hadiwiryono. Beliau itu dokter anak yang bersuamikan mantan menteri keuangan, Arya Hadiwiryono." Khair membuka obrolan baru dengan Ismail. Matanya masih memandangi jalanan dan pohon yang disinari lampu jalan. "Yang tidak kamu tahu, Valerie itu salah satu cucu dari Dokter Frida."
Ucapan Khair disambut oleh reaksi terkejut di wajah sang anak. Secara tidak terduga, Ismail tidak menduga bahwa sang ayah tahu lebih banyak. "Bagaimana bisa ayah tahu?" tanya Ismail.
Ismail ingat saat ia masih dekat dengan Valerie, lelaki itu tidak berniat untuk menggali lebih dalam soal keluarganya, terutama di mana neneknya tinggal. Informasi yang Ismail ketahui ialah apa yang orang tuanya Valerie lakukan. Itu pun Valerie tidak menceritakannya lebih banyak.
"Informasi itu bisa diakses oleh publik," respons Khair santai. Rasanya membuyarkan ekspektasi Ismail terkait informasi bayaran yang kerap dipakai sang ayah untuk mengorek rival bisnisnya. "Sebenarnya ayah tidak pernah seniat ini mencari informasi soal perempuan yang dekat sama kamu. Rasanya kepindahan ayah ke Patal Senayan seperti takdir supaya kamu datang mengunjungi ayah dan ... ke rumah neneknya Valerie."
Ismail mengernyit heran begitu ia mendengarkan ucapan sang ayah. Pikirannya mencoba mengarah pada apa yang ayahnya ingin ia lakukan demi mendapatkan perempuan yang disukainya. Meskipun apa yang Khair sampaikan terdengar seperti Khair yang menginginkan sang anak untuk lebih sering mengunjunginya.
"Ismail, kamu itu kayak Papa."
Sang anak menggeleng. Menolak untuk disamakan dengan sang papa yang memiliki cara di luar nalar dalam berhubungan dengan kedua perempuan yang pernah dinikahinya itu. "No. I'm not a cheater and obsessive like you."
"Yearner." Khair mengoreksi.
Apakah ada pergeseran makna di sini? Ismail membatin heran setelah mendengar respons sang papa. Mengingat apa yang ia lakukan dengan sang papa itu tidak serupa; Ismail hanya tidak mendapatkan Valerie untuk menjadi miliknya, bukannya memiliki hubungan yang rumit selayaknya sang papa—yang bahkan orang waras pun kesulitan untuk menjelaskannya.
"You have a face and personality like me, but jauh lebih memprihatinkan karena kamu mendambakan Valerie yang masih tidak bisa kamu dapatkan," lanjut Khair. Pandangannya tertuju pada wajah dan tubuh sang anak yang mengingatkannya akan dirinya semasa muda dulu. "Lakukan dengan caramu, Ismail. Kamu sudah kepala tiga." Khair mengingatkan.
Lelaki yang berusia 31 itu hanya tertawa. Sang papa mengatakannya seakan-akan Ismail malas untuk mencari cara mendekatkan diri pada perempuan yang disukai. "Aku baru kepala tiga, Pa. Santai saja," ujar Ismail. Nadanya jauh lebih santai, namun dari dalam hati dan pikiran sedang mempertimbangkan sesuatu.
Kini, Ismail memikirkan cara untuk menarik kembali sosok Valerie ke dalam hidupnya.
TBC
Published on August 8, 2026
⟢
Nas's notes
Kalau di TR, Khair memang lebih dekat sama Ismail. Mau tidak mau, Ismail itu penerusnya kelak. Terima kasih yang sudah mampir dan nantikan updateku selanjutnya yaaa~
Jangan lupa follow instagramku di @ gemeinschweft supaya kalian bisa mendapatkan update dari cerita ini ^^

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com