Chapter IX
"Lo beneran gak mau cari tempat tinggal baru?" Tanya Haruto, dan Junghwan menggeleng sebelum memandang suaminya yang baru selesai makan di sofa pojok ruangan.
"Doyoung harus tinggal di rumah supaya ingatannya cepet balik."
"Lo mau ingatan dia balik terus dia berubah jadi manusia paling nyebelin yang bakal lo gugat cerai?"
Junghwan menghela napas, menggigit pipi bagian dalam karena tidak tahu harus menjawab apa.
Setelah berbagai hal yang mereka lalui, juga beberapa fakta yang baru Junghwan ketahui, dirinya pikir ia sudah tidak berniat menceraikan Doyoung lagi.
Tetapi Junghwan juga tidak yakin apakah sikap Doyoung akan bertahan seperti ini, atau berubah menjadi setelan awal jika ingatannya kembali nanti.
"Buat sekarang lebih baik kita ganti dulu semua pekerja yang ada di rumah lo, gue yakin ada penyusup yang sengaja ditugasin di sana." Saran Haruto, dan kali ini Junghwan mengangguk setuju.
"Soal urusan kantor, gue serahin semuanya ke Hyunsuk sama orang kepercayaan gue nantinya. Kalau perusahaan Doyoung, masih bisa dihandle sama Asahi."
"Terus lo ngapain?"
"Gue mau cari siapa orang yang bikin Doyoung kecelakaan."
"Bukannya lo udah dapet? Katanya udah dikasih tau sama orang suruhan lo?"
Junghwan menatap Doyoung dari tempatnya, memastikan jarak mereka cukup jauh dan ia tidak akan mendengar pembicaraannya dengan Haruto.
"Kayaknya bokap gue—"
"Hah? Bukannya lo bilang, cuma lo yang tau soal rencana ambil alih perusahaan laki lo?"
Suara Haruto yang cukup keras membuat Doyoung menoleh, ia memandang suaminya dengan raut penuh tanya dan Junghwan hanya menggeleng, memberi tanda bahwa semuanya baik-baik saja.
"Lo pikir gue bakal diizinin buat nikah kalau bokap gue gak tau rencananya?"
Jawaban yang sangat di luar dugaan membuat Haruto tertawa miris, ia ikut menatap Doyoung yang duduk bersandar di sofa sendirian.
"Gila, saran gue mending kalian cerai, cari pengobatan yang bagus supaya Doyoung cepet sembuh dan bisa ninggalin lo secepatnya."
"Kok lo jadi mojokin gue? Kan lo tau seberapa ngeselinnya Doyoung pas masih normal dulu?"
"Dan lo pikir Doyoung pantes buat dapet semuanya? Dia hampir mati, Junghwan. Gue juga gak mau berteman sama pembunuh, apalagi belain orang yang jelas-jelas salah." Ucap Haruto panjang lebar, tidak sadar kalau dirinya baru saja menampar Junghwan dengan semua kalimatnya.
"Gue ke sini buat minta saran sama bantuan lo, bukan malah diomelin."
"Ya karena lo pantes diomelin. Selama ini lo cuma cerita soal ambil alih perusahaan supaya semua customer dateng ke bar lo. Lo gak pernah bahas masalah bokap lo dan semua obsesinya buat bunuh menantunya itu."
"Gue juga baru tau? Lo pikir gue bakal diem aja kalau dari awal gue tau bokap gue ada niat buat bunuh Doyoung?"
Keduanya terlalu asik berdebat hingga tidak menyadari bahwa yang namanya disebut sejak tadi mulai mendekat, memberanikan diri untuk duduk di sebelah Junghwan walau sebelumnya ia diminta menunggu sambil menghabiskan makanan.
"Junghwan, kenapa?" Tanya Doyoung sambil menepuk bahu suaminya, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dua orang tinggi itu bahas hingga harus bicara keras-keras.
Baik Junghwan maupun Haruto sama-sama terdiam, pemilik bar memilih untuk pergi keluar sementara Junghwan menoleh, melempar senyum pada suaminya sebelum menjawab pertanyaan.
"Gapapa, kamu udah makannya?" Ia balik bertanya, dan Doyoung mengangguk sambil membalas senyumnya.
"Udah habis daritadi, pulang yuk? Aku ngantuk."
Junghwan belum sempat menjawab sampai tiba-tiba Haruto melempar secarik kartu ke arahnya. "Istirahat di sini aja, banyak ruangan kosong yang bisa kalian pakai." Perintahnya, ia tahu rumah sahabatnya sama sekali tidak aman, apalagi setelah ditinggal hampir seharian.
Karena mau sekesal apapun Haruto pada Junghwan, ia tidak mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya.
"Lagi ada renovasi besar-besaran di rumah kalian, besok baru bisa pulang." Lanjutnya sambil ikut tersenyum ke arah Doyoung yang terus menunjukkan raut tanpa dosa. "Kalau ada apa-apa hubungin gue aja, gue ada di atas."
Begitu pemilik bar benar-benar keluar dari ruangan, Junghwan menuntun suaminya untuk pergi ke lantai di mana Haruto menyiapkan kamar yang biasanya dipakai oleh tamu naratama untuk menginap.
"Ini tuh hotel, bar, atau apa sih Junghwan?" Tanya Doyoung di tengah perjalanan, ia menatap ke bawah dan menemukan banyak orang berkumpul di lantai dansa. Tetapi ketika ia menengadah ke atas, netranya melihat jejeran kamar tidur luas yang akan mereka pakai bermalam.
"Ini rumah Haruto." Jawab Junghwan, karena di lantai paling atas gedung ini memang terdapat mansion yang sahabatnya gunakan sebagai tempat tinggal utama.
***
Netra Doyoung menguar ke seluruh penjuru kamar, kamar ini lebih cocok disebut sebagai rumah tanpa sekat karena ukurannya yang luas, juga berfasilitas lengkap.
Di tengah ruangan terdapat kasur besar yang Doyoung yakin bisa diisi oleh empat orang, di dekat pintu masuk ada sofa lengkap dengan mejanya, dan di sisi berseberangan ada minibar dengan peralatan makan juga kulkas kecil di bagian bawahnya.
"Kamu ngantuk?" Tanya Junghwan sambil menyalakan semua lampu di ruangan.
Doyoung mengangguk, ia mengusap mata yang terasa berat sebelum mengikuti langkah Junghwan yang berjalan menuju ranjang.
"Yaudah kamu istirahat aja, aku mau ganti baju dulu."
"Aku juga mau ganti baju, Junghwan." Protes Doyoung, karena tubuhnya lengket dan ia dapat mencium bekas muntahan di kerah pakaian.
"Yaudah kalau gitu kamu masuk ke kamar mandi, di sana ada lemari yang isinya gaun tidur. Terserah mau mandi dulu atau ganti baju aja, aku tunggu di sini."
Dengan senang hati Doyoung menurut, sedikit berlari menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya di bawah kucuran air hangat. Tidak butuh waktu lama baginya untuk membersihkan diri, sambil mengikat tali di pinggangnya kuat-kuat, ia berjalan ke arah Junghwan yang duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya.
"Junghwan, udah." Ucap Doyoung dengan kedua tangan terbuka, seolah memamerkan tubuhnya pada Junghwan yang mulai tertawa lalu menghampirinya.
"Oh iya, udah wangi juga." Jawab Junghwan sambil mencium kepala Doyoung yang setengah basah.
Doyoung tertawa salah tingkah, Junghwan mengusap sisi wajahnya sebelum masuk ke kamar mandi karena ia sangat tidak ingin berbaring dalam tubuh kotor juga pakaian yang sudah dibawa ke sana ke mari.
Ketika Junghwan keluar, ia menemukan sosok suaminya yang sedang duduk di kursi mini bar. Sebelah tangannya memegang botol minum kosong, dan yang satu lagi Doyoung gunakan untuk memijit pelipisnya yang mulai terasa sakit.
"Doyoung?" Panggil Junghwan. Doyoung menoleh, menatap wajah yang lebih tinggi dengan wajah merah serta pandangan buram. "Kamu ngapain?"
"Aku haus. Minuman di sini kok rasanya aneh ya Junghwan?"
Junghwan berjalan mendekat, dan berdecak begitu mengetahui bahwa botol yang Doyoung pegang adalah botol minuman keras.
Saat belum lupa ingatan saja ia tidak sanggup untuk menelan minuman keras beralkohol rendah, dan sekarang dirinya malah menghabiskan satu botol penuh wiski?
"Junghwan..." Panggil Doyoung lagi, tangannya terulur untuk meraba lengan suaminya. "Aku pusing." Keluhnya sambil menyandarkan kepala ke atas bahu yang lebih tinggi.
Tanpa menjawab, Junghwan langsung mengangkat tubuh Doyoung, membaringkannya di atas ranjang lalu mengusap keningnya yang mulai berkeringat.
"Panas ya?" Tanya Junghwan dengan suara pelan, dan Doyoung mengangguk.
"Padahal aku baru mandi, masa iya harus mandi lagi?"
Junghwan tertawa, wajah Doyoung terlalu menggemaskan sekarang. Kedua pipinya menunjukkan semburat merah, begitu juga dengan hidung bulatnya. Bibir hati merah muda itu juga terus merengut, mengeluh perihal suhu tubuhnya yang terus naik.
"Junghwan coba tiup aku, aku kepanasan." Pinta Doyoung, ia menarik kerah baju tidur yang suaminya gunakan, mendekat ke lehernya yang ikut berkeringat.
Bukannya langsung menurut, Junghwan malah meneguk ludah. Seharusnya ia dapat mencium bau alkohol dari tubuh Doyoung, tetapi indera penciumannya malah dipenuhi oleh bau manis khas suaminya.
"Junghwan, tiupin." Rengek Doyoung lagi, dan kali ini Junghwan mengangguk.
Ia meniup wajah Doyoung, turun ke lehernya dan begitu bibirnya nyaris sampai di telinga, Doyoung malah menggeleng kuat.
"Jangan di situ!" Protesnya sambil menutup telinga, ada sensasi aneh yang menjalar ke tubuh bagian bawahnya ketika angin yang berasal dari mulut Junghwan berembus di sana.
"Kenapa?" Tanya Junghwan bingung, dan Doyoung tidak menjawab karena bingung merangkai kata.
"Udah gak panas lagi?"
Doyoung menggeleng, ia lalu menggeser tubuh dan menepuk sisi kosong ranjang, memberi tanda agar Junghwan ikut berbaring di sebelah.
Junghwan mematikan lampu terlebih dulu sebelum mengambil tempat di samping suaminya, biasanya Doyoung paling enggan tidur di tempat asing, apalagi bersama Junghwan.
Tetapi hari ini, mereka malah menginap bersama di bar milik Haruto. Salah satu tempat yang selalu Doyoung hindari sejak mereka menikah dulu.
"Junghwan, Junghwan tau gak?" Doyoung yang berbaring dengan kepala di atas lengan Junghwan itu mulai bicara.
"Nggak, kenapa?" Tanya Junghwan sambil memijit pelan kening suaminya.
"Pas Junghwan cium aku tuh rasanya deg-degan banget, perut aku juga geli, kayak ada burung lagi terbang di dalemnya." Jelas Doyoung, tangannya juga tidak bisa diam, telunjuknya mulai menari di atas tulang selangka Junghwan yang terekspos jelas karena baju tidur longgarnya.
"Aku mau dicium lagi, Junghwan." Pinta Doyoung sambil merapatkan tubuh mereka.
Cahaya remang yang berasal dari lampu tidur di sudut ruangan menjadi satu-satunya sumber sinar yang membuat Junghwan dapat memandang samar wajah Doyoung.
Suaminya itu menatapnya penuh harap, menunggu permintaannya dikabulkan.
Kepala Junghwan bergerak mendekat, bibirnya mendarat di kening Doyoung yang terasa lembab, mengecupnya cukup lama sebelum bergerak mundur.
"Kok malah manyun gini?" Tanya Junghwan karena raut Doyoung yang masih belum puas.
"Lagi."
Junghwan terkekeh pelan, ia mengangguk dan kembali mendekat.
Namun ia belum sampai pada tujuan ketika Doyoung dengan sengaja mendongak, membuat bibirnya malah mendarat tepat di bibir yang lebih kecil.
Netra keduanya terpejam, menikmati kelembutan yang baru pertama kali mereka rasakan.
Tengkuk Doyoung meremang kala tangan besar Junghwan meraba sisi wajahnya, sekaligus mendorong kepalanya agar tetap diam pada tempatnya sementara mulutnya mulai bergerak, melumat bibir atas dan bawahnya bergantian.
Dengan jantung yang berdegup kuat, Doyoung mulai berusaha mengimbangi permainan. Ia membuka mulut, membiarkan lidah suaminya masuk sementara tangannya terus membelai leher putihnya.
Sensasi pahit menyapa lidah Junghwan, sisa alkohol dari mulut Doyoung kini ikut ia rasakan dan itu nyaris membuatnya lepas kendali.
Desahan tertahan keluar dari mulutnya saat Junghwan dengan sengaja menghisap lidahnya, menimbulkan bunyi aneh yang menggema di ruangan tanpa sekat.
Tangan yang tadinya ada di belakang kepala Doyoung kini malah meraba bagian tubuhnya yang lain, masuk ke dalam gaun tidur yang ia gunakan dan hampir sampai pada tujuan hingga desahan Doyoung makin kuat.
Suara itu menyadarkan Junghwan, ia mengecup sudut bibir Doyoung sebelum menarik diri, menatap wajah yang jauh lebih merah dibanding sebelumnya.
"Kenapa?" Tanya Doyoung, dan Junghwan menggeleng lalu memeluk tubuhnya erat-erat.
"Tidur ya." Ucapnya singkat sambil terus mencium ujung kepalanya.
Karena Junghwan tidak ingin melakukan sesuatu pada Doyoung yang sedang tidak mengingat apapun, ia enggan hal yang lebih buruk terjadi ketika ingatan Doyoung kembali.
Dan Doyoung mengangguk, efek alkohol bukan hanya membuat tubuhnya panas, tetapi juga mengantuk karena tidak lama kemudian, ia benar-benar tertidur di dekapan Junghwan.
...
ih kenapa gak dilanjut atuh hwan
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com