Chapter X
Setelah makan siang dan berdiskusi lebih lanjut dengan Haruto, Doyoung dan Junghwan memutuskan untuk pulang. Sahabatnya itu telah memastikan bahwa semuanya aman, seluruh pekerja di rumah mereka sudah diganti oleh karyawan baru yang dikontrak untuk tidak melanggar batasan yang sudah ditentukan.
Junghwan juga sudah memesan kendaraan baru yang diantar ke rumah, ia curiga bahwa selain mobil Doyoung, mobil yang sering dirinya bawa bisa jadi telah disadap oleh Ayahnya.
Keduanya langsung turun dari mobil Haruto yang diminta mengantar mereka, sebelah tangan Junghwan menggenggam erat tangan Doyoung, berjalan beriringan masuk ke dalam rumah dan Doyoung menyadari bahwa wajah-wajah asing kini memenuhi kediamannya.
"Ini yang kamu bilang soal renovasi besar-besaran, Junghwan?" Tanya Doyoung, dan Junghwan mengangguk pelan.
"Aku gak mau insiden tempo hari keulang lagi, gak boleh ada yang coba buat bunuh kamu di rumah kita sendiri."
Doyoung tersenyum samar, mempererat pegangannya di tangan Junghwan sambil memerhatikan lingkungan sekitar.
Perasaan nyaman yang tidak pernah ia temukan di manapun selalu terasa jelas ketika ia sedang berada di rumah, terlebih saat bersama Junghwan. Dirinya senang karena Junghwan mengambil keputusan besar untuk mengganti seluruh karyawan, hingga mereka tidak perlu bermalam di tempat asing untuk yang ke dua kali.
Karena sudah makan siang sebelum pulang, mereka langsung masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
"Aduh,"
Teriakan Doyoung yang berada di walk in closet membuat Junghwan berlari menghampiri, ia dengan cepat membantu suaminya bangun, sepertinya kaki Doyoung tidak sengaja terantuk ujung sofa kecil saat masuk tadi.
"Junghwan, mata aku burem banget, kenapa ya?" Tanya Doyoung sambil merengut, sebenarnya sejak awal ia ingin bertanya soal ini, tetapi karena sebelumnya Junghwan nampak menyeramkan, ia tidak pernah berani.
"Astaga aku lupa, mata kamu minusnya emang lumayan tinggi." Jelas Junghwan, ibu jarinya mengusap bawah mata Doyoung yang memerah karena terus digosok. "Kamu ganti baju dulu aja, biar aku cari kacamata cadangan."
Doyoung mengangguk, melanjutkan agenda berganti pakaian sementara Junghwan mulai membuka laci yang tidak pernah ia sentuh sama sekali.
Tidak mungkin Doyoung hanya memiliki satu kacamata tanpa cadangan, ia membuka laci meja kerja dan tersenyum saat menemukan apa yang dirinya cari. Namun perhatiannya teralihkan oleh satu kotak berwarna cokelat tua, bertuliskan nama Junghwan dengan aksara Jepang di atasnya.
"Doyoung, kacamatanya aku taruh di atas meja. Aku mau ganti baju di kamar sebelah." Ucap Junghwan, sedikit berteriak karena pemilik kamar memang masih berada di ruangan berbeda.
Begitu mendapat jawaban, Junghwan berlari menuju kamar lamanya lengkap dengan kotak yang ia ambil dari laci kerja suaminya.
Ia duduk di pinggir ranjang, mulai membuka kotak yang sangat membuatnya penasaran. Dan terkejut saat menemukan beberapa dokumen beserta puluhan foto dirinya yang kebanyakan diambil dari jauh juga tanpa persetujuan.
Sepertinya bukan hanya Junghwan, Doyoung juga diam-diam mencari informasi soal rival bisnis sekaligus calon suaminya.
Tangan Junghwan meraih satu foto, itu saat ia keluar dari kafe yang ada di lantai dasar gedung perkantoran.
Junghwan selalu mampir ke kafe tiap pagi sebelum masuk kantor, bukan buat minum kopi, tapi susu cokelat panas.
Tanpa sadar Junghwan tertawa, untuk apa Doyoung mencatat hal tidak penting seperti ini? Dan seharusnya Doyoung tahu bahwa sejak mereka menikah, kebiasaan itu justru berpindah ke dirinya, sebab Junghwan memilih untuk meminum kopi dengan tambahan shot espresso karena ingin bekerja lebih keras dibanding sebelumnya.
Netranya beralih ke foto lain, ketika mobil Junghwan meninggalkan perusahaan pada malam hari.
Junghwan selalu makan malam di rumah, dia gak suka makan di luar apalagi ketemu klien setelah jam pulang kerja.
Ada satu foto yang lumayan di luar perkiraan, foto yang diambil saat Junghwan keluar dari tempat gym yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Junghwan suka olahraga, badannya gak kalah bagus dari Dohyun hyung. Kalau mereka berantem, aku harap Junghwan yang menang, dan bisa bawa aku kabur dari rumah supaya gak terus dipukul sama dia.
Lebih dari siapapun Junghwan tahu, seberapa buruk hubungan Doyoung dengan anggota keluarganya. Tetapi ia tidak menyangka bahwa Dohyun berani memukulnya, sejak ia menikahi adiknya mereka sempat bertemu beberapa kali. Namun Dohyun yang kelihatan takut dengan Doyoung, bukan sebaliknya.
Ada beberapa foto sejenis yang diambil di depan tempat kerja Junghwan, mungkin karena orang suruhan Doyoung tidak berani masuk ke dalam apalagi tanpa izin yang jelas.
Junghwan hampir menutup kembali kotak itu sampai matanya melihat foto aneh di tumpukan paling bawah.
Itu bukan foto Junghwan, melainkan foto Ayahnya yang menatap lurus ke arah kamera, seakan tahu bahwa ada orang yang sedang membidiknya dari kejauhan.
Semoga Junghwan selalu baik-baik aja.
Apa maksud tulisan di belakang fotonya? Biasanya Doyoung selalu menulis hal yang berkaitan dengan gambar, tetapi tidak untuk yang satu ini.
"Junghwan? Udah belum ganti bajunya?"
Suara dari depan pintu mengagetkan pemilik kamar, Junghwan buru-buru menutup kotak dan memasukannya ke dalam laci samping ranjang sebelum berlari menuju lemari, meraih baju dari tumpukan paling atas dan mengganti pakaiannya secepat kilat.
"Junghwan," Panggil Doyoung lagi, ia ingin masuk tetapi takut dimarahi.
"Iya," Jawab Junghwan pada akhirnya sebelum membuka pintu kamar, menatap suaminya yang berdiri di depan.
"Wah..." Racau Doyoung tanpa sadar, sebelah tangannya terangkat untuk mengusap sisi wajah Junghwan. "Ternyata kamu ganteng banget." Ucapnya jujur, ini pertama kalinya ia melihat wajah Junghwan dengan jelas tanpa perlu berbaring terlalu dekat.
Pujian tiba-tiba itu membuat Junghwan salah tingkah, ia tertawa lalu memperbaiki posisi kacamata yang bertengger pada hidung suaminya.
"Sekarang udah gak burem, kan?" Tanyanya dan Doyoung mengangguk semangat.
"Udah bisa liat muka kamu dengan jelas dan gak akan kesandung lagi." Pamernya sambil tersenyum lebar.
Suara deringan telepon rumah yang ada di dalam kamar membuat fokus mereka teralihkan, Junghwan berjalan mendekat untuk mengangkat, berbicara sebentar lalu kembali menghampiri Doyoung yang berdiri di depan pintu.
"Temen-temenku dateng mau bahas sesuatu, kamu mau tunggu di kamar atau ikut ke bawah?" Tanya Junghwan dan Doyoung mengangguk.
"Ikut, aku juga mau ketemu temen-temen kamu."
Akhirnya Junghwan menuntun Doyoung untuk turun, menyambut semua orang yang ia undang untuk membahas masalah yang tentu saja tidak bisa Junghwan hadapi sendirian.
Ada Haruto juga di sana, Doyoung tersenyum pada satu-satunya wajah familiar itu sebelum duduk di samping suaminya.
"Beneran lupa ingatan?" Tanya salah satu laki-laki paling pendek, pria berambut pirang itu menatap Doyoung tidak percaya.
"Ini Hyunsuk hyung, sebelumnya kamu sering ngobrol sama dia, dia sekertaris pribadiku di kantor." Jelas Junghwan, Doyoung mengangguk canggung dan membalas uluran tangan.
"Kalau ini Asahi, sekertaris kamu. Dia yang handle semua kerjaanmu sekarang."
Raut Doyoung berubah menjadi penuh rasa bersalah. Dan itu membuat Asahi menggeleng lalu berusaha menenangkan atasannya.
"Gapapa, bayaran yang dikasih suami lo lebih dari cukup buat gue, tenang aja." Ucapnya sambil tersenyum.
"Yang ini Jaehyuk, sepupu jauhku, dia juga banyak bantu aku di tempat kerja."
Setelah sesi perkenalan singkat, Junghwan meminta Doyoung untuk menunggu di ruang tengah, menonton televisi atau apa karena ada beberapa hal penting yang harus ia bahas dengan temannya, tanpa melibatkan suaminya.
"Nanti kalau udah selesai, aku nyusul kamu ke sana." Ucap Junghwan, dan Doyoung akhirnya menurut, berjalan menuju sofa lalu menyalakan televisi di hadapan.
***
Hari hampir malam saat para tamu memutuskan untuk pulang, meninggalkan pemilik rumah sendirian.
Diskusi panjang lebar mengenai saham yang harus mereka jaga dari para oknum yang berpotensi mengacaukan itu cukup membuat Junghwan kelelahan, setelah memastikan mobil semua orang sudah keluar dari halaman, ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Doyoung yang tertidur di sofa ruang tengah dengan televisi menyala.
Junghwan meregangkan tubuh, mengambil tempat tepat di samping Doyoung dan duduk dengan kepala bersandar pada bahu sempitnya.
"Junghwan?" Panggil Doyoung dengan suara serak, Junghwan hanya berdehem lalu merapatkan tubuh mereka.
Kepala Doyoung ikut bersandar ke atas kepala Junghwan, ia juga mulai mengusap punggung tangan suaminya yang memeluk erat sebelah lengannya.
"Capek ya? Istirahat di atas aja yuk?" Ajaknya, dan Junghwan menggeleng sambil menggeser tubuh agar tidak lagi ada jarak di antara mereka.
"Di sini dulu aja." Jawabnya.
Tangan yang semula memeluk lengan Doyoung itu mulai bergerak, melingkar di depan perut yang lebih kecil hingga Doyoung terpaksa mengganti posisi duduk agar Junghwan lebih mudah mendekap tubuhnya.
Jemari Doyoung juga bergerak, membelai kepala suaminya yang bersandar di pundak.
"Doyoungie," Panggil Junghwan, itu adalah suara paling lembut yang pernah keluar dari mulutnya.
"Kenapa, Junghwanie?" Jawab Doyoung dengan intonasi khasnya, suara yang tanpa sadar membuat Junghwan dengan mudah jatuh cinta.
"Semoga Doyoungie selalu baik-baik aja." Ucap Junghwan, mengutip apa yang Doyoung tulis di belakang foto Ayahnya.
Ah, ia jadi ingat ucapan Asahi tadi.
"Doyoung ubah semua kebiasaannya setelah nikah sama bapak, harusnya bapak sadar lah. Saya aja yang cuma karyawan biasa tau, masa bapak nggak? Kan bapak suaminya?"
Entahlah, mungkin benar kata Haruto, ia terlalu dibutakan oleh kebencian serta keinginan untuk mengalahkan Doyoung yang selalu berada di posisi teratas.
"Tiba-tiba?" Tanya Doyoung heran.
"Aku janji aku bakal selalu jagain kamu, makasih udah baik ke aku selama ini."
Tunggu, bukankah sebelumnya Junghwan bertingkah seolah Doyoung adalah manusia paling jahat di dunia?
Pertanyaan itu terperangkap di kepala Doyoung karena Junghwan yang mendadak menarik diri, menatap raut polosnya sebelum mencium keningnya. Sebuah hal yang mulai menjadi kebiasaan sebab Junghwan seolah sedang menyalurkan seluruh perasaannya melalui kecupan.
Doyoung tersenyum dengan wajah memerah, salah tingkah karena tingkah manis suaminya.
"Aku sayang kamu, Junghwan." Aku Doyoung setelah mencium kedua pipi Junghwan bergantian.
Junghwan mengangguk, mengucap kalimat yang sama lalu menarik tubuh kecil suaminya masuk ke dalam pelukan.
Sekaligus berdoa dalam hati agar perasaan Doyoung terus bertahan, bahkan hingga ia tidak lagi lupa ingatan.
...
seharusnya aku udah ngetik konflik tapi aku nggak tegAAAAAAAA cukup moment mereka kering di rl, di sini mereka HARUS mesra-mesraan #mybookmyrule
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com