Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XV

Sebenarnya Doyoung malas menuruti perintah Dohyun untuk mampir ke rumah keluarga karena kemungkinan besar, ia akan dinasehati atau justru dicaci maki di sana sebab kesalahan yang tidak dirinya perbuat.

Orang tuanya selalu menganggap Doyoung sebagai anak paling durhaka, meski ia adalah kepala keluarga, tetapi apapun yang dirinya beri seolah belum cukup untuk membahagiakan mereka.

Kartu kredit dengan limit tinggi sangat tidak ada apa-apanya, rasanya Doyoung harus menyerahkan seluruh raga serta jiwanya agar mereka puas dan tidak terus memeras.

Dugaannya tepat sasaran, belum ada sepuluh detik Doyoung duduk di sofa ruang keluarga, omelan keras langsung keluar dari mulut Ibu dan Ayahnya. 

"Kamu bodoh? Kenapa hampir semua saham bisnismu sekarang atas nama Junghwan?" Suara nyaring Ibunya menguar di sana, memenuhi seluruh ruangan serta membuat telinga Doyoung berdengung kesakitan.

Doyoung menghela napas, ia melonggarkan dasi di lehernya sebelum menatap Ibu dan Ayahnya yang duduk di hadapan bergantian.

"Sengaja. Aku sengaja balik nama semua aset atas namaku ke nama Junghwan. Jadi kalau suatu hari kalian bunuh aku, hartaku gak langsung jatuh ke tangan orang yang salah."

Tamparan keras langsung Doyoung terima di pipi kiri, entah sejak kapan Kim Dohyun duduk di sofa yang ada tepat di sampingnya, seringai menjengkelkan terukir indah di wajahnya setelah ia berhasil memukul adik satu-satunya.

Keluarganya memang tidak segan menggunakan kekerasan jika diskusi mereka tidak menemukan jalan.

"Udah puas? Atau masih mau tambah lagi?" Tanya Doyoung, berusaha menahan diri agar tidak meledak di sana dan berakhir babak belur karena datang sendirian.

Seharusnya ia bawa Junghwan, tetapi suami brengseknya itu malah pergi ke tempat Haruto dan berkata bahwa ia mungkin tidak pulang malam ini.

Seakan Doyoung tidak tahu hal buruk apa yang sudah dirinya rencanakan, Doyoung dapat melihat jelas berkas-berkas perceraian yang sedang Junghwan urus dengan pengacara pribadinya.

Dibanding terus berada di tempat memuakkan ini, Doyoung memutuskan untuk beranjak dari sana, berjalan ke arah mobilnya —yang entah kenapa cukup sulit dikendalikan— dan membawanya pulang ke rumah.

Tetapi kesialan memang sedang berpihak padanya karena di tengah perjalanan, Doyoung dikejutkan dengan sosok tidak dikenal yang memaksa masuk ke dalam kendaraan.

Dilihat dari gerak-geriknya, Doyoung yakin bahwa orang ini adalah salah satu suruhan mertuanya, maka dengan cepat ia mengalihkan navigasi menuju rumah keluarga Junghwan serta menonaktifkan pengeras suara agar orang yang duduk di sebelahnya tidak curiga.

Jika Doyoung harus mati malam ini, setidaknya polisi tahu siapa yang harus mereka selidiki untuk pertama kali.

"Jalan." Perintah sosok bertopeng itu sambil mengacungkan pisau ke leher Doyoung.

"Jalan ke mana?" Tanya Doyoung sebelum memperbaiki posisi kacamatanya, "Kalau kamu mau bunuh saya, ya bunuh aja." Lanjutnya dengan suara pelan.

Lagipula Junghwan akan menceraikannya dalam waktu dekat, sudah tidak ada lagi orang yang bisa Doyoung jadikan sandaran jika mereka benar-benar berpisah nanti.

Kematian terdengar lebih menyenangkan dibanding harus hidup tanpa Junghwan.

"Gak ada yang mau bunuh kamu di sini, jalan!" 

Doyoung berdecak sebelum melajukan kendaraan, "Kalau gak ada tujuan yang jelas, saya bawa mobil ini ke polisi aja, gimana?" 

"Ya gapapa, biar saya suruh partner saya buat bunuh suami kamu sekarang juga."

Lagi-lagi dugaan Doyoung tepat sasaran, dan tanpa sadar dirinya tertawa, ia dikelilingi oleh orang jahat yang terus bertindak bodoh karena rencana mereka selalu mudah ditebak.

"Sekarang kamu pilih, kamu mau ikut kerjasama buat bunuh dia atau saya yang bunuh kamu sekarang?"

"Lebih baik aku yang mati." Jawab Doyoung tanpa ragu. "Ini kan yang kamu mau?" 

Senyum licik mendadak terukir di wajah Doyoung, ia dengan sengaja memainkan setir hingga kendaraan tidak lagi berjalan lurus, membuat orang yang duduk tanpa sabuk pengaman di kursi sebelah langsung berpegangan pada handle di atas.

"Gimana kalau kita mati berdua?" Tanya Doyoung sambil melepas kacamatanya, "Sekarang kamu pilih, mau jurang atau tebing yang ada di ujung jalan?"

Netra Doyoung tidak lagi dapat melihat jalanan dengan jelas, untungnya kondisi jalan cukup sepi malam ini, hingga Doyoung tidak perlu melibatkan orang lain jika benar-benar ingin bunuh diri.

"Orang gila." Umpat suruhan ayah Junghwan saat menyadari bahwa korbannya sama sekali tidak waras.

Rem di mobil Doyoung sudah tidak dapat berfungsi, membuat kendaraan makin berjalan cepat tanpa arah yang jelas.

"Ayo, yang mana yang kamu pilih?" Tanya Doyoung lagi, ia mengarahkan mobil ke pembatas jalan rendah sambil terus menginjak gas.

"Mending kamu mati sendirian." Ucap pria bertopeng itu sambil melepas seatbelt yang melingkar di tubuh Doyoung. Ia menarik tangan yang lebih kecil hingga mobil terpelanting ke kiri dan dengan cepat melompat keluar sebelum kendaraan benar-benar jatuh ke jurang yang ada di sisi jalan.

***

"Doyoung..." Panggil Junghwan sambil membelai sisi wajah suaminya yang terasa panas. "Bangun dong sayang." Lanjutnya lagi karena Doyoung yang tidak kunjung membuka mata bahkan setelah ia mengganti pakaiannya.

Doyoung mengerang pelan, tangannya nyaris menyingkirkan kompres yang ada di keningnya sebelum akhirnya terjaga. Netranya mengerjap berulang, beradaptasi dengan cahaya terang yang ada di kamar lalu menatap wajah khawatir Junghwan yang duduk di sisi kosong ranjang.

"Junghwan," Panggil Doyoung sambil berusaha bangkit, namun Junghwan menahan dan menuntunnya agar tetap berbaring. "Mau peluk." Rengek Doyoung dengan kedua tangan terbuka.

Junghwan ikut berbaring di sebelah, ia memeluk erat tubuh suaminya sebelum melepas handuk kecil yang ada di kening Doyoung. 

"Kamu baru pulang?" Tanya Doyoung yang kini bersandar di depan dada yang lebih tinggi.

"Udah daritadi, kamu tidur siangnya lama banget sih." Ledek Junghwan, berusaha mencairkan suasana agar Doyoung tidak teringat kejadian buruk yang menimpanya sebelumnya.

"Maaf." Jawab Doyoung singkat, dan Junghwan menggeleng pelan.

"Aku yang harusnya minta maaf, maaf ya karena lagi-lagi aku gagal jagain kamu." Bisik Junghwan sambil terus mengusap surai gelap suaminya. 

"Jangan minta maaf, kan kamu gak salah apa-apa." Doyoung berbicara dengan nada polos seperti biasa, "Aku cuma mau dipeluk hari ini. Kamu gak akan pergi lagi kan, Junghwan?"

Doyoung menarik kepalanya agar dapat menatap wajah lelah suaminya, "Kamu bakal temenin aku terus kan?"

Dan Junghwan mengangguk, ia tersenyum tipis, berusaha meyakinkan Doyoung bahwa dirinya tidak akan membiarkan Doyoung sendirian tanpa pengawasan.

"Badanku kok panas ya, Junghwan?" Tanya Doyoung begitu menyadari bahwa hidungnya terasa panas saat ia bernapas.

"Kamu demam sedikit, lagian siapa suruh berdiri di pinggir kolam gitu? Kamu kan gak bisa berenang sayang." Jelas Junghwan sambil menyeka keringat yang ada di pelipis Doyoung.

"Aku kan gak tau..." Jawab yang lebih kecil sambil merengut, "Terus kakakku gimana? Dia udah pulang?" 

Junghwan kembali mengangguk, enggan menjelaskan lebih jauh perihal Dohyun yang ia laporkan ke polisi karena menerobos masuk ke lahan pribadi tanpa izin pemilik rumah.

"Besok kita pergi ya," Ucap Junghwan tiba-tiba.

"Pergi? Ke mana? Jalan-jalan?" Tanya Doyoung, suaranya berubah menjadi ceria. Ia sangat ingin berpergian hanya berdua dengan Junghwan. Menghabiskan waktu bersama di luar rumah seperti saat mereka ke tepi sungai Han beberapa hari lalu.

"Jalan-jalannya nanti kalau kamu udah gak demam lagi, yang penting besok kita berdua harus udah keluar dari rumah ini." 

"Aku udah gapapa, Junghwan. Aku udah sehat tau." Ucap Doyoung sambil mengarahkan telapak tangan Junghwan untuk menyentuh tiap sudut wajahnya. "Kan? Udah gak panas kan?"

"Masih panas sedikit. Kalau demamnya udah turun, baru kita jalan-jalan."

"Terus besok mau ke mana?"

"Honeymoon." Jawab Junghwan, ibu jarinya mengusap bibir pucat Doyoung dengan lembut.

"Honeymoon?" Tanya Doyoung, tidak mengerti dengan maksud kalimat suaminya.

"Mhm, kamu tau kan hotel mewah yang gedungnya keliatan dari kantormu waktu itu?"

Doyoung nampak berpikir sebentar sebelum mengangguk, ia memang sempat melihat jejeran hotel yang ada di sekitar gedung perkantoran. Junghwan pernah berkata bahwa dulu Doyoung sering tinggal di sana sebelum mereka menikah.

"Tapi kamu bakal temenin aku terus kan?" Tanya Doyoung lagi, ia sedikit trauma karena kejadian buruk terus menimpanya saat sedang tidak ada Junghwan di dekatnya.

"Iya." Jawab Junghwan singkat, sebuah kebohongan kecil lagi-lagi keluar dari mulutnya.

Karena keesokan harinya, beberapa jam setelah check in, mereka malah kedatangan tamu. Asahi datang bersama berkas yang makin banyak tiap harinya, mengeluh sebentar sebelum membiarkan Junghwan keluar meninggalkan suami serta asisten pribadinya di dalam kamar hotel yang untungnya sangat mewah dan luas.

Luasnya mungkin setara dengan lantai satu kediaman mereka.

Junghwan sengaja menyewa kamar dengan fasilitas lengkap, karena hotel ini akan ia jadikan hunian sementara sebelum pergi ke tempat yang sudah ia siapkan bersama teman-teman yang membantunya.

"Pak Junghwan cuma mau urus sesuatu di perusahaan sebelum papanya dateng buat acak-acak semuanya." Keluh Asahi yang kini duduk di salah satu kursi meja makan, ia membuka laptop lalu mulai mengetik berbagai jenis laporan yang harus ia urus sendirian.

Doyoung meraih kacamata miliknya dari dalam tas besar yang Junghwan bawa sebelum ikut duduk di kursi sebelah Asahi.

"Ngapain lagi si tua bangka itu? Dia masih berusaha buat bunuh anaknya?"

Kalimat yang barusan keluar dari mulut Doyoung membuat gerak tangan Asahi berhenti seketika. Ia menoleh, menatap wajah atasannya yang rautnya berubah seratus delapan puluh derajat dibanding terakhir kali mereka bertemu di rumah.

"Gak usah kaget gitu, lo lagi ngerjain apa? Junghwan beneran naikin gaji lo kan? Jangan mau kalau disuruh tanpa bayaran, inget ya lo itu masih sekertaris gue."

Asahi menutup mulutnya sendiri, masih bingung dengan kelakuan Doyoung yang sangat di luar dugaan.

"Lo udah inget?" Tanyanya dengan nada tidak percaya. "Atau jangan-jangan lo gak pernah amnesia?" 

Doyoung nyaris memukul kepala Asahi saat mendengar tuduhan tidak berdasar yang sangat menyinggung itu, "Enak aja, kalau gue gak amnesia, laki gue jadi orang pertama yang gue laporin polisi pas sadar setelah kecelakaan kemarin." Ucap Doyoung, ia masih dongkol jika teringat kejadian di mana Junghwan menolak meminjamkannya mobil pada hari kecelakaannya.

"Satu hari setelah pulang dari tempat Haruto, mertua gue dateng ke rumah dan muka dia bikin gue langsung inget sama semuanya." Jelas Doyoung sambil menarik laptop agar berada di depannya. "Kayaknya gue beneran trauma tiap liat muka si brengsek itu."

"Tapi lo jangan bilang Junghwan dulu." Lanjut Doyoung, ia mulai mengetik sesuatu tanpa menoleh ke arah Asahi yang terus menunjukkan raut penuh tanya.

"Kenapa?"

"Seru tau pura-pura amnesia di depan dia, gue jadi bisa bertingkah seenaknya. Bahkan kemarin, gue sengaja jatuhin diri ke kolam biar dia ngamuk dan ngomelin Dohyun tanpa harus gue suruh."






...

ih doyo kamu mah

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com