Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XVI

"Lo gila? Selama ini lo bergerak sendirian?" Pertanyaan Asahi —yang lebih mirip omelan— itu tidak Doyoung jawab, ia hanya mengangkat bahu dan mulai memeriksa semua berkas yang sedang sekertarisnya kerjakan di laptopnya.

"Kantor baik-baik aja, kan?" Doyoung balik bertanya, dan Asahi mengangguk lalu menyodorkan tumpukan kertas ke arahnya.

"Semuanya bisa gue handle, dibantu suami lo juga sih, sekarang dia udah gak sebego dulu."

Kalimat Asahi berhasil membuat Doyoung tertawa, ia memakai kacamatanya dan kembali mengamati laporan demi laporan yang tercetak di atas kertas.

"Bagus, lo harus minta gaji tinggi sama Junghwan, minimal tiga kali lipat lah. Lo sendiri kan yang dateng ke tiap rapat atau pertemuan sama investor?"

Asahi mengangguk, "Ya gue lah, siapa lagi? Masa kakak lo yang gak berguna itu? Oh iya, dia udah dipenjara anyway. Serem juga ya laki lo, berhasil nuntut kakak iparnya sendiri cuma dalam waktu satu hari."

"Dipenjara? Karena insiden kemarin?" Doyoung sedikit terkejut karena ia tidak menyangka bahwa Junghwan akan bergerak sejauh itu.

"Dituntut karena nerobos masuk ke properti pribadi, ditambah percobaan pembunuhan, sama kasus penipuan, seenggaknya si Dohyun bakal ngabisin waktu bertahun-tahun di penjara." Jelas Asahi, semua berita memang sudah tersebar di berbagai tempat, mungkin hanya Doyoung yang tidak tahu.

Begitu selesai memeriksa kinerja sekertarisnya, Doyoung kembali sibuk dengan laptop, mengetik sesuatu sesuai data diri dan menyerahkannya pada Asahi.

"Surat kuasa?" Tanya Asahi begitu membaca tulisan di layar, atasannya itu lalu mengangguk pelan.

"Lo tau kan tempat gue simpen stempel di kantor? Lo print surat kuasa ini, cap pakai stempel gue terus lo ambil barang yang gue simpen di brankas bank."

"Barang? Barang apa? Lo gak nyembunyiin benda terlarang kan?" Asahi kembali bertanya, karena kalau boleh jujur, ia mulai takut dengan tingkah Doyoung yang sangat tidak bisa ditebak.

"Barang itu bisa kita pakai buat masukin bokapnya Junghwan ke penjara."

Kepala Asahi mulai pening, ia tidak menyangka bahwa masalah yang mereka hadapi ternyata serumit ini. Dirinya pikir agenda Doyoung yang pura-pura amnesia adalah puncaknya, namun rupanya masih banyak hal yang tidak kalah mengejutkan di belakang.

"Udah lo gak usah banyak tanya, besok barangnya harus udah ada sebelum gue sama Junghwan pergi dari hotel ini." Final Doyoung, setidaknya satu fakta harus terkuak sebelum rencana jahat mertuanya berhasil.

"Doyoung, gue sama yang lain harus tau rencana lo. Setelah kecelakaan kemarin, gak nutup kemungkinan kalau mertua lo bakal nyakitin lo lagi nanti." 

Sebenarnya Doyoung ingin berbagi cerita —yang lebih cocok disebut beban— dengan Asahi dan teman suaminya yang lain, tetapi ia takut kenyataan mengejutkan Junghwan, Doyoung sendiri menangis tanpa henti saat pertama kali mengetahui fakta ini.

"Lo ambil dulu, gue janji bakal jelasin semuanya kalau barangnya udah ada." Ucap Doyoung, ia berdiri dari tempatnya dan berniat pergi ke dalam kamar, tetapi Asahi mencegahnya dengan menarik sebelah tangannya.

"Doyoung, at least harus ada satu orang yang tau kebenarannya. Lo gak bisa nanggung semuanya sendirian apalagi di kondisi lo yang sekarang. Lo mungkin belum percaya sama Junghwan, tapi gue? Meskipun di kantor hubungan kita cuma sebatas karyawan, tapi gue tetep sahabat lo."

Doyoung menarik napas dan kembali duduk di kursi yang sebelumnya ia tempati. Ucapan Asahi benar, ditambah kemungkinan paling buruk bisa saja terjadi sebelum ia mengungkap fakta yang selama ini dirinya sembunyikan.

"Bokap Junghwan itu bukan orang tua kandungnya, gue juga gak sengaja nemuin fakta ini pas lagi nyari tau soal dia sebelum kita nikah. Tapi gak ada satupun yang tau, bahkan Jaehyuk sepupu jauh Junghwan juga berhasil dibohongin." 

"Berkas yang gue simpen di bank, itu hasil tes DNA yang gue ambil diem-diem, lengkap sama berita penemuan dua mayat tanpa identitas puluhan tahun lalu. Tapi gue mohon jangan kasih tau siapapun dulu, termasuk Junghwan." 

"Kenapa? Padahal dia orang pertama yang harus tau soal ini." Tanya Asahi, masih tidak paham dengan rencana dan tujuan semua pergerakan Doyoung.

Doyoung menggigit pipi bagian dalam, lalu menepuk kepalanya sendiri berulang kali sebelum menjawab pertanyaan sekertarisnya.

"Gue... Hal yang gak pengen gue liat itu tangisan Junghwan, gue gak mau liat dia sedih pas tau kalau orang tua kandungnya udah meninggal, dibunuh sama orang yang sejak kecil dia panggil papa."

Asahi tertawa miris, bahkan setelah semua hal buruk yang Junghwan lakukan, Doyoung tetap memprioritaskan laki-laki brengsek itu di atas segalanya.

"Terus kenapa lo ubah semua aset lo jadi atas nama Junghwan?" Tanya Asahi, sebenarnya ia ingin bertanya soal ini sejak lama, tetapi Doyoung malah lebih dulu mengalami kecelakaan.

"Menurut lo?" Doyoung balik bertanya.

"Karena lo cinta mati sama laki lo?"

Kali ini giliran Doyoung yang tertawa, "Itu salah satunya," Jawabnya sambil menepuk bahu Asahi. "Tapi alasan utamanya karena gue adalah orang yang paling gampang buat dibuang. Dan gak akan ada yang sedih in case gue tiba-tiba mati dibunuh sama keluarga gue sendiri. Lo tau kan mereka bakal jadi pihak paling bahagia kalau anak bungsunya pergi,"

"Tapi kalau Junghwan yang mati, kayaknya gue bakal ikut mati bareng dia nanti." Jelas Doyoung masih sambil tertawa, seolah itu adalah hal paling lucu yang pernah keluar dari mulutnya.

"Lo pikir gue bakal seneng gitu kalau lo mati?" Tanya Asahi dengan suara bergetar, sekuat tenaga ia menahan tangis melihat betapa menyedihkannya nasib sahabat terbaiknya sekarang.

"Ya paling lo doang yang sedih, terus abis itu si Jaehyuk jadi punya kesempatan buat— aduh." Kalimat Doyoung berhenti karena kepalanya yang tiba-tiba nyeri.

"Kenapa? Lo mau amnesia lagi?" Tanya Asahi dengan suara panik, ia berdiri lalu meraih ponselnya yang ada di sisi lain meja makan, berniat menghubungi Junghwan.

"Gapapa, ini karena kebanyakan tidur kayaknya." 

Beberapa jam sebelum Junghwan pulang Doyoung memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar, tentu setelah memastikan bahwa Asahi akan menuruti semua perintahnya serta menutup mulutnya rapat-rapat. 

***

Rasanya Doyoung baru terlelap sebentar ketika ia akhirnya terjaga karena suara berisik tidak jauh dari tempatnya. Tangannya bergerak untuk mengusap mata, membiasakan diri dengan cahaya temaram yang berasal dari lampu tidur di sebelah ranjang lalu memandang siluet yang berdiri membelakangi.

"Junghwan?" Panggil Doyoung dengan suara serak, Junghwan yang ternyata sedang berpakaian itu langsung bergerak mendekat, duduk di sisi kosong ranjang setelah menyalakan lampu kamar.

"Udah bangun? Tadi kata Asahi kamu sakit lagi? Pusing? Sakit kepalanya? Atau apa? Mau aku panggilin dokter?" Tanya Junghwan sambil mengusap lembut sisi wajah suaminya.

"Aku gapapa," Jawab Doyoung sebelum duduk bersandar pada kepala ranjang, ia lalu tertawa dan menunjuk kaos yang Junghwan gunakan. "Bajumu kebalik." 

"Masa? Oh iya." 

Junghwan nyaris melepas kaosnya sampai tiba-tiba Doyoung mencengkram pergelangan tangannya. "Kenapa?" Tanya Junghwan bingung.

"Mau ngapain?" 

"Mau dibenerin? Masa aku pakai baju kebalik terus?"

"Masa dilepas di depan aku gini?"

Senyum jahil terukir di wajah Junghwan, ia menggeser tubuh hingga tidak lagi ada jarak di antara mereka. "Jangan malu gitu dong, sebelumnya kan kamu udah liat semua—aduh!

Kalimat Junghwan terpaksa berhenti karena Doyoung yang tanpa ragu menjambak rambutnya ke belakang. 

"Jangan ngeledek! Aku pusing, Junghwan." Protes Doyoung sambil berpaling, menghindari Junghwan yang akhirnya membalik kaosnya dengan cepat.

"Pusing? Tadi katanya udah gapapa?"

Sekuat tenaga Doyoung menahan geli saat Junghwan memeluk tubuhnya dari belakang, telapak tangan besarnya bergerak pelan, membelai perutnya dari balik baju tidur yang ia gunakan.

"Aku pusing kalau kamu banyak tingkah." Keluh Doyoung, ia memutar tubuh agar kembali menghadap Junghwan. "Makin pusing pas tanganmu masuk-masuk bajuku gini." 

Junghwan tersenyum jahil, ia mengecup ujung hidung bulat yang lebih kecil. "Maaf ya sayang, aku kangen kamu soalnya." 

"Aku juga kangen," Jawab Doyoung sambil membalas pelukan Junghwan. "Kamu tadi ngapain aja di luar?" 

"Kantorku rekrut beberapa karyawan baru, jadi aku harus pantau mereka sebentar." Jelas Junghwan, tangannya beralih untuk mengusap punggung sempit suaminya. "Kamu kalau sakit bilang aku ya, jangan ditahan sendirian."

"Iya, Junghwan." Suara Doyoung tertahan karena wajah yang sengaja ia tenggelamkan di depan dada yang lebih tinggi.

"Kamu belum mandi?" 

Pertanyaan yang sangat di luar perkiraan itu membuat Doyoung langsung menarik kepalanya, ia lalu menatap wajah Junghwan dari bawah. "Kenapa? Aku bau?"

"Nggak, cuma rambutnya berminyak sedikit." Jawab Junghwan jujur, "Mau aku bantu keramasin?"

Netra Doyoung melirik jam yang tergantung di tembok, masih terlalu awal untuk tidur tetapi ia juga malas jika harus mandi jam segini.

"Mau, keramasin aja kan?"

Dan di sinilah mereka sekarang, Doyoung duduk di dalam bathtub dengan kepala bersandar pada bagian pinggirnya, sementara Junghwan duduk di atas kursi rendah yang ia bawa dari dapur sambil memegang shower.

"Rambutnya aja, muka aku jangan sampai kena." Ucap Doyoung sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Junghwan mengangguk lalu mulai membasahi rambut Doyoung, "Kalau diginiin sakit gak sayang?" Tanyanya sambil memijat pelan kepala suaminya dengan jemari.

Doyoung menggeleng, "Nggak, tapi aku malah ngantuk Junghwan." Jawab Doyoung sambil menguap.

"Jangan tidur di sini, nanti kamu masuk angin."

Tangan Junghwan meraih shampoo yang ada di pinggir bathtub, dituangnya sedikit demi sedikit ke atas rambut hitam yang lebih kecil. 

"Hey, jangan tidur." Ucap Junghwan saat melihat mata Doyoung yang terus menutup, ia sedikit bangkit dari kursi untuk mengecup bibirnya. "Kalau tidur nanti aku cium terus."

"Yaudah aku tidur aja biar terus-terusan dicium." 

"Ih?"

"Apa? Kamu gak mau cium aku? Katanya kita lagi honeymoon?"

Jemari Junghwan kembali memijat kepala Doyoung sambil meratakan shampoo pada seluruh bagian rambutnya. "Tahan ya, nanti aku cium kalau kita udah di kamar."

Doyoung hanya mengangguk tanpa menjawab, ia tidak bohong saat berkata bahwa gerak tangan Junghwan di kepalanya membuatnya mengantuk. Saat Junghwan membilas rambutnya menggunakan air hangat, tanpa sengaja Doyoung terlelap hingga ia harus menyandarkan kepalanya ke atas paha agar tidak bergerak selama tidurnya.

Setelah menutup kepala Doyoung menggunakan handuk, Junghwan mengangkat tubuh suaminya kembali ke dalam kamar. Membaringkannya ke atas ranjang lalu mengganti pakaiannya sebelum duduk di sebelah.

"Sayang," Panggil Junghwan sambil menepuk pelan pipi suaminya. "Sayang, bangun dulu. Rambutnya belum kering." 

Doyoung mengerang sebelum akhirnya membuka mata, "Loh, udah keramasnya?"

Junghwan tertawa, ia mengangguk lalu meraih hair dryer yang sengaja dirinya letakkan di atas nakas. "Kamu duduk dulu, biar aku keringin rambutnya, abis itu baru boleh tidur lagi."

Dengan mata yang sesekali menutup, Doyoung duduk di pinggir ranjang, sementara Junghwan berdiri di hadapan dan berusaha mengeringkan rambut Doyoung dengan handuk dan mesin pengering di tangan.

"Jangan gerak-gerak kepalanya." Ucap Junghwan, Doyoung menghela napas lalu memeluk perut Junghwan dan menyandarkan kepalanya di sana.

Butuh waktu beberapa menit hingga rambut Doyoung kering sempurna, Junghwan mencabut kabel dari stop kontaknya kemudian ikut memeluk Doyoung yang masih melingkarkan kedua tangan di belakang pinggangnya.

"Aku yang baru pulang kerja tapi kenapa kamu yang keliatan capek banget?" Ledek Junghwan sambil mengusap telinga yang lebih kecil.

Doyoung menarik kepalanya untuk menatap Junghwan, "Katanya mau cium aku?" Tagihnya sambil memajukan bibir.

Dan Doyoung nyaris berteriak saat Junghwan dengan mudah mengangkatnya untuk kembali berbaring di atas ranjang, mengukung tubuhnya dari atas dengan kedua tangan sebagai penahan.

Netra Doyoung refleks terpejam begitu Junghwan bergerak maju untuk menyatukan bibir mereka, dikecupnya bibir merah muda itu berulang kali, kepalanya terus bergerak seolah tidak ingin melewatkan seluruh sudut bibir manis suaminya.

Tangan Doyoung melingkar di leher Junghwan saat ia berusaha menyeimbangkan permainan, bibirnya terbuka kala Junghwan menghisap bagian atas dan bawahnya bergantian, sekaligus memberi akses agar lidahnya masuk, membelit miliknya di dalam mulut lalu dibawa keluar untuk dihisap kuat.

Malam itu Junghwan terpaksa melepas pakaian yang baru dirinya gunakan, dan Doyoung juga mau tidak mau harus kembali ke kamar mandi karena tubuhnya yang berkeringat karena aktivitas malam mereka.









...

kasian dah honeymoon telat dua tahun

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com