Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter XVII

Entah sudah berapa kali Doyoung menangis dalam tidurnya, memanggil nama Junghwan yang padahal terus berada di sampingnya.

"Junghwan..." Rengek Doyoung dengan mata tertutup, pelipis dan keningnya dipenuhi keringat, demamnya juga naik lagi hingga Junghwan merasa bersalah karena telah memaksanya untuk berhubungan sampai hari hampir pagi.

Junghwan sudah menghubungi dokter yang biasa melayani, ia berkata bahwa Doyoung hanya kelelahan hingga demam, mimpi buruk yang dialami adalah efek samping dari suhu tubuhnya yang tinggi.

"Iya aku di sini." Ucap Junghwan sambil menepuk lengannya berulang kali.

Matahari sudah naik saat Doyoung akhirnya terjaga, bermodalkan cahaya remang yang berasal dari celah jendela kamar, netranya memandangi wajah Junghwan yang memeluknya tanpa henti.

"Good morning." Sapa Junghwan, tangannya yang bebas bergerak untuk menyingkirkan rambut yang menutupi separuh kening suaminya.

"Junghwan, aku sakit." Keluh Doyoung sambil merengut, ia tidak bohong karena sekujur badannya terasa nyeri.

Sepertinya aktivitas tadi malam benar-benar menguras seluruh tenaga yang Doyoung punya.

"Maaf ya," Balas Junghwan, rautnya dipenuhi rasa bersalah. "Makan dulu, habis itu minum obat baru kamu istirahat lagi."

"Katanya kita mau pergi?" Tanya Doyoung, karena seingatnya ini adalah hari terakhir sebelum mereka pergi ke tempat yang sudah disediakan oleh Junghwan serta teman-temannya.

"Gimana bisa pergi jauh kalau kamu sakit gini? Perginya bisa nanti, yang penting kamu sembuh dulu."

Doyoung menggelengkan kepala, "Nggak, Junghwan. Aku gapapa kok, ayo kita pergi aja." Sanggahnya.

Karena rencana Junghwan tidak boleh gagal hanya karena ulahnya, ia tahu bahwa mereka harus secepatnya berada sejauh mungkin dari kediaman ayah Junghwan, pria brengsek itu sudah merencanakan hal jahat yang pasti akan menyakiti anaknya.

"Gapapa gimana? Kepalamu pusing, kan? Badanmu juga demamnya gak turun-turun, kalau kita paksa pergi nanti sakitnya malah makin parah." 

Dan Doyoung kembali menggeleng, dengan cepat ia bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang, menarik tangan Junghwan agar melakukan hal yang sama.

"Ayo, istirahatnya bisa pas kita sampai sana kan. Temen-temenmu mana? Mereka bakal pergi bareng kita atau gimana?"

Junghwan menghela napas sebelum ikut duduk di samping suaminya, "Kita berangkat sore ini. Nanti mereka bakal dateng ke sini dulu dan kita jalan sama-sama ke sana."

Setelah berhasil memaksa Doyoung untuk makan dan meminum obat penurun panas, teman-teman Junghwan lengkap dengan Asahi datang tidak lama kemudian.

Tujuan utama mereka adalah Gangneung, kota yang jaraknya lumayan jauh dari Seoul, butuh waktu hampir tiga jam perjalanan untuk sampai ke sana.

"Kayaknya kita harus mampir ke kantor dulu," Ucap Hyunsuk yang juga ikut serta, "Dain baru kasih kabar kalau ada pertemuan mendadak sama pemegang saham." 

Junghwan berdecak kesal, ia mengacak rambutnya frustasi dan hampir mengumpat kalau saja tidak ada Doyoung yang terus menatap ke arahnya dari sebelah.

"Yaudah kalau gitu lo sama Hyunsuk ke kantor duluan aja, kita tunggu sampai urusannya selesai." Haruto memberi saran, dan hampir disetujui oleh semua orang yang ada di sana, kecuali Doyoung yang malah menentang idenya.

"Kenapa gak kita jalan duluan aja? Biar aku sama Asahi dan Junghwan baru nyusul bareng yang lain." Ucapnya, ia lalu memegang kepalanya dan berpura-pura kesakitan. "Aku mau istirahat, dan gak mungkin kan kita nunggu di tempat parkir sampai rapatnya udahan?"

Sebenarnya Doyoung hanya butuh waktu berdua dengan Asahi, dan ia rasa ini saat yang paling tepat. Karena dirinya tidak mungkin membahas soal rencananya di depan Junghwan serta teman-temannya yang lain.

"Nggak, kamu harus sama aku." Tolak Junghwan, "Aku gak izinin kamu pergi tanpa pengawasanku."

Doyoung hampir menjawab kalimat suaminya sampai tiba-tiba ponsel Junghwan berdering keras, salah satu karyawan memohon agar Junghwan cepat datang ke perusahaan sebab para pemegang saham terus mendesak kehadirannya.

"Aku gapapa, Junghwan. Masa kamu gak percaya sama Asahi? Katanya dia sekertarisku? Dia gak mungkin jahatin aku." Ucap Doyoung, berusaha meyakinkan suaminya.

Akhirnya Junghwan menyerah, membiarkan Doyoung beserta teman-temannya yang lain untuk berangkat lebih dulu. Ia berjanji akan langsung menyusul setelah urusannya selesai.

Karena banyak barang dan berkas yang harus dibawa, mereka menggunakan dua mobil terpisah. Haruto dengan Jaehyuk, sementara Doyoung naik kendaraan milik sekertarisnya.

"Kabarin kalau udah sampai, jangan pernah matiin lokasi di ponsel kamu." Ucap Junghwan pada suaminya, Doyoung mengangguk lalu melambaikan tangan pada mobilnya yang pergi lebih dulu meninggalkan tempat parkir hotel.

"Jangan jauh-jauh. Kalian harus ada di depan kita." Kali ini Jaehyuk yang bicara pada Asahi yang sudah siap di kursi pengemudi.

Tidak lama setelah Junghwan dan Hyunsuk pergi, sisanya mulai bergerak ke tujuan utama.

"Mana barang yang gue minta?" Tanya Doyoung, ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bicara dengan Asahi tanpa harus berpura-pura bodoh di depan yang lain.

"Di dalem tas laptop gue, stempel lo juga ada di sana." 

Doyoung meraih tas yang ada di kursi belakang, menatap puas berkas yang selama ini ia sembunyikan di dalam brankas lalu berterima kasih pada sekertaris pribadi sekaligus sahabatnya.

"Jadi kapan lo mau jujur sama Junghwan?" 

"Jujur soal apa?"

"Semuanya, lo gak mungkin kan bongkar kasus bokapnya sambil terus pura-pura amnesia?"

"Kata siapa gue yang bakal bongkar kasusnya?"

"Terus? Lo mau nyuruh orang lain?"

Dan Doyoung menggelengkan kepala, ia menyimpan barang paling berharganya ke dalam tas yang ia bawa sebelum tersenyum samar.

"Biar si brengsek itu yang bongkar sendiri rahasianya."

Meski tidak mengerti dengan maksud dari ucapan atasannya, Asahi tidak lagi bertanya. Sebab ia yakin bahwa Doyoung yang kepintarannya di atas rata-rata itu pasti memiliki rencana.

"Gue tau lo pasti bisa ngatasin ini semua, tapi gue gak mau kalau lo sampe ngorbanin diri cuma buat Junghwan."

"Kenapa? Lo cemburu ya sahabat lo ini lebih sayang suaminya?" Ledek Doyoung sambil menyenggol bahu Asahi.

"Gue cemburu karena lo lebih sayang Junghwan dibanding diri lo sendiri." Protes Asahi lagi, "Kalau boleh jujur, gue gak peduli sama semua drama Junghwan dan bokapnya, gue di sini karena gue mau bantuin lo, bukan dia." 

Kalimat Asahi berhasil membuat raut Doyoung berubah, ia yang biasanya tegas di hadapan sahabatnya kini menunjukkan ekspresi yang sama jika dirinya sedang bersama Junghwan.

"Sahi hyung..." Panggil Doyoung dengan nada manja, "Makasih ya hyung udah nemenin aku terus." Lanjutnya sambil menyandarkan kepala ke atas bahu yang lebih tua.

Sekuat tenaga Asahi menahan diri untuk tidak mendorong tubuh Doyoung yang malah menggelendot manja, sikapnya sekarang sangat tidak mudah ditebak.

Perjalanan mereka menuju tempat persembunyian harusnya tidak secerah ini, dan alam seakan setuju karena tidak lama setelah keluar dari tol, mobil mereka dihadang oleh sebuah truk berisi jejeran drum di belakang.

"Shit." Umpat Asahi saat menyadari bahwa mobil Jaehyuk dan Haruto sudah lumayan jauh meninggalkan mereka.

"Lo bawa pistol?" Tanya Doyoung sambil mencari barang yang dapat ia gunakan sebagai senjata dari dalam tas miliknya.

"Lo pikir gue punya pistol? Gue bukan kriminal." Omel Asahi, ia mengunci pintu dan jendela mobil rapat-rapat lalu berusaha mengatur kendaraan agar dapat menyalip mobil yang melintang di depan.

"Jangan keluar." Perintah Asahi saat melihat tangan Doyoung yang bergerak ke arah pintu.

"Terus lo mau kita mati sekarang?" Ucap Doyoung sambil menunjuk dua orang bertopeng yang keluar dari truk, di tangan mereka terdapat benda tajam yang kita semua tahu akan digunakan untuk apa.

"Gak akan ada yang mati hari ini." 

Tangan Doyoung memegang handle yang ada di atasnya ketika Asahi memundurkan mobil dalam kecepatan tinggi, tubuhnya nyaris terpelanting saat setir dibanting ke kiri. Ia yakin kendaraan yang mereka naiki pasti lecet karena melaju cepat di celah kecil antara mobil dengan pembatas jalan.

Keduanya hampir bernapas lega, namun suara sesuatu yang menghantam kaca jendela seketika membuyarkan fokus mereka, salah satu dari dua orang tadi berhasil melempar batu yang mengenai jendela di samping kursi penumpang.

Telinga Doyoung berdengung hebat, pandangannya buram namun ia tidak sampai kehilangan kesadaran. Suara Asahi yang berteriak di sebelah terdengar samar, dirinya juga tidak menyadari saat mobil akhirnya berhenti di salah satu klinik paling dekat yang Asahi temui.

"Maaf," Ucap Asahi pada Jaehyuk dan Haruto yang akhirnya menyusul setelah dikabari, dan keduanya menggeleng karena mereka tahu bahwa itu bukan salah Asahi.

"Gue yang harusnya bilang gitu, maaf ya tadi mobil kita malah jalan duluan." Balas Jaehyuk sambil mengusap tangan Asahi yang juga terluka karena pecahan kaca.

Doyoung keluar dari IGD tidak lama kemudian, untungnya kepalanya tidak terluka parah, ia juga tidak perlu jahitan sebab robekannya yang tidak terlalu besar. 

"Jangan kasih tau Junghwan." Perintah Doyoung yang berdiri di hadapan tiga orang lainnya. "Biarin dia selesain urusannya di kantor, aku gak mau dia buru-buru dateng padahal masih banyak masalah di sana." Lanjutnya.

Untungnya tiga orang itu menurut, perjalanan mereka akhirnya berlanjut menggunakan satu kendaraan karena mobil Asahi terpaksa dititipkan ke bengkel terdekat yang akan mereka ambil nanti.

Dan semuanya terkejut karena begitu mereka sampai, ternyata Junghwan sudah lebih dulu ada di sana.

"Kenapa?" Tanyanya dengan suara panik saat melihat plester yang menempel di sudut kening Doyoung.

"Kamu kok udah nyampe?" Doyoung balik bertanya tanpa menjawab suaminya.

"Gak ada apa-apa di kantor, yang hubungin aku sama Hyunsuk ternyata bukan karyawan kita." Jelas Junghwan, karena saat sampai di kantor tadi, Dain berkata bahwa ponselnya rusak dan sedang berada di tempat servis, membuat Junghwan bergegas menyusul suaminya yang lebih dulu berangkat. 

"Kamu kenapa? Kecelakaan?" Junghwan kembali bertanya, jarinya bergerak hati-hati di atas wajah Doyoung, hatinya teriris ketika menyadari bahwa hari ini lagi-lagi ia gagal melindunginya.

"Bokap lo kayaknya udah tau soal rencana kita. Tadi mobilnya dihadang tapi untungnya berhasil lepas." Jelas Haruto yang kemudian menuntun semuanya untuk masuk ke dalam hunian.

Ah, seharusnya mereka tahu bahwa Ayah Junghwan sama sekali bukan lawan yang mudah.

Villa besar yang ternyata milik Haruto itu memiliki banyak ruangan, kamar Doyoung dan Junghwan berada di lantai dua, kamar paling besar karena akan dihuni dua orang.

Doyoung duduk di pinggir ranjang dan Junghwan berjongkok di depannya dengan raut gelisah.

"Kenapa?" Doyoung bertanya sebab Junghwan yang nampak kebingungan sambil terus menggenggam tangannya.

"Doyoung..." Panggil Junghwan sambil menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya.

"Kenapa, Junghwan?" Tanya Doyoung lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.

"Gimana kalau kita pisah aja?"






...

ya ampun sorry kesiangan aku keasikan marathon head over heels wkwkwk seru banget dah itu drama

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com