Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

"Cerai? Lo mau cerai sama Doyoung?"

Junghwan mengangguk sambil menenggak habis sampanye yang tersisa di gelas, rasa getir yang familiar menyapa lidah sebelum turun memberi sensasi terbakar di tenggorokan.

Malam ini lagi-lagi ia habiskan di salah satu club milik sahabatnya Watanabe Haruto.

Ia tidak menyewa pekerja malam seperti pengunjung kebanyakan, Junghwan hanya muak jika terus berada di rumah yang ia huni berdua dengan suaminya.

"Tujuan gue udah tercapai dan gue pemenangnya." Jawab Junghwan bangga.

"Maksudnya? Oh, lo berhasil ambil alih aset usaha keluarganya?"

Tebakan Haruto tepat sasaran, Junghwan kembali mengangguk dan tertawa pelan.

"Sembilan puluh persen, biar sisanya bisa dia jual dan dipake buat mulai hidup baru entah di mana."

Membayangkannya saja sudah membuat Junghwan bahagia, ia tidak sabar melihat raut Doyoung yang dipenuhi amarah. Suaminya itu jarang menunjukkan ekspresi, apalagi setelah mereka menikah.

"Bentar, kalau emang ambisi lo sebesar itu buat bikin dia collapse, kenapa gak lo ambil semuanya asetnya?"

Junghwan mengangkat bahu, enggan menjelaskan bahwa jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa kasihan pada Doyoung.

Tumbuh di tengah keluarga brengsek yang hanya memikirkan soal uang, suaminya jelas pantas ditempatkan di antara orang yang lebih baik dari mereka.

Namun bukan Junghwan jawabannya.

"Biar gak langsung jadi gelandangan, lagian orang kayak dia gak akan bisa bangkit kalau tiangnya udah gue ambil."

"Tiangnya? Lo pikir duit tuh segalanya buat dia?"

"Emang bukan?"

Kali ini giliran Haruto yang tertawa, membuat Junghwan menatapnya heran.

"Kenapa?" Tanya Junghwan lagi.

"Tiang paling kuat yang Doyoung punya itu lo, suaminya, So Junghwan."

Junghwan hendak menjawab, mendebat kalimat Haruto yang sangat tidak sesuai dengan kenyataan, namun tiba-tiba ponsel di saku jasnya berdering keras.

Nomor yang tidak dikenal terpampang di layar, orang gila mana yang menghubungi Junghwan di pukul satu pagi seperti ini?

"Halo?" Ucap Junghwan begitu ponsel menyentuh telinga.

"So Junghwan-ssi?"

"Ya?"

"Suami anda kecelakaan, mobilnya jatuh ke jurang dan sekarang kondisinya kritis, dia ada di ICU rumah sakit Boseok."

Jarak dari tempat Haruto menuju rumah sakit membutuhkan waktu tiga puluh menit, dan dalam rentang waktu itu, Junghwan tidak berhenti berdoa agar keadaan suaminya baik-baik saja.

Doyoung harus hidup, ia belum menuntaskan semua agenda balas dendamnya, Junghwan belum menyaksikan bagaimana raut Doyoung yang menyadari bahwa orang paling jahat yang ada di hidupnya itu suaminya sendiri.

"Lo gapapa kan?" Tanya Haruto yang tengah mengemudi, ia memerhatikan kaki Junghwan yang sangat tidak bisa diam di tempatnya.

"Emang gue kenapa?" Junghwan balik bertanya sambil menggigit pipi bagian dalam.

"Suami lo gak akan kenapa-kenapa." Haruto berusaha menenangkan.

"Justru gue maunya dia kenapa-kenapa." Jawab Junghwan.

Laki-laki itu menatap jalanan gelap di samping jendela, mulai memikirkan hal apa yang Doyoung lakukan di luar pada waktu selarut ini?

Kecelakaan? Siapapun tahu bahwa kemampuan mengemudi Doyoung bahkan melebihi Junghwan.

"Pasien atas nama Kim Doyoung." Ucap Junghwan di meja administrasi, salah satu perawat membawanya menuju ruangan tempat Doyoung berada.

Napas Junghwan tercekat, ada perasaan tidak nyaman saat melihat sosok suaminya yang biasanya menyebalkan itu justru terbaring tidak berdaya di atas brankar.

"Satu-satunya luka paling serius ada di kepala, sisanya lecet biasa karena kena pecahan kaca." Jelas Dokter yang memantau alat di sebelah ranjang suaminya. "Tekan tombol yang ada di belakang kalau pasien bangun, untuk sementara dia masih harus dipantau di sini."

Junghwan berterima kasih sebelum membiarkan yang lain keluar dari ruangan, menyisakan ia dan Doyoung yang masih tidak bergerak di tempatnya.

Tanpa sadar Junghwan tertawa, tangannya mencengkram kuat pegangan yang ada di sisi brankar.

"Kamu pikir kamu bisa kabur gitu aja dari semua masalah yang kamu buat di sini, Kim Doyoung-ssi?" Tanya Junghwan dengan nada sarkastik.

Dapat Junghwan lihat jemari Doyoung yang bergerak, perlahan berusaha mencapai tangannya yang ada di dekatnya.

Netranya juga mulai mengerjap, sebelum akhirnya terbuka dan menunjukkan iris gelap.

Sebelah tangan Junghwan menggenggam erat tangan Doyoung, dan yang satu lagi bergerak untuk menekan tombol di belakang ranjang.

Dokter datang, memeriksa keadaan Doyoung yang sadar lebih cepat dibanding perkiraan.

Dan begitu alat bantu pernapasan dilepas, Doyoung mengucap satu kalimat yang sangat tidak ingin didengar oleh Junghwan.

"Kamu siapa?"





...
Haiiiii, karena aku lagi sakit huhuhu jadi gak bisa update page one minggu ini ;—; sebagai permintaan maaf ini aku drop prolog buat new book... updatenya pas aku udah enakan yah huhu tolong pengertiannya aku sudah tua😢

oh iya ini genrenya romcom wkwkwk as always, tapi ada sedihnya dikiiiit dan ada bumbu mafianya juga (sesuai request kalian) doain aku cepet sembuh biar bisa rutin update okeiii

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com