5. Confabulation
Benedikt Schäffer:
Well, Bian.
Bagaimana?
Fabian Hafiyyan:
AAAAAAA.
Benedikt Schäffer:
Apa? Kenapa?
Kenapa kamu aaaa?
Fabian Hafiyyan:
Sura nerima lamaranku!
Benedikt Schäffer:
WOWWWWWW.
MEIN GOTT.
CONGRATULATIONS!!!!
Fabian Hafiyyan:
DANKE!
Benedikt Schäffer:
Semuanya berjalan lancar, 'kan?
Fabian Hafiyyan:
Iya.
Sebenarnya aku melakukan kebodohan kecil.
Benedikt Schäffer:
Aku menduganya.
Fabian Hafiyyan:
Ya.
Saat aku buka kotak cincinnya, bukannya melamar, tapi aku malah bilang happy birthday.
Benedikt Schäffer:
HAHAHAHAHAHAHA ASTAGA.
KENAPA KAMU BILANG HAPPY BIRTHDAY, FABIAN?
Fabian Hafiyyan:
SUMPAH.
AKU GEMETAR.
Benedikt Schäffer:
TIDAK MUNGKIN.
Well, setelah ini apakah kamu akan memberitahu semua orang?
Fabian Hafiyyan:
Rencananya aku akan memberitahu beberapa orang. Termasuk kamu.
Benedikt Schäffer:
Kalau ada yang bertanya di rumah sakit, apa boleh kujawab?
Fabian Hafiyyan:
Jangan.
Kumohon padamu untuk merahasiakan pertunanganku. Aku dan Sura hanya memberitahu ke teman-teman terdekat.
Benedikt Schäffer:
Alright.
Tenang, rahasia kamu dan Sura aman.
Good luck.
Fabian Hafiyyan:
Thank you, Ben!
"Masih chat sama Ben?"
Suara lembut dari bibir Sura terdengar melintasi telinganya dan membuat Fabian menoleh. Lelaki itu menutup ponselnya dan memandangi Sura. Sejak tadi, ia belum mendengar Sura menelepon siapapun untuk membagikan momentum bahagianya. Mereka berdua hanya duduk di sofa yang berada di dalam ruang TV dari suite tersebut.
"Kamu tidak mengabari Giandra atau teman-temanmu yang lain?" tanya Fabian penasaran.
Sura hanya menggeleng. Kini ia menaruh bagian bawah kakinya di atas pangkuan Fabian. Jemari lelaki itu langsung mengusap lembut punggung kaki tunangannya dengan perlahan. "Giandra sibuk untuk menyiapkan pernikahannya dengan kakakku. Ngomong-ngomong, kamu bisa datang untuk acara makan malam mereka yang akan diadakan di London," jelas Sura sembari mengingatkan soal acara pernikahan kakaknya—selagi ia masih ingat
Lelaki muda itu hanya mengernyitkan keningnya. Setahu Fabian, ia menerima Save A Date dari Nicholas dengan detail acara yang ada di Jakarta melalui surel dan, pastinya, Fabian menyanggupi saat ia diundang untuk datang ke Jakarta. "Kenapa begitu? Bukannya acara intinya di Jakarta?"
"Kamu pasti sibuk." Sura berujar sembari memandangi wajah Fabian. Seakan-akan bisa memprediksi jawaban yang akan keluar dari bibir Fabian.
Mendengar ucapan Sura, Fabian hanya menarik sudut bibirnya untuk tersenyum tipis.
"Tahu dari mana aku sibuk?" tanya Fabian sembari menarik tubuh Sura ke dalam dekapannya. Lelaki muda itu mencoba untuk mendekap Sura agar wanita itu tidak mengeluarkan pernyataan lainnya. Sementara tangan Fabian mengusap lembut bagian bawah bibir Sura menggunakan ibu jarinya. "Aku sudah bilang sama Kak Nicholas dan Giandra kalau aku akan datang ke acara mereka yang di Jakarta. Kamu nanti perginya sama aku, ya."
Sura hanya mengangguk. Matanya memandangi Fabian, tetapi lelaki itu masih memainkan ibu jarinya tepat di bawah bibir Sura dengan perlahan. Seakan-akan mencoba untuk menggodanya. "Fabian, bisa berhenti lakukan itu? Aku tidak bawa lipstik."
"Mau mampir dulu? Sekalian beli pakaian ganti dan baju tidur untukmu." Fabian berujar. Tampaknya lelaki itu mencoba menawarkan Sura untuk mampir ke department store dan membeli apa yang diperlukan.
"Tidak, Bi, aku mau pulang dulu untuk ambil baju ganti dan hair dryer-ku." Sura beranjak dari sofa dan mengecup pipi Fabian. "Aku akan kembali untuk menemanimu. Mana kunci mobil Omi?"
Fabian ikut beranjak dan mengecup bibir Sura. Melumatnya dengan lembut. Sementara salah satu tangannya merogoh kantong celana untuk meraih kunci mobil dan kunci kamar suite kepada Sura. "Nanti langsung tidur saja di sebelahku—jangan di sofa."
⊹ ࣪ ˖
Saat Fabian mulai mengantuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, Sura baru selesai bebersih dan mengeringkan rambutnya. Bahkan ia melangkah santai dengan setelan baju tidur berwarna krem. Wanita muda itu melangkahkan kaki menuju kasur dan merebahkan tubuhnya. Sebelum mengakhiri hari, Sura memilih mengambil ponselnya hanya untuk menghubungi Giandra.
"Gi, kamu lagi di mana?" tanya Sura saat tersambung dengan panggilan bersama Giandra. Telinganya mendengar suara bising dari sambungan telepon.
"Aku lagi makan malam sama kakakmu." Giandra menjawab dari sambungan telepon.
"Siapa, Gi?" tanya seorang lelaki. Sura mendengar suara kakaknya sendiri dari sambungan teleponnya bersama Giandra.
"Your sister." Giandra menjawab suara yang memotong sambungan teleponnya dengan Sura. Kemudian Giandra kembali memanggil Sura dengan jelas."Ya, Sura. Kenapa telepon?"
Dengan cepat, Sura menyalakan mode speaker pada panggilannya dengan Giandra. Wanita muda itu melakukannya dengan sengaja. "Aku punya berita bagus!" seru Sura dengan antusias.
"Apa itu?"
"Akhirnya aku dilamar!!"
"Tunggu sebentar ... Fabian melamarmu?!" Giandra mencoba mengonfirmasi apa yang ia dengar dari sambungan telepon.
"IYAAAAAA! Fabian melamarku!"
"Congratulations!!" Giandra berujar dari sambungan telepon dengan nada antusias. "Sungguh, Sura, akhirnya kamu dilamar juga setelah sekian lama! I'm happy for you!!"
Sura tersenyum bahagia saat mendengar respon Giandra yang suaranya terdengar jelas. Fabian langsung melirik ke arah Sura dengan ekspresi setengah sadar.
"Terima kasih!"
"Sebentar Sura dilamar? Sura dilamar?!" Suara Nicholas terdengar jelas dari sambungan telepon. Sura tampak senang saat mendengar respons kakak laki-lakinya yang begitu antusias. "Tolong berikan aku ponselmu, Gi!"
Giandra menanggapi dengan nada tak kalah antusias. "Benar, Kak!" Giandra berujar. "Sura, Kakakmu mau telepon. Boleh aku oper?"
"Boleh."
"Sura, congratulations!" Akhirnya Sura mendengar secara jelas suara kakak laki-lakinya, Nicholas, yang tersambung dengannya melalui ponsel Giandra. Suara lelaki yang menyelamatinya dengan logat British yang terdengar jelas dan membuat Sura tersenyum tak kalah senang. "I'm happy for you karena akhirnya kamu dilamar juga sama pacar LDR-mu itu. Mazel tov!"
"Syukran!" balas Sura. "Aku sama Fabian akan nikah di tahun depan. Setidaknya Ayah Bunda masih diberi jeda karena anak laki-lakinya keluar dari KK di tahun ini."
Nicholas tertawa lembut. "No, they didn't. They will put Giandra as their daughter. Mereka selalu menginginkannya. They adore your best friend and my fiancée so much."
Respons Nicholas membuat Sura tertawa lembut. Biasanya ia akan bertengkar kecil dengan kakaknya, tetapi kali ini mereka bicara dengan penuh perhatian. "Aku senang karena, akhirnya, kita mengalami fase ini." Sura berujar lembut. Matanya berkaca-kaca.
"Ya, Sura." Nicholas mengiyakan dari sambungan telepon. "Terima kasih, Adek, sudah menghubungi Gi dan aku. Aku harus pergi ke kamar kecil."
Wanita muda itu tertawa. Jelas ia tahu maksud dari perkataan kakak laki-lakinya itu. "Tentu saja. Jangan lupa jemput aku saat aku sudah sampai di Jakarta."
Setelah Sura menutup obrolan dengan Nicholas dan Giandra, ia langsung menaruh ponsel pintarnya itu di nakas samping ranjang. Ia mencoba untuk mengisi daya ponselnya. Akan tetapi tak sempat menata bantal, Fabian langsung mendekap tubuh Sura dalam pelukannya.
Tubuh mereka berdua sudah diselimuti oleh selimut yang tebal. Namun, dekapan Fabian terasa erat. Sebuah dekapan yang tidak menyesakkan dan membuat mereka berdua nyaman. "Kamu tadi sengaja nelepon Giandra dan kakakmu itu dengan mode speaker?" tanya Fabian lembut dengan suara rendah.
Pertanyaan Fabian membuat Sura langsung mengangguk. Iris hijau kebiruan itu melirik ke arah Fabian. Ia merasa lelaki itu masih ingin mendengarkannya bicara. "Ya, supaya kamu tahu betapa antusiasnya dua orang yang paling berharga di hidupku saat mendengar kamu melamarku. Aku tidak menyangka mereka sudah menunggu momen ini untukku." Sura merespons dengan perlahan.
"Aku senang mendengar respon mereka yang sepositif itu, Sura," balas Fabian lembut.
"It's because they know how much I waited for this. Aku sering cerita sama mereka. Aku sama Giandra memang sahabat dekat dari kecil. Untuk Nicholas, kamu tahu, hanya dia saudara yang aku punya."
Terdapat jeda dari percakapan mereka berdua. Namun, saat Fabian mulai menatap Giandra dengan lembut, ia tersenyum hangat. "Maaf sudah membuatmu menunggu selama ini. Bahkan kamu juga memberikan aku sinyal untuk mampir ke department store."
Ucapan Fabian terasa bagaikan hasil terawangan lelaki itu pada dirinya. Akhirnya Sura senang kalau Fabian menangkap sinyalnya setelah percakapan dengan para orangtua mereka."You know it, right? Tapi sekarang aku senang karena kamu melamarku dengan cincin yang aku suka." Sura berujar dengan nada santai. "Your taste for engagement ring are so pretty."
"You deserve it. Cincin ini seperti seleramu saat aku melihatnya." Fabian menambahkan. Ia mengambil punggung tangan Sura dan mengecup dengan lembut.
Sura semakin berdebar saat Fabian mulai mendaratkan kecupan lembutnya pada punggung tangan. Tak lupa, Fabian juga mengecup pipi Sura dan menaikkan selimut itu hingga menutup hampir keseluruhan tubuh calon istrinya. "Melihatmu saja membuatku ingin berusaha keras. Aku melakukan banyak hal hanya untuk mengikatmu sebagai milikku dan kulakukan agar aku bisa bersamamu selamanya."
"Good for you." Sura menambahkan dengan perlahan. "I mean our parents trying to make us as a legalized couple."
"Sorry for correcting, but actually my mom did it." Fabian berujar.
Nada yang keluar dari mulut laki-laki itu terdengar jauh lebih pelan. Sura hanya mendengarkan sebelum ia tak dapat mengontrol pandangannya sendiri karena sudah semakin mengantuk.
"Liebchen, I'll make sure my family won't be bothered you." Lelaki muda itu melanjutkan perkataannya sembari memainkan bagian depan helaian rambut Sura dengan jemarinya. Kemudian, ia mengecup kening, pipi, dan bibir tunangannya dengan cepat.
"Lagi," pinta Sura saat ia sudah berusaha untuk memenjamkan matanya.
Fabian hanya tertawa lembut dan mengusap pipi Sura dengan ibu jarinya. Perlahan, tetapi bisa membuat ia lebih mengantuk.
"Besok pagi kita lanjut lagi, ya." Itulah kata yang keluar dari bibir Fabian sebelum ia sepenuhnya tertidur sembari mendekap Sura dalam pelukannya.
TBC
Published on July 24, 2025
kamus kecil:
Mein Gott (Jerman) - Ya Tuhan
Mazel tov (Yiddi) - selamat
Syukran (Arab) - terima kasih
nas's notes:
akhirnya aku update lagi part ini bersama reaction dari orang terdekatnya fabian & sura. terima kasih atas kunjungannya <3
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com