Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

London, United Kingdom
Early August 2015

Akhirnya Sabine Amari memiliki waktu untuk bernapas dari keterikatannya dengan bisnis hotel dan resor beserta keluarga suaminya: Menyeret adik laki-lakinya, Joshua, untuk pergi ke London dengan jet pribadi, dan meminta sahabatnya, Ingrid Ehrlich, agar meluangkan waktu untuk menemui mereka di hari itu juga.

Mendengar permintaan Sabine dari telepon, Ingrid setuju dengan ajakan Sabine yang, menurutnya, sangat mendadak. Dibandingkan dengan memesan meja di tearoom kesukaan mereka (yang berada di dalam hotel mewah) di Knightsbridge, Ingrid memilih untuk mengundang Sabine dan Joshua ke kediaman keluarganya yang berada di Brunswick Gardens, Kensington.

Setelah disambut oleh salah seorang asisten rumah tangga, Sabine dan Joshua diantar menuju ruang baca, tempat Ingrid menerima tamu terdekat, agar mereka bisa mengobrol lebih privat.

Mata Sabine tak berpaling saat melihat Ingrid yang sedang duduk di salah satu sofa berwarna biru tua. Penampilan Ingrid dengan rambut cokelat muda pas sebahu dan mengenakan sweater rajut putih, turtle neck krem, dan rok hitam benar-benar tidak berubah—masih gaya yang sama seperti yang Sabine lihat saat kuliah dulu.

"Hi, Ingrid," sapa Sabine sembari menjabat tangan dan mencium pipi kanan kiri sahabat baiknya dengan perasaan antusias. "Great to see you!"

"Hai, Sabine," sapa Ingrid. Ia mencium pipi kiri kanan Sabine dan membalas jabat tangan sahabatnya. "Senang melihatmu lagi! Bagaimana Jerman?"

"Jerman masih sama saja," jawab Sabine. Matanya melirik kepada sosok lelaki yang berada di belakangnya. "Aku mengajak adikku."

Kini pandangan Ingrid menoleh pada Joshua yang berdiri di belakang Sabine. Ingrid tidak keberatan saat Sabine mengabari bahwa ia akan mengajak adiknya serta ke pertemuan mereka. Sang pemilik kediaman tampak mengulurkan tangan pada Joshua dan tersenyum hangat. "Hi, Joshua."

Lelaki yang mengenakan setelan jas berwarna krem langsung mengulurkan tangan. Iris biru muda itu terlihat berbinar saat melihat perempuan ramah dan elegan menyambutnya dengan hangat. "Hai, Ingrid. Bagaimana kabar Remus?"

"He's good. Thank you for asking." Ingrid membalas ucapan Joshua."Have a seat."

Ingrid mempersilahkan kakak adik itu untuk duduk. Seorang ART terlihat menyiapkan teh earl grey untuk dituang ke tiga cangkir yang berada di atas coffee table. Teh tersebut disajikan bersama kudapan khas afternoon teascones dengan selai stroberi dan krim, lavender tea bread, mini key lime pies, madeleines, dan roti lapis dengan isian keju dan daging asap yang dipotong kecil.

Bisa dikatakan, Sabine baru kembali berjumpa dengan Ingrid setelah beberapa bulan tidak bertemu karena terpisah oleh benua dan dunia.

Sabine Amari dan Ingrid Ehrlich sudah bersahabat karena diperkenalkan oleh seorang teman. Pada awal sembilan puluhan, Sabine membuat Keluarga Amari terkejut dengan kepindahannya menuju Inggris—Menjadi mahasiswi teknik perminyakan sembari bekerja sebagai supermodel. Meskipun otaknya encer, tetapi Sabine hidup penuh gemerlap bersama pelaku industri fashion dan menjadi pembicaraan di mulut masyarakat sampai kolom hiburan sebuah tabloid. Akhirnya, Sabine menikah dengan dokter bedah jantung dari Munich, dr. Andrian Hafiyyan, dan belajar ilmu baru untuk bertahan di keluarga suaminya.

Itu semua karena Sabine memiliki porsi tersendiri untuk mengelola perusahaan hotel dan resor milik Keluarga Hafiyyan—Yang seharusnya dikelola oleh Andrian, yang sayangnya, memilih untuk menjadi dokter bedah jantung. Begitu Andrian dan Sabine memiliki anak laki-laki (dan satu-satunya), anak itu juga memiliki keinginan untuk menjadi dokter. Sabine kerap mengumpat karena takdir, bukannya jengkel dengan profesi dokter, tetapi Sabine meratapi dirinya di masa lalu. 

"Hidup Fabian terlalu nyaman. Rasanya aku ingin mengirim anak itu ke luar negeri."

Ucapan Sabine terkait anak lelakinya sukses membuat Ingrid tersenyum tipis. Ditambah Joshua yang tidak berekspresi karena asik meminum teh dari cangkir. Baik Ingrid maupun Joshua, mereka berusaha untuk tidak menghakimi apapun ucapan yang baru saja lewat di telinga.

"Ingrid, aku tidak bisa membayangkan seperti apa anakku itu saat dewasa dengan cara hidupnya yang seperti itu."

Mulai. Ingrid membatin sembari melirik Joshua, tetapi lelaki itu hanya memberikan sorot pandang memang-seperti-itu.

"Tetapi, aku benar-benar serius. Aku berencana untuk mengirim anak itu ke luar negeri—dia harus bertemu manusia lainnya." Sabine melanjutkan ucapannya dan memandangi Ingrid. Pikiran Sabine mulai berencana untuk bertanya kepada Ingrid. "Menurutmu bagaimana, Ingrid? Mengingat kamu selalu membawa anak-anak setiap suamimu mendapat penempatan dan mereka tumbuh dengan baik."

Karena Ingrid menikah dengan Remus Wiradikarta, diplomat Indonesia dengan karir cemerlang, tentu saja Ingrid sangat familiar dengan situasi ini. Akan tetapi, saat ketiga anaknya mulai merencanakan negara untuk melanjutkan SMA, mereka membebaskan anak-anaknya untuk memilih apa yang mereka inginkan. Untuk saat ini, anak pertama Ingrid, Hanneli, sudah tinggal di Inggris sejak SMA hingga kuliah.

"Ya, aku membawa anak-anakku, tetapi saat SMA, aku ingin mereka memilih sendiri di mana mereka akan melanjutkan pendidikannya. Entah di Indonesia atau di Inggris—karena ada orang tuaku dan Remus yang tinggal di sana." Ingrid menjawab sembari meminum secangkir teh.

Sabine mendengarkan sembari mencicipi salah satu madeleine. Ia merasakan lemon dan krim saat menggigit bolu yang dicetak seperti kerang. "Aku tahu Hanneli-mu, bagaimana dengan Nicholas dan Sura?"

"Nicholas setuju untuk SMA di Indonesia, jadi aku masukkan dia ke sekolah internasional di Jakarta," jawab Ingrid dengan intonasi nada yang terdengar santai. "Dia baik-baik saja. Aku tidak perlu mengkhawatirkan pergaulan atau orang seperti apa yang ia jadikan teman, thanks to neneknya yang banyak memperhatikan dan Nicholas juga yang tidak ikut-ikutan temannya dia."

"Kegiatan apa yang Nicholas lakukan setelah pulang sekolah?"

"Dari tahun pertama dia ikut renang sama MUN. Tahun terakhir malah nambah kegiatan jadi panitia buku tahunan."

"Setelah itu, apakah Nicholas lanjut studi di luar negeri?"

Ingrid menggeleng. "Tidak, Nicholas memilih untuk ambil kelas internasional di ITB. Dia mengincar gelar ganda."

Sabine hanya mengangguk mengerti sembari meminum tehnya. Sementara Joshua sudah mencicipi scones dan sandwich yang tersaji dalam ukuran sekali gigit. Sedari tadi, Joshua tidak memberikan komentar apapun terkait pembahasan anak-anak dari Sabine dan Ingrid. Namun Joshua tahu pasti kalau dia akan dimintai pendapat karena ia dekat dengan Fabian.

"Joshua," panggil Sabine, membuat Joshua menghentikan pikirannya dari mencicipi madeleine yang kini berada di hadapannya. "Menurutmu apakah aku harus mengirim Fabian ke Indonesia?"

Joshua hanya mengerutkan dahi saat mendengar kakak perempuannya mulai menanyakan pendapat. Padahal seharusnya Sabine membahas topik masa depan Fabian bersama suaminya sendiri, Andrian.

"Aku bukan ayahnya Fabian." Joshua mencoba mengalihkan Sabine agar tidak meminta pendapatnya.

"Jawab saja," ucap Sabine singkat dan mencoba untuk mengecilkan suaranya. "Dari tadi kamu makan terus."

Ingrid tertawa dengan perasaan sedikit canggung. "Eh, tidak apa-apa, Sabine. Kamu sendiri tahu kalau keluargaku suka memberikan makanan ke tamu-tamunya. Apalagi kalian sekarang tamuku." Tangan Ingrid langsung mengambil sepiring madeleine yang sudah dilihat Joshua sejak tadi. "Jawabnya sambil makan saja, Joshua."

Tangan Joshua menerima piring berisi madeleine yang tersisa dua potong. "Terima kasih Ingrid." Joshua menjawab dengan nada pelan. "Sebenarnya tidak masalah jika Fabian tetap sekolah di Jerman atau di Eropa, tetapi dia bisa pulang ke rumah dan hidup di rumah seperti biasanya. Fabian harus mencoba tantangan, minimal dia harus merasakan pengalaman bertahan hidup. Dari ART yang mengurus rumah maupun tukang cuci yang datang ke apartmentku juga mengatakan kalau Fabian orangnya diam dan tidak merasakan kesulitan. Akan lebih baik jika dia tinggal di Jakarta dan hidup bersama papa mama."

Mendengar pendapat Joshua, Sabine dan Ingrid mengangguk setuju. Sabine sendiri merasa lebih bisa mempercayakan Fabian untuk diurus oleh orang tuanya, Heinrich dan Victoria Amari, yang sudah lama menikmati masa pensiun di Jakarta. Sementara Ingrid sendiri setuju karena karakteristik orangtua dari Amari Bersaudara cenderung lebih tegas, tetapi tidak mengontrol secara berlebihan.

"Catatan, jangan biarkan mama terlalu memperhatikan Fabian. Biarkan Fabian sesekali merasakan kesulitan." Joshua menambahkan.

"Bunda!"

Suara pintu kayu yang dibuka hampir mengejutkan Joshua. Suara hentakan kaki yang bergerak cepat menuju pemilik rumah pun membuat para tamu menoleh. Tatapan Sabine memandang seorang remaja perempuan yang mengenakan rok hitam selutut, kemeja katun krem, dan sweater ungu. Rambut panjang berwarna cokelat terang tampak tergerai. Akhirnya Sabine melihat Sura, putri bungsu Remus dan Ingrid, yang sudah menginjak remaja.

Terakhir Sabine melihat Sura saat gadis itu masih kecil—Sekitar umur empat atau lima tahun. Itupun Sabine yakin kalau Sura tidak mengingat perjumpaan mereka. Selebihnya, Sabine mengetahui kabar Sura dan kakak-kakaknya dari cerita Ingrid yang dibagikan saat mereka bertemu.

Sementara seorang Asisten Rumah Tangga melangkah cepat untuk menyusul Sura, yang sudah lebih dahulu sampai di ruang baca. "Maaf Mrs. Ehrlich, tetapi Sura menanyakan Mrs. Ehrlich sejak tadi."

Ingrid mengerti bahwa putrinya yang langsung masuk saat ia masih mengobrol bersama Sabine dan Joshua. Iris hijau kebiruan itu menatap wajah ART dan memberikan instruksi dengan nada yang berbeda agar ART tersebut melangkah mundur dari ruang baca. "Tidak apa-apa, biar Sura sama saya. Kamu boleh pergi."

Setelah memastikan ART tersebut pergi dan menutup pintu ruang baca, Ingrid langsung memandangi putri bungsunya. "Yes, Dear? What's going on?"

"Aku mau pergi sama Aunty Pat."

"Kamu sama Pat mau pergi ke mana?"

"Onkel Peter pergi ke undangan shabbos dinner temannya, tapi Aunty Pat tidak ikut dan mau ajak aku pergi ke Harrods." Sura menjawab dan bergumam sebentar. "Nanti Aunty Pat sama supirnya yang jemput. Bagaimana Bunda? Apakah boleh?

Ingrid berpikir sejenak dan mengangguk setuju. "Sure, Dear."

"Thank you, Bunda!"

Sebelum Sura berjalan meninggalkan ruang baca, Ingrid mengambil pergelangan tangan putrinya. Mencoba untuk menahan langkah perempuan muda itu sebentar. "Sudah mau pergi?" tanya Ingrid pada putrinya.

"Ya," jawab Sura singkat.

"Sura, ini ada temanku, Sabine dan Joshua, dari Munich," ucap Ingrid pelan sembari menahan pergelangan tangan Sura. Memberikan kode agar putrinya menyapa teman-temannya lebih dulu.

Iris hijau kebiruan milik Sura tampak memandang dengan ramah dua orang tamu yang mengobrol bersama Ingrid. "Hi Tante Sabine and Onkel Joshua." Sura menyapa Sabine dan Joshua dengan ramah. Perempuan muda itu langsung berjalan mendekati pintu, memberikan sinyal untuk berpamitan."I should to go. Good bye"

Sabine masih memperhatikan Sura hingga perempuan muda itu keluar dari ruangan. Akan tetapi, Sabine langsung menoleh pada Ingrid. "Kurasa putrimu memiliki lebih banyak agenda." 

"Semenjak Sura di London, dia sering sekali pergi. Entah bertemu temannya, pergi sama Hanneli dan Nicholas, atau pergi sama paman bibinya seperti sekarang." Ingrid berujar dengan nada pelan. "It's fine, Sura akan pergi ke Jakarta untuk melanjutkan studi. Ia harus menghabiskan waktu lebih banyak di London."

Sabine mengangkat salah satu alisnya. Sebenarnya Sabine merasa terkejut dengan pernyataan Ingrid. "Putrimu pergi ke Jakarta?"

"Ya. Aku dan Remus sudah mendaftarkan Sura ke SMA Internasional yang sama dengan Nicholas." Ingrid menjawab sembari mengambil cangkir teh untuk menikmati tehnya. "Sebenarnya kami ingin Sura ikut aku dan Remus ke Amerika Serikat untuk penempatan pos diplomatiknya, tetapi Sura ingin sekali sekolah di Jakarta seperti Nicholas. Asal di sekolah yang sama, aku tidak apa-apa."

Mereka bertiga kini saling berpandangan. Tangan mereka berinisiatif untuk mengisi mulut dan perut mereka dengan kudapan khas afternoon tea yang begitu nikmat. Joshua sudah puas dengan madeleine-nya dan sekarang ia memiliki pertanyaan. 

"Fabian dan Sura seumuran, 'kan?" Joshua bertanya.

Ingrid dan Sabine mengiyakan. 

Iris biru milik Joshua menyorotkan pandangannya ke arah Sabine. "Kalau kamu masih bertanya bagaimana pendidikan di Jakarta, suruh saja Fabian bertanya pada Sura. Hitung-hitung supaya Sura bisa memberikan pendapat dan Fabian juga bisa berinteraksi lebih sering."

"Joshua, Sura belum sekolah di Jakarta," bisik Sabine. 

"Nah, justru itu—Sura selama ini melihat kakaknya sekolah di Jakarta, jadi Sura punya pandangan sendiri dan bisa membagikannya kepada Fabian. Lagipula lebih baik Fabian bergaul sama orang yang sepantarannya." Joshua melanjutkan. "Situasinya akan berbahaya jika Fabian menjadi dokter, tetapi skill komunikasinya jelek. Dia bisa lebih sering menyakiti perasaan keluarga pasien dengan perkataannya."

"Dia saja sering menyakiti perasaan keluarganya sendiri." Sabine berujar dengan nada sarkastik. 

Dibandingkan pindah sekolah ke luar negeri, sebenarnya anak itu butuh sesi kunjungan ke psikiater. Jelas keluarga itu, kecuali Joshua, sudah menekan Fabian. Ingrid membatin dengan ekspresi wajah yang datar dengan jemarinya yang mengangkat cangkir teh.

TBC

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com