13. Peonies Plan
nas's notes: sebelumnya ada rant panjang, tetapi aku take out aja bagian itu dan kusisakan reminder di bawah ini aja:
mungkin kalian baca tulisan author kesayangan kalian buat hiburan, tapi author menulis buat menghibur diri mereka sendiri dan para pembaca. bisa juga buat lari dari masalah hidup yang ada di rl mereka atau alasan lainnya dan habis itu nulisnya dari hal yang mereka suka, karakter yang disayang banget sama authornya, dan hal tersebut membuat authornya bahagia saat membangun dunianya sendiri. mana updatenya disempet-sempetin sama kegiatan rl lagi.
so, ayo tinggalkan apresiasi untuk aku dan author kesayangan kalian. biar mereka bisa kembali update lagi!
terima kasih dan selamat membaca, xx.
✮⋆˙
Jakarta, Indonesia
April 27, 2026
Giandra Euphrasia's 26th birthday.
Pukul sepuluh malam, biasanya banyak muda mudi yang masih melanjutkan aktivitasnya—entah pindah kedai kopi atau klub malam, melanjutkan lembur dari gedung-gedung pencakar langit di jantung ibu kota, hingga beristirahat. Untuk Nicholas, ia memilih untuk langsung pulang menuju kediamannya yang berada di Pondok Indah.
Setelah memastikan adiknya sudah pulang dengan melihat mobil sedan pabrikan Jerman yang sudah terparkir di garasi, Nicholas langsung mengunci pintu pagar. Begitu ia melangkahkan kakinya ke dalam rumah, Nicholas langsung merebahkan tubuh tingginya tepat di atas karpet yang berada di ruang tengah.
Pikiran Nicholas masih terbayang dengan ciumannya bersama Giandra. Setelah sekian lama, akhirnya Nicholas tergerak untuk mengecup bibir Giandra —tentu saja ia meminta persetujuan Giandra sebelum melakukannya. Akan tetapi, setelah kencan itu, Nicholas merasakan perasaan yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Membayangkan kejadian tadi saja sudah berhasil membuat Nicholas tersenyum sendiri.
Kemudian Nicholas mulai membuka ponsel. Saat itu juga, ia langsung menghubungi seseorang yang kemungkinan masih terjaga (dan tidak pergi ke klub malam). Sahabat karib yang memberikan saran seputar kencan dan bersedia untuk mengomporinya.
Siapa lagi yang bersedia mendengarkan Nicholas kalau bukan Andrew Karel?
"Aku melakukannya," ucap Nicholas begitu ia berhasil terhubung dengan panggilan bersama Andrew.
Tak sadar, Nicholas tertawa sedikit. Intonasi tertawa yang terdengar bukanlah tertawa lucu, tetapi gelak tawa karena salah tingkah.
"Melakukan APA?" Andrew meninggikan nada dan menekankan ucapannya dari sambungan telepon.
"Aku berciuman dengan Giandra selama sepuluh menit."
"OH SEPULUH MENIT. LAMA JUGA," balas Andrew dengan nada yang tinggi.
Mendengar penekanan dari Andrew dan suasana hatinya yang sangat bahagia, Nicholas tersenyum. Meskipun ada kekhawatiran kalau Sura, adiknya, muncul secara tiba-tiba dari lantai atas dan siap untuk menanyakan semua hal. "Tolong jangan diperjelas lagi."
"Pantas saja kamu menelpon aku dengan nada seperti orang yang jatuh cinta. Pasti ciumanmu enak, 'kan?" tanya Andrew yang sepertinya sudah menangkap penuturan sahabatnya yang sudah terperangkap.
"Aku enggak mempermasalahkan enak apa enggaknya karena ini ciuman pertama untukku dan Giandra. Kita tidak pernah pacaran atau mencium orang lain secara asal. Serius, aku bahagia saat aku berciuman sama Giandra. Sepertinya aku butuh ciuman setiap hari bersama Giandra."
"Memang ciuman itu enak dan semua orang butuh ciuman, tapi confess dulu, ya, Nicholas Wiradikarta. Kalau kamu enggak bisa confess, biar aku yang mewakili, tapi confess-nya untukku."
Meskipun Andrew bercanda, tetapi, secara spontan, Nicholas langsung menegaskan ucapannya untuk merespons ucapan Andrew. "TIDAK BOLEH, ANDREW."
"MAKANYA BURUAN CONFESS, NICHOLAS." Andrew juga tak mau kalah, ia menekan ucapannya dari sambungan telepon. "Enggak mungkin kamu menghubungiku hanya untuk membahas ciumanmu yang lama itu, 'kan?"
"Tidak," balas Nicholas. "Setelah ciuman itu, aku mengantar Giandra ke dalam rumah dan ternyata ada neneknya. Kamu tahu dr. Frida Hadiwiryono, 'kan?"
"Astaghfirullah." Andrew mulai beristighfar, mengembuskan napas perlahan hingga Nicholas dapat mendengar suara napas lelaki itu dari sambungan telepon. Andrew mulai membayangkan dokter yang sudah lama mengenal keluarganya langsung menaruh banyak pertanyaan kepada Nicholas yang pulang dengan Giandra."Iya, beliau dokter anak keluargaku."
"Bu Frida langsung menanyakan kapan aku akan menikah. Giandra menoleh kaget. Benar-benar kaget. Terus aku jawab kalau aku masih menunggu Giandra untuk menemukan orang yang ingin ia nikahi. AKU BENAR-BENAR TIDAK SADAR SUDAH MENGATAKAN ITU."
"ANJIR, APAAN SIH BASA-BASIMU," bentak Andrew saat ia mendengar respon yang terlalu pasrah dari temannya. Ia mulai sedikit jengkel.
"BENTAR DULU. JANGAN DIPOTONG, YA. AKU LAGI CERITA," balas Nicholas sebelum Andrew memberikan bentakan lainnya yang terdengar brutal melalui telepon.
"YAUDAH LANJUT."
"AH, AKU LUPA, 'KAN!" Nicholas merespon dengan sebal pada dirinya sendiri. Pikirannya kembali mengingat pertemuannya beberapa jam yang lalu. "Oh iya! Terus Bu Frida ketawa setelah dengar jawaban aku, Dru. Terus Bu Frida bilang kalau nunggu Giandra kelamaan, lebih baik Giandra sama aku aja. Katanya juga, beliau, Pak Arya, sama dr. Arif setuju, kok, sama aku. Setelah mendengar balasan Bu Frida, hatiku langsung bereaksi bahagia dan Giandra hanya melirikku."
Jelas dari penuturan Nicholas barusan, ia bisa mendengar suara tawa Andrew yang begitu kencang. Ia tidak dapat menerka apakah Andrew mengejeknya atau bereaksi secara natural. "INI UDAH LAMPU HIJAU ENGGAK, SIH?"
"SUMPAAAAAH UDAAAAH!!" Nicholas menanggapi yang juga tertawa antusias. Serasa ia sudah mendapat sinyal dukungan untuk melangkah lebih jauh. "Aku mengejar dr. Arif Soerjapranata di Singapura karena beliau selalu ada jadwal praktik di Mount Elizabeth. Beruntungnya aku, beliau berkenan untuk menemui aku dan setelah pertemuan tersebut, dr. Arif langsung approve."
Meskipun Nicholas terlihat tidak berpengalaman dalam percintaan, tetapi Andrew mengagumi Nicholas untuk consent. Giandra adalah yatim piatu dan ia hanya punya para kakek nenek yang tinggal terpisah antara tiga negara, di antara para wali, wali sah yang akan menyerahkan Giandra saat menikah nanti adalah kakek dari dad-nya Giandra yang bekerja di Singapura.
Nicholas tahu bahwa sebelum melamar anak atau cucu perempuan orang lain, ia harus meminta izin dan restu. Bagaimanapun, Nicholas berusaha untuk menjaga tata kramanya.
"Beliau langsung approve secara langsung atau "Oh, Giandra gini gini gini ..." sambil sebutin kode?" Lagi-lagi Andrew bertanya untuk kembali memastikan.
"Begini, dr. Arif Soerjapranata bilang kalau Giandra selalu menyukai peoni, bukan bakung. Giandra pernah cerita ke grandpa-nya kalau dia sedih orang-orang selalu mengingatnya saat melihat atau memberikan bunga bakung—bunga kesukaan mom-nya. Lalu Giandra sendiri juga berharap calon suaminya, yang disetujui oleh grandpa, akan memberikannya bunga mudan atau peoni sebagai tanda konfirmasi."
"Did she notice that you got her grandfather's blessing?"
✮⋆˙
Giandra masih tersenyum penuh cinta saat membayangkan ciumannya dengan lelaki yang ia suka. Sudah lama ia menantikan hari yang di mana dirinya bisa melakukan semua kegiatan romantis bersama lelaki yang ia suka. Bahkan, hari ini, Giandra melakukan banyak hal bersama Nicholas—dari berkencan hingga ciuman mereka yang bertahan lama itu.
Wajah Giandra begitu merah dan pikirannya langsung bisa membayangkan apa yang akan Nicholas lakukan untuk mengikat mereka untuk satu sama lain.
Sejak remaja, Giandra disibukkan dengan melakukan semua aktivitas yang ia suka—di antaranya ada yang menjadi karier profesional yang kemudian menjadi hobi, ada juga hobi yang diseriusi dan menjadi karier profesional, atau hanya hobi saja. Orang tuanya kerap membujuk Giandra untuk berpacaran dengan lelaki Indonesia atau lelaki asing yang Giandra kenal. Namun, Giandra sendiri tidak tertarik karena ia merasa kemampuannya mengambil hati lelaki memang payah.
Ditambah, Giandra sudah mendapat cukup banyak kasih sayang dari semua orang yang ia kenal. Jadi, ia bisa bertahan dengan kesendiriannya.
Setelah selesai memindahkan rangkaian bunga yang ia terima dari Nicholas ke sebuah vas berisi air, Giandra bisa memandangi rangkaian bunga dengan senang. Ia memikirkan bagaimana Nicholas bisa tahu bunga kesukaannya adalah bunga mudan.
Apakah Kak Nicky menemui grandpa di Singapura? Bagaimana bisa ia tahu soal kecintaanku terhadap bunga mudan? Giandra bertanya dengan dirinya sendiri sembari berasumsi.
Memang bagi Nicholas dan Giandra, bunga mudan ini memang bisa mereka beli sesuka hati. Sayangnya, yang tahu bunga mudan sebagai bunga kesukaan Giandra adalah orang tuanya yang sudah meninggal, grandpa-nya yang hidup sehat dan makmur di Singapura, serta lelaki yang disetujui oleh grandpa—yang diberitahu oleh grandpa tentang keseluruhan peonies plan ini.
Namun, Giandra memiliki asumsi. Jika Nicholas sudah meminta izin grandpa untuk melamarnya, harusnya grandpa juga menghubungi Giandra untuk mengabari soal eksistensi seorang lelaki potensial dan serius yang ingin menikahi cucu satu-satunya. Apa bunga mudan ini benar-benar bentuk persetujuan dari grandpa untuk Kak Nicky? batin Giandra dengan penuh pengharapan.
Sebelum Giandra membuang kertas pembungkus dari buketnya, matanya secara detail memperhatikan stiker merek yang tersemat di salah satu sisi kertas tersebut. Ia dapat mengenal stiker merek yang berasal salah satu florist besar langganan para orang kaya. Florist tersebut ialah Roundtelier yang dimiliki oleh Shadira Salih, putri tunggal pewaris konglomerasi retail.
Giandra ingat kalau Shadira mengirim pesan langsung melalui Instagram-nya saat ia mempublikasikan buket bunga tersebut secara jelas melalui postingan Snapgram.
euphrasia's direct message on Instagram
idrisaqsad
DARI SIAPAAAAAAAA?????
nayantara
PASTI BUKAN CRUSH KAMU.
SEMOGA YANG INI SERIUS DARIPADA CRUSH-MU ITU.
Kalau bukan cowok yang dekati kamu, aku masih ada stock, kok, yang cocok buat kamu.
rayanpradana
HAPPY BIRTHDAY, G.
Semoga panjang umur, sehat selalu, lancar rejekinya, dan mendapat banyak kebahagiaan.
(gif the polite cat)
r.purnomo
Selamat ulang tahun, Giandra. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan bahagia selalu.
Kamu tidak balas WA saya.
Mas bisa ajak kamu makan malam? Berdua saja.
Tolong balas pesan saya.
shadirasalih
OMG YOU GOT THAT ROUNDTELIER'S BOUQUET!!
Karena sudah telanjur penasaran, Giandra memutuskan untuk membalas reaksi dari Shadira. Giandra membutuhkan cerita kilas balik soal pesanan bunga yang dipesan oleh Nicholas untuk dirinya dan ia tahu bahwa mudah bagi Shadira untuk memberikannya sebuah kisah menarik menginspirasi dari usaha sampingannya.
euphrasia
YESSSS!!!
Apa asistenmu yang merangkainya?
shadirasalih
Enggak, dong.
Aku yang merangkainya sendiri!
Bunga yang ditujukan untuk peraih dua medali emas olimpiade, penulis buku best-seller, dan wanita cantik—tentu saja harus aku yang merangkai sendiri.
euphrasia
Masha Allah, untuk exposure, 'kan?
shadirasalih
Pintar sekali!
Karena kakaknya Sura memesan buket ini untukmu, jadi aku berusaha keras.
euphrasia
Persediaan bunga impormu habis, kan?
shadirasalih
IYA.
Aku belum mendapat kiriman bunga peoni impor dari Cina dan Belanda. Terus awalnya aku bilang kalau bunga peoni imporku habis dan aku mencoba untuk menyarankan bunga yang lain, namun Nicholas minta aku untuk mencari bunga tersebut karena bunga peoni itu penting untuk dirinya dan menyangkut masa depannya. Aku bingung, namun Nicholas membujukku dan memintaku untuk mengirimkannya ke Pejambon lebih dulu.
Alhasil, aku harus mencari bunga peoni di Jakarta melalui beberapa penyediaku dan ketemu!
euphrasia
Aku mengerti, Sha.
Apakah Kak Nicky bilang kalau bunganya buat aku?
shadirasalih
IYAAAA TENTU SAJA!
"Sha, tolong diusahakan. ini buket bunganya buat Giandra Euphrasia. Giandra ulang tahun."
ADUH AKU LANGSUNG NGEJAR BIKIN PESANANNYA.
euphrasia
AAAAAA AKU KETAWA LAGI BACANYA.
Terima kasih banyak, Shadira! Kamu udah bikin pesanannya Kak Nicky buat aku dan ceritain ini!
shadirasalih
No worries, Gi!
TBC
Published on August 3, 2024
nas's notes: thank you for 6k! ini ada bonusan yaa!
✮⋆˙
Jakarta, Indonesia
Summer 2024
"Pak Presiden, saya sudah mempersiapkan bunga bakung untuk dikirimkan ke kediaman Keluarga Soerjapranata."
Mata Andhika Pradana, Presiden Republik Indonesia, menatap rangkaian bunga bakung yang sudah dipersiapkan oleh Aide-de-camp-nya. Bunga bakung dengan jumlah tangkai yang banyak terlihat segar. Bunga yang pantas untuk mengapresiasi anak muda berprestasi.
"Bagus! Terima kasih untuk bantuannya dan tunggu sebentar," ucap Andhika sembari mengambil kartu ucapan kosong dari meja kerjanya dan pena hitam. Ia mencoba menulis cepat beberapa kata yang berisi apresiasi melalui goresan tinta tebal tersebut.
Untuk Giandra Soerjapranata
Terima kasih untuk kerja keras dan medali emas untuk Indonesia.
- Uncle Dhika
Sang Ibu Negara tak sengaja mendengar seorang Aide-de-camp berbicara dengan suaminya soal rangkaian bunga. Wanita itu langsung mengangkat wajahnya dari buku pengembangan diri yang sedang ia baca karena obrolan menarik yang melintasi telinga.
"Bunga untuk siapa?" tanya Kanista pada suaminya yang masih memfokuskan diri menulis ucapannya.
"Untuk Giandra," ucap Andhika dengan perasaan bangga. "Ia pulang hari ini dari Paris."
Kanista hanya menghela nafas dan menatap suaminya dengan datar. Keponakannya Pak Andhika berhasil mendapatkan medali emas dari ajang empat tahunan tersebut. Selama kepemimpinannya yang berlangsung selama dua periode, Pak Andhika menargetkan peningkatan fasilitas dan pembinaan para atlet yang berkancah di semua kompetisi internasional, termasuk olimpiade. Bahkan perolehan jumlah medali Indonesia pada olimpiade tahun 2024 memiliki peningkatan angka yang signifikan dibandingkan Olimpiade Tokyo tahun 2020 silam.
"Bukankah berlebihan? Bahkan Giandra sudah dikunjungi oleh Menlu dan istrinya di Paris." Kanista berbalik bertanya dan memutar matanya. "Kamu tidak memikirkan perasaannya Nilam saat kamu merayakan medali Giandra secara terang-terangan?"
Baru saja Andhika menandatangani kartu ucapannya dan ia menatap istri keduanya. Putri bungsunya, Nilam, juga seorang atlet paruh waktu yang menekuni golf. Namun, Nilam gagal lolos kualifikasi Olimpiade. Lagipula Nilam juga tidak peduli, ia tidak memiliki jiwa kompetitif dan memilih untuk aktif di media sosial.
Andhika hanya menghela napasnya. "Jika Nilam berusaha dan menggunakan akalnya untuk tidak melakukan kesalahan saat kualifikasi, aku akan memikirkan perasaannya. Lagipula aku mengapresiasi Giandra sebagai pamannya yang tidak bisa datang untuk melihatnya bertanding."
Lelaki berusia 60-an awal itu beranjak dari kursi dan menyerahkan amplop berisi kartu ucapan kepada Aide-de-camp, lalu pergi keluar ruangan mengikuti sang atasan. Kanista yang ditinggal di ruang kerja tersebut hanya membanting buku yang dibacanya dan berteriak jengkel. Pikirannya sudah kemana-mana, bahkan ia berpikir bahwa seharusnya bunga untuk Giandra itu ia rebut paksa dari ajudan suaminya dan ia banting ke lantai.
"Bunga bakung bangsat. Terkutuk kamu, Giandra Soerjapranata dan medali emasmu, dasar bangsat!"
nas's notes:
Aide-de-camp: atau ADC (kalau bahasa pegawai negeri) adalah seorang yang membantu pejabat tinggi. role-nya mirip ajudan yang merangkap sekretaris pribadi. pejabat tinggi yang dibantu oleh ADC ini biasanya perwira jenderal, laksamana, hingga kepala negara.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com