Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

24. Come Clean

nas's notes: hi aku balik lagi! jadi ayo boleh drop vote dan comment-nya untuk ceritaku. yang bacanya offline, boleh nyalakan dulu kuotanya dan matikan lagi, ya.

terima kasihh dan selamat membaca <3

✮⋆˙

Jakarta, Indonesia
Mid June 2026

Frida Hadiwiryono tampak senang karena cucunya datang ke rumah untuk teh sore dan membuat suasana rumah tampak ramai. Meskipun tak semua cucunya dapat hadir, tetapi kehadiran Giandra, Rayan, dan Alya berhasil memeriahkan kediamannya. Untuk Alya, meskipun ia terhitung sebagai cucu menantu, tetapi Alya sudah dianggap cucu.

Saat ini, para sepupu sedang duduk di ruang tengah untuk mengobrol dan Frida berada di dapur untuk mengamati pekerjaan para ART-nya. Mbak Laras memilih untuk memanggang bolu pisang (permintaan Rayan) dan ART yang lebih muda ditugaskan untuk mempersiapkan cemilan asin seperti bitterballen (permintaan Giandra) dan cakwe isi udang (permintaan Alya).

"Aku datang ke pemakaman istrinya Raka bersama Akbar, dan dia menjual kesedihannya selama pemakaman—menampilkan wajah depresi dan kehilangan yang sebenarnya membuatku takut. Sekarang aku tidak jadi iba begitu mendengar ia membelikanmu satu set baju dan mengantarkannya atas namaku."

"Sebenarnya Raka Purnomo memakai nama Mbak Alya untuk mengantar pakaian pada Gi ada maksud apa, ya?" Rayan langsung bertanya begitu ia selesai mendengarkan keseluruhan cerita dari Giandra.

"Dia ingin memastikan kalau aku menerima pemberiannya," gumam Giandra sembari meminum air dingin. "Kalau pun aku sendiri yang menerimanya, sudah pasti aku akan terkecoh karena, saat itu, aku juga sedang menunggu kiriman jaket dari Mbak Alya."

"Hanya saja, menurutku, dia itu aneh," gumam Rayan yang tampak memutar matanya.

"Aneh kenapa?"

Frida yang baru saja balik dari dapur pun langsung bergabung dalam percakapan para cucunya. Kemudian disusul oleh Mbak Laras dan salah seorang ART yang membawakan baki berisi teh dan cemilan yang diinginkan.

"Asyik! Terima kasih Mbak," ucap Giandra spontan sembari mengambil bitterbalen yang masih panas dengan jarinya.

"Kalian ini sedang membicarakan siapa?" tanya Frida yang tampak penasaran dan mengambil cangkir teh yang telah disiapkan oleh salah satu ART.

"Raka Purnomo itu, Ma," ucap Rayan dengan perasaan jengkel. "Tanah makam istrinya belum kering dan sudah menangisi mendiang istrinya sampai masuk berita, tapi dia sudah mengajak Gi untuk makan malam sama dia sampai membelikan baju ... seakan-akan pemberian dari Mbak Alya. Kasihan Gi yang terpaksa meladeni Raka yang kerap menganggunya. Bahkan ajudannya pernah mendatangi ke kantor Forest Green dan menjemputnya seperti tahanan."

Wanita tua itu langsung menyorot pandangan pada cucu perempuan kesayangannya itu. "Anindya, benar, 'kah?"

"I'm sorry, Ma."

"Jangan minta maaf, Anindya. Habis ini langsung blokir kontaknya." Frida menasehati sembari mencicipi bolu pisang yang dipotong tebal dan terlihat potongan cokelat batangan yang menjadi topping untuk bolu pisang yang dibuat oleh Mbak Laras. "Menurut Mama, Terlepas dari professionalisme dan branding-nya, Raka ini orangnya enggak beres."

"Maksud Mama?" Alya bertanya sembari mengkerutkan dahi.

"Keluarga konglomerat Indonesia tahu Raka itu problematik, apalagi semenjak Raka menyenggol Hamdi Hassan dan pertemuannya dengan pejabat penjajah itu. Namun, itu masih kurang. Kita curiga Raka ini korupsi atau menikmati gratifikasi selama dia menjadi Wamenparekraf dan sayangnya belum terlihat," ucap Frida yang penjelasannya membuat para cucunya itu tak mengedipkan mata karena terlalu fokus. "Jika dad-nya Anindya masih hidup, pasti Andhika sudah diiris dan masuk panggangan roti karena membiarkan orang seculas Raka masuk ke kabinet—bahkan menjadi bagian dari lingkar terdekatnya."

Alya tampak bingung saat mendengar penuturan Frida dan Rayan berbisik. "Om Hiram punya indera ke enam dan dana untuk biaya kampanye ayah—yang menjadi hutangnya ayah ke Giandra."

"Pantas saja ayah begitu mendengarkan Giandra." Alya menanggapi ucapan Rayan sembari mengecilkan suaranya.

"Benar, sepupu kita ini juga tidak mempan disantet."

"Meskipun ia begitu hebat, tetapi aku tetap mengkhawatirkannya. Giandra begitu polos—terutama untuk percintaannya."

Giandra mendekatkan telinganya kepada sumber suara dan menyimak kedua sepupunya membicarakan dirinya sembari berbisik. "Begitu, ya."

"Iya! Kapan kamu punya pasangan?!" protes Rayan begitu dirinya merasa sedang tertangkap basah karena Giandra mendengar percakapannya dengan Alya. "Setidaknya carilah pasangan supaya Raka Purnomo itu berhenti mengganggumu!"

"Nanti. Orangnya belum confess," jawab Giandra sembari memakan cemilannya dengan santai.

"Jangan nanti nanti!" Rayan memprotes jawaban sepupunya sembari mengambil cakwe isi udang dan mencicipinya. "Lwagiahn kwamuh kwnapwah tydwak swamah mwas .... "

Frida mengambil secangkir teh hangat dari hadapan Rayan dan memberikannya agar segera diminum oleh Rayan. "Minum dulu, Nak."

Lelaki muda itu langsung menerima teh dari tangan neneknya dan meminumnya dengan terburu-buru. "Terima kasih, Mama."

Menyadari bahwa Rayan sudah selesai minum, Giandra pun langsung mencoba mengkonfirmasi ucapan sepupunya. "Kamu ngomong apa?"

"Lagian kamu kenapa tidak sama Mas Nicholas, sih? Mas Nicholas sudah jelas, loh, orangnya—kamu dekat sama keluarganya, tahu pekerjaannya apa, pendidikan juga setara, dan saling mendukung satu sama lain. Malah mendingan kamu sama Mas Nicholas supaya dia bisa menjaga kamu dari laki-laki jahat."

Mendengar ucapan sepupunya itu, Giandra hanya menghela nafas sembari mengendalikan raut wajahnya sendiri. "Bantu doa aja ya, Rayan. Siapa tahu jodohku beneran diplomat."

Frida hanya tertawa kecil saat mendengar respon cucunya yang terdengar sangat polos atau pura-pura lupa. "Nicholas juga diplomat, kok, My Dear. Kamu mau Mama bantu atur pernikahan kamu sama Nicholas?"

Giandra sendiri tidak menjawab tawaran Frida, namun ia berusaha untuk menyembunyikan raut wajah yang tampak salah tingkah dan pipinya yang memerah itu.

✮⋆˙

Nayantara Sura:
KAPAN KAKAK CONFESS KE GIANDRA?!
Ayah Bunda baru saja sampai Jakarta, tapi kakak masih belum confess juga.

Nicholas Wiradikarta:
Hari ini!
Hari ini aku mau jalan sama Giandra habis ia ketemu Ayah sama Bunda dan rencananya mau langsung ajak nikah.

Nayantara Sura:
Buruan, Kak.
Nanti kakak keduluan.

Nicholas Wiradikarta:
Enggak ada yang mendahului aku, Adek.

Nayantara Sura:
Jangan jumawa.
Buktinya si R word ajak Giandra makan malam dan dibeliin baju baru segala, tapi bajunya langsung dikasih ke orang.
Benar-benar Giandra ....

Nicholas Wiradikarta:
Dih, R word.
R word bisa ajak Giandra makan malam dan jemput dia dari luar. Sementara aku sendiri bisa masuk ke rumahnya dan meneleponnya malam-malam.

Nayantara Sura:
Kakak baru masuk ke rumahnya.
Aku tidur, mandi, dan bersantai di rumah Giandra.

Nicholas Wiradikarta:
Responmu kayak orang enggak punya rumah.

Nayantara Sura:
Loh, kakak naksir Giandra sampai pengen banget nikah, tapi enggak dinyatakan. 'Kan, mubazir.
Gelagatmu, tuh, kayak orang enggak punya cita-cita.

Nicholas Wiradikarta:
Mulai ....
Sudah ya, Adek, aku mau pergi dulu.
Kamu juga hati-hatiii.

Nicholas yang terlihat sedang bersiap pun langsung keluar dari percakapan antara dirinya dengan Sura. Ia langsung mencari kontak Andrew untuk menghubunginya lewat pesan dan mengganggunya dengan pertanyaan seputar pernyataan cinta.

Sebenarnya, Nicholas terlihat terburu-buru karena Wamenparekraf sudah bergerak cepat dengan mengajak Giandra untuk makan malam bersama dan orang tuanya tak dapat tinggal lama di Jakarta. Yang bisa dilakukan Nicholas dengan cepat ialah mempercepat rencana.

Nicholas Wiradikarta:
Andrew.
Kayaknya habis ini aku mau confess ke Giandra.
Ada saran tempat, enggak?

Andrew Karel:
Blok M.
Udah paling no ribet tinggal cus jalan.

Nicholas Wiradikarta:
Yah, ini mah mending langsung tunangan aja daripada mengantri di salah satu tenant yang ada di Blok M.
Ini weekend, Andrew, please kasih aku saran yang lain.

Andrew Karel:
Udah enggak usah pusing, Nicky.
Kamu confess di mobil aja.
Kemarin juga ciuman di mobil selama sepuluh menit juga kuat, 'kan?

Nicholas Wiradikarta:
Confess di mobil kayak orang enggak punya pilihan atau kayak orang enggak punya effort.

Andrew Karel:
Heh kamu saja ciuman pertama sama Giandra di mobilmu itu.
Atau enggak ke rumahmu, Nicky.

Nicholas Wiradikarta:
Enggak bisa confess di rumah.
Ini ayah bunda lagi pulang ke Jakarta.
Ada keluarga dari UK yang mampir ke Jakarta bentar.

Andrew Karel:
Om Remus pasti ngerti, kok.
Hehehe.

Nicholas Wiradikarta:
Iya, sih, Andrew.
Cuman aku merasa aneh kalau ayahku sampai tahu aku confess dan bermesraan bersama anak sahabat baiknya di rumahnya.

Andrew Karel:
Kalau ketahuan, tinggal dibalikin saja.
'kayak ayah enggak pernah aja.'
Apalagi bundamu British.
Pasti bundamu akan mengerti.

Nicholas Wiradikarta:
YANG BENAR SAJA, ANDREW.
Aku enggak berani.

Andrew Karel:
HMMMMMM KALO BEGITU ....
Di rumah Giandra aja?

Nicholas Wiradikarta:
Ada sepupunya, Rayan, yang menginap di sana.

Andrew Karel:
Berarti memang harus di luar rumah.
Aku kirimkan sesuatu di chat!

Nicholas Wiradikarta:
Thank you!

Andrew Karel:
No worries, Nicky.
Kalau udah, tolong seperti biasa, spill.

TBC

Published on August 27, 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com