Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

43. Dead Lock

nas's notes: kayaknya ada beberapa part yang butuh perombakan. selain sepi, kayak flat aja gitu? T^T

tapi bingung, ini cerita yang muji belum keliatan, apalagi yang benci. yang ngulas juga belum ada, apalagi yang promosi. jadi kayak ... hngggg ???

terima kasih dan selamat membaca!

✮⋆˙

Jakarta, Indonesia
July 9, 2026

Sayangnya, Nicholas tidak membawa paspor dan tidak menyimpan nomor paspor dalam ponsel pintar miliknya. Menurut Nicholas, akan sangat berbahaya jika menyimpan hal-hal menyangkut identitas pribadinya pada aplikasi notes atau galeri ponsel miliknya.

Maka, lelaki muda itu harus pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengambil paspor sekaligus memesan tiket pesawat. Mendengar Raka yang pergi ke Singapura pada waktu yang bersamaan dengan Giandra, membuat kepalanya semakin sakit.

Sebelum Nicholas turun dari mobil sedan mewahnya, ia membuka ponsel. Lelaki itu berharap dengan perasaan cemas sembari membuka aplikasi Instagram. Niatnya adalah Nicholas ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh Clara, mengingat mereka selalu mempublikasikan konten media sosial secara on time.

Akan tetapi, jemari Nicholas tidak sengaja memencet Snapgram dari akun Aqsad Idris, yang merupakan teman terdekat Giandra. Mata lelaki muda itu tampak tak percaya saat melihat Snapgram yang dipublikasikan dengan menaruh lokasi di Singapura.

Nicholas langsung tahu karena lokasi tersebt berada dekat dengan rumah sakit tempat Giandra memeriksakan kesehatan dan meminta pendapat kedua.

Dengan cepat, lelaki itu langsung membuka aplikasi WhatsApp dan berinisiatif untuk menghubungi Aqsad melalui sambungan telepon. Raut wajahnya menampilkan perasaan cemas yang begitu besar.

"Hai Aqsad."

"Hai Mas Nicholas!" balas Aqsad dari sambungan telepon.

Syukurlah. Nicholas membatin begitu mendengar suara lelaki yang merespon panggilan teleponnya.

"Aqsad, kamu lagi di Singapura?" tanya Nicholas sembari memegangi ponselnya dekat daun telinga.

"Ya, Mas, aku sedang berada di Singapura dan bertemu Giandra. Ada apa, Mas?"

"Aku khawatir karena Raka Purnomo berada di Singapura juga di waktu yang sama dengan Giandra. Tolong perhatikan Giandra untukku, ya. Setidaknya kamu ajak Giandra pergi jika dia tidak sengaja berpapasan dengan Raka." Nicholas menjelaskan dengan nada yang agak bergetar dan cepat dari sambungan telepon.

Aqsad mengiyakan. "Kebetulan aku belum terlalu jauh dari tempatku terakhir bertemu dengan Giandra. Berikan aku waktu. Akan aku kabari lagi, Mas."

"Terima kasih banyak, Aqsad!"

"No worries!"

Setelah mengakhiri telepon, ada perasaan sedikit lega karena Aqsad berkenan untuk melihat keadaan Giandra untuknya. Untuk mempersingkat waktu, Nicholas langsung turun dari kendaraan miliknya dan berjalan menuju rumah. Baru saja ia melangkahkan kaki ke dalam rumah, Nicholas tak dapat mengendalikan tubuhnya dan langsung tersungkur tepat di ruang keluarga.

✮⋆˙

Singapore
July 9, 2026

Setelah tiga puluh menit penuh pertimbangan dan beberapa saran berguna dari seorang rekan penjual dengan logat Singlish-nya, Giandra tampak senang saat keluar dari butik Cartier. Ia dan paper bag berwarna merah tersebut terlihat sedang melangkah menuju luar gedung. Barang yang berhasil diperoleh Giandra adalah sebuah jam tangan yang akan terlihat pantas untuk Nicholas. Giandra langsung melangkah ke sisi luar gedung yang jauh lebih sepi untuk mencari tempat berteduh.

"Giandra!"

Sayang sekali, telinga Giandra langsung menangkap suara yang ia kenal. Langkah kakinya pun terhenti dengan terpaksa. Ia tak menoleh, namun seorang pria berjalan mendekati Giandra dan langsung menghalangi pandangan Giandra.

Di antara semua negara, setan yang satu ini memilih untuk keluar dari sangkar dan muncul secara tiba-tiba di Singapura. Giandra membatin saat melihat Raka yang berdiri di hadapannya untuk menghalangi Giandra agar tidak pergi.

"Raka," balas Giandra dengan nada dingin.

Dengan cepat, Raka langsung memajukan tubuhnya agar ia dan Giandra dapat berdiri berdekatan. "Apakah ini petanda bahwa kita ditakdirkan untuk saling bertemu?"

Ucapan orang ini menggelikan. Bicara apa, sih, dia? Lagi-lagi Giandra membatin dengan perasaan jengkel. "Kurasa hanya kebetulan."

"Ah, ya," balas Raka secara spontan. Terpikir untuk membuka obrolan dengan membahas dirinya sendiri, "aku dulu pernah tinggal di sini untuk kuliah."

Banyak publik yang tahu bahwa Raka menempuh pendidikan di Singapura dan Amerika Serikat. Hanya saja, Giandra tak peduli dengan ucapan Raka. Apalagi, saat ini, sudah banyak orang Indonesia yang menjadi diaspora di luar negeri. Giandra juga pernah menjadi diaspora saat ikut orang tuanya tinggal di Australia.

"Aku sempat sekolah di NUS, Gi. Bahkan aku bisa berkuliah tanpa merasa khawatir karena dukungan orangtua—mereka mendukungku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."

Saat Giandra mendengar ucapan Raka, yang mulai meninggikan ucapannya tentang pendidikan sarjana yang ia tempuh di Singapura, rasanya benar-benar memuakkan. Semua orang bisa membahas riwayat pendidikan mereka di luar negeri bak medali penghargaan. Namun, mendengar Raka yang membahasnya dengan nada sombong, Giandra tidak dapat menyembunyikan ekspresi malasnya.

"Tentu saja kamu bisa kuliah tanpa merasa khawatir. Kamu, kan, orang kaya lama," ucap Giandra dengan nada yang terdengar sarkastik.

Sayang sekali jika aku membiarkan Giandra pergi. Aku harus mengajaknya jalan—tentu saja selagi tidak ada diplomat yang melempar ucapan pedasnya kepadaku. Kali ini, aku harus mencoba untuk merayu Giandra. Setidaknya agar Giandra bisa bersamaku sepanjang hari, bahkan malam, di salah satu tempat terbaik di Singapura. Clara tidak akan keberatan. Raka membatin saat mereka berdua terdiam dan saling melempar tatapan tajam.

"Selagi kita bertemu, izinkan aku untuk mengajakmu minum kopi," ajak Raka untuk memecah keheningan yang ada di antara mereka, "untuk kita berdua dan aku memaksa."

Tanpa berpikir panjang, Giandra langsung menggeleng. "Tidak bisa."

"Bagaimana jika makan malam? Aku akan mengajakmu makan di tempat kesukaanku semasa kuliah."

"Tidak."

Raka langsung terlihat putus asa. Ia mengkerutkan dahinya dan menahan diri dari memeperlihatkan ekspresi jengkel yang akan dilihat oleh Giandra. Lelaki itu mencoba untuk menahan Giandra untuk bersamanya dengan cara mengenggam tangan wanita muda itu secara paksa. Sebenarnya Giandra tak ingin tahu, namun Raka tampak memiliki sebuah rencana yang tidak baik dan Raka ingin melibatkannya.

Jadi kamu memaksa dan mengejarku hanya untuk memiliki rumahku—sebagai pasangan sah? Wanita muda itu membatin saat ia menatap mata Raka. Ia langsung melepaskan tangannya secara paksa dari cengkraman tangan Raka.

Menyadari bahwa Giandra menarik tangannya secara kasar, Raka merasa bahwa Giandra sudah benar-benar menolak niat baiknya. Raka tetap berusaha untuk menatap Giandra dan mulai memikirkan sesuatu yang tak sempat ia keluarkan. "Aku tidak biasa memohon seperti ini, namun ada hal penting yang harus aku sampaikan terkait cara orang tuamu meninggal."

Ya Allah ini lagi ... Jangan menggunakan nama orang tuaku agar aku bisa menyediakan waktu hanya untuk mendengarkan omonganmu. Sudah jelas orang tuaku mengalami kecelakaan. Giandra membatin dan ia menghela nafasnya dengan berat. Dengan perasaan jijik, ia langsung mengambil cairan pembersih tangan dari tas untuk menyemprotkan pada tangannya. "Tidak. Saya sudah ada janji. Permisi Raka."

Mata lelaki itu tampak melirik ke arah sekitarnya. Ia mencoba memastikan apakah ada orang Indonesia yang kenal dengan Giandra (sebagai teman dekat) atau orang asing yang mengenalnya (sebagai seseorang yang pernah menjadi atlet). "Astaga Giandra! Di sini tidak ada siapapun yang familiar—Kamu harus mendengarkan ucapanku!" bentak Raka dengan nada yang mulai agak keras.

"Jangan memaksa!" tukas Giandra yang terlihat jengkel.

Akhirnya wanita muda itu bisa berjalan beberapa langkah untuk meninggalkan Raka. Sementara Raka, yang masih berdiri di posisi yang sama, mencoba untuk menoleh dan mulai berteriak.

"Orang tuamu dibunuh secara sengaja, Giandra!"

Teriakan yang ia dengar membuat Giandra hampir menghentikan langkah kakinya dan langsung kembali berjalan dengan cepat. Raka langsung mencoba mengejar Giandra.

"Pembunuhnya adalah orang yang kamu kenal. Kamu butuh nama? Akan aku berikan. Aku berikan semua informasi—asal kamu mau duduk dan mendengarkanku." Raka melanjutkan ucapannya sembari menghalangi langkah kaki wanita itu.

"I don't care. Just don't use my deceased parents to get my attention."

"I didn't want your attention—I just want to help you. Open your fucking eyes!"

Raka masih mencoba untuk memaksa Giandra agar mau meluangkan waktu dan mendengarkan semua perkataannya. Sementara Giandra sendiri benar-benar terkejut saat nama orang tuanya yang sudah wafat digunakan oleh Raka Purnomo untuk menarik atensi wanita muda itu.

"Kak Giandra!"

Giandra mencoba untuk mencari sumber suara yang meneriaki namanya. Ia menoleh dan ternyata sumber suara tersebut berasal dari Aqsad yang berlari kembali untuk mencarinya.

"Finally! I was looking for you and you're HERE." Aqsad melanjutkan ucapannya. Ia menyadari bahwa ia juga melihat Raka yang bicara dengan Giandra. "Hai Pak Raka. Kak Giandra, kita harus pergi dari sini."

Aqsad benar-benar berakting seperti ia baru melihatku! batin Giandra dengan perasaan senang, namun ia berusaha untuk menyembunyikan reaksi yang sebenarnya. Mata Giandra pun tampak melirik tajam ke arah Raka. "Ya, aku baru membeli Cartier di sini dan tak sengaja bertemu Wamenparekraf. Ayo kita pergi, Aqsad."

Melihat mereka berdua yang langsung meninggalkan Raka, lelaki itu memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat kesal. Ia langsung melayangkan tinju ke udara dan berteriak jengkel.

"ANAK SIALAN!" teriak Raka sembari menghentakkan kakinya berkali-kali.

TBC

Published on October 9, 2024

nas's notes: terima kasih semua dan saatnya aku drop part bonus!

✮⋆˙

"Bagaimana bisa kamu tahu kalau aku akan berpapasan dengan Raka?"

Akhirnya, Giandra dan Aqsad pun duduk di pinggir air mancur yang berada di Ngee Ann City. Air mancur yang berada di basement dari pusat perbelanjaan tersebut selalu ramai. Dua teman dekat itu hanya duduk di pinggir air mancur seperti kebanyakan orang. Mereka berdua tampak sedang memikirkan coffee shop apa yang akan mereka singgahi selagi mereka bertemu di Singapura.

Pertanyaan Giandra itulah berhasil menarik perhatian Aqsad. Ia tahu bahwa Giandra akan bertanya dan Aqsad harus menjelaskannya.

"Mas Nicholas memberitahuku saat ia melihat snapgram yang aku post. Ia minta aku untuk memperhatikanmu dan menjelaskan kalau Raka juga pergi ke Singapura. Bahkan melampirkan bukti menarik yang berkaitan dengan Raka dan Clara ini. Alhasil, aku langsung melihat snapgram Clara Antonia yang berada di MBS dengan bag tag-nya Raka Purnomo—sebentar lagi akan meledak!"

Mendengar ucapan Aqsad, Giandra merasa bersyukur karena Nicholas masih memikirkan cara untuk menjaganya, meskipun mereka sedang terpisah antar negara. Tak sadar, mata wanita muda itu langsung berkaca-kaca karena merasa terharu dan diingat.

"Kamu tidak apa-apa, Kak?" tanya Aqsad yang memandangi mata Giandra yang kini tergenang oleh air mata. Nada Aqsad terdengar sedikit khawatir.

Giandra hanya mengangguk. "Tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita beli kopi dan kudapan? Aku tahu tempat yang enak."

Mendengar usulan Giandra, Aqsad pun mengangguk setuju dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Boleh! Ayo sekalian kita selfie dan kirim ke Kak Sura."

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com