Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

54. Envelope

nas's notes: hiii i'm back! terima kasih banyak yaa untuk teman-teman readers yang rajin vomments dan juga terima kasih untuk 94k views-nya.

jangan lupa vomments. kalau prefer baca secara offline, bisa diaktifkan dulu dan vote terus baru matikan lagi paket datanya.

sebelum lanjut baca, boleh minta tolong yang kemarin belum vomment part 52 bisa balik dan vomment? karena angkanya jomplang dengan part sebelum dan sesudah dan enggak achieve target :((

ada announcement lagi, ada beberapa part yang aku revisi dan tambahkan extra part juga. aku kerap tag pembaca yang aktif untuk mengetahui update-nya. mohon maaf yaa kalau aku tiba-tiba suka muncul lebih banyak di notif dengan revisian atau nambahin part bonus :"))

terima kasih banyak dan selamat membacaa!

✮⋆˙

Jakarta, Indonesia
July 30, 2026

Akhirnya setelah tujuh menit menunggu, Giandra pun datang ke tempat dimana ia, Sura, dan Nicholas akan bertemu sebelum pergi selama dua minggu—Hanya Giandra, Sura akan menghabiskan waktu lebih lama sembari WFA mengikuti jam Indonesia dan berpacaran mengikuti jam Jerman.

"Kamu bawa jaket?"

Giandra hanya menggeleng saat ditanya oleh Nicholas. Ia sendiri hanya membawa sweater, cardigan, dan syal. Kemudian Nicholas membuka jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pada Giandra. Jaket kulit berwarna cokelat tesebut terlihat sedikit kebesaran dan menepuk pelan pundak Giandra.

"Good," ucap Nicholas saat melihat Giandra sudah mengenakan jaket miliknya.

"Terima kasih, Kak Nicky."

"No worries. Sekarang kamu peluk aku," pinta Nicholas sembari membentangkan tangannya sedikit agar tidak terlalu mencolok, "peluk aku. Kita akan berpisah dalam waktu yang lama."

"Tidak juga. Lihat saja aku akan muncul secara tiba-tiba di samping tempat tidurmu." Giandra merespon dan langsung memeluk Nicholas dengan erat. Saat wanita muda itu memeluk Nicholas, hidungnya tampak menangkap wangi parfum kacang dan kamomil yang dipakai oleh lelaki muda itu.

"Apakah kamu habis makan kue kacang tanpaku?" ujar Giandra sembari tersenyum jahil. Pikirannya tampak membayangkan kue kering kacang yang biasanya tersaji dalam toples kaca.

"Tidak, tetapi Sura memang bawa kue kacang untuk Fabian."

"Wangimu enak," puji Giandra dan kemudian tertawa sedikit.

Mendengar pujian soal wangi tubuhnya, lelaki itu menaikkan sudut bibirnya dan berbisik dekat telinga Giandra. "Aku menaruh beberapa lembar euro di saku dalam. Tolong beli sesuatu yang enak atau yang kamu suka."

"Tidak," ucap Giandra yang mencoba untuk meraih kantung dalam jaket tersebut. Akan tetapi, Nicholas langsung menahan tangan wanita muda itu.

"Tidak apa-apa, Sayangku. Pakailah uangku." Nicholas berujar sembari menepuk sedikit ujung kepalanya Giandra. "I love you."

Tanpa ragu, Giandra langsung mengecup salah satu pipi pria tersebut dan tersenyum, "I love you too."

"Beli apapun yang kamu mau." Nicholas berujar dengan iris hijau kebiruannya yang tetap memandangi wajah Giandra.

"Kak, bahkan aku belum mengembalikan kartu debitmu dan aku hanya memakainya untuk membayar hotel."

Nicholas masih saja memandangi wajah Giandra dan mengusap pipinya. "Tidak apa-apa. Pakai lagi, ya, Sayangku."

Sura yang sedari tadi fokus memandangi Giandra dan Nicholas pun hanya tertawa kecil. "Kak, Giandra harus pergi. Kalian bisa melanjutkannya di WhatsApp atau Zoom," ujar Sura yang mencoba untuk mengingatkan.

"Giandra harus pergi atau kamu yang tidak sabar ingin bertemu dengan pacarmu?" ucap Nicholas dengan nada yang sedikit mengejek.

"Keduanya!" balas Sura pada kakaknya. "Selama ini kalian selalu bertemu setelah bekerja atau untuk pekerjaan. Saat kalian sudah jadi pasangan, kalian tak mau dipisahkan untuk sementara."

"Kamu benar," ucap Giandra yang mencoba untuk melirik papan informasi yang mencantumkan waktu keberangkatan. Ia menyadari bahwa ia dan Sura masih memiliki banyak waktu untuk menjelajahi bandara hingga mencapai gate, "yuk, Sura."

Lelaki itu hanya tersenyum saat melihat Sura dan Giandra yang tampak bersiap untuk meninggalkannya. "Tolong kirim kabar jika sudah sampai. Paspor Giandra tidak sekuat paspormu, Sura."

Giandra menghembuskan nafas dengan berat dan melirik Nicholas. "Kelebihanmu hanyalah memiliki paspor diplomatik. Selebihnya kita sama saja—sama-sama rakyat dari paspor terlemah tak berdaya ini."

"Paspor lemah, tetapi Giandra lebih sering bulak balik Amerika Serikat, Australia, dan Singapura seperti pebisnis daripada aku yang punya paspor Inggris," sanggah Sura sembari menarik lengan Giandra. Ia melirik lagi pada kakaknya, "jangan khawatir. Aku akan mengabari ayah bunda."

Akhirnya pada pukul lima sore, Giandra sudah duduk dengan tenang dari kursi kelas bisnis Etihad Airways yang akan terbang menuju Munich dengan dua kali transit. Tangan Giandra pun mencoba untuk mengatur posisi kursi senyaman mungkin. Pikirannya mulai teringat dengan amplop yang diberikan oleh Mama Frida melalui supirnya. Ia merogoh tas hanya untuk mengeluarkan amplop tersebut.

Giandra Euphrasia Anindyaswari Soerjapranata.

Mata Giandra tampak memandang nama lengkapnya yang tertulis tepat di tengah amplop. Mama Frida senang menulis nama lengkap penerima surat dengan tulisan tangannya yang indah. Hanya saja, Giandra merasa bahwa neneknya itu terlalu repot memperlakukan surat pribadi seperti surat resmi.

Tangan Giandra langsung mengambil selembar kertas kecokelatan dari amplopnya. Kertas tersebut mengingatkannya dengan kertas cetakan khusus untuk setiap surat yang dikirim dari kediaman keluarga Hadiwiryono. Giandra ingat bahwa kertas tersebut kerap diberikan oleh mom untuk menggambar agar tenang, namun papa, Arya Hadiwiryono, menggunakannya untuk mengirim pesan atau cek.

Pada bagian bawah kertas, terdapat nama yang tercetak pada bagian bawah. Arya, Frida, Hayu, Raya, Kirana, and Anindya. Persis dengan kertas lama yang dahulu ia gunakan dan papa membiarkan Giandra kecil untuk menggambar apapun yang ia inginkan dari kertas tebal tersebut.

Kini matanya melihat sebuah tulisan tangan yang ditulis dengan tinta biru yang begitu rapi. Benar-benar tulisan mama yang selalu terlihat familiar.

My Dearest Anindya,

Senang mengetahui bahwa saat ini kamu berangkat menuju Munich. Mama harap semoga operasimu berjalan dengan lancar dan keadaanmu pasca operasi nanti akan segera membaik.

Maaf mama tidak bisa memberikan banyak bantuan, apalagi menemanimu. Mama hanya memberikanmu sedikit untuk uang sakumu pada rekening bankmu.

Jika kondisimu sudah membaik dan kamu sudah sampai Jakarta, datanglah ke rumahku. I love you.

Hugs and kisses,

Mama.

Kini Giandra hanya menghela napas dan ingat saat ia melihat notifikasi transfer yang masuk pada aplikasi mobile banking-nya pada pukul empat sore, tepat saat ia baru sampai di depan gate. Tadi ia melihat mutasi dengan penambahan jumlah uang masuk ke rekeningnya. Wanita muda itu langsung berasumsi kalau Mama Frida takut Giandra tidak bisa pulang atau tidak membeli sesuatu yang menarik di Jerman karena kekurangan uang.

Kemudian iris cokelat milik Giandra langsung melirik pada Sura yang masih mencari tontonan dari on flight entertainment. Sedari tadi, Sura mencari apa yang akan ia tonton seperti mengikuti kompetisi serius.

Sadar bahwa Giandra sedang memandanginya, Sura pun tersenyum tipis. "Aku sudah mencari film sedari tadi. Ada rekomendasi?"

"Bagaimana kalau film lama? Tadi aku melihat The Devil Wears Prada atau The Proposal, deh."

.✮⋆˙

"Menlu tidak mau melepas Nicholas."

Itulah yang terucap dari bibir Raka saat ia sedang mengoleskan pelembab pada bibirnya yang kering. Jemari lelaki itu langsung menutup pelembab dan menaruh benda kecil itu pada saku celana.

Saat ini, Raka dan Clara sedang duduk di atas ranjang berukuran King Size yang berada di kamar Raka. Wanita muda yang sudah berganti pakaian dengan gaun tidur berwarna hitam langsung menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki yang selama ini menopang hidupnya.

"Jadi kamu datang ke Pejambon hanya untuk itu?" tanya Clara dengan nada lembut.

Lelaki itu hanya tersenyum tipis. Hampir saja ingin memutar iris matanya. "Ya, untuk apa lagi?"

"Sudah tahu rencanamu untuk menyingkirkan Nicholas lewat bosnya sendiri gagal. Jadi, setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?"

Pertanyaan yang terucap lewat bibir Clara tentu saja membuat pria berusia empat puluhan awal itu menyentil otaknya untuk memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk menyingkirkan Nicholas. Saking kerasnya pikiran Raka bekerja, ia tidak menanggapi Clara lebih lanjut.

"Kamu tidak mau menggunakan deepfake atau membayar detektif swasta untuk membuat bahan yang bisa menghasut mereka?"

Raka menggeleng. Tentu saja ia tidak asing dengan saran Clara. Toh, Raka sudah menggunakannya untuk menghasut Nilam dan Dion menuju ambang perpisahan. Akan tetapi, jika digunakan lagi untuk Nicholas, yang notabene adalah calon suami dari sepupunya Nilam, akan menarik perhatian masyarakat.

"Kurasa aku membutuhkan saran lain dibandingkan memakai taktik yang pernah aku lakukan untuk orang lain," balas Raka.

Dibandingkan berpikir lebih lanjut, Raka langsung melihat ke arah Clara. Terutama tubuhnya. Ia menyadari ada perubahan pada tubuh wanita simpanannya yang berhasil menarik perhatian lelaki itu.

"Kamu gemukan," ucap Raka, "karena project baru atau memang kamu makan lebih banyak akhir-akhir ini?"

Clara hanya menggeleng. Ia langsung merogoh tas Lady Dior berwarna merah dari nakas samping ranjang. Tangan wanita itu langsung meraih sebuah amplop putih tanpa ragu. Amplop tebal yang bertuliskan nama dari rumah sakit besar di Jakarta Selatan itu langsung ia serahkan kepada Raka.

"Bukalah," ucap Clara tanpa ragu. Seakan-akan ia sudah menantikan momen hari ini.

Raut wajah Raka terlihat ragu-ragu, tetapi ia melirik Clara dan membuka amplop tersebut dengan cepat. Setelah membaca beberapa kalimat, lelaki itu langsung sadar bahwa ia membaca berita kehamilan dari Clara.

"Aku terkejut," ucap Raka dengan perasaan tidak percaya, "kamu main sama siapa, Clara?"

Sudah menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan seperti itu dari mulut lelaki yang sudah lama menjalin hubungan denganya secara rahasia, Clara hanya tersenyum sinis. Ia teringat dengan Raka yang akan sangat marah jika sampai tahu ia berhubungan badan dengan pria lain. "Ah, kamu lupa kalau aku tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain karenamu sampai bertanya seperti itu. Aku hanya bermain denganmu, Raka. Ingat saat kita bersetubuh depan istrimu yang sekarat itu? Aku hamil anakmu."

Raka tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia tidak percaya kalau wanita yang selama ini ia manfaatkan telah mengandung darah dagingnya sendiri. Ia sudah lama menantikan momentum ini, tetapi bukan dari Clara.

Bagi Raka, Clara hanyalah wanita yang bisa ia manfaatkan dan tergantikan dengan wanita yang jauh lebih menarik. Apalagi kalau Raka sampai mendapatkan Giandra. Clara akan selesai dan diselesaikan dengan cara Raka. Seperti saat lelaki itu mengeliminasi istri pertamanya.

"Gugurkan kandunganmu."

Perkataan Raka membuat wanita muda itu terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari bibir Raka. Clara sudah mempersiapkan dirinya untuk melihat antusiasme dari Raka atas kehamilannya. Namun, ia harus mendengarkan perintah Raka yang menurutnya sangat tidak manusiawi itu.

Mungkin, Raka menyuruh Clara untuk menggugurkan kandungannya karena keturunan lelaki itu tidak tumbuh dari wanita yang begitu Raka dambakan yaitu Giandra.

"Apa?"

"Gugurkan kandunganmu." Raka mengulang perkataannya. Ia mencoba untuk memandang mata Clara. "Aku hanya ingin anakku lahir dari rahim perempuan yang berharga seperti Giandra. Bukan perempuan rendahan sepertimu."

Wanita itu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Akan aku bayar untuk biaya aborsinya. Yang terpenting kamu mengugurkan anak sialan itu dan kita akan berhubungan seperti biasanya." Raka melanjutkan perkataannya. "Kamu akan terus menjadi wanita simpanan untukku. Jangan berharap aku akan berubah pikiran karena kamu mengandung anak itu. Dengan atau tidak adanya anak itu, Kamu tidak akan pernah naik status dan menjadi bagian dari keluargaku. Setidaknya sudah seharusnya kamu tahu posisimu."

Clara yang tadinya antusias dengan kehamilannya, kini harus menyiapkan diri untuk melepas sebagian dari dirinya atas permintaan Raka. Mata wanita itu melihat Raka merogoh ponselnya dan mencoba untuk menghubungi ajudan dari sambungan telepon.

"Carikan klinik aborsi di Singapura dan buat janji temu atas namamu. Atur juga penerbangannya." Raka memerintahkan ajudan dari sambungan telepon. "Saya dan Clara akan pergi ke bandara dalam beberapa menit lagi."

Saat Raka mengakhiri panggilannya, lelaki itu langsung beranjak. "Ganti bajumu dan siapkan paspormu. Kita akan pergi."

Clara langsung menggeleng. "Aku tidak mau."

Mendengar penolakan yang terucap dari bibir Clara, membuat darah yang berada di sekujur tubuh Raka pun mendidih cepat. Tangannya langsung meraih tubuh Clara dan menurunkan gaun tidur itu dengan cepat dari tubuh wanita malang itu. Dengan cepat, Raka langsung mengambil pakaian yang sebelumnya Clara gunakan setelah dari luar.

"Pakai bajumu dan kita pergi!"

Mau tidak mau, Clara harus mematuhi Raka dan menyiapkan dirinya sebelum pergi.

TBC

Published on November 24, 2024

nas's notes: kalau part 52 dan part ini sudah masuk 40 vote, aku rilis part bonus, ya!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com