Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

64. Solicitude

nas's notes: akhirnya cerita ini sudah masuk 110k views dan 8k votes! terima kasih banyak semuanya yang sudah menyempatkan untuk baca dan memberikan dukungannya untuk cerita ini. maaf akhir-akhir ini aku slow update.

Jangan lupa vomments yaa dan boleh juga dipromosikan kalau kalian suka. kalau emang ngga biasa baca online, bisa kok baca offline. yang penting vote dulu sebelum matikan kuotanya. boleh juga yaa ngobrol sama aku di twitter @ gemeinschweft atau tellonym yang bisa anonim. jangan sampai kalian ada unek-unek apa soal cerita ini atau aku, tapi kalian pendem gitu :(

terima kasih banyak semuanya dan selamat membaca!

✮⋆˙

Munich, Germany
August 8, 2026

Ternyata, dipisahkan oleh laki-laki, yang selama beberapa tahun ini mengajaknya makan atau membelikannya banyak hal menyenangkan, berhasil membuat Giandra sekosong itu. 

Apalagi Giandra pergi ke Jerman untuk operasi dan Nicholas mengalami kecelakaan. Sama-sama berpisah untuk sementara karena menjadi pasien rumah sakit.

Saat Giandra sampai di salah satu kamar rawat yang berada LMU Klinikum pada pukul empat sore waktu setempat, ia merogoh ponselnya dari tas dan terpikir untuk menghubungi Nicholas. Ia melirik jam dari layar ponsel yang menunjukkan pukul empat sore waktu Munich. Ia terpikir bahwa di Jakarta sudah larut dan Nicholas sudah tertidur untuk memulihkan diri.

Karena besok adalah jadwal operasinya, jadi Giandra ingin sekali mengobrol dengan Nicholas. Ia sendiri tidak tahu kapan ia sadar setelah operasi. Kalaupun Nicholas tidak menjawab karena sudah terlelap, Giandra bisa mengerti. 

"Tak salahnya aku mencoba lebih dulu," ucap Giandra pada dirinya sendiri sembari mengetik pesan melalui WhatsApp, "seharusnya ia sudah tertidur. Lihat saja."

Meskipun Nicholas tidak keberatan jika Giandra langsung meneleponnya, akan tetapi, Ia khawatir jika teleponnya menganggu waktu istirahat Nicholas. Terutama untuk Nicholas yang habis mengalami kecelakan dan membutuhkan istirahat secara ekstra. Jemari Giandra langsung mengetik layar ponsel dengan cepat.

Giandra Euphrasia:
Nicholas Wiradikarta.
Apa kamu belum tidur?
Aku ingin telepon.
Apa aku boleh meneleponmu sekarang?

Tak butuh waktu lama, Giandra langsung mendapatkan panggilan masuk dari Nicholas yang berhasil menggetarkan ponsel yang berada di genggaman tangannya. Tak sabar, Giandra langsung mengangkat panggilan yang sudah ia nantikan itu hanya untuk mendengar suara lelaki yang langsung menyapanya dengan hangat.

"Baby, kenapa kamu menghubungiku dengan nama lengkapku?"

Berkat mendengar suara lelaki yang ia nantikan dari sambungan telepon, Giandra sudah merasa jauh lebih lega dan bersyukur.

"Itu memang namamu. Apakah itu masalah?" tanya Giandra yang menanggapi suara dari ponselnya itu.

Nicholas terkekeh lembut dari sambungan telepon. "Masalaaaaah, Sayangku. Karena kamu hanya boleh memanggilku dengan Sayang, Dear, Liebling, Love, dan Liefje. Nicky is still acceptable, but Nicholas Wiradikarta ... no."

Mendengar suara gelak tawa Nicholas, Giandra tersenyum tipis sembari mencoba menggoda calon suaminya itu. "Apakah aku mengenalmu?"

"Noooooo. Kita baru berpisah berapa hari," balas Nicholas dari sambungan telepon.

Kini giliran Giandra yang tertawa. "Aku bercanda. Iyaaa Sayangku. Semenjak kecelakaan, sepertinya kamu sudah jauh lebih manis, ya?"

"Tentu saja. Serta sangat merindukanmu," balas Nicholas lembut. Respon tersebut membuat Giandra mengeluarkan suara 'awww' di sela ucapannya.

"Pasti kamu menanyakan aku karena kamu kangen sama aku, 'kan?" Nicholas melanjutkan ucapannya dari sambungan telepon.

Giandra mengangguk dengan ponsel yang menutupi daun telinganya. "Benar sekali. Sekarang kamu sama siapa, Sayang?"

"Sendirian. Bunda istirahat di rumah dan Ayah menelepon di luar."

Begitu mendengar ucapan Nicholas, Giandra mengangguk dan terucap 'ooh' dari sela percakapan mereka. Sayangnya, sebenarnya Giandra menghubungi Nicholas karena ada hal yang ingin sekali ia validasi. Tampak ingin diyakinkan oleh seseorang yang terkasih.

"Ada yang ingin aku tanyakan."

"Silahkan, Sayangku."

Sebelum melanjutkan, Giandra menarik napas lalu menghembuskannya hingga Nicholas dapat suara napas wanita muda itu dari sambungan telepon. "Menurutmu, apakah aku bisa melewatinya?" tanya Giandra.

"Operasimu?"

"Ya. Besok aku operasi." Giandra menjawab sembar mengangguk kepala.

"Akhirnya!!" Nicholas bersontak senang. Nada bicaranya terdengar begitu antusias. "Aku yakin kamu bisa melewatinya!!"

Respon Nicholas terdengar jauh berbeda dengan Giandra. Yang ada di pikiran wanita muda itu, ia tidak takut dengan prosedur operasi, tetapi ia mengkhawatirkan kemungkinan yang terjadi setelah operasi. "Sebenarnya, aku sedikit takut."

"Kamu kenapa takut, My Dear? Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Nicholas dengan suara lembut nan menenangkan.

"Setelah operasi, jika aku membutuhkan waktu lebih lama untuk memiliki anak atau, worst case, tidak bisa memiliki anak, apakah itu akan menjadi masalah untukmu?" tanya Giandra dengan nada yang penuh kehati-hatian dan menyentuh saat menyampaikan pertanyaannya.

"Aku tidak masalah jika kita mendapatkan anak lebih lama atau tidak sama sekali. Maaf, tetapi sebelum menjawab, bahkan kamu menanyakan, aku sudah baca beberapa jurnal atau informasi soal side effects dari operasimu." Nicholas berujar tanpa menjeda ucapan atau berpikir lebih dahulu.

Tampaknya, selain kakak Nicholas yang mengalami hal yang serupa, Giandra menyadari bahwa calon suaminya itu sudah jauh mempersiapkan kemungkinan yang akan terjadi sembari mengedukasi dirinya.

"Wait ... you did?"

"I did. Dari situlah aku berpikir bahwa aku ingin kamu operasi supaya kamu sehat dan tidak sakit lagi di masa depan—untuk memperpanjang usia hidupmu juga. Jadi aku berharap semoga operasimu lancar untuk dirimu sendiri, bukan untukku."

Mendengar respon dari Nicholas, Giandra pun refleks mengangguk. Matanya melirik ke arah jendela. "Alright, you are so thoughtful about thinking of my conditions. How about"

"It's okay, My Dear. I know." Nicholas memotong ucapan Giandra melanjutkan kalimatnya. "You still think about the possibility of having a child? Are you worried about that?"

Giandra masih belum menjawab. Terlihat raut kekhawatiran dari wajahnya dan tangan yang masih memegangi ponsel pintar yang masih terhubung dengan sambungan telepon.

"Liebchen, I love you. Kamu tidak harus melakukan apapun yang dilakukan oleh para istri di luar sana. Aku akan menjagamu, merawatmu, dan memberikanmu banyaaaaak sekali cinta." Nicholas merespon dengan nada lembut dan menyentuh."Tidak apa-apa jika kita tidak menjadi orang tua—kita, 'kan, suami istri ... nantinya ... tetapi jika kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi orang tua, itu amanah. They choose us to be their parents."

Mereka berdua pun terdiam, terutama Giandra. Ia masih ingin mendengar Nicholas lebih lanjut dari sambungan teleponnya.

"Logically, yes, I can't choose who's my dad, my mother, my family, or which city I prefer to be born in. But, I know Allah asks the baby the same question before they are born into the dunia. Of course, with the right timing, the parents will meet their children." Nicholas melanjutkan penjelasannya.

Respon Nicholas atas kekhawatirannya tampaknya sudah ditangkap dan dicerna dengan baik oleh Giandra. Wanita muda itu tak bertanya lebih lanjut karena kekhawatirannya telah divalidasi. Bahkan Giandra juga sudah tahu pandangan Nicholas terhadap hal yang menjadi concern-nya, yang bahkan, tidak menekan dan sangat pengertian.

"You're right. Thank you for being wise and understanding. I'm happy to talk with you before I get my surgery. I love you, Liefje," balas Giandra dengan nada yang terdengar hangat. Ia tersenyum secara spontan.

Tanggapan Giandra atas ucapannya pun membuat Nicholas lega. "Thank you for sharing your thoughts and worries, Baby. I can't wait for your return home—I want to cuddle and hum a lullaby for you."

Nicholas menyanyikan lagu pengantar tidur? Giandra membatin yang disusul oleh suara tertawa kecil saat mendengar rencana lelaki itu. "That's sweet. I want to hear your lullaby."

"Believe me, it's good. Aku juga bisa membacakan buku untukmu," ucap Nicholas dengan penuh kepercayaan diri.

"Oh, please. You need time to finish a book. Kamu kerap DNF beberapa ebook jika kamu tidak menyukainya." Lagi-lagi Giandra mengungkit fakta saat Nicholas yang membutuhkan waktu lebih lama dalam membaca buku. Terutama buku yang menjadi daftar incarannya.

"Yeah, even I had a lot of books in my bedroom covered in plastic wrap. Kurasa karena aku jauh lebih terbiasa untuk membaca versi ebook dan aku bisa memperoleh dengan beberapa bahasa yang aku mau," ujar Nicholas yang menanggapi dengan santai terkait dengan kebiasaan membacanya.

"Then you need me to do reading before we sleep. Can I?"

"Yes, you can, My Love."

Lagi-lagi, mereka berdua tidak melanjutkan percakapan. Bahkan mereka membiarkan jeda di antara sambungan telepon antar negara dan zona waktu itu.

"I think we should get married," ujar Nicholas yang membuyarkan jeda, "kurasa lebih cepat lebih baik."

Giandra pun mengangguk dan tertawa pelan. Ia menduga bahwa Nicholas akan memasukkan obrolan soal rencana pernikahan mereka. "Yeah, we should marry after the whole hospitalization thing. Please wait for me."

"Yes, I'll wait for you. Please come back to me. Aku akan menunggumu lalu pergi untuk mencari makanan enak atau hal-hal menyenangkan lainnya."

"I Will." Giandra menjawab. Pikirannya tampak teringat untuk menanyakan kondisi Nicholas. "Ngomong-ngomong, bagaimana kondisimu?"

"Aku baik-baik saja, namun aku harus ikut terapi. Bisa jadi nanti aku akan memintamu untuk tidak memeluk leherku hingga kondisiku membaik."

"Tidak apa-apa! Aku akan menunggu, Liefje."

Lelaki itu hanya mengeluarkan suara 'aaah' dari sambungan telepon dengan nada manja. Lagi-lagi Giandra menggoda Nicholas dengan menautkan obrolan dengan gelak tawa. "Justru aku yang tidak bisa menunggu. Kamu boleh peluk perutku, kok," gumam Nicholas.

"Apakah kamu makan dengan baik?"

"Yaa! Aku mencoba untuk makan lebih banyak. Aku tidak protes karena makanan di rumah sakit ini enak, tetapi aku ingin makanan lain," jawab Nicholas yang terdengar antusias dari sambungan telepon.

Kemudian terdapat jeda dari sambungan telepon mereka berdua. Secara samar-samar, Giandra dapat mendengar suara ayah Nicholas yang menanyakan siapa yang menelepon anak lelakinya itu.

"Ada salam dari ayah. Semoga operasimu lancar!" 

"Salam balik untuk ayah dan bunda. Terima kasih."

"Ngomong-ngomong, berhubung ayahku sudah kembali, aku harus tidur. Tadi sore dokter mengunjungiku dan mengatakan kalau aku sudah boleh pulang besok siang. Aku bisa rawat jalan setelah ini!"

Mendengar kata 'rawat jalan' tampaknya Giandra sudah merasa lega. Setidaknya Nicholas tidak perlu menghabiskan waktu lebih lama di rumah sakit dan hanya berkunjung untuk kontrol saja. "Akhirnya! Kenapa kamu baru memberitahuku?!" protes Giandra yang dibarengi dengan perasaan lega dari nadanya.

Lelaki itu terkekeh dengan senang. Tawanya masih terdengar begitu renyah dari sambungan telepon."Astaga Sayangku. Setidaknya aku sudah memberitahumu. Ini kejutan!"

Tampaknya Giandra tak ingin mengganggu jam istirahat Nicholas dan memutuskan untuk mengakhiri panggilan. Sebenarnya ia terpaksa, tetapi di Jakarta sendiri sudah larut malam. "Iyaaaa Sayang.Take rest, ya! Good night."

"Have a great rest, Baby. Bye!" Nicholas mengakhiri panggilan dan tak sempat menutup sambungan telepon dengan ucapan sayang.

TBC

Published on December 22, 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com