7. First Date
Jakarta, Indonesia
February 28, 1998
Begitu sampai di pusat perbelanjaan yang berada di kawasan Senayan, Silas langsung mengajak Anindya ke salah satu kedai di lantai bawah dengan langkah cepat. Kedai yang berada di bagian samping dari pusat perbelanjaan tersebut kerap dikenal sebagai tempat bersantai dari segala kepenatan, tempat mengobrol dengan teman yang sudah lama tak dilihat, atau tempat baca buku untuk pengunjung yang datang sendirian. Lelaki itu tampak menampilkan ekspresi wajah penuh syukur saat melihat kedai tempatnya membeli kopi tidak begitu ramai.
Baru saja mereka duduk di sebuah kursi dekat jendela, seorang pramusaji memberikan buku menu kepada Silas dan Anindya. Mata wanita muda itu tak butuh waktu lama untuk memutuskan saat ia membuka buku menu yang biasa ia pesan saat mengunjungi kedai kopi mana pun.
"Latte-nya satu, ya," ucap Anindya kepada pramusaji.
"Hot?"
"Hot."
Pramusaji tersebut langsung mencatat pesanan Anindya pada catatannya. Kemudian mata pramusaji itu langsung menoleh pada Silas yang mulai memberikan sinyal untuk mengucapkan pesanannya.
"Untuk saya espresso-nya satu." Silas menambahkan pandangan yang masih berada di buku menu. "Sama chocolate chip cookies-nya dua."
Setelah pramusaji mengulang isi pesanan untuk mengonfirmasi menu yang dipesan, pramusaji itu langsung pergi untuk memberitahu barista pesanan mereka berdua. Sementara Silas dan Anindya tidak berkata apa pun selama mereka menunggu pesanan mereka jadi. Hanya saling berpandangan. Hal itu juga terjadi saat mereka di dalam mobil.
"Tadi saya memesan dua chocolate chip cookies. Kamu harus mencobanya karena kurasa akan cocok dengan latte-mu."
Begitu Silas memulai percakapan, Anindya tampak mengangkat wajahnya. Tampaknya ada bagian yang berhasil menarik perhatian wanita muda itu.
"Aku tidak tahu di sini juga menjual chocolate chip cookies. Terima kasih."
"Saya biasa ke sini. Entah sebelum ke kantor, sebelum ke rumah, ataupun saat libur ... sebuah rutinitas kecil yang sengaja saya selipkan."
Saat mendengar ucapan Silas, Anindya mengangguk pelan. Ia teringat dengan rutinitasnya saat masih di Melbourne yang dimana Anindya selalu menyempatkan dirinya untuk menyuplai tubuhnya dengan kafein.
Sembari menunggu pramusaji, mereka berdua saling berpandangan. Pikiran Silas tampak berusaha untuk mencari pertanyaan yang dapat mengorek informasi secara rinci dari Anindya, akan tetapi Anindya hanya membutuhkan satu pertanyaan.
"Kuliah di mana?"
Anindya, demi Allah, kenapa kamu malah memulai pembicaraan dengan cara seperti itu? Seharusnya aku menahan diri. Wanita muda itu membatin sembari menahan dirinya dari memberikan ekspresi wajah apa pun. Karena gemas dengan ucapannya sendiri, telapak kakinya tampak menghentak-hentakkan lantai yang dilapisi oleh vinyl kayu.
Sebagai keluarga yang mengutamakan pendidikan (bahkan menjadikan pendidikan sebagai aset besar), Anindya merasa wajar untuk melayangkan pertanyaan kepada orang lain mengenai tempat mereka menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Ia dapat menilai seseorang dari antusiasme saat menyebut nama universitasnya. Menurut Anindya, orang terlihat bangga dengan almamaternya dari respons terhadap orang lain yang menanyakan universitas mereka. Baik saat wawancara atau basa-basi perkenalan.
"Saya ambil Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia." Silas menjawab sembari memandangi Anindya.
Tidak ada perasaan canggung serta nada sumbang dari jawaban Silas. Bahkan ditambah dengan tatapan Silas yang ramah, tetapi ada ketegasan. Pandangan Silas yang tidak mengintimidasinya membuat Anindya tak begitu ingin menambahkan pertanyaan lainnya—jika hanya untuk mengorek seorang Silas Kartasasmita.
"Tidak ada pertanyaan lainnya?" tanya Silas.
Anindya menggeleng.
"Sekarang giliran saya," ucap Silas dengan perasaan tidak terintimidasi, "kamu adik Kirana dan adik iparnya Hiram, tetapi saya tidak pernah melihatmu."
"Kalau kamu mengunjungi mereka dari Permata Hijau, tentu saja wajar kamu tidak melihatku." Anindya menjawab dengan sederhana. "Aku sudah lama tinggal di Melbourne. Aku kuliah arsitektur di University of Melbourne. Setelah selesai studi, aku tidak pulang dan mencari AUD di sana."
Silas mengangguk pelan. "Kenapa kamu pulang? Kamu, 'kan, bisa mendapatkan penghidupan lebih layak?"
"Penghidupan lebih layak, tapi enggak bisa makan makanan mamaku, terutama buah yang dikupas sama mamaku."
Membayangkan seorang dokter anak mengupas apel untuk anaknya yang sudah bekerja tampaknya mustahil, tetapi saat mendengar Anindya sendiri yang mengatakannya, Silas tampak tak percaya dengan pendengarannya.
"So you're a spoiled kid?" tanya Silas dengan nada mengejek.
"I called them privilege," jawab Anindya sembari mengangkat salah satu sudut bibirnya, "banyak kenalanku yang jauh lebih berada dariku, tetapi ART mereka yang mengupas apel untuk anak orang lain."
"Bukankah itu memang pekerjaan mereka?"
"Memang, tetapi mamaku yang inisiatif sendiri." Anindya menambahkan. "Tidak hanya ke aku, tetapi juga kakak-kakakku. Hanya saja, karena kakak-kakakku sudah melanjutkan hidup dengan menikah, fokus orangtuaku sekarang adalah aku."
"Kamu anak yang egois, ya?" Lagi-lagi Silas melontarkan ejekan.
"Karena mereka orangtuaku dan mereka memberikan aku banyak cinta, makanya aku mau pulang. Kalau mereka bukan orang tuaku, buat apa aku pulang? Sesimpel itu."
Seorang wanita tampak menyajikan pesanan mereka, yakni segelas espresso, segelas latte, dan sebuah piring kecil berisi dua potong chocolate chip cookies berukuran sedang.
Pramusaji itu telah selesai menyajikan semua pesanan dan menanyakan kembali untuk mengonfirmasi. "Satu espresso, satu latte, dan dua chocolate chip cookies, ya. Pesanannya sudah semua ya, Pak, Bu."
"Sudah, Mbak." Silas menanggapi konfirmasi dari pramusaji itu.
"Baik. Jika ada tambahan pesanan, bisa panggil saya, ya. Terima kasih."
Saat pramusaji tersebut sudah beranjak, Anindya langsung meminum latte-nya dengan santai. Dibandingkan dengan langsung menikmati espresso, Silas pun langsung memandangi gerak-gerik Anindya dengan minuman dinginnya tersebut dengan sedotan plastik.
"Pantas saja kamu terlihat santai menikmati hidup tanpa ekspektasi."
Komentar Silas itulah yang berhasil membuat Anindya melepaskan bibirnya dari ujung sedotan dan memandangi Silas. Wanita itu menahan dirinya sendiri untuk tidak mengeluarkan umpatan melalui bibirnya—mengingat Silas dekat dengan keluarganya.
"Sedari tadi kamu menghakimi caraku hidup, ya?" Anindya tampak mengajukan protes dengan jengkel. "Kamu memang sudah lama mengenal orangtuaku dan keluargaku yang lain, tetapi kamu baru bertemu denganku kemarin. Bahkan tahu aku siapa saja baru hari ini."
Mendengar ucapan Anindya saja, Silas sudah berhasil menunjukkan deretan giginya untuk tersenyum malu. "Saya minta maaf untuk itu."
Tangan Silas pun mengambil secangkir espresso dan meminumnya perlahan. Anindya pun memandangi Silas sembari memikirkan pertanyaan selanjutnya sebelum Silas mencari celah untuk membahasnya.
"Kamu telihat seperti orang yang terkenal, kenapa kamu belum merencanakan untuk menikah? Padahal melihat lingkaranmu saja, hanya kamu yang masih single."
Pertanyaan Anindya membuat Silas terkejut, untung saja lelaki itu tidak menyemburkan espresso yang ia minum.
"Saya tahu kalau saya memang penuh pesona dan terkenal. Bahkan kamu menanyakan saya," balas Silas dengan nada yang terdengar seperti menyanjung dirinya sendiri.
Mendengar cara Silas menyanjung dirinya sendiri membuat Anindya merasa heran. "Pekerjaan utamamu, 'kan, menyiarkan berita untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Bukannya malah mencari fans."
Silas tertawa sopan. Tanggapan Anindya terhadap dirinya masih dinilai masuk akal. Akan tetapi, Silas ingin menjawab pertanyaan yang sebelumnya diajukan oleh Anindya.
"Awalnya saya belum merencanakan pernikahan karena saya belum menemukan pasangan. Kamu tahu, 'kan, kalau teman-teman satu circle saya bisa menemukan seseorang yang ingin mereka nikahi karena teman kuliah atau teman kecil yang usianya berdekatan. Kemudian pasangan mereka bergabung dalam circle hingga menjadi sahabat baik satu sama lain." Silas menjelaskan jawabannya dengan santai. "Saya juga punya teman kecil atau teman kuliah, tetapi saya tidak merasa bahwa saya akan menikahi mereka. Mungkin saya menemukan jodoh di luar sana. Alhasil, sampai sekarang, saya belum menemukan perempuan yang ingin saya nikahi hingga semalam—itulah kali pertama saya melihatmu."
Tidak percaya dengan pendengarannya, Anindya tak mengedip dan berpaling dari pandangan Silas. Reaksinya juga tidak menunjukkan bahwa dirinya terkejut. Mungkin Anindya menyimpan perasaan tersebut dalam pikirannya sendiri.
Meskipun Silas mengenal keluarganya, untuk Anindya, ia baru mengenal Silas. Bahkan ia membutuhkan waktu untuk mengenal Silas lebih jauh. Berbeda dengan Anindya, Silas justru merasa sudah lebih siap setelah mendapat sedikit brief dari Hiram sebelum mereka pergi.
"Kamu dan Anindya jadi pergi berdua?" tanya Hiram saat melihat Silas yang berdiri di luar pagar rumah.
Silas mengangguk. Hiram pun memutuskan untuk bergabung. Tadinya Silas ingin mengeluarkan rokok dan korek dari saku celana, kini ia mengurungkan niatnya—mengingat Hiram tampak tak nyaman jika ada orang yang mengisap lintingan tembakau itu di dekatnya.
"Tadi aku berjanji untuk menjelaskannya di telepon, 'kan," ucap Hiram yang mencoba untuk mengingatkan, "baiklah, aku akan membuatnya cepat. Anindya adalah kesayangan orang tuanya. Terpenting juga, ia juga kesayangan istriku. Kamu harus bekerja keras karena kalau orangtuanya setuju, tapi Kirana tidak setuju, kamu akan selesai. Kamu akan selamat jika Kirana dan orangtuanya setuju—Kirana dan Anindya sangatlah dekat."
"Jadi semua kembali ke Kirana?" tanya Silas sembari mengangguk heran.
Hiram pun mengiyakan. "Memang seperti itu. Lagipula saat aku ingin mendekati Kirana, aku harus disetujui dan diterima oleh Anindya—meskipun aku kerap menyogoknya dengan makanan manis setelah berkencan dengan kakaknya."
"Makanan manis?"
"Yang biasanya untuk snacking atau dessert. Kalau kamu bisa memberikan chocolate chip cookies, dia akan senang." Hiram menanggapi. "Yang terpenting juga, tanyakan pendapat orangtuamu jika kamu ingin melangkah lebih serius. Bagaimanapun, Anindya akan menjadi bagian dari keluargamu juga."
"Orangtuaku baik, kok."
Lelaki itu menghela napas pasrah. Ia menatap Silas dengan sorotan pandang tak mengedip sedikit pun. "Aku tahu orangtuamu, tetapi reaksi orangtua terhadap teman dengan orang yang akan menikahi anaknya pasti akan berbeda. Kita belum tahu akan terjadi seperti apa, tetapi lebih baik jangan sok tahu. Awalnya aku khawatir tidak diterima oleh keluarga Kirana karena aku piatu di usia lima tahun dan figur ibu yang aku dapatkan adalah bibiku. Akan tetapi aku diterima dengan baik. Jadi, aku hanya bisa memberikanmu semangat."
"Anindya."
Pada akhirnya, Silas pun langsung memanggil nama wanita yang duduk bersamanya. Anindya pun kembali menoleh pada Silas.
"Ada apa?" tanya Anindya.
"Setelah ini saya akan menghubungimu lebih sering—entah untuk mengajakmu pergi, mengunjungimu, atau meneleponmu. Jujur, saya semakin ingin mendekati kamu dan ingin lebih membuka diri untukmu."
Mereka saling berpandangan. Tampaknya Silas masih menantikan respons dari Anindya. Wajah gadis itu sedikit memerah, tetapi belum mengeluarkan suara dari bibirnya.
"Bagaimana?" Silas melanjutkan ucapannya.
Dibandingkan langsung menjawab, Anindya pun mengangguk. "Boleh saja, Silas, asal habis ini pakai aku-kamu dibandingkan saya-kamu—karena aku perhatikan kamu menggunakan aku-kamu saat mengobrol dengan orang terdekatmu."
TBC
Published on May 11, 2025
Republished on May 24, 2026
nas's notes: so sorry karena aku slow update. kegiatanku padat banget akhir-akhir ini. terima kasih banyak teman-teman yang sudah mampir!! :")
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com