19. Replacement
Jakarta, Indonesia
Mid August 2021
"Raka tidak jadi dijodohkan sama putri mereka yang bermasalah itu, tetapi mereka memberikan anak kuliahan sebagai penggantinya!"
Nadine bersedekap dengan raut wajah marah saat menatap mata sang suami. Setelah menerima kunjungan dari Ismail Mananta dan mendengarkan apa saja update dari perjodohan antara dua keluarga, Nadine mengaku frustrasi.
Preferensi yang menjadi prioritas Nadine dalam memilih calon menantunya ialah perempuan karier dari keluarga baik-baik dengan karakter yang pantas. Hanya ada nama Karuna Mananta dan wanita muda itu terkenal dengan karakternya yang tidak baik. Membuat Nadine kehabisan cara dalam memoles Karuna saat membicarakan wanita muda itu kepada keluarga dan beberapa teman.
Mayoritas suara banyak yang kontra dan memberikan celetukan ... kenapa Karuna?
"Setidaknya Ismail masih jujur kalau Kinara saat ini masih kuliah. Seharusnya tahun depan sudah selesai studi," ucap Robert yang mencoba untuk menenangkan sang istri. "Desember nanti, umurnya juga 21 tahun. Sudah aman dan pantas."
Mendengar pernyataan Robert yang cenderung seperti pembelaan, Nadine memutar mata dengan malas. Sangat melawan kepercayaan Nadine bahwa calon istri Raka harus sudah matang, setidaknya dalam pendidikan dan karier.
"Nadine, ingat, kita belum beritahu soal perubahan ini sama Raka." Robert berujar. Masih berusaha untuk membujuk sang istri. "Kita beritahu Raka dulu, ya."
"Keluarga Mananta juga sialan!" protes Nadine. "Jika tahu akan seperti ini, seharusnya mereka batalkan saja sekalian. Kita juga digantung lama sama mereka."
"Kita hold rencana pernikahan ini juga karena sebelumnya baru pemilihan presiden dan COVID." Robert mengoreksi lontaran protes sang istri.
Perkataan Robert memang ada benarnya. Keluarga Mananta tidak sepenuhnya salah karena mereka terbentur dengan kondisi geopolitik dan pandemi dalam menikahkan anak tunggal yang semakin hari semakin ... tua. "Aku tetap merasa enggak yakin sama anak itu." Nadine berujar akan keraguannya. Di tengah kegelisahannya soal calon istri Raka, Nadine terpikir sesuatu. Bagaimanapun, ini kesempatan sebelum Raka kesulitan mendapatkan pasangan dari keluarga yang pantas. "Tetapi aku mau ketemu dia, calon menantuku, di Australia."
"Tadi kamu tidak yakin?" ucap Robert yang seketika terkejut dengan perkataan sang istri. Mencurigai adanya hati yang akan berubah atau rasa penasaran semata. "Kenapa kamu mau ketemu Kinara?"
Nadine menghela napas dengan berat. "Aku tidak ingin cepat menilai, tetapi aku rasa selama ini tidak ada omongan yang tidak mengenakan soal Kinara," ucap wanita itu.
"Mau kutanya dengan orangku?" Robert menawarkan. Dengan sigap, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Supaya kamu lebih yakin dengan this new girl ini?"
"Boleh."
Sebelum Robert sempat menghubungi orangnya, Raka masuk ke kamar utama secara tiba-tiba. Melihat kehadiran anak lelakinya, Robert langsung menghampiri Raka dan mengajaknya untuk mendekat.
"Kebetulan," ucap Robert. "Sini Raka."
Dari balik kacamatanya, Raka menatap Robert dan Nadine dengan raut wajah penuh pertanyaan. Dipanggil secara tiba-tiba oleh sang ayah tentu saja membuat Raka bingung. Raka sendiri belum bisa membaca ruang untuk menafsirkan situasi yang saat ini terjadi—sembari memperkirakan beberapa kemungkinan; Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang akan orang tuanya sampaikan padanya?
"Ada apa, Ayah? Ibun?" tanya Raka. Masih menampilkan wajah bingung.
"Duduk," titah sang ayah. Perkataan itu berhasil lelaki berusia 30-an itu duduk persis di sebelah sang ibunda. Tanpa ada bantahan, tanpa ada pertanyaan lagi.
Robert, meletakkan kedua tangan tepat di pinggang, ia menatap sang anak dengan dalam. "Kamu tidak akan menikah dengan Karuna."
Ternyata soal perempuan itu, ya. Raka membatin. Ia merasa puas dari dalam hati.
"Kenapa?" tanya Raka. Berusaha untuk memberikan respons yang lebih mengkhawatirkan, meskipun sebenarnya ia sudah tahu bahwa semuanya akan terjadi.
Tetapi tidak secepat ini.
"Keluarga Mananta mengganti calon pengantin wanitanya," ucap Robert. Nadanya jauh lebih berat. "Kamu akan menikah dengan adiknya, Kinara."
Akhirnya.
"Kamu tidak apa-apa, 'kan, Mas?" tanya Nadine. Perasaan sang ibunda jauh lebih khawatir dengan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.
Setelah sekian tahun mengenal Karuna sebagai calon istri Raka. Kini memberikan nama baru kepada sang putra terkasih.
Raka mengangguk. Ia tersenyum teduh untuk menghibur sang ibunda. "Tidak apa-apa," respons lelaki itu dengan tenang. "Kapan kita bertemu dengan keluarga Mananta?"
"Saat ini, calon istrimu masih kuliah, Mas." Nadine merespons. "Kalau kamu tidak keberatan dan tidak sibuk, kita bisa ke Brisbane. Dia kuliah di sana."
"Boleh saja," jawab Raka singkat.
Lelaki itu tersenyum tipis. Berusaha untuk menyembunyikan perasaan senangnya dari kedua orang tua sembari membayangkan kesan pertama saat Kinara berjumpa dengannya.
⟢
Brisbane, Australia
End of August 2021
"Mas, sebenarnya mau liburan atau mau kabur dari papa, sih?"
Kinara berujar saat ia bersedekap dan menatap sang sulung, Ismail, yang sedang mencicipi tester es krim yang akan ia beli. Cuaca yang begitu panas membuat Ismail berujar bahwa ia ingin membeli smoothies. Akan tetapi, Kinara malah mengajak sang sulung untuk mampir ke toko es krim yang tepat di sebelah gerai smoothies tersebut.
"Can I have one scoop of salted caramel and one scoop of strawberry ice cream? Thank you." Ismail berujar kepada sang penjual. Ia menoleh pada adiknya. "Kamu mau apa?"
Begitu ditanya, Kinara melirik ke arah rak es krim. Ia langsung menatap Ismail. "Samain saja kayak pesananmu, Mas."
"Tidak asyik!"
Ismail melangkah menuju meja kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Setelah Kinara menerima es krim dari pramusaji, mereka berdua langsung mengambil tempat duduk di salah satu sudut dekat jendela.
"Sebenarnya Mas liburan sambil kabur dari papa," ucap Ismail saat mencicipi es krim salted caramel dari suapan pertama. "Sayangnya, ada sesuatu yang harus Mas sampaikan sama kamu."
Kinara mengernyit bingung. "Kenapa, Mas?"
"Kamu ingat Mas pernah bilang kalau Karuna kabur, 'kan?" tanya Ismail. Mencoba untuk memastikan ingatan sang adik soal pesan yang ia kirimkan tempo hari.
"Iya, Mas, aku ingat." Kinara merespons. Sembari menyantap es krim stroberi kesukaannya. Kemudian, Kinara mengambil suapan lainnya yang menggabungkan es krim salted caramel dengan es krim stroberi dan mencicipinya dengan nikmat.
"Nah, seharusnya Karuna nikah sama calon suaminya itu."
"Mas Raka, right?"
Ismail mengangguk yakin. "Karena Karuna kabur, jadi Mas bicara sama Papa, Mamaku, Mamamu, dan orang tua Mas Raka agar kamu yang menikah sama Mas Raka ... sebagai replacement untuk Karuna."
Wanita muda itu tertawa pelan. "Aku tidak menyangka kalau aku akan menjadi pengantin pengganti." Kinara berujar. Ia mengambil suapan es krim dengan santai. "Aku sudah pacaran sama Aqsad, Mas."
"Mas, tahu." Ismail merespons. Ia tahu sang adik akan memberikan jawaban seperti itu—membawa nama sang kekasih yang jauh lebih muda darinya. "Akan tetapi, Kinara, selama kamu pacaran sama Aqsad, apakah kamu melihat masa depan ... kalau seandainya kamu lanjut sama dia?"
Tidak. Kinara tidak melihat masa depan jika dia bersama Aqsad.
Sudah lama Kinara menjalin kasih dengan Aqsad. Akan tetapi, selama ini Kinara menilai kalau dia dan Aqsad masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan. Awalnya, Kinara masih ingin bertahan dan menjalani semuanya hingga ia dan Aqsad sudah mulai berkarier.
Hanya saja, setelah Kinara bertemu dengan Dipo, ia mulai goyah. Dari pertemuan singkat hingga komunikasi yang berlanjut, Kinara menemukan kenyamanan melalui Dipo—pria dewasa yang mau mendengarkannya. Bahkan saat ini, Kinara masih memikirkan bagaimana caranya mengakhiri hubungannya dengan Aqsad supaya ia bisa fokus pada dirinya sendiri.
Tentu saja, mencari kekurangan yang ada pada dirinya melalui pria dewasa ... sangat dewasa seperti Dipo.
"Mas, Kinara enggak tahu Mas Raka ini orangnya kayak apa," ucap Kinara lembut. Ia mengalihkan ucapan sang sulung dari Aqsad serta pikirannya soal Dipo. "Selama ini aku tahu bahwa Karuna akan menikah dengan orang ini dan aku tidak peduli." Kinara menambahkan. "Sekarang Mas ke Brisbane untuk bilang kalau aku akan menikahi calonnya ... tidak, sebelumnya calon suami Karuna dan aku tidak tahu apa pun soal dia."
Ismail tersenyum tipis. Ia memaklumi sang adik yang bertanya dibandingkan dengan langsung memberikan persetujuan atau penolakan. "Mas Raka itu fokus ke karier. Sama seperti aku. Makanya dia dijodohkan oleh orang tuanya. Selama ini Mas Raka membantu bisnis ayahnya, Pak Robert, tetapi sekarang Mas Raka jadi Wamenparekraf." Penjelasan Ismail terhenti. Ia memikirkan apa yang bisa diberikan untuk sang adik. "Mas Raka ... temannya banyak. Ramah dan pekerja keras. Belum bisa memberikan gambaran tentang dirinya jika bersama perempuan karena dia belum pernah pacaran juga."
Kinara mengangguk saat menyimak penjelasan sang sulung soal Raka.
"Raka anak tunggal dan dekat sama orang tuanya, lebih dekat dengan ibundanya, Bu Nadine. Mereka punya hubungan baik." Ismail menambahkan. "Saat masih dijodohin sama Karuna, Mas sempat nanya ke beberapa sepupunya seperti Satrio dan Dipo."
Dipo.
"Mereka bilang kalau Raka ini sudah sepatutnya menikah dan membangun keluarga karena sudah punya penghasilan sendiri dan jabatan di kabinet," lanjut Ismail.
Telinga wanita itu menyimak dengan hati-hati.
"Mas dapat kabar kalau Raka dan Bu Nadine mau datang ke Brisbane. Mau lihat kamu dulu," ucap Ismail. Ia teringat dengan pesan yang sudah ia terima beberapa hari yang lalu dari Raka. "Kamu bisa memikirkan dulu sebelum bertemu Raka dan Bu Nadine dan berikan jawabanmu setelah menemui mereka. Terserah kamu. Yang jelas, Mas berharap kamu mempertimbangkan keputusan ini."
Wanita muda itu mengangguk. Ia memainkan gelang berlian pemberian Dipo sembari berpikir. Setidaknya ia harus mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini. "Apa yang akan aku dapat setelah aku menikah dengan Mas Raka?"
"Mas tidak bisa memberikan kamu aset dan properti—kamu bukan WNI."
Ada benarnya juga.
"Akan tetapi, Mas bisa mengatur kamu supaya bisa berkarier di Venetian Red—"
"Royal Blue." Kinara menyebutkan nama perusahaan media besar yang terkenal dengan usaha penyiaran dan percetakan. "Aku ingin menjadi penyiar di Royal Blue. Aku bisa berhenti kapan pun, tetapi aku ingin bekerja di sana."
Ismail mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berpikir dengan dalam untuk menggunakan koneksi terdekatnya dengan keluarga Kartasasmita, yang merupakan pemilik Royal Blue, untuk menyelundupkan Kinara setelah lulus kuliah. "Boleh, tapi kamu menikah di Desember ini."
Mendengar kata Desember, Kinara menampilkan raut wajah terkejut. Ia tidak menyangka."Wait, it's too fast!"
"Tentu saja. Seharusnya sudah berjalan sebelum pemilihan presiden 2019, tahu!" Ismail merespons. "Bisa kamu pikirkan dulu. Yang penting, Mas sudah sampaikan dan Mas sudah tahu apa yang kamu mau."
Oh, baiklah.
TBC
Published on May 1, 2026
Nas's notes
Hehe akhirnya bentar lagi Raka Kinara ketemu ^^ Terima kasih ya semuanya~ yang kemarin kemarin belum vote part lainnya, boleh vote dulu yaaa ^^
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com