Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Prolog

Sebelum lanjut, kalian wajib baca trigger warning & content warning yang bisa dicek pada bagian introductions, yaa.

Terima kasih & happy reading~

Jakarta, Indonesia
November 2018

"Apa yang kamu bilang, Mas Raka? Ulangi."

Raka Purnomo mengernyitkan kening saat ia mulai berdialog dengan wanita yang kerap ia panggil Ibun, Nadine Raharja. Kini, mereka duduk berdua di atas kursi panjang yang berada di walk-in-closet.

Sebenarnya Nadine sedang bersiap untuk pergi menghadiri pernikahan dari putri seorang pengacara top. Sejak sore, wanita itu sudah siap dengan riasan wajah yang elegan, rambut yang tertata nyaman, dan terusan hitam. Tinggal mengenakan luaran hitam yang sudah Nadine persiapkan. Akan tetapi, karena Raka tiba-tiba masuk ke kamar dan ingin mengatakan hal yang penting, ia harus menarik anak laki-lakinya untuk mengobrol empat mata.

Dari kursi tempat Nadine biasa menaruh boks tas dan sepatu, Raka mengungkapkan keinginan yang tidak bisa Nadine percaya setelah mendengarnya secara langsung.

"Aku ingin menikah dengan Giandra Soerjapranata."

Nadine tidak langsung menjawab. Wanita itu menatap Raka dengan dalam. Sudah dua kali Nadine mendengar nama itu dengan jelas. Ditambah, Raka mengatakannya dengan percaya diri bak pengumuman penting.

Akan tetapi, nama itu tidaklah asing. Nadine tahu siapa pemilik nama yang digaungkan oleh anak lelakinya dengan penuh pengharapan.

Sementara Raka sendiri tidak asal sebut nama. Ia sudah lama mencari tahu soal Giandra. Gadis muda dari keluarga kaya lama yang terkenal baik dan sudah lama bersekolah di luar negeri, tetapi melanjutkan studi perguruan tingginya di universitas negeri—tentu saja, kelas internasional. Ditambah, Giandra baru saja menyabet medali emas Asian Games 2018 dan memiliki sejumlah hobi yang serius.

Semua berawal dari kunjungan Raka ke Permata Hijau dan "berdiskusi" dengan Hiram Soerjapranata soal rumah. Iris mata cokelatnya memandangi foto Giandra muda yang berhasil memikat hatinya, Raka langsung mengungkapkan ketertarikannya dan keinginannya untuk menikahi Giandra kepada kedua orang tua itu. Sayangnya, rencana itu langsung ditolak mentah-mentah.

Dari situlah, Raka mendapat kesimpulan bahwa Hiram serakah—begitu protektif terhadap rumah dan putrinya.

Ditambah, lelaki itu baru pertama kali bertemu Giandra di pemakaman kedua orang tuanya. Suara hangat dan tatapan mata yang prihatin, tetapi tetap memancarkan aura elegan yang menggetarkan, membuat Raka semakin terpacu untuk mengikat Giandra sebagai miliknya seorang.

Meskipun Giandra terhitung cukup tinggi bagi kebanyakan perempuan Indonesia, tetapi Raka merasa Giandra ini adalah kesempurnaan dan keindahan jika menjadi manusia. Bahkan Giandra unggul dari segi latar belakang keluarga, kecerdasan, hingga visualnya yang mengagumkan, sangat pantas untuk menjadi bagian dari Keluarga Purnomo.

"Mas Raka, kamu boleh menikah dengan wanita manapun," ucap Nadine yang menjeda ucapan untuk menarik napas. "Kecuali Giandra."

Kecuali Giandra.

"Kamu tahu apa yang Kirana Hadiwiryono katakan pada Ibun di awal tahun?" Nadine melempar umpan pada Raka.

Lelaki itu mengernyit bingung dan menggeleng.

"Kamu tidak pantas," sambung Nadine.

Kamu tidak pantas.

Perkataan yang seharusnya didengarkan, tetapi efeknya berasa seperti ditampar—sang ibunda kembali mengingatkannya dengan memori tidak menyenangkan, tetapi itulah kenyataannya. Kirana Hadiwiryono memang pernah mengatakannya langsung di depan muka Raka.

Serta di dalam rumah yang Raka dambakan.

Bahkan Raka tidak menyangka bahwa penyebutan yang terdengar jahat dan tidak berdasar itu sampai ke telinga sang ibunda. Namun, Raka memiliki alasan untuk menyangkal hinaan dari wanita mati itu.

"Sekarang Giandra usianya 18 tahun."

"Secara hukum, memang Giandra melewati usia nikah, tetapi mentalnya belum siap. Wajar Kirana marah." Nadine menjawab. Raka hanya belum menanggapi. "Mas Raka, kamu usianya sudah 30-an dan, menurut Ibun, menikahi anak usia belasan tahun sangatlah tidak pantas. Apalagi usiamu itu usia orang sudah punya anak. Kalau istri kamu masih belasan tahun, tentu saja dia masih belum siap untuk melahirkan dan menjadi ibu. Akan banyak perubahan yang terjadi dan istrimu itu harus siap mental."

Dengan perasaan tidak percaya, Raka mengernyitkan kening. Ia melawan wanita yang salah. Ibun menikah dengan ayahnya, Robert, di usia 20-an dan sudah selesai studi. Bahkan pemikiran Nadine soal pernikahan terasa berbeda dari wanita yang hidup di jamannya.

"Wanita itu mengatakannya karena aku sering mengejar suaminya untuk membeli rumah."

Nadine menggeleng heran dan tahu arah keluhan anak lelakinya ini akan ke mana. Ia menepuk bahu Raka dengan keras. "Mas Raka, Mereka tidak berniat menjual rumah, tetapi kamu paksa terus. Kayak tidak ada rumah lain saja!" ujar Nadine. "Kalau mau rumah, ayah bisa carikan rumah bagus di Jakarta. Mungkin kamu mau tinggal rumah Ibun? Boleh."

Tentu saja rumah yang Nadine maksud adalah rumah miliknya yang berada di TB Simatupang. Akan tetapi, Raka tidak suka karena daerah tersebut terkenal sebagai area perkantoran yang diimbangi dengan kemacetannya yang begitu sinting. Jika diteruskan, Raka bisa meninggal di dalam mobil saat ia meluncur sedikit dari pemukiman itu dan bertemu kemacetan.

"Balik ke pembahasan sebelumnya," ujar Nadine yang kembali mengingatkan. "Kita sudah mengatur rencana pernikahanmu, Mas Raka, dan kamu sudah tahu itu. Kamu tidak bisa seenaknya mengganti calon istrimu."

Raka menghela napas dengan malas. Ia sudah mendapat pemberitahuan soal rencana orang tuanya untuk menikahkan dirinya dengan putri keluarga terpandang.

Akan tetapi, sudah beberapa minggu ini tidak ada bahasan lebih lanjut.

"Sayangnya, susah sekali mencari calon istri untukmu karena usiamu sudah 30-an awal." Nadine berujar. Nadanya terdengar sedikit mengeluh. "Alhasil kita turunkan sedikit usianya ke 20 tahun awal. Umurnya pantas, sudah lulus kuliah, dan bekerja. Setidaknya beberapa bulan setelah menikah, kalian bisa langsung fokus punya anak."

Giliran mereka aja kasih aku calon yang masih muda, tapi aku sendiri tidak boleh menikahi Giandra. Protes Raka di dalam hati.

"Keluarga mana, Ibun?"

"Kamu tahu Keluarga Mananta dari Venetian Red?"

Raka mengernyitkan kening. Ia ingat franchise kopi dari Amerika dan butik baju dari Spanyol yang dibawa ke Indonesia oleh Venetian Red. Konglomerasi itu selalu tahu bagaimana cara membawa brand, baik pemain lama atau yang baru naik daun, ke Indonesia. "Tahu." Raka menanggapi dengan singkat.

"Nah, Dirut mereka punya dua anak perempuan. Yang tertuanya, yang baru lulus kuliah ini, akan dinikahkan sama kamu."

"Kakak beradik ini beda berapa tahun?"

"Si kakak kelahiran 1996, si adik kelahiran 2000," jawab Nadine. "Sebenarnya mereka punya dua kakak laki-laki lagi. Keluarganya besar."

Raka mengangguk. Ia berusaha untuk tertarik dan melihat wajah—siapa tahu Raka benar-benar tertarik. "Ibun punya fotonya?" tanya Raka.

"Tunggu sebentar." Nadine berujar sembari membuka ponselnya yang memiliki case seperti sampul buku. Iris Raka memandangi foto sang ibunda bersama dengan dirinya sewaktu kecil. Jemari Nadine yang tersemat cincin berlian 24 karat berselancar di atas layar dan mendapati foto yang dimaksud dari ruang obrolan WhatsApp. "Nah, ini Ibun dapat dari mama mereka."

Jemari Nadine menunjukkan sebuah foto Mananta bersaudara yang berlatarkan pekarangan rumah. Wanita itu mulai memperkenalkan Mananta bersaudara satu persatu dan sesuai dengan urutan. "Yang ini Ismail, anak pertama. Sebelahnya ada Ikram, anak kedua. Yang diujung sana ada Kinara, anak paling kecil. Sementara calon istri kamu yang ini." Nadine mendaratkan jemarinya di atas foto seorang perempuan dengan tubuh agak berisi. "Karuna."

Karuna.

Nama yang bagus, tetapi saat melihat penampilan perempuan yang bernama Karuna, Raka tidak tertarik. Terlalu berisi, dominan, dan penuh amarah. Melihatnya sekali lagipun, Raka sudah kehilangan rasa tertariknya. Alhasil, Mata Raka mencoba untuk beralih dari Karuna ke sosok perempuan muda yang menarik perhatiannya. Tanpa Nadine ketahui, anak lelakinya itu sedang memandangi perempuan muda dengan wajah tirus tanpa riasan dan penampilannya yang terlihat—

Seperti orang susah.

Selain Giandra dan kesempurnaannya, Raka suka sekali perempuan muda yang kesusahan.

Seakan-akan, rasa kasih sayang dari seorang Raka Purnomo mudah sekali muncul jika dihadapkan dengan perempuan muda yang membuatnya prihatin. Tubuh mungil dan wajah datar perempuan yang ia lihat di foto itu kelak akan membayangi dan memenuhi pikiran Raka.

Setelah ini, Raka terpikir untuk mencari tahu lebih banyak soal Keluarga Mananta, terutama gadis yang—

Kalau tidak salah tadi namanya Kinara, ya?

TBC

Published on January 12, 2026

Nas's note
Walau konteksnya disampaikan dalam narasi, bukan dialog, tetapi Kirana Hadiwiryono alias mom-nya Giandra memang pernah berucap soal Raka di TI ch. 67.

Kemudian, karena bagian prolog ini berlatar tahun 2018, maka dasar hukum yang digunakan untuk merujuk usia pernikahan di Indonesia adalah UU Nomor 1 Tahun 1972 tentang Pernikahan yang menyebutkan usia minimal pria adalah 19 tahun dan usia minimal wanita adalah 16 tahun.

Nah, tahun depannya alias 2019, UU tersebut diubah dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 yang menyebutkan usia minimal pria dan wanita untuk melaksanakan pernikahan adalah sama-sama 19 tahun.

Tetapi, Nadine tetap kontra karena dia sendiri nikah 20-an ke atas.

Sebelum berlanjut, yuk boleh drop tanggapan kalian. Atau kalian mau siapin bata buat nimpukin Raka juga boleh.

Terima kasih sudah mampir <33

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com