Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Last Chapter

"I got you." Ucap Junghwan sebelum menyeret tubuhnya dan Doyoung ke tepi pantai, berusaha menyeimbangkan diri karena tidak ingin keduanya terseret arus yang justru membawa mereka kembali ke tengah.

Kedua tangan Doyoung ikut melingkar di leher Junghwan, napasnya yang memburu begitu terasa di ceruknya sebab laki-laki manis itu tidak berhenti menenggelamkan wajah di sana.

Dan Doyoung tidak melepas pegangan bahkan hingga mereka sampai ke daratan.

"We're safe." Ucap Junghwan, tangannya mulai mengusap punggung basah Doyoung berulang kali, berusaha menyalurkan ketenangan walau ia juga sama paniknya.

"Kim Doyoung." Ucapnya lagi, dan akhirnya berhasil membuat Doyoung melepas pegangannya pada Junghwan.

"Lo gila ya?" Omel Doyoung tepat setelah ia akhirnya berdiri dengan nyaman di depan Junghwan, "Lo pikir dengan lari ke tengah laut gitu bakal bikin gue seneng?"

"Tapi kan kamu yang minta?"

"Terus kalau misalnya gue minta lo buat loncat dari sana, lo mau?" Tanya Doyoung sambil menunjuk tebing yang berada tidak jauh dari mereka.

Dan Junghwan mengangguk. "Aku bakal lakuin semuanya sesuai yang kamu mau."

"Gila. Dasar orang gila!" Ucap Doyoung, kali ini sambil berjalan menjauh dari Junghwan.

Namun langkahnya tiba-tiba berhenti karena mantan kekasihnya itu menarik sebelah tangannya dengan cukup kuat, dan berhasil membuat tubuh Doyoung berbalik lalu menghantam bagian depan badan Junghwan.

Walau sekujur tubuh mereka basah, tapi Doyoung dapat merasakan kehangatan yang luar biasa ia rindukan begitu Junghwan merengkuhnya, membisikkan kalimat cinta yang harusnya ia lakukan di beberapa malam sebelumnya.

It's now or never, pikir Junghwan.

"I love you so much, Kim Doyoung. Please, please give me another chance." Mohon Junghwan untuk yang kesekian kali, dan beruntung karena kali ini Doyoung tidak lagi meronta atau memukulnya. "Aku beneran rela ngelakuin apapun buat kamu asal kamu maafin aku dan mau nerima aku lagi."

"What if you break me again?" Tanya Doyoung setelah hening cukup lama di antara mereka, telinganya fokus mendengar bagaimana kuatnya debaran jantung Junghwan yang menguar tepat di depan wajah, seakan dapat mengalahkan suara deburan ombak yang ada di belakang mereka.

"I won't. I love you, I love you so much."

Detak jantung Junghwan makin kuat setelah kembali menyatakan cinta.

Junghwan hampir berteriak ketika merasakan tangan kurus Doyoung ikut melingkar di belakang pinggangnya, "Bego, dasar bego. Kamu orang paling tolol yang pernah aku kenal tau gak." Doyoung bicara walau disertai isakan pelan.

"I know, aku emang gak tau apa-apa, masih butuh banyak orang di sekitar buat bantuin aku, but I promise, I'll change."

"What if you don't?"

"Kamu bebas ngelakuin apa aja, kalau perlu kita buat perjanjian supaya kamu gak dihukum walau udah bunuh aku."

Kalimat konyol Junghwan membuat Doyoung tertawa, ia mengusap wajahnya yang basah sebelum melonggarkan pegangan di pinggang Junghwan, menatap laki-laki yang lebih tinggi dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis hari ini.

"I hate you." Ucapnya kemudian.

Junghwan mengangguk, sebelah tangannya terulur untuk mengusap sisi wajah Doyoung yang terasa lembab. "I love you too."

Kedua tangan Doyoung bergerak menuju kedua pundak Junghwan, sedikit berjinjit agar dapat mendaratkan kecupan ringan di sudut bibirnya. "Ayo pulang, you're freezing."

***

Setelah mandi dan mengganti pakaian di tempatnya, Doyoung memasuki rumah yang Junghwan huni dengan satu termos berisi air hangat di tangan, berjalan lurus menuju kamar paling besar yang ada di sana dan menemukan Junghwan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Langkah Doyoung berhenti tepat di depan Junghwan yang masih sibuk mengeringkan rambut, sensasi hangat ia rasakan begitu telapak tangannya menyentuh leher yang lebih tinggi.

"Kamu demam." Ucapnya sebelum meraih remote untuk menaikkan suhu ruangan. "Minum ini sebelum tidur nanti, Ibuku yang buat jadi aku jamin gak ada racun di dalemnya." Canda Doyoung kemudian.

Junghwan tertawa lalu duduk di pinggir ranjang, ikut menarik sebelah tangan Doyoung yang sejak tadi sibuk berjalan untuk berdiri di hadapan. Doyoung tersenyum, menyambar handuk yang ada di kepala Junghwan untuk membantu mengeringkan rambutnya.

"Kapan pulang ke Seoul?" Tanya Doyoung, dan berhasil membuat bibir Junghwan merengut.

"Kamu ngusir aku?"

Senyum Doyoung makin lebar, "Iya, aku ngusir kamu." Jawabnya, masih dengan tangan yang bergerak di atas kepala Junghwan.

Dan ia hampir berteriak ketika Junghwan dengan mudah menarik tubuhnya untuk duduk dengan nyaman di atas paha, membuat handuk yang semula ada di tangan kini jatuh ke bawah.

"Aku masih mau di sini." Ucap Junghwan, kepalanya mulai bersandar di dada Doyoung. "Kamu gak mau aku di sini? Beneran nyuruh aku pulang?" Tanyanya, kali ini dengan intonasi manja yang dibuat-buat.

"Lagian aku gak pernah nyuruh kamu buat dateng?"

Pertanyaan Doyoung disambut dengan rengekan Junghwan yang makin jelas didengar, "Kenapa masih bahas itu sih? Kan aku udah minta maaf." Ucapnya, tangan Junghwan kini melingkar di belakang pinggang Doyoung, menahan agar tidak jatuh karena ia mulai bersandar sepenuhnya pada yang lebih kecil.

Doyoung menunduk, berusaha menatap Junghwan yang posisinya lebih rendah. Sebelah tangannya bergerak naik untuk menangkup sisi wajah Junghwan.

"Jangan manyun terus, kamu mirip bebek." Ledeknya kemudian, namun Junghwan masih betah merengut, membuat Doyoung gemas dan tidak dapat menahan diri untuk tidak mengecup bibirnya.

"I love you." Ucap Junghwan pada akhirnya, Doyoung hanya diam sambil terus memandang wajah Junghwan, mencari ketulusan di tiap kalimat yang Junghwan ucap dan untungnya langsung ia dapatkan begitu Junghwan kembali mengulang ucapannya.

"I love you so much, Kim Doyoung. I'm sorry for being a jerk, for hurting you over and over again yet you're still trying to accept all of my flaws. I love you so much."

Sebenarnya bukan tanpa alasan Doyoung terus menerima Junghwan yang kerap membuat kesalahan, berulang kali membuka hati tanpa mendapat jaminan bahwa ia berkemungkinan besar akan disakiti kembali.

Junghwan adalah orang pertama yang membuatnya merasa hidup di tengah peraturan yang terus bertambah, seakan menjadi oase di tengah gersangnya kemarau selama belasan tahun ia menekuni pekerjaan yang sama.

Tingkah bodohnya, kepolosan yang nampak tulus itu tidak pernah gagal membuat Doyoung terkesima. Jauh berbeda dengan mantan kekasih sebelumnya, Junghwan selalu tahu bagaimana cara membuatnya bahagia bahkan hanya dengan kalimat dan perilaku sederhana.

"Say it again." Pinta Doyoung, seolah belum puas mendengar semua kalimat cinta yang keluar dari mulut Junghwan.

"I love you."

"Again."

"I love you so much."

"How much?"

"Too much. I even would die for you."

Kali Doyoung menggeleng, ibu jarinya mulai bergerak untuk mengusap pipi Junghwan yang terasa hangat. "Jangan, kalau kamu mati, nanti aku sama siapa?"

"Kamu sayang aku, nggak?" Junghwan balik bertanya, dan ia akhirnya dapat bernapas lega ketika melihat Doyoung mengangguk samar.

"Sayang. Aku sayang banget sama kamu."

Jemari Doyoung bergerak turun menuju dagu Junghwan, mengangkatnya pelan lalu sedikit menunduk agar ia dapat mendaratkan kecupan.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Dan Doyoung hampir berteriak ketika Junghwan membalik posisi di kecupan keempat, membuatnya kini berbaring di atas ranjang masih dengan ciuman yang belum enggan terlepas.

Tangan Doyoung bergerak liar di belakang kepala Junghwan ketika yang lebih tinggi menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian. Dari ciuman ini, Doyoung tahu seberapa besar kerinduan Junghwan yang berusaha ia salurkan.

Ia mengerang pelan saat Junghwan sengaja menggigit bibirnya, membuat lidahnya dengan leluasa masuk ke dalam dan menyapa seluruh isi mulut, membelai miliknya dengan lembut lalu dibawa keluar untuk dihisap kuat.

What a dirty way to spend the night.

Dagunya mulai basah, jelas karena saliva mereka yang meleleh dan turun ke sana tanpa dapat ia cegah. Tapi tidak ada satupun yang peduli karena kini sebelah tangan Junghwan mulai masuk ke dalam baju tidur yang Doyoung kenakan, memberi sensasi baru ketika telapak besar Junghwan bersentuhan langsung dengan kulitnya.

Junghwan melepas pagutan begitu merasakan Doyoung yang mulai kesulitan bernapas, mengecup sudut bibir yang lebih kecil sebelum bergerak turun, tepat ke leher untuk mendaratkan kecupan basah yang kembali membuat tengkuk Doyoung meremang.

Erangan Doyoung makin keras ketika Junghwan menghisap kulit lehernya dengan cukup kuat, yang ia yakin pasti akan menimbulkan bekas yang akan berubah keunguan dalam beberapa jam ke depan. Tangannya juga ikut naik, dengan sengaja menyentuh puncak dada Doyoung berulang kali dengan ibu jari.

Setelah puas meninggalkan tanda di leher putihnya, Junghwan menarik diri. Memandang Doyoung dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Are we doing this?" Tanya Doyoung dengan napas terengah, tangannya masih betah bergerak di rambut kekasihnya.

"Kamu mau?" Tanya Junghwan dengan kesadaran yang tidak tersisa seberapa.

Doyoung jelas sudah keras di bawah sana, dan ia yakin kalau Junghwan juga merasakan hal yang sama. Tapi mereka tidak sedang berada di tempat yang seharusnya, karena anggota keluarganya pasti bisa masuk kapan saja dan Doyoung tentu tidak ingin Junghwan dipandang buruk oleh siapapun dari mereka.

Maka dengan terpaksa Doyoung menggeleng, menarik tubuh Junghwan untuk ia dekap masih dengan napas yang tidak beraturan.

"Mau, tapi nggak bisa sekarang." Ucapnya dengan penuh penyesalan, dan berhasil membuat Junghwan tertawa pelan.

"Okay kalau gitu, ayo tidur aja." Balas Junghwan sembari memperbaiki posisi mereka agar lebih nyaman.

***

Junghwan jatuh cinta, bahkan hanya dengan memandang punggung Doyoung dari belakang, jantungnya terus berdebar tidak karuan. Bagaimana Doyoung bergerak di depannya, bersikap profesional di hadapan kamera, mata Junghwan hanya berfokus pada satu titik dan Doyoung lah objeknya.

Beberapa minggu setelah skandalnya dengan Haruto bocor ke media, Doyoung akhirnya mendapat tawaran iklan juga beberapa judul drama karena bukti dari rumor tersebut memang tidak pernah ada.

Kembali disibukkan dengan berbagai agenda setelah libur cukup panjang bersama keluarga, tapi kali ini ia ditemani dengan kekasihnya.

Belasan agensi menghubungi Junghwan begitu tahu kalau aktor itu tidak lagi berada di agensi sebelumnya, menawarkan berbagai pilihan menarik dan Junghwan memilih satu yang terbaik.

Agensi yang juga menaungi kekasihnya, membuat mereka kini berada di pihak yang sama dan tidak lagi menimbulkan kecurigaan media karena terlalu banyak menghabiskan waktu bersama.

Akhir yang baik untuk semua pihak, kecuali bagi Mashiho karena ia terpaksa mengurus sepasang kekasih itu seorang diri.

Junghwan memang belum memiliki aktivitas yang berarti, tapi ia selalu mengikuti kemanapun Mashiho dan Doyoung pergi. Seharusnya dirinya melamar sebagai manajer, bukan malah aktor yang merepotkan seperti sekarang ini.

"Kan aku suruh tunggu di mobil." Protes Mashiho pada Junghwan, ia sibuk memandang Doyoung yang tengah fokus pada pemotretan di depan.

"Nggak seru, di sini kan bisa liat Doyoung." Jawab Junghwan sekenanya.

Untungnya tidak ada orang yang curiga tentang kebersamaan mereka, tentu karena Junghwan juga mengenakan penyamaran lengkap seperti masker dan kacamata dengan bingkai tebal yang menutupi wajah, tapi itu tidak mengurangi rasa kesal Mashiho sedikitpun.

Tepat setelah photographer memberi tanda bahwa kegiatan mereka sudah selesai, Junghwan mundur dan membiarkan Mashiho menjemput Doyoung sekaligus mengucap terima kasih pada semua staff yang ada di sana.

Tidak butuh waktu lama hingga ketiganya berjalan menuju mobil yang mereka parkir di depan gedung. Mashiho kini sibuk mengemudi sambil sesekali mengoceh, sedangkan Junghwan bersama Doyoung tidak berhenti bercengkrama di seat belakang.

"Awas aja kalau besok kamu ikut kita lagi." Protes Mashiho, tapi sumpah demi apapun Junghwan tidak peduli.

Telinganya tidak akan pecah jika hanya dimarahi tanpa henti, tapi ia tidak ingin berada jauh dari Doyoung terlebih setelah pertengkaran hebat yang terjadi.

"Kamu pulang ke rumah?" Tanya Doyoung pelan, menghindar dari Mashiho yang pasti akan mengomel lagi jika mendengar topik pembicaraan ini.

Junghwan menggeleng, "Mau ke apartemen kamu, boleh kan?"

Dan bisa apa Doyoung selain mengangguk, menghabiskan malam bersama Junghwan tanpa gangguan selalu berhasil membuat lelahnya menguap begitu saja. Sebab bahkan setelah berbulan-bulan keduanya menjalin hubungan, rasanya mereka bagaikan remaja yang masih dimabuk cinta.






...

tamat! makasih yang udah baca sampe habis, maaf kalau masih belum bagus dan sesuai ekspektasi kalian yaa.

makasih juga buat yang udah terus baca semua buku aku sampe ke yang terakhir ini, karena setelah ini aku gak akan drop buku on going selain satu oneshoot di akhir tahun nanti.

dan maaf juga karena kemungkinan besar, awal bulan depan aku akan hapus semua works di sini, jadi kalian boleh puas puasin baca ulang karena masih punya dua minggu? sebelum itu. hehe (pede banget kayak ada yang baca aja) I have my own reason for this so please, please respect my decision.

yaudah segitu aja, see you on the last project!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com