Prolog
Dari bibirmu, namaku pernah terdengar begitu merdu. Lalu setelah pergimu, nama itu menjelma asing dan aku tak lagi mengenal diriku ... yang sebagiannya telah ikut bersama tiadamu.
***
"Wedelia Ereanora."
Bisakah gadis itu meminta namanya dipanggil ulang?
Delia.
Ia lebih suka dipanggil Delia.
Menghela napas panjang, gadis itu berdiri dari kursi besi yang dinginnya baru terasa menjalar ke jari-jari. Kakinya menapaki lorong putih itu pelan, seolah ada beban besar yang bergelayut di sana.
Sebenarnya, apa yang ia lakukan di sini?
Tadi, sebelum sampai di tempat ini, tekadnya sudah bulat, jadi sekarang sudah terlambat untuk kembali. Menggeleng pelan, ia mencoba meyakinkan diri sekali lagi. Dengan satu dorongan, pintu putih itu terbuka dan Delia tak bisa lagi ke mana-mana.
"Permisi," sapa gadis itu lirih.
Seorang wanita menyambutnya. Tak terlihat terkejut, dia bangkit dan merapikan roknya. Delia bisa melihatnya menyimpan sesuatu di meja sebelum berkata, "Hai, senang bisa bertemu kamu hari ini."
Satu hal yang sedikit membuat gadis itu lega adalah absennya jas putih dan semua hal yang ia bayangkan sebelumnya.
"Ayo, duduk."
Delia mengangguk, menempatkan diri di sofa beledu yang justru membuatnya tak nyaman itu. Cat putih yang seharusnya membuat gadis itu lebih tenang rasanya tak membantu, pun aroma lavender yang mencekiknya. Di sini terlalu sunyi, sampai Delia bisa mendengar detak bisik jarum jam yang menyebalkan.
Delia mengerjap, mencoba membaca ekspresi wanita yang duduk di hadapannya, yang seolah tak terusik meski beberapa kali Delia mengubah posisinya dengan begitu berisik.
"Kamu apa kabar?"
Wanita itu bertanya seolah mereka adalah kawan lama. Namun kepala Delia justru memunculkan pertanyaan lain yang menyiksanya.
Kenapa dia bertanya?
Apa Delia melakukan kesalahan?
Apa yang ia tulis di kuesioner tempo hari memperburuk keadaan?
Lagi, Delia menghela napas dalam, mencoba membaca senyum yang tak kunjung pudar, masih belum sadar kalau apa yang ia lakukan tak akan pernah membuatnya mendapat jawaban.
Wanita itu membetulkan posisi kacamata tanpa benar-benar merubah ekspresinya. Alisnya mengernyit, anggukan pun ia berikan, seolah mengatakan pada Delia bahwa semua baik-baik saja. Namun, bagaimana bisa senyum ramah itu terasa begitu mengintimidasi dan membuat Delia menelan ludahnya beberapa kali?
Tak hanya itu. Bahkan Delia perlu banyak waktu hanya untuk mengucapkan kata baik.
"Wah, senang mendengarnya."
Dan meski suara wanita itu terdengar begitu lega, lagi-lagi Delia penasaran. Bagaimana bisa seseorang yang baru mengenalnya mengatakan kebohongan dengan begitu sempurna?
"Jadi, kalau boleh tahu, apa yang membuat hari kamu baik?"
Apa lagi sekarang?
Delia berpikir keras. Kepalanya menyusun daftar kegiatan tak kasatmata; mulai dari bagaimana ia membuka mata, hingga bagaimana kakinya terasa berat kala melewati lorong putih menuju ruang ini.
"Semuanya. Semua baik-baik aja."
Delia tidak berbohong. Semua baik-baik saja meski tidak lebih baik dari biasanya.
"Syukurlah." Anggukan wanita itu membuat Delia sedikit lega. Beban di pundaknya seolah berkurang, meski hanya sedikit.
"Jadi, Wedelia—"
Nama itu lagi. Jemari Delia mengepal, tenggorokannya yang kering terasa kian menyiksa.
"Delia," ralat gadis itu cepat.
Keberanian yang tadi membara pun redup tiba-tiba, berganti dengan suara jantung Delia yang mendadak tak memiliki irama. Ia bisa melihat bagaimana ekpresi wanita itu berubah, lalu senyumnya kembali dengan begitu cepat.
Delia membuat wanita itu tidak nyaman.
Rasa bersalah seketika memenuhi dada Delia. Tidak seharusnya ia bereaksi berlebihan.
Kaki gadis itu bergerak gusar, jemarinya pun kini mulai bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya, memberanikan diri untuk menatap mata yang dari tadi ia hindari.
"Maaf, tolong panggil saya Delia."
Karena tiap kali ia mendengar nama itu, ia terluka.
[]

-Wedelia Ereanora-
***
Hai, aku nggak yakin kalian masih nemu works ini, apalagi baca, selain karena aku lama hiatus, aku sering banget ilang giti, jadi ... untuk kamu yang membaca ini, terima kasih.
Mari kita buat kesepakatan, nanti naskah ini akan aku update minimal satu minggu sekali, kamu boleh nagih di mana pun, karena aku nggak pernah terganggu. Kamu juga berhak kritik tulisanku, karena mungkin pendapatmu justru bisa membantuku, jadi ... jangan pernah merasa naskah ini milik orang lain.
Apa kamu setuju?
Dan lagi, untuk kalian yang mungkin seperti aku, aku ingin kalian tahu,
Perasaan orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawabmu. Kamu berhak menolak, kamu nggak harus jadi apa yang mereka mau. You are you and you are enough.
I love you.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com