Secercah Impian
Kau punya kunci, kunci dari semua serendipiti yang membelit kita.
Kau punya pilihan, yang bahkan hingga kini tak dapat kau pilih.
Kau hampir sempurna, dan kesempurnaanmu membuatku mempertanyakan kemana semua harga diriku sehingga dengan berani mencoba bersanding denganmu?
Kau adalah gadisku.
Gadisku, malam ini kau tampak cantik dengan gaun putih panjang yang melekat pas di tubuhmu. Aku bahkan sampai menahan napas saat kau memasuki ruangan ini, sesak dan bahagia kurasa penyebabnya. Kau melangkah begitu anggun dengan tanganmu yang menggamit lengan ayahmu, rahangku bahkan semakin kram karena terus melongo melihat kesempurnaanmu malam ini.
Ah, lihatlah, kau tersenyum sangat manis. Namun aku tahu, dibalik senyummu ada ketidaknyamanan yang kau rasa. Biar kutebak, kau pasti tak nyaman dengan dandananmu. 8 tahun berada di sisimu membuatku mengenalmu dengan baik.
Kau semakin dekat dengan altar dan entah mengapa, aku tiba-tiba saja merasa gugup, waktu seakan berjalan lebih lambat. Iringan alat musik melodis memelankolis keadaan.
- o0o -
"Aku mencintaimu," bisikku teramat pelan, tapi aku yakin kau bisa mendengarnya. Aku memosisikan kamera di depan wajahku dan mulai memotretmu yang tersenyum, senyum tak nyaman.
Cekrek!
"Tak ada lagi yang ingin berfoto dengan kedua mempelai?" tanyaku setengah berteriak, tak ada yang menjawab. Oh, atau mungkin tak ada yang mendengar? Tadi saat berteriak, tenggorokanku pasti tercekat mengucapkan kata 'mempelai'.
Kutatap gadisku yang tengah menatapku sendu, kuhampiri dia, semoga dia tak sadar bahwa aku begitu sesak di sini. Aku tak ingin dia sedih di hari bahagianya. Aku memaksakan senyumku begitu telah sampai di hadapannya.
"Selamat ya, Ris! Kalau kamu udah punya anak nanti, jangan lupa kenalin ke aku, oke?" Gadisku meninju lenganku pelan, ia tertawa dan tak sadar air matanya keluar. Kuputuskan untuk cepat mengalihkan pandanganku padanya, dan beralih ke mempelai pria.
"Selamat, ya! Lo beruntung banget bisa berjodoh sama Auris, dia orangnya galak tapi tetap paling baik lah sedunia, hehehe. Terus buat Auris bahagia ya!" Pemuda itu tersenyum renyah, dianggukan kepalanya sembari mencium tangan istrinya.
Hei kalian, akhir dari kisahku ini bahagia! Sungguh, jika melihat orang yang kau cintai dan dicintainya bahagia, tak ada yang lebih baik dari itu. Langkahku pun mantap berjalan keluar.
Happy wedding, my bestfriend.
***
an: Hah, apa ini!? Jadi ini ceritanya cowok yang kejebak friendzone, buat yang belum ngerti ini apa.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com