Setitik Harapan
Banyak orang bilang menikah adalah hal yang paling membahagiakan seumur hidup. Iya, aku pun berpikir begitu.Tetapi, bagaimana jika kau menikah karena sebuah paksaan? Atau bahasa ngeh-nya itu perjodohan? Apakah menikah masih bisa dikatakan hal paling membahagiakan?
Laura, wanita berambut sebahu itu tersenyum kecut sembari memandang foto pernikahannya yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya--juga suaminya tentu. Sudah setahun ini ia menikah dengan lelaki yang tak dicintainya, Nathan. Dia juga menerima perjodohan ini karena tak ingin mengecewakan orang tuanya dan ia pikir mereka bisa saling mencintai saat sudah menikah, tapi ternyata ekspetasi akan selalu berbeda dengan apa yang kita harapkan.
Dia menyesal.
Bukan, bukan karena pernikahan menjenuhkan ini, melainkan karena terlalu sering mengira dunia novel sama dengan dunia nyata. Eh, tapi bukannya novel itu adaptasi dari kisah nyata ya?
Laura mendengus tak peduli, ia lelah dengan semua ini tapi tak mungkin ia bercerai dengan suaminya mengingat ayah mereka berdua mempunyai penyakit jantung. Tanpa sadar, telinganya menangkap bunyi tetes air yang jatuh di atap.
'Hujan ya?' batinnya kemudian menoleh ke arah jendela yang terbuka lebar. Benar saja, ternyata itu memang suara hujan dan hujannya juga cukup deras ditambah angin yang kencang. Wanita itu pun beranjak dan menutup jendela kamarnya yang akhirnya membuat kamarnya gelap karena sumber cahaya hanya pada jendela itu. Dia sedikit merinding melihat sekelilingnya agak gelap.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu dari arah bawah membuat Laura kaget dan memekik cukup keras. Lantas, ia mencibir kesal sembari keluar dari kamar dan bergegas ke lantai bawah.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan yang terkesan tidak sabaran itu membuat Laura sedikit jengkel. Tangannya tergerak untuk membuka kunci kemudian menarik gagang pintunya dengan sedikit kasar.
"Kamu pikir kamu siapa bisa gedor-gedor pintu rumahku kayak git-" Baru akan menyemprot orang yang mengetuk pintu tak sabaran tersebut, ucapannya langsung terpotong saat tubuh seorang lelaki tumbang ke arahnya.
BRUK!
"Uhuk! Uhuk!" Sembari memegangi mulutnya, lelaki tersebut mencoba bangkit, namun sia-sia. Laura langsung menangkapnya.
"Nathan? Kamu kenapa?"
Tak ada balasan, Nathan hanya terdiam sambil memejamkan matanya. Dengan ragu Laura memegang dahi Nathan.
Panas.
Karena khawatir Laura pun menyeret Nathan masuk ke dalam dengan tergesa. Kenapa menyeret? Karena dia gak bisa gendong tubuh kekar Nathan.
Laura menyeret tubuh Nathan di pojokan dekat pintu dan mendudukkannya di situ. Lantas, ia pun berlari ke arah kamar dan mengambil asal setelan rumah Nathan serta tak lupa mengambil handuk kecil untuk mengompres.
Setelah itu, Laura berlari lagi ke arah dapur dan menuang air hangat ke baskom kecil kemudian tangannya terulur mengambil termometer di laci kitchen-set. Tak lupa juga ia mengambil lagi obat penurun panas di kotak P3K. Untung saja Laura pintar mengakali membawa semua barang barang itu.
Saat sampai di tempat Nathan terduduk tadi, ia perlahan dilanda ambigu. Bagaimana cara memakaikan Nathan baju? Sementara dia sama sekali belum pernah lihat Nathan shirt-less apalagi top-less.
'Apa aku mesti pakein dia baju sambil nutup mata?' gumam Laura.
"Halah, ngaco! Aduh gimana ya? Mana dia tambah pucet gitu lagi. Apa aku bawa aja ke rumah sakit ya? Tapi, kan, masih hujan..." Laura bermonolog.
"Lau...," Nathan menggumam pelan sembari mengerjapkan matanya. Ditatapnya Laura yang memandangnya khawatir. Bah, Nathan bahkan tak percaya dengan tatapan Laura, biasanya wanita itu selalu menatapnya dingin atau paling mentok datar.
"Ya? Nath, bangun dulu ya. Buat ganti baju aja kok. Plis, abis ganti baju aku gendong kamu sofa deh. Kamu ganti baju di sini aja, aku gak bakalan ngintip kok," ujar Laura panjang lebar sembari mengulurkan setelan biasa untuk dipakai, kemudian mulai membalikkan tubuhnya membelakangi Nathan. Lelaki bersurai hitam itu pun segera mengganti bajunya dengan gerakan dipaksakan cepat.
"Sudah."
Laura refleks menoleh ke belakang, dengan ragu dia beranjak dari tempatnya, kemudian berlari kecil ke arah ruang tamu dan menyeret sofa ke pojokan tadi. Nathan yang melihat Laura pun memaksakan jalan untuk membantu wanita itu walaupun kepalanya sangat pening.
Pupil Laura yang menangkap pergerakan dari Nathan yang berjalan dengan kepayahan membuat Laura menghampirinya dan memapah tubuhnya ke sofa yang berada di tengah jalan menuju tempat Nathan duduk tadi.
Setelah mengatur bantal agar suaminya nyaman dengan posisi tidurnya, Wanita bersurai coklat tersebut berjalan cepat ke arah pojokan dan mengambil barang-barang yang belum sempat dipakainya tadi.
***
"Cepat sembuh Nathan." Laura tersenyum lembut dan mengusap pelan kepala Nathan. Sehabis di kompres, diberi makan--ya, walaupun dengan sedikit paksaan--dan minum obat, Nathan langsung terlelap. Saat Laura hendak beranjak untuk mencuci piring bekas makan Suaminya, tangannya dicekal oleh tangan Nathan. Laura pun berbalik dan menatap pemilik tangan tersebut dengan tatapan bertanya.
"Temani aku disini saja, kumohon. Aku ingin tidur denganmu, Istriku."
Pipi tirus Laura memerah. Jantungnya berdentum kencang seakan ingin keluar dari tempatnya. Belum sempat dia bersuara, Nathan sudah menarik lembut dirinya untuk berbaring disampingnya. Pipi Laura semakin memanas dan jantungnya lebih berdebar lagi saat merasakan tangan yang memeluk pinggangnya lembut. Laura tertegun saat gerakan tangan Nathan mengisyaratkan padanya untuk menenggelamkan kepalanya di dada pria tersebut. Tentu saja dia tak menolaknya.
Kalau boleh jujur, Laura ingin seperti ini lebih lama, ia sangat nyaman berada di dalam dekapan Nathan dan mendengar dengan jelas detak jantung lelaki itu.
Laura mendongak dan mendapati wajah Nathan yang terlelap sangat dekat dengannya. Ia baru menyadari bahwa Nathan bukan sekedar tampan tapi sangat tampan.
Dengan alis tebal, mata bulat yang teduh, garis rahang yang tegas, dan bibir err... seksi. Laura menyesal melupakan bagaimana rasanya bibir Nathan mendarat bibirnya saat mereka sedang 'acting' di depan Kenny, kakak Nathan.
"Nathan, kau tahu, aku selalu berharap bisa memiliki pernikahan seperti pernikahan kebanyakan orang," cicit Laura nyaris tak terdengar dan tanpa dia sadari, Nathan mendengarnya dan tersenyum senang dalam hati.
***
Kamis, 08 Oktober 2015
A/N : Cerita udah lama tapi di publish ulang setelah direvisi. Sangat berterimakasih jika ada yang berkenan memberikan saran ataupun kritik dan juga vote.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com