Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

12

"Take care," ucapku seraya mencium keningnya secara protektif. Ia mengangguk seolah berakata 'kau juga'.

Pukul tujuh bus yang ia tumpangi berangkat, aku pun kembali ke rumah untuk mengurus Darcy. Rencananya aku akan membawa Darcy dan pengasuhnya ikut serta dalam world tour kali ini, yang akan dimulai dalam 2 minggu.

Ketika aku sampai di rumah, ayah sedang menggendong Darcy yang meronta layaknya melihat sesosok hantu.

"Biarkan aku," ucap ku menawarkan. Namun, ayah menggeleng, menandakan bahwa ia dapat mengatasinya. Memang benar, tidak lama Darcy tenang sambil menghisap jempol kanannya, walaupun sempat beberapa kali jarinya itu ditampik oleh ayah.

Jadi, aku meninggalkan Darcy dengan ayah dan menyuruh pengasuhnya membereskan barang yang sekiranya diperlukan Darcy dalam perjalanan jauh kami nanti.

"Harry?" panggil Mike, suaranya yang sudah kuhafal sejak kami masih tinggal serumah membuatku tahu tanpa perlu menoleh.

"Ada apa?" tanyaku masih tak menoleh ke arahnya karena sibuk membereskan pakaianku.

"Ck, man, kita harus bicara," ujarnya kesal. Pun aku menoleh dengan tatapan 'apa?'.

Ia mengisyaratkanku untuk mengikutinya, dengan berat langkah aku berjalan mengintil di belakangnya. Kami menuju ke taman belakang rumah, saat aku lewat tadi ayah masih sibuk bersama jadi Darcy. Jadi, apa yang membuat pembicaraanku dan Mike begitu serius?

Terlihat di sana tengah terduduk Billie dan Gemma yang mengelus pundaknya. Dahiku mengernyit, 'apalagi yang tidak beres dengan keluarga ini?' ucapku dalam hati.

"Jadi Harry," ucap Billie membuka pembicaraan.

"Ya?" sahutku.

"Aku di tugaskan ke New York dan.." ucapnya pelan, sangat pelan. Hampir seperti gumaman.

"Dan..?" tanyaku tidak sabar.

"Dan sayangnya aku akan sibuk menjadi asisten kepala cabang, mungkin tidak akan kembali hingga libur musim dingin," jelasnya lesu.

"Kau punya agenda apa bersama dengan bandmu?" tanya Mike begitu Billie selesai menjelaskan permasalahannya.

"World tour, seperti biasa--"

"--dan akan dimulai dalam dua minggu," sambungku, membuat mereka semua mendesah kebingungan.

Jadi, Billie harus bertugas di New York, sementara Mike dan Anna harus kembali pada rutinitas mereka di Blackpool. Membiarkan ayah sendiri? Mana mungkin. Anna pasti tidak segan menggorokku jika ia tahu aku menelantarkan ayahnya.

Kami semua masih memikirkan jalan keluar terbaik, terutama bagi ayah agar tidak merasa di sia - sia kan keberadaannya.

"Ayah akan baik - baik saja bila sendiri, pergilah kalian semua. Ini waktunya kalian berkarier, kan?" Tiba - tiba ayah muncul sambil menggendong Darcy dari dalam rumah.

Kami bingung. Tentu saja, walaupun ayah berkata begitu mana sampai hati kami meninggalkannya sendiri.

Menurut penjelasan ayah, ia ingin tinggal di panti. Agar tidak repot mengurus rumah dan keperluan memasak lainnya juga agar ia memiliki teman untuk mengobrol. Tetapi kami harus menunggu persetujuan dari Anna. Karena Anna adalah anak yang paling dekat dan paling dimanja oleh ayah.

Ann's pov

Perjalanan di dalam bus sangat lah tidak menyenangkan. Begitu membosankan. Aku terus mengutak-atik ponselku. Melihat foto Darcy, terkadang foto Harry. Baru beberapa hari ini kami kembali akur, hampir seperti dulu. Mungkin karena Harry melihatku dengan iba? Ya, pasti begitu. Ia kini berpikir harus menjagaku, karena mom memintanya.

Kenapa aku tetap tidak bisa melupakan Harry yang begitu menyebalkan dengan sifat egoisnya. Meski aku sudah mengulang - ulang kalimat egois dalam mendeskripsikannya, tetap saja wajahnya selalu muncul setiap kali aku mulai larut dalam lamunan. Terutama saat-saat ia mengecupku.

Perjalanan ini memang jauh meski kini aku sudah tiba di kota dan hanya perlu menunggu hingga tempat pemberhentianku.

Aku menghirup udara kota Chesire. Kota yang sama dengan kampung halaman Harry. Bedanya, aku tidak besar di sini. Aku hanya sesekali mengunjungi nenekku, karena ayahku bukan berasal dari sini maka ibuku ikut bersama ayah.

Rumah nenekku juga tidak berada di kota, rumahnya jauh agak kepinggiran kota. Dulu hanya bisa naik kuda untuk sampai di rumahnya, karena rumah nenek berlokasi di tengah sawah miliknya yang begitu luas.

Ponselku bergetar menandakan panggilan masuk ketika aku tengah berusaha mencari tumpangan untuk sampai ke rumah nenek.

"Ada apa?" sapaku ketika aku melihat nama Harry tertera di layarnya.

"Kau sudah sampai?" tanyanya dari seberang sana. Oh, apakah dia khawatir?

"Mm, ya," jawabku datar.

"Baiklah," katanya dan sambungannya diputus. Menyebalkan, Harry brengsek! Kupikir itu merupakan salah satu wujud perhatiannya untuk memenangkan kembali hatiku, tapi ia malah membuat ku down. Menyebalkan.

Sesekali aku mendecak sebal karena teringat dengan Harry dan telepon singkatnya tadi dan aku begitu sial karena aku belum mendapat tumpangan untuk mengantarku ke rumah nenek sehingga memaksaku untuk berjalan kaki.

Di jalan aku bertemu beberapa tetangga, mereka masih mengenaliku dan bertanya tentang Harry. Astaga, apakah tidak bisa satu hari saja aku terbebas dari namanya dan segala tentang dia?

"Anna!" sambut pamanku ketika akhirnya aku berhasil sampai. Aku memeluknya erat. Rasanya sudah lama sekali. Terakhir kami bertemu kurang lebih tiga tahun lalu di penikahan tripleku bersama dengan Billie dan Dee.

"Di mana nenek?" tanyaku selepas acara temu kangen kami barusan.

Paman kemudian mengantarku. Sampai pada sebuah ruangan yang cukup besar dan berisi barang - barang tua. Kamar nenek.

"Ma?" panggilku. Kudengar ada sebuah suara bisikan tidak jelas.

Aku pun mendekati tempat tidurnya. Terlihat nenekku yang semakin kurus. Terlihat sangat tua juga. Tanpa sadar air mataku kini telah membanjiri pipiku.

"Jangan menangis sayangku," bisiknya lembut sambil mengelus kepalaku. Rasanya aku tak mau melepas pelukanku ini. Aku sangat sedih melihat kondisinya.

***

Seminggu tak terasa aku sudah berada di sini. Tak ingin pulang melihat kondisi nenekku yang terus menurun. Aku hanya dapat berdoa dan memberi sedikit bantuan biaya untuk pengobatannya. Tidak mungkin aku tinggal di sini. Karena dalam jangka seminggu One Direction akan memulai world tour mereka.

Pagi-pagi sekali di hari Senin aku bergegas pergi ke stasiun kereta untuk mendapatkan tiket pagi ini juga. Padahal aku merasa sudah berangkat sangat pagi, namun orang di Chesire ini sepertinya banyak sekali sehingga aku gagal mendapatkan tiket.

Pun aku pergi ke terminal bus untuk mencari satu tiket dengan keberangkatan pagi ini. Lagi-lagi aku sial, bus ke London hanya diberangkatkan sore hari. Aku harus menunggu beberapa jam lagi di sini.

Aku tiba di sini, di terminal yang akan memberangkatku segera ke London. tadi aku berjalan - jalan dan membeli suvenir untuk keluarga. Mereka pasti lelah karena sudah mengurus ayah dan Darcy.

Begitu nomor busku dipanggil untuk berangkat, aku naik dan membawa barang-barang bawaanku. Tak lupa meminta keselamatan pada Tuhan agar dapat kembali berkumpul dengan Darcy.

Harry's pov

Aku sedang bermain dengan Darcy di halaman. Anak-anak Mike dan Gemma juga ada di sini. Orang tua mereka sibuk berkemas. Untungnya aku sudah melakukan hal itu jauh hari. Kami akan segera kembali pada aktivitas masing - masing begitu Anna tiba.

Kemudian ponselku berbunyi. Mungkinkah Anna sudah tiba? Ia mengatakan ia pulang dengan bus karena kehabisan tiket kereta dan akan tiba malam ini. Tapi rasanya terlalu cepat. Sepintas aku melihat nomor peneleponnya. Ini bukan Anna? Aku mengernyit bingung, meski pada akhirnya aku tetap menerima panggilan tersebut.

"Halo?" sapaku pada penelepon ini. Awalnya aku tidak sama sekali curiga dengan panggilan ini.

"Kau yakin itu Annalyn Finn!? Kau tidak main-main kan? Jika terbukti kau melakukan penipuan akan kuadukan pada polisi!!" Aku geram pada seseorang yang ada di seberang telepon. Banyak yang melakukan panggilan penipuan karena aku seorang penyanyi. Kecelakaan ini pasti hanya rekayasa si penipu.

Aku pun menutup sepihak panggilan tersebut dan masuk ke dalam rumah untuk mencari air mineral agar dapat menenangkan diri.

"Harry! Lihat ini," panggil ayah dari ruang keluarga.

Dengan segera aku menghampirinya dan sebuahlin headline berita "Telah terjadi kecelakaan maut di daerah Lichfield, Anna Styles ada di dalamnya"

"Fuck!" aku menggeram kesal dan menekan kembali nomor yang tadi menghubungiku. Dengan segera aku mengemas barang - barang dan pergi membawa Darcy menuju Lichfield.

***

-Author's note-

cepet kan update nya?

hihi itu karena belakangan ini banyak yang vote

terimakasih dukungan kalian! :D

dan pengumuman ini mungkin agak telat

aku sedih karena peran Zayn disini nanti harus ditiadakan. mungkin diminimalisir dengan plot yang juga keluar dari One Direction :(

ga tega nulisnya kalo sekarang mereka cuma berempat :(

oke aku pamit. see ya soon!

Regards, RBF♡ 

 

[Updated April 9th 2015]

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com

Tags: