Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

13


Selama perjalanan Darcy terus meronta dan sangat rewel hingga pengasuhnya kebingungan untuk menenangkannya. Semalaman aku menyetir, semalaman pula tangisan Darcy menemaniku. Kami tiba dini hari di Lichfield. Banyak panggilan tak terjawab dari Gemma. Ini pasti menggemparkan. Aku pun menghubunginya.

"Gem?" panggilku pada nada sambung yang berubah menjadi suara orang menguap.

"Oh, Harry!" pekiknya.

"Ya, Gem. Aku ada di Lichfield. Anna tak sadarkan diri," jelasku pada Gemma.

"Apa!? Oh, bagaimana aku harus memberitahu ayah?" ucap Gemma parau di seberang telepon. Ia terisak.

"Tenanglah. Aku akan segera membawanya ke London. Kalian semua tunggu saja di rumah. Oke?" tanyaku dan berusaha menenangkannya.

Segera setelah panggilan kami berakhir aku memasuki ruang ICU di mana Anna tertidur, tidak sadarkan diri. Aku tak mau mengambil risiko untuk membawa serta Darcy, jadi aku pergi sendiri.

"Oh, baby," ucapku tidak kuasa menahan kesedihanku.

Begitu banyak luka serta lebam. Ia harus menggunakan selang oksigen sebagai alat bantu pernapasan, begitu membuat hatiku hancur melihatnya kesakitan.

"Aku tak akan pernah menyakitimu lagi, sayang," ucapku lagi, sembari mencium punggung tangannya.

Beberapa puluh menit aku berdiam diri di ruangan tersebut. Hanya menangis dan berdoa yang bisa kulakukan. Begitu pagi datang, seorang suster dan dokter membangunkan aku yang tertidur dalam posisi duduk di ruang tunggu ICU, kedua rekan medis tersebut datang untuk bicara dengan perwakilan keluarga Anna. Mereka bilang ia akan tak sadarkan diri dalam waktu yang lama karena benturan di kepalanya cukup keras atau bisa saja terus di antara hidup dan mati. Bukan main hancur hatiku, kalau keadaannya terus berlanjut maka aku meminta diberi kebijakan untuk memindahkan Anna ke London secepat mungkin. Namun, sang dokter harus memastikan keadaan Anna cukup stabil untuk dibawa dalam perjalanan jauh tersebut. Aku mengiyakan dengan pasrah.

***

Aku tidak bersama Anna saat ini. Aku tidak mau terus menerus bersedih saat karena berada di dekatnya. Jadi, aku mencoba menenangkan diriku. Toh, segera setelah kondisinya stabil kami dapat membawanya ke London.

"Tuan, maaf mengganggu tapi Darcy tidak mau makan apa-apa sejak kemarin," ucap Grace, perawat Darcy sambil menggendongnya yang meronta.

Aku membuka tanganku dengan maksud menyuruhnya meninggalkan Darcy padaku. Pun ia mengerti dan segera meninggalkan kami.

"Kau tahu, aku juga rindu ibumu," ucapku membelai rambutnya yang tidak keriting. Sangat tidak mirip denganku.

Anakku kembali menangis dan meronta, meminta turun dari gendongannya.

Kemudian ia kubiarkan duduk di atas kasur tetapi Darcy malah mencoba meraih nakas untuk sebuah telepon genggam yang kuletakan di sana. Ia memintaku membukakan kuncinya. Aku hanya tertawa melihat wajahnya yang memelas itu. Anakku sudah pandai memainkan acting rupanya.

Saat itu kulihat ada panggilan tak terjawab. Dari Gemma. Ini pasti telepon penting sehingga aku langsung mencoba balas menghubunginya. Ia pun segera menjawab.

"Ada apa?" tanyaku begitu panggilan kami tersambung.

"Kau tahu? Ayah pergi ke Lichfield naik pesawat. Kau harus menjemputnya di bandara. Oke?" jelasnya dengan cepat.

"Ha, apa??" tanyaku kembali karena tekejut.

"Kubilang, ayah naik pesawat ke Lichfield dan kau harus menjemputnya di bandara!" ulang Gemma dengan nada kesal.

"Maksudku, bagaimana bisa ayah pergi sendiri kesini?"

"Kau cerewet sekali, donut. Aku tidak tahu. Ia tiba-tiba menyeret koper dan pergi dengan taksi yang sudah menunggu di depan rumah. Kemudian saat kutanya akan pergi ke mana ia menunjukkan sebuah tiket pesawat dengan tujuan Lichfield. Dan oh, aku harus pergi sekarang anakku mencoba bermain sesuatu yang berbahaya. Tolong kabari aku nanti. Bye," ucapnya tanpa jeda kemudian memutus sambungannya secara sepihak.

Ayah pergi ke Lichfield sendirian dan Gemma bahkan tak berusaha menahannya? Kondisi ini sangat mengkhawatirkan sehingga membuatku langsung menggendong Darcy sementara menyuruh pengasuhnya untuk pergi ke rumah sakit di mana Anna dirawat. Siapa tahu ayah sudah sampai dan langsung menuju rumah sakit tersebut.

Begitu sampai di bandar udara setempat, aku mengecek penerbangan dari London. Kira - kira setengah jam lagi pesawat itu tiba jadi aku masih sempat untuk membeli makanan untuk kami.

Hingga lewat sejam dari jadwal yang diharuskan pesawat untuk tiba aku belum melihat sosok ayah. Tidak mungkin aku melewatkan sosoknya karena bandar udara ini tak begitu besar, lagi pula arrival gate-nya hanya satu.

"Permisi, apa yang terjadi dengan jadwal kedatangan pesawat dari London sejam yang lalu?" tanyaku akhirnya pada seorang petugas tiket salah satu maskapai yang ditumpangi ayah.

"Maaf sinyalnya berubah haluan. Kami masih berusaha menghubungi pesawat tersebut, tuan," jawabnya kemudian pergi meninggalkan aku yang masih bingung.

Apa maksud dari berubah haluan? Apakah itu sesuatu yang baik atau buruk? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ayah? Sebaiknya semua aman terkendali sehingga keadaan tidak bertambah sulit. Kuharap.

Tiga puluh menit lainnya berlalu dengan sangat lama.

"Adakah tuan Styles di sini?" tanya beberapa lelaki yang sepertinya petugas keamanan bandara.

"Ya, aku!" seruku sambil menghampiri mereka.

"Kau ikut kami," lalu mereka menarik tanganku sementara sebelahnya lagi menggendong Darcy yang telah tertidur.

"Ada apa?" tanyaku sepanjang perjalanan entah ke mana. Mungkin ia akan membawaku ke dalam pesawat untuk pergi? Aku tidak memiliki ide tentang apa yang mereka inginkan.

"Perampok itu. Mereka meminta kami agar kau bicara padanya secara langsung. Kami sudah terkontak dengan pesawat yang tadi haluannya berubah. Sepertinya pesawat tersebut dibajak," jelas salah satu dari petugas keamanan yang membawaku.

Aku tak dapat mengatakan apa pun saat ini. Apa yang diinginkan si pembajak itu dari u? Bahkan di situasi yang seperti ini? Astaga! Aku sudah menyerah dengan kehidupanku sendiri.

Segera setelah aku sampai di ruangan kendali di bandar udara mereka menyerahkan teleponnya padaku.

"This is Styles. What can i get you?" tanyaku to the point pada mereka.

"Styles, sekarang segera kau tinggalkan bandmu. Bawa Anna dan Darcy kembali ke London. Dan enyahlah. Jangan pernah kau berada di dekatnya, bahkan satu benua pun!" bentak seseorang dari seberang.

"Jake?" ucapku dengan dada berdebar. Sialan memang laki - laki ini. Otaknya memang licik tapi aku tak pernah menyangka ia akan melakukan hal yang bahkan dapat membahayakan nyawa orang tak bersalah.

"Unfortunatelly, i'm not Jake," jawabnya lalu tertawa terbahak - bahak.

Sialan siapa pun orang tersebut. Dan beraninya dia melakukan hal kurang ajar seperti ini!

"Cepat kau beri pernyataan pers hari ini sesegera mungkin live dari bandar udara di Lichfield yang menyatakan kau tidak akan bersama dengan One Direction. Tentu saja kau juga harus bilang pada manajermu bahwa kau sudah keluar dari band tersebut. Tinggalkan Darcy di orphanage terdekat dari bandar udara dan jangan pernah kembali," lanjutnya dengan sengit padaku

"Aku akan keluar dari One Direction jika itu maumu tapi aku tidak akan pernah menyerahkan Darcy pada siapa pun kecuali ibunya," jawabku berusaha untuk tenang.

"Kalau begitu akan kutembak hingga habis penumpang yang ada di dalam pesawat ini dan ..." ia menggantung kalimatnya untuk tertawa terbahak - bahak lagi.

"Dan apa, brengsek?" tanyaku hilang kesabaran. Sepertinya aku tahu apa yang mereka maksud. Mereka juga akan menembak ayah.

"Dan aku akan bermain - main sedikit dengan ayah Anna. Kau akan mendengarnya berteriak dengan lirih ketika semua penumpang habis ditembak." Ia menyelesaikan kalimatnya lalu memutus sambungan tersebut. Shit!

Kami semua berusaha kembali menghubungi kontak pesawat tersebut. Aku tak sempat berpikir. Yang penting ayah dan seluruh keluarga Finn selamat meski nantinya kami harus berpisah pun aku rela. Aku tidak mau lagi menambah kesedihan Anna jika ayahnya harus pergi dengan cara yang tragis dan mengenaskan selagi ia koma. Aku tak dapat membayangkannya ketika ia terbangun nanti dan menjerit pilu karena kehilangan orang tua satu - satunya yang tersisa.

Setelah kurang lebih tiga menit kontaknya tersambung dan aku segera berbicara memanggil bos dari pada sang pembajak untuk bernegosiasi.

"Baiklah. Aku menyerah. Aku akan mengadakan pers jam empat petang nanti," ucapku begitu aku berbicara dengan pemimpin mereka.

"Jam empat petang? Tidakkah kau memiliki otak? Itu masih 4 jam dari sekarang! Terlalu lama kami tidak bisa menerimanya," jawab sang pemimpin, tak lama terdengar suara letusan pistol dan jeritan orang banyak.

"Hey, tolong jangan tembak siapa pun yang ada di sana. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan pers online ke seluruh dunia. Oke?" aku memohon dan mencoba untuk memelas meski tak sudi aku melakukannya.

"Baiklah. Kau punya empat jam untuk mempersiapkan semuanya dan tentu saja memikirkan alasan yang tepat untuk keluar dari bandmu agar kau tidak dikecam oleh dunia. Good luck, Styles." Lalu kontak tersebut putus.

Aku pun langsung menghubungi manajer One Direction.

***

-Author's note-

halo! ini udah cepet belum update nya? hehe

semoga kalian masih bisa mengerti jalan ceritanya yang semakin ngawur. aku bener - bener kehabisan ide sama cerita ini.

sebaiknya cepet di tamatin atau biarkan alur ceritanya mengalir aja? tolong comment kalian ya ._.

dan maafkan kata - kata kasar yang aku gunakan. ini supaya cerita lebih kelihatan real aja(?)


Regards, RBF


[Updated April 21st 2015]

(Happy Kartini's Day, girls!)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com

Tags: