#21
Perjalanan selama hampir dua puluh empat jam itu akhirnya berakhir. Fika dan Nando berpisah di sudut bandara Incheon.
"Apartment lo di mana?" Sesungguhnya pertanyaan itu hanyalah sekedar basa-basi dari Fika.
"Deket subway. Mau main?"
Fika pun tertawa renyah sebelum membiarkan Nando pergi meninggalkannya. Ia tidak memiliki rencana untuk menemuinya lagi karena tidak ingin mengecewakan Kiki-tentu saja.
Fika masih berdiri di sana dan menyalakan ponselnya. Whatsapp nya pun penuh dengan pesan dari Sofyan yang sudah lama dikirim.
Papah: Kalau udah sampai kabarin Papah.
Papah: Raka (Contact)
Papah: Afi
Fika: Afi udah sampe. Itu Raka siapa? (pending)
Lain hal dengan Raka yang baru saja tiba di bandara. Ponselnya yang selalu di silent membuat Sofyan sulit menghubunginya. Ia mengecek ponselnya dan mendapatkan puluhan notifikasi whatsapp dari Papahnya.
Bokap: Afika (Contact)
Bokap: Udah sampai blm?
Bokap: Raka
Bokap: Hahh. Kebiasaan.
Raka: Iyaa ini udah sampe.
Raka menggaruk-garuk jidat kemudian jari jempolnya menyentuh layar untuk menghubungi kontak yang Sofyan kirimkan. Namun sebelum ia menyentuh ikon panggilan, napasnya terhenti, tubuhnya seperti membeku di tempat. Tangan kiri yang tadinya menggaruk jidat perlahan berhenti, merasakan kepalanya yang memanas. Raka memandang sekelilingnya dengan gugup, hampir seperti frustasi, berharap waktu segera berhenti supaya ia bisa melesat kembali ke Jakarta. Supaya ini tidak terjadi, supaya dirinya tidak harus dibuat gila seperti ini karena ternyata orang yang dicarinya sekarang adalah Afika. Afika Syifa yang begitu terukir terlalu dalam jauh di lubuk hatinya. Semua yang ada di sekelilingnya sekarang terlihat kabur karena begitu banyak manusia berlalu-lalang melintas di hadapannya. Saat napasnya menjadi terburu-buru, dengan susah payah ia menyambungkan panggilan ke nomor perempuan itu. Satu tangan diselipkan di celana jeans biru mudanya, tangan kanannya menempelkan ponsel di telinga. Sesungguhnya ia tidak berharap mendengar suara perempuan itu, hatinya masih sulit untuk menyanggupi kenyataan. Dan panggilan pun tidak tersambung. Ya, bodohnya. Afika pasti baru sampai dan belum sempat mengganti nomor ponsel sesuai area.
Afika merasakan perutnya bergemuruh lapar. Ia berjalan gontai menarik kopernya ke arah restoran cepat saji. Rasa laparnya tidak boleh dikalahkan oleh hal lain. Perempuan itu pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum mengurusi hal lain. Ia tidak ingin malu karena ditemukan pingsan di bandara.
"Mianhaeyo, ahjumma. Jeongmal, mianhaeyo." (Maafkan saya, bu. Sungguh, maafkan saya.) Kata Fika refleks saat kopernya menubruk seorang wanita yang sedang menggendong anak bayi. Wanita itu hanya meliriknya dan tidak mengatakan apa-apa. Baru saja sampai di negeri orang, sepertinya ia langsung mendapatkan panilaian pertama yang kurang baik. Fika membenarkan posisi kopernya dan menarik napas dalam-dalam. Ia kembali melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Tubuhnya sudah benar-benar lemas sekarang. Baru beberapa meter melangkah, tubuhnya yang sudah tidak berdaya itu akhirnya tertarik gravitasi bumi. Pandangannya menjadi buram sepenuhnya dan rasa mual yang dari tadi ia rasakan menghilang karena tubuhnya lebih memilih istirahat.
"Sumpah." Desis seorang lelaki yang rupanya tidak terlalu jelas seraya mencengkram lengan Fika dengan hati-hati. Sedangkan Fika hanya memandang wujud lelaki itu dengan pandangan buram, yang ia lihat hanyalah bayangan seorang lelaki yang menggunakan beannie berwarna abu-abu sedang ada tepat di hadapannya. Selanjutnya adalah hitam, ia kehilangan kesadaran.
--
Sepanjang perjalanan, Raka belum yakin apa yang akan terjadi lagi setelah ini. Perempuan dengan jaket warna merah jambu itu masih memejamkan mata di kursi penumpang bagian depan.
Raka yang masih belum sepenuhnya menerima kenyataan, menginjak pedal rem mendadak di samping trotoar.
"Gila!" Ia mengumpat keras sampai-sampai Afika terbangun dari alam bawah sadarnya. Perempuan itu mengerjap berkali-kali. Melihat jalanan yang ada di depan, kemudian pandangannya teralih ke dasbor mobil, lalu ke lelaki yang dibalut kemeja jeans. Wajah lelaki itu tidak terlihat karena sekarang ia sedang menjadikan stir mobil sebagai sandaran kepalanya. Tapi Afika tahu betul siapa yang ia lihat.
"Raka? Lo ngapain di sini?" Tanya Fika yang terlonjak kaget.
Yang dipanggil mendongak ke arah depan, tidak menoleh padanya. Kemudian Raka menancapkan gasnya kembali. Mereka diam seribu bahasa dan keadaan berubah menjadi canggung sebelum akhirnya Raka memutuskan untuk bicara.
"Gue gak tau cara bedain mana seneng dan mana kesel ketemu lo di sini."
"Gue juga sama sekali gak berharap ketemu lo." Kata Fika.
Raka tertawa sumbang. Ia juga tidak mengharapkan itu.
"Jadi kenapa gue bisa sama lo? Gue gak ngerti." Tanya perempuan itu.
"I'm gonna take you home."
"Gue bahkan belom hubungin bokap."
"We have the same dad."
"Hah?"
"Gue tau lo gak tuli."
Sejauh ini pendengaran Fika tidak pernah bermasalah. Tapi lima kata barusan terasa sangat sulit untuk didengar. Fika mulai bertanya-tanya, apakah ini mimpi buruk sesaat? Jantungnya berdegup lebih cepat dan entah kenapa bulir air menggenang di pelupuk matanya dan terjatuh begitu saja. Jadi, Wisnu yang selama ini ia nanti adalah orang yang sedang ia ingin lupakan?
Mulmed: Lel ft. Linzy - What My Heart Wants To Say
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com