#20
Afika duduk di pesawat dengan pikiran yang melayang jauh pada Kiki. Ia duduk di pojok sebelah kiri. Di sebelah kanannya adalah lelaki yang mendengkur cukup keras dengan wajah ditutupi masker. Fika sesekali menoleh setiap lelaki beraroma cokelat itu mendengkur. Waktu terus berjalan sampai orang itu napasnya berubah menjadi tidak teratur, berusaha membuka mata dan masker, mengucek mata berkali-kali. Kemudian pandangan lelaki itu teralih pada perempuan di sampingnya yang sedang memandang langit dari jendela. Ia pun tidak begitu peduli dan memejamkan matanya lagi. Tapi beberapa detik kemudian ia membuka matanya pelan memikirkan sesuatu. Tanpa pikir panjang, ia mencolek lengan perempuan itu.
Fika menoleh,
"Kenapa?"
Lelaki itu kini menaikkan kedua alisnya dengan mata yang berat. Ia hampir tidak percaya dengan siapa yang ada di hadapannya sekarang.
"Lo, Afika kan?"
Yang ditanya tidak menjawab, memerhatikan lelaki di hadapannya dengan baik-baik. Berusaha mengingat siapa orang tersebut. Yang ada dibenaknya, mereka tidak pernah bertemu. Tangan kiri laki-laki itu terselip di bawah sweater hitam yang ada di pangkuannya, dan tangan kanannya menjulur ke arah Fika.
"Gue Fernando. Nando."
"Eh?" Fika merasa canggung karena tidak tahu kalau lelaki tersebut adalah-
"Iya. Yang ngeline lo waktu itu." Ucap Nando mantap.
Senyum lebar mengembang di wajah Afika. "Ah! Jadi lo yang temennya Kiki itu?" Fika menjabat tangan lelaki itu.
Nando menangguk, kemudian ia melapisi kaos biru dongker yang sejak tadi ia pakai dengan sweater hitam miliknya. Ia mengeluarkan dua kemasan jus dari tas ransel dan mengocok keduanya. "Mau jus?"
"Enggak, gak usah, makasih hehe."
"Oke." Kemudian ia meletakkan satu kemasan itu kembali ke dalam tas. "Lo sendirian ke Seoul? Yakin gak takut ilang?"
Fika mengangguk pelan dan tersenyum masam. Ia mengingat saat Kiki mengatakan bahwa Nando menyukainya. Fika pikir, mungkin sekarang Nando tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Dan mungkin saja saat detik itu juga ia langsung memulai pendekatan. Ya, ia harus menjaga dirinya hati-hati agar tidak terjebak oleh lelaki itu. Tapi, mana mungkin bisa Fika berlagak atau memperlihatkan sikap yang tidak enak di depan orang yang baru ia temui? Jadi dia memutuskan untuk menanggapinya tidak serius.
"Biar gue tebak, lo baru pertama kali ke Korea ya?" Tanya Nando setelah menelan jusnya.
"Ya. Iya. Dan gue bakal dua minggu doang di sana."
Nando mengangguk pelan. "Musim dingin enaknya belanja sama kuliner. Lo bakal kenyang kalo jelajahin Myeongdong."
Fika mulai tertarik dengan pembicaraan ini karena Nando sedang memberikan sedikit demi sedikit informasi yang tidak boleh dilewatkan. Mata Fika berbinar antusias.
Lelaki di hadapannya menjentikkan jari, "N Seoul Tower. Pasti lo tau Love Lock yang ada di sana."
"Gembok cinta." Fika mengangguk mantap. "Ah, mitos romantis itu."
"Apa lagi ya? Banyak, sih."
"Kalo musikal yang tentang tiga orang koki itu, apa sih namanya? Gue lupa."
"Cooking Nanta?" Tanya Nando memastikan.
"Nah, iya itu. Gue suka liat akrobatiknya."
Lelaki itu melipat kedua tangannya di depan dada. "Terakhir kali gue nonton itu, tahun berapa ya? Gue juga lupa sih. Gue nonton sama Kiki di Hongdae."
Fika mengangguk. Tidak aneh mendengarnya karena Kiki memang punya keluarga juga di Korea.
"Lo udah temenan lama sama Kiki ya?"
"Iya, dari masih pake seragam putih merah." Jawab Nando. "Lo sendiri? Ceweknya kan?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Nando itu membawa Fika mengingat kembali kejadian di bandara tadi. Kejadian di mana Kiki dan dirinya melakukan hal yang entah akan terulang kembali atau bahkan menjadi hal terakhir kali. Fika tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan. Karena Fika pada dasarnya tidak pernah memberikan keputusan pasti. Tapi mungkin bisa dikatakan dirinya telah jatuh cinta pada Kiki-pada akhirnya. Dan pada akhirnya ia merelakan nama Raka menjadi urutan kedua di hatinya setelah Kiki. Entah, nama itu belum bisa seutuhnya terhapus.
Melihat ekspresi penuh keraguan dari wajah Fika, sebenarnya Nando tahu apa yang terjadi. Tidak, Nando bukannya tahu, tapi dia memiliki tebakkan sendiri. Tebakkan di kepalanya mengatakan bahwa Kiki tidak menyatakan perasaannya pada Fika karena sahabatnya itu tahu apa yang ia jalani bukanlah hal yang serius. Perasaan sedikit lega menghampiri dada Nando. Peluang besar ada di hadapannya. Ia mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar Fika tidak usah memikirkan hal itu terlalu larut.
"For your information, penginapan gue di Gangnam. Lo juga ya?" Tanya Nando.
"Iya. Kok tau?"
"Temen-temen gue yang udah pernah ke Seoul soalnya rata-rata nginep di Gangnam."
"Mm-hm. Katanya Kiki mau ke tempat om nya juga di Gangnam. Tapi gak tau deh jadi apa enggak."
Nando mengerutkan alisnya. "Kok dia gak ngabarin gue kalo mau ke rumah om nya? Biasanya ngabarin."
"Molla!" Jawab Fika asal dan dilanjutkan ringisan oleh Nando.
Mulmed: The Paper Kites - Revelator Eyes
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com