Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

#19

Setelah Sofyan membuka kenop pintu apartment, Raka masuk ke dalam ruangan dan menarik kopernya. Ruangan itu begitu megah, rak kayu yang berisi bermacam buku bisnis milik Sofyan terlihat dari tiap ujung ruangan. Siapapun pasti bisa merasakan aroma manis beeswax di sana. Raka merebahkan tubuh di kasur dengan masih memakai kaos kaki.

"Jangan tidur dulu dong Ka, belom makan." Di luar kamar, Sofyan mulai meletakkan simpanan makanan ringan yang telah ia beli tadi di mini market.

"Iya," Raka membuka lockscreen ponselnya. Ia memandang langit-langit berharap ada petunjuk kiblat seperti apartment biasanya di Jakarta.

"Pah, ini kiblatnya kemana ya?"

"Ke jendela."

Raka mengusap wajahnya sebentar, kemudian ia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat ashar. Setelah itu ia menyusul Sofyan yang duduk di kursi meja makan. Raka mengambil apel yang belum dikupas dan langsung menggigitnya. Ia duduk mengamati Papahnya yang juga duduk sambil memainkan ponsel.

"Lagu siapa, Pah?" Tanya Raka yang daritadi mendengarkan lagu dari ponsel Papahnya.

"Kodaline. Kenapa? Enak ya?" Sofyan melirik Raka sambil memebesarkan volume ponselnya yang diletakkan di atas meja makan.

"Mayan."

"Talk judulnya."

Lelaki yang masih dibalut jaket hijau tua itu menaikkan kedua alisnya. "Alhamdulillah, ya. Akhirnya selama dua minggu ke depan Raka terbebaskan dari ocehan Mamah yang membahana."

"Bersyukur macam apa itu." Sofyan menatap anaknya ingin tertawa. "Besok Afika kan nyampe, kamu jemput ya di bandara. Soalnya Papah ada urusan dulu sama Tuan Park, sebentar doang kok."

"Besok banget ya, Pah?"

"Iya, besok."

Raka menarik napas dan dengan tegar iya berkata, "Oke." Karena yang ia harapkan adalah esok hari dimana ia akan beristirahat seharian karena masih butuh tidur yang kondusif. Tapi Raka bukanlah tipe anak laki-laki yang lebih memilih menolak permintaan Papahnya.

--

"Fik, bener ya, kalo makan jangan yang macem-macem di sana." Kiki memandangi jalanan di depan dan Fika secara bergantian.

"Iyaa,"

"Jangan main di luar mulu, entar flu. Kalo di sana ada jahe anget mah gak apa-apa."

"Iya Kiki," Fika menepuk-nepuk bahu Kiki yang sedang menyetir mobil menuju bandara.

"Jangan iya iya doang."

"Cuma dua minggu doang, Pak satpamku."

"Tetep aja itu setengah bulan."

Fika tertawa melihat Kiki yang sangat memerhatikannya.

Sebelum jam keberangkatan, mereka menghabisi waktu dengan makan siang.

"Kok gak di makan, Ki?" Tanya Fika yang dari tadi hanya melihat Kiki memainkan sendoknya.

"Fik, gue belom ngasih tau ya?"

"Ngasih tau apa?"

"Kayaknya gue nyusul deh, tapi minggu depan."

"Serius?!" Fika menahan diri untuk tidak teriak saking senangnya.

"Iya, serius. Kan om gue tinggal di sana. Terus, dia kemaren lusa dengan tiba-tiba nelfon gue. Dia bilang, pengen ngajakkin gue ke pameran lukisan dia. Ya, you know, i have a little bit confession on art."

Mulut Fika terbuka sedikit dan mengangguk.

"Di Gangnam juga loh," Lanjutnya.

Tidak ada ekspresi semangat dari wajah Kiki. Membuat Fika masih bingung.

"Tapi kenapa lo gak keliatan excited sama sekali? Serius ya, dari kemaren kita ketemu lo kayak...beda? Cerita, Ki. Kalo ada masalah jangan dipendem sendiri."

Dan setelah percakapan itu, tidak ada percakapan lagi di antara mereka sebelum jam keberangkatan Fika akhirnya tiba.

Kiki memeluk Fika dengan amat sangat erat seperti belum bisa merelakan perempuan itu pergi jauh. Entah kesedihan macam apa yang sekarang ia rasakan. Ia pun merasa terlalu berlebihan.

"Nyusul beneran ya, Ki." Fika menangkup wajah Kiki yang sekarang ada di depan wajahnya.

Pandangan lesu masih tersirat di wajah Kiki. Ia menghela napasnya berat. Fika bisa melihat kecemasan yang begitu banyak di diri Kiki sekarang.

Rasa takut menggerogoti hati Fika. Rasa takut untuk meninggalkan lelaki itu pergi. Walaupun hanya sebentar, tapi mungkin mereka akan merasakan waktu yang sangat lama. Pasti keduanya akan menunggu satu minggu berakhir dengan cepat. Mungkin di kala salah satu dari mereka sedang meminum espresso sendirian di kafe, di isi kepalanya hanyalah menghitung setiap detik agar lekas berlalu sampai mereka bertemu lagi.

Mulmed: Kodaline - Talk

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com