Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

#18

Mulmed: Nando

Kedua insan yang mencoba untuk membangun cinta yang utuh itu berjalan berdampingan menuju tempat makan favorit mereka dengan saling menggenggam tangan.

"Fik, kalo di sini kaya begini mah diliatin orang ya." Kata Kiki yang masih menggenggam tangan Fika. Perempuan itu hanya menjawabnya dengan tawa pelan. "Makannya ayo ikut ke korsel."

"Beli permen kali."

"Ya udah kapan-kapan ya?"

"Doain aja yaa." Kiki mengelus kepala Fika yang kini mengangguk dan tersenyum riang padanya.

Saat mereka sudah duduk lesehan di restoran yang tidak terlalu jauh dari rumah Fika itu, mereka langsung memesan makanan.

"Teh jahe anget sama ayam dada rica-ricanya mbak, dua."

Pelayan tersebut mengulang pesanan mereka dan berlalu.

Kiki menopang kepalanya dengan satu tangan, "Jadi dirimu akan meninggalkanku selama dua minggu nih?" tanyanya dengan bahasa formal yang terdengar lucu.

"He'em. Fika mau ketemu oppa-oppa, dong."

"Najong." Sekarang Kiki memainkan jemari Fika di atas meja.

Fika meringis saat lelaki itu memencet jari kelingkingnya, "Sakit, oon."

"Bodo."

"Mau oleh-oleh apaaa,"

Kiki yang memakai kaos polo merah itu terlihat sedikit murung tapi ia tutupi.

"Oleh-olehnya Fika pulang dengan selamat aja."

Mendengar itu, Fika gemas dengan lelaki di hadapannya dan mengelus punggung tangan Kiki. "Iyaaa Kiki sayangku,"

"Cintaku," Lanjut Kiki.

"Negriku,"

"Belahan jiwaku," Kata mereka bergantian.

"Fik, jangan sampe ada yang gangguin lo ya. Kalo ada,"

"Kalo ada kenapa? Emang dirimu berani berantem?"

Kiki mengerucutkan bibirnya. Entah kenapa dia begitu imut di hadapan Fika. "Berani lah,"

"Kalo Kiki luka yang sakit Fika juga tau."

Sebenarnya yang dimaksud Kiki adalah Fernando. Jangan sampai sahabat karibnya itu berhasil mengambil hati Fika. Kiki tidak bisa membayangkan hal yang lebih buruk lagi. Masih tidak percaya bagaimana ia pernah melakukan hal bodoh dan menjadikan perempuan kesayangannya sebagai taruhan kecil. Intinya sekarang Kiki ditakdirkan untuk mencintai Fika.

"Oh iya, Ki. Kemaren ada orang nge add friend gue, terus dia nitip salam ke lo."

"Siapa?"

"Bentar. Gue lupa." Fika merogoh ponsel di dalam tas hitam kecil selempangnya. Kemudian ia membuka obrolan line tersebut dan memberikan ponselnya pada Kiki. "Tuh,"

Rahang Kiki mengeras setelah melihat nama yang ada di layar ponsel Fika. Ia mengambil alih ponsel itu dan langsung menyentuh tulisan block, lalu ia menghapus ruang obrolan.

"Kok di block?"

"He likes you."

Kalimat itu sudah cukup jelas dan Fika mengerti bahwa maksud Kiki adalah ia tidak mau jika ada oranglain mendekati dirinya lebih dari seorang teman.

"I love you, Ki." Fika meremas tangan Kiki pelan meyakinkan lelaki itu bahwa ia bisa menjaga kepercayaannya. Bahwa mereka akan saling bahu membahu menjalani semuanya dengan segala gejolak dan rintangan yang ada.

Kiki menoleh ke arah Fika dengan lemah, "Too." Ia meraih kedua tangan Fika dan mengecupnya berkali-kali. "A lot."

--

Sofyan dan Raka dua hari lebih dulu tiba. Sesampainya di Incheon, mereka memesan taksi menuju penginapan di Gangnam-Gu, Seoul, Korea Selatan.

Raka menutup pintu mobil setelah ia duduk di kursi penumpang bagian belakang sebelah kanan.

"Pah, emang namanya siapa sih si anak Papah yang itu?"

Sofyan melirik Raka dari kaca spion. "Afika namanya. Makannya nanti kalian kenalan lah. Dari dulu harusnya,"

"Afika?" Tanya Raka dengan intonasi bingung. "Kayak nama kekasih tak sampai gue," Gumam Raka pelan.

"Kayak nama siapa?" Sofyan menoleh.

"Hah? Enggak," Raka menutupi kepala dengan kupluk jaket berwarna hijau tua miliknya dan memindai pandangan ke luar jendela.

Baru saja sampai di negri orang, nama Afika muncul lagi di kepalanya. Sampai sekarang Raka masih kurang paham kenapa batin mereka terasa begitu dekat walaupun jarak memisahkan.

"Afika," Gumamnya tanpa suara. "Main yuk,"

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com