#43 WAIT
"Mau kemana lo?" jantung Fika hampir copot melihat sosok Raka yang berdiri mematung di depan pintu apartment.
"Mau jalan,"
"Ya gue juga tau. Sama siapa?"
Entah hal apa yang membuat Fika sulit mengatakan bahwa hari ini ia akan menemui Kiki di Namsan Hill. Perempuan itu mengatupkan bibirnya rapat sambil menimbang-nimbang jawaban. Tangan kanannya menarik kenop pintu sampai tertutup dengan pelan. "Mau cari angin aja, sih."
"Aneh, dah."
"Aneh kenapa?"
"Kok angin dicari? Kenapa lo gak pernah nyariin gue?"
"Yeh, orgil. Udah ah, gue jalan ye."
Fika baru menggerakkan kaki dua langkah saat Raka menyentuh lengannya, tangan kiri laki-laki itu menggenggam gelas kertas berisi susu coklat panas. "Sendiri?"
"Ya –iya, sendiri."
"Lo gak mau minta gue buat temenin?"
Kalimat yang keluar dari mulut Raka terdengar sama sekali bukan lelucon. Sorot mata laki-laki itu memandang lurus ke mata Fika, membuat perempuan yang dipandang bersusah payah menelan ludah di tenggorokkan.
"Lah, woy. Gue tanya malah bisu. Kenapa, sih?"
Kedua alis Fika terangkat setelah ia sadar dari banyak pemikiran di otaknya. "Enggak, gue sendiri aja. Gak selamanya kan harus sama lo terus?"
Sekarang giliran Raka yang harus bersusah payah mendapatkan oksigen sebelum menghela napas se-pelan mungkin agar perempuan di hadapannya tidak perlu mendengar betapa berat perasaan yang tiba-tiba mengganjal setelah mendengar kalimat yang dilontarkan. "Ya udah, hati-hati. Jangan nangis di pinggir jalan. Kalo ada apa-apa, telfon gue. Kalo gak nelfon, mending gak usah pergi kemana-mana lagi."
Alih-alih menanggapi kalimat barusan dan lekas pergi, Fika mematung dan memerhatikan Raka yang sudah membalikkan punggung hendak membuka pintu. Namun laki-laki itu berbalik badan lagi dan senyum tipis terukir di wajahnya sebelum mengatakan, "Oh iya,"
Fika masih bergeming, menunggu kelanjutan kalimat yang akan diberikan laki-laki itu.
"Do'ain gue, ya."
"Do'ain apa?" tanya Fika pelan, hampir terdengar seperti bisikkan.
Senyum tipis itu kini mengembang dan lebih terlihat sumringah, "Do'ain aja."
--
Nando menggenggam stir pengemudi dengan erat hingga buku jarinya memutih. Sebelumnya ia tidak pernah mengira bahwa hari ini dapat membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Bukan karena gugup, melainkan takut. Ia takut kalau hal-hal yang seharusnya tidak terjadi harus menjadi tanggung jawabnya mulai hari ini. Seiring deru napas yang tidak teratur, Nando melirik bucket bunga tulip yang ia letakkan di kursi penumpang tepat di sebelahnya. Tanpa surat yang seharusnya ia berikan untuk Fika, karena Nando memutuskan untuk mencari waktu yang tepat untuk memberikan surat tersebut. Entah kapan, intinya setelah keadaan lebih mendukung sehingga tidak terjadi kerumitan yang datang dalam kurun waktu dekat.
--
Langkah kaki perempuan dengan rambut diikat kuda itu semakin cepat. Mulutnya sedikit terbuka untuk mendapatkan oksigen lebih banyak. Udara dingin membuat bibir Afika Syifa sedikit memucat seiring ia melirik arloji yang sudah menunjukkan pukul setenganh lima sore.
For the god sake, Kiki where the hell are you?
Fika sudah sampai di Namsan Hill sejak pukul tiga sore. Kemudian setelah tidak menemukan sosok Kiki, ia memutuskan untuk membeli beberapa makanan ringan di luar. Dan sesampainya kembali lagi di tempat semula, orang yang ditunggu tak kunjung datang.
Oke, kenapa gue gak coba masuk? Mungkin dia malah udah nungguin di dalem dari tadi.
Setelah menimbang-nimbang, Fika melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobby. Namun dalam beberapa detik, ia mengerutkan dahinya. Bingung.
Kiki kan gak tinggal di hotel, kenapa dia ngajak ketemuan di sini?
Setelah beragumentasi dengan diri sendiri, perempuan itu mengurungkan niatnya barusan dan tetap berdiri di depan hotel. Entah benar atau salah keputusan yang ia ambil, toh, Kiki tidak akan pernah punya niat untuk mengecewakannya.
Udara di luar sangatlah dingin sekarang, dan Fika butuh seseorang untuk diajak bicara. Ia hanya merasa linglung dan pusing melihat banyak orang yang berlalu lalang, sedangkan ia hanya diam di tempat tanpa melakukan apa-apa.
Empat puluh lima menit waktu terlewatkan.
Jemari Fika bergemetar, kedua matanya mulai berair, dadanya berkecamuk dengan amarah ataupun sedih yang ia rasakan. Atau bisa-bisanya kah Kiki lupa soal hari ini? Apakah laki-laki itu sedang tertidur di ranjang dengan selimut tebal hingga lupa bahwa Fika menunggu di sini selama lebih dari dua jam?
*Drrt Drrtt*
Perempuan itu memejamkan kedua matanya dengan tarikan napas yang dalam sebelum menarik ponsel dari saku celana dan mendekatkan ponsel itu di telinga.
"Fik, di mana?"
Ingin sekali rasanya Fika menertawai diri sendiri karena ia baru saja mengira kalau Kiki pada akhirnya berusaha menghubungi.
"Fika." suara Nando terdengar terburu-buru.
"Kenapa?"
"Gue nanya."
"Ya kenapa dulu?"
Nando yang duduk di sofa lobby beranjak dari duduknya. Sudah hampir dua !jam ia menunggu di sini tanpa melihat sosok Fika. "Suara lo kok serak seperti kodok?" Sebenarnya pertanyaan barusan lebih menjurus untuk menghibur dirinya sendiri yang masih merasa takut. Tapi sekaligus benar, karena suara Fika tidak seperti yang biasa ia dengar.
"Hehe," di ujung sana Fika tertawa getir. Ia bukan hanya sekedar letih untuk hari ini. Rasanya seperti menelan semua rasa pahit ke dalam mulut secara paksa sambil meringis. "Bentar, ya."
"Mau ngapain?" tanya Nando dengan penuh tanda tanya di atas kepala. Sebenarnya di mana perempuan itu? Bahkan Nando sempat mencari keluar gedung sekitar empat puluh lima menit yang lalu, tapi ia sama sekali tidak menemukan Fika. Apakah perempuan itu sudah mengetahui semua dan memutuskan untuk tidak datang?
"Mau makan. Gue belom makan siang."
"Di?"
"Ya di apartment aja, ngapain di luar."
"Tunggu, tunggu. Sekarang lo di mana dulu?"
Menyerah untuk memperumit persoalan kecil, akhirnya Fika mengatakan seadanya, "Depan Namsan Hill."
--
Nando memerhatikan perempuan yang sudah duduk di sebelahnya dengan baik-baik.
"Gak usah liat-liat gitu, aneh muka lo." ujar Fika sinis.
"Pake seatbelt."
"Enggak usah, emang polisinya bakal merhatiin juga?"
"Bandel banget si. Kalo jidat lo makin mancung setelah kejedot dashboard gimana?"
"Gak apa-apa, kan daya tarik gue jadi semakin memikat."
"Ya udah sih, pake aja dulu."
"Susah, Nando." ungkap Fika yang pada akhirnya jujur karena ia selalu kesulitan tiap kali memasang seatbelt.
"E buset dah, kampungannya kelewatan ya mbak?"
"Biarin, yang penting jujur."
"Hih." Nando terkekeh, tubuhnya mencondong untuk menarik seatbelt yang ada di sebelah Fika sampai-sampai perempuan itu merasakan bulu kuduknya merinding ketika jarak wajah mereka berdua hanya berjarak sejengkal sehingga ia dapat merasakan hembusan napas laki-laki itu.
"Tuh, selesai. Gitu doang."
"Iya, bawel."
"Lo perhatiin gak tadi pas gue pakein?"
"Hm,"
"Kecuali kalo mau gue pakein terus."
Kedua insan itu bergeming saat mobil telah melaju ke arah yang belum mereka ketahui. Bunga tulip yang laki-laki itu bawa dengan mudahnya tertinggal di meja lobby. Tapi Nando memiliki alasan untuk tidak mempermasalahkan bunga tersebut. Lagi pula, ia yakin ini masih terlalu cepat untuk membuat Fika sadar dengan sendirinya akan sesuatu yang tentu saja menyakitkan.
Sorry, Ki.
Kedua kalinya Nando merasa bersalah pada Kiki.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com