Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

#44 EXPLANATION

"Mau permen?" tanya Nando sambil menoleh ke perempuan di sebelahnya yang dari tadi terdiam saja. Sekarang mereka berdiri di depan stand makanan-makanan manis.

Fika menggeleng.

"Coklat mau?"

"Boleh,"

"Mana duitnya?" ujar Nando menyeringai.

"Ya udah gak jadi."

"Uluh, uluh. Ambekkan." Pandangan Nando beralih ke coklat yang ingin dibeli tanpa memandang si penjual. "Mbak, saya mau beli yang ini deh."

"..."

Kedua mata laki-laki itu masih memandang coklat yang ada dibalik kaca. Ia mengerutkan dahi saat tidak mendapat respon apapun sebelum pandangannya menangkap si penjual yang sama menatapnya dengan satu tanda tanya di atas kepala.

"Eh-" Nando mengusap wajahnya pelan. Bodoh, kangen kampung halaman. "Sago sip-eo." ujarnya malu.

"Ye, gimana si lu."

"Fika jangan bawel ya, tolong. Gue lagi pengen nyium orang, nih."

"Mau dong dicium." respon Fika yang tentu saja hanya bercanda.

"Rela emang?"

Tangan Fika pun terulur untuk menjitak kepala laki-laki yang berdiri di sampingnya.

"Is, kasar banget. Kalo gue bales jangan nangis, ya."

"Gak takut." Perempuan yang rambutnya sekarang sudah digerai itu menjulurkan lidah, mengejek Nando, dengan coklat yang sudah ada di kedua tangannya.

"Oh, nantangin?"

"Nantangin mah obat masuk angin,"

"Yeh, receh lo." ujar Nando sambil mendekat, kedua tangannya hendak melingkar di perut Fika.

"Heh, jangan pedo ya."

Lalu dalam hitungan ke satu,

Dua,

Tiga,

"AAAAKK! NANDO STOP! NANDO!!! GAK LUCU, GUE GAK KUAT -NAN -SUMPAH"

Teriakkan itu diiringi dengan gelak tawa Nando dengan tangannya sibuk menggelitikki perut perempuan yang ada di dalam -pelukannya.

"NANDO, UDAH. CAPEK."

"Gak mau. Bilang ampun dulu."

"Nando! Gak lucu ih!" umpat Fika yang merasa perutnya geli sekaligus nyeri akibat kelakuan Nando. Sampai-sampai perempuan itu tidak menyadari betapa dekatnya jarak di antara mereka sekarang dengan posisi Nando yang merangkulnya dari belakang.

"Ya udah kalo gak mau ampun,"

"Iya, iya. Astaga, ampun!"

Kehangatan yang baru saja merambat di tubuh Fika perlahan menghilang seiring Nando menghentikan kejahilan tersebut. "Nantangin, sih." ujar laki-laki itu saat Fika membalikkan tubuh menghadapnya.

"Gak seru, main fisik." Angin malam membuat rambut Fika terkibas dan sedikit berantakan sehingga perempuan itu dengan susah payah menggerak-gerakkan kepala agar tiap rambut halusnya itu tidak menutupi wajah. Kedua tangannya sibuk membuka bungkus coklat.

"Rambut tuh dikuncir. Jangan digituin, berantakkan kayak kunti."

"Bukain," Fika mengangsurkan coklat yang belum berhasil terbuka.

"Hah, manja." Tanpa sadar, Nando tersenyum saat bungkus coklat yang ada di tangannya berhasil tersobek. Ia tidak habis pikir harus berhadapan dengan perempuan seperti Fika di negri orang seperti ini. Bertemu saja sudah menjadi hal yang ada di luar dugaan, tapi bahkan sekarang ia harus berurusan dalam permasalahan genting dengan perempuuan itu. "Nih. Lama, ah." ujarnya saat Fika masih sibuk dengan urusan menguncir rambut. Entah kenapa sekarang pandangan Fika terlihat lesu seperti saat pertama kali perempuan itu menghempaskan dirinya di kursi mobil tadi sore.

"Gue capek. Pulang, yuk." ucap Fika seraya mengambil coklatnya lagi tanpa gairah.

Alih-alih menuruti kemauan Fika layaknya seorang lelaki yang pengertian, Nando menggeleng cepat sampai rambutnya berantakan. Bahkan mimik wajah laki-laki itu dibuat-buat sehingga Fika tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum melihat Nando yang kekanak-kanakkan.

"Gue masih mau beli es krim, Fika,"

--

Keduanya berjalan menuju mobil, bukan untuk langsung pulang, tapi memulai perbincangan baru dan bersandar di depan mobil sedan abu-abu itu.

"Katanya pengen beli es krim, malah nyari yang pink pink." ujar Fika sambil melirik cotton candy yang akan segera dihabiskan Nando.

"Mau?"

"Gak."

Nando menjadikan kedua tangannya sebagai penyangga saat ia bersandar di depan mobil dengan tangan kanan yang masih memegang gelas plastik starbucks bersisa beberapa es batu yang sudah mencair.

"Kok lo rapi banget, abis dari mana?" tanya Fika yang baru menyadari laki-laki di sebelahnya memakai kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka.

"Abis pelantikkan gubernur."

"Gue bakal jadi mahasiswi yang demo paling depan kalau sampai itu terjadi, Do."

"Lo juga rapi banget, abis dari mana?" Pertanyaan yang dilontarkan Nando tentu saja sudah ia ketahui sendiri jawabannya. Tapi kalau dilihat-lihat, penampilan mereka berdua kurang match dengan Nando yang memakai kemeja formal dan Fika hanya berbalut coat. Menjadikan ada perasaan lega yang terselubung dalam hati Nando. Kalau saja Nando menggantikan posisi Kiki dan menjelaskan sesuatu itu pada perempuan di hadapannya, pasti akan terlihat lucu karena penampilan mereka yang agak bertubrukkan. Mungkin bisa dikatakan Nando yang salah kostum, terlalu rapi.

Yang ditanya menunduk, menggerak-gerakkan kaki kanan di aspal. "Kiki kemana sih," ucap perempuan itu sangat pelan, terdengar seperti bisikkan. Menghadirkan suasana yang pilu dengan hanya mendengar suaranya yang seperti bertanya kepada apapun.

Dan dengan hanya mendengar kalimat barusan, mampu membuat Nando salah tingkah. Ia tidak mengharapkan Fika menanyakan soal itu -setidaknya jangan sekarang.

"You do know something, kan?" Fika menoleh dengan senyumnya yang samar.

"Knowing what?" Sekarang Nando yang menghentak-hentakkan satu kakinya di aspal dengan pelan, canggung, tidak berani menatap wajah perempuan di sebelahnya lebih lama lagi.

"Do i live my life with the liars?"

"I can't even lying," jawab Nando berbohong.

"Tapi gue gampang dibohongin, ya?"

"Omongan lo kenapa ngawur gini?" Intonasi Nando sedikit lebih tinggi. Egoiskah ini disebutnya? Saat ia mengetahui kalau ada hal yang belum tersampaikan pada Fika. Tapi ini memang bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan apa yang ada. Nando tidak ingin menambah kerumitan sebelum kerumitan yang satu berhasil terselesaikan.

"Kapan lo mau kasih tau gue?" tanya Fika serak. Membuat Nando lagi-lagi tersentak. Perempuan itu seolah-olah dapat membaca pikiran oranglain. "Kiki di mana, sih? Kasih tau gue, Do."

"Ayo, pulang." Nando beranjak dari posisinya dan berdiri tegap, tangan kiri merogoh saku celana untuk mengambil kunci mobil.

"Oke, kalo lo lebih milih mengalihkan topik ini, berarti sekarang gue udah tau jawabannya. Gue bisa pulang sendiri." ucap Fika yang juga sudah berdiri sambil menarik napas dalam dalam sebelum menghebuskannya dengan keras.

"You don't know it yet, Fik. Just shut the hell up."

Senyum masam hadir di wajah Fika, air mata berhasil menggenang dan membuat pandangannya buram. Rasa kecewa yang tidak pernah ia harapkan pada Nando nyatanya hadir secepat itu. "Bener, kan? Gue hidup sama pembohong seperti kalian berdua. Tapi sayangnya, pembohong yang ada di depan gue lebih buruk dari kata bodoh."

Nando bisa merasakan darahnya naik ke atas kepala, membuat suhu tubuhnya seketika panas. Ia memejamkan kedua matanya sebelum menatap Fika jauh lebih lekat dari yang pernah ia lakukan. "Tapi lo tau apa hal paling bodoh yang pernah gue lakuin?"

Hening. Tidak ada minat sedikitpun bagi Fika untuk menjawab pertanyaan laki-laki tersebut.

"Hal terbodoh yang gue lakuin adalah gue selalu gagal bikin lo seneng. Gue gagal bikin lo ngelupain hal-hal yang jadi beban di kepala lo. Gue gagal bikin pemikiran lo yang penuh jadi ringan. Bahkan sekarang rasanya gue kayak kemakan sama usaha gue sendiri, Fik. Tapi lo gak akan ngerti sama apa yang ada di isi kepala gue. Sedangkan gue tau betul apa yang lagi lo rasain." Nando menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimatnya yang terdengar begitu rumit karena ia jauh lebih bingung untuk mengutarakan semuanya. To the point dalam hal ini akan begitu menyiksa hati Fika nantinya. "It's not a thing that easily to explain -for me. Tapi-" Lagi-lagi Nando sekuat tenaga mengumpulkan oksigen agar setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak terdengar sia-sia. "Gue mohon banget, jangan pernah anggap suatu hal itu jadi harapan terakhir yang lo punya."

"I don't get it," Fika menggeleng pelan, belum bisa mencerna perkataan Nando dengan baik.

Langkah kaki Nando mendekat, menghapus jarak di antara mereka berdua. Ingin sekali pada detik itu juga dirinya menggenggam tangan Fika. Namun keinginan itu ia urungkan sebelum sebuah kalimat berhasil meluncur keluar dari bibirnya. "He left. Tapi dia punya alesan, Fik. Lo gak bisa menangin ego sendiri dengan nyalahin kenapa dia pergi."

"Ngomong apaan, sih?"

"Gue tau lo masih punya kuping, dan ini kesempatan gue buat ngejelasin." kemudian Nando melanjutkan kalimatnya, ia tahu betul perempuan yang ada di hadapannya kini masih sangat bingung. "He left us with a reason. Dia sakit. Dan dia gak mau jadi beban buat lo. Klise? Tapi emang gitu adanya. Mungkin gue juga akan ngelakuin hal yang sama kalo ada di posisi kayak gitu." Bukankah ini terlalu cepat untuk mengatakan semuanya? Melihat Fika yang masih bingung karena rasanya waktu begitu melesat, Nando menangkup kepala perempuan itu sebelum membiarkan Fika tenggelam di dalam pelukannya dan menyadari hal yang baru ia sampaikan secara seksama. Kemudian Nando bisa mendengar kesedihan yang memecahkan tangis Afika Syifa. Perempuan itu belum sepenuhnya mampu menerima hal yang begitu cepat dan menyakitkan.

Bahkan semuanya jauh lebih terdengar seperti lelucon.

Fika sama sekali tidak mengerti, dan tidak ingin mengerti.

Dan bahkan, yang Fika inginkan saat ini juga adalah pelukan Kiki Prasetya yang dengan mudah mampu menghapus rasa sedih yang pernah menghampiri hati Fika.

Yang Fika inginkan sekarang ini adalah tatapan mata itu, yang mengisyaratkan betapa dirinya mencintai Fika.

Dan malam ini lebih terasa seperti mimpi buruk yang diabadikan oleh penyihir jahat.

"Ini pasti mimpi," gumam Fika di sela tangisnya. Dari tempatnya bersandar, ia mampu merasakan napas Nando yang juga tidak beraturan, merasakan kesedihan yang sama.

"He loves you way too much. Keep it in mind." bisik Nando.

a/n: akhirnya bisa update!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com