#56
Suara ketukan dari luar rumah akhirnya berhasil menarik perhatian Fika dari lamunannya. Pasti mamahnya sedang tidur, mengingat di luar sedang gerimis. Tommy juga belum pulang kerja, dan pembantu rumah tangganya juga sudah pulang setelah selesai menjemur pakaian. Bel diluar sudah berkali-kali berdering.
"Iyaaa, tunggu," ujar Fika berusaha mengeraskan suaranya agar terdengar sampai luar. Kedua kakinya melangkah cepat dan ia sempat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Setelah membuka kunci pintu rumah, Fika membuka payung warna ungu miliknya dan berjalan melalui garasi rumah untuk membuka pagar.
Kedua alis Fika bertautan setelah mengetahui bahwa Raka sudah berdiri dengan jaket yang hampir kuyup.
"Lama banget, sih. Dingin, tau." Ucap Raka sambil memeluk diri sendiri. Sesekali ia mengintip ke dalam rumah, berharap Fika mengajaknya masuk dan menawarkan pakaian ganti.
"Lo ngapain ke sini?"
Ah, ternyata Fika tidak peka ya. "Gue gak disuruh masuk dulu? Gue keujanan banget loh ini."
"Bukannya gitu—"
"—lama. Ikut gue dulu deh." Sergah Raka, menarik lengan Fika dengan tiba-tiba. Membuat perempuan itu menahan diri. "Mau kemana sih?"
"Ayo, nurut dulu kenapa?"
"I-iya tapi itu pintu rumah belum gue kunci."
"Ya udah sana kunci dulu, jangan lama."
Fika nampak berpikir sejenak, "Sama mau ganti ba—"
"Gak usah, gak?"
Hanya decakkan yang keluar dari bibir Fika sebelum ia akhirnya menuruti semua pintah Raka.
--
"Kita mau kemana ini?" tanya Fika yang sekarang sudah duduk di samping Raka. Hanya dengan kaos berwarna pink dan celana jeans biru tua.
"Diem ah. Gak tau apa gue dingin, diajak ngomong mulu."
Dahi Fika berkerut, apa pengaruhnya sebuah obrolan pada orang yang kedinginan? Maksud Fika, Raka kan kedinginan karena kehujanan, bukan kedinginan dan tertusuk duri saat mendaki gunung. Raka berlebihan.
"Lo kenapa sih nyamper gue mulu? Gue gak enak sama Bunga. Lo kayaknya gak pernah jalan sama dia."
Karena kedingingan, tiba-tiba saja Raka memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia membuka jaketnya yang basah, beruntung kaos di dalamnya tidak ikut basah walaupun lembab sedikit. Setelah melempar jaket tersebut ke jok belakang, Raka mengusap kedua lengannya dengan cepat. Dingin. Raka tidak suka kedinginan.
"Kan yang lagi butuh gue sekarang lo, bukan Bunga."
Fika menganggap aneh Raka. Ia tidak merasa sedang membutuhkan saudara laki-lakinya itu.
"Fik,"
"Apa?"
"Gue boleh numpang download fifa di hp lo gak?"
"Apaan?"
"Numpang download ih, tuli." Cerca Raka pada perempuan di sampingnya.
"Kenapa gak di hp lo sendiri aja?"
"Kalo bisa juga gue udah download dari kemarin. Sini mana hp lo, bentar doang elah, jangan pelit."
"Bela-belain banget ya sampe ujan-ujanan?" Fika merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel dan membiarkan Raka mengambil alih benda itu.
"Udah tidur aja dulu, entar kalo udah selesai gue bangunin. Abis ini temenin gue nonton."
"Iya, terserah." Ujar Fika ogah-ogahan sebelum menghadapkan tubuhnya ke arah jendela, memunggungi Raka, dan benar-benar tidur.
Dan di saat kesendirian Raka dalam berkutat pada ponsel Fika, di saat itulah Raka merasa usahanya hampir sia-sia. Ia tidak mendapatkan kontak Nando, dan juga semua aplikasi yang Fika punya terkunci.
Damn it, batin Raka.
--
Mobil Raka melaju dengan mulus dan berhenti di basement. Ia memerhatikan Fika sebelum memutuskan untuk membangunkannya.
Tangan kirinya menggoyang-goyang bahu Fika dari belakang. "Udah nyampe, nih."
"Gue ngantuk,"
"Masa mau tidur di sini si?"
"Ngantuk ah."
"Gue seret keluar ya."
"Bodo amat gue mau tidur."
"Ya udah hp nya gak gue balikkin."
Fika membuka matanya samar-samar dan menoleh ke belakang. Memandang Raka dengan lemas sebelum akhirnya menghela napas berat.
Raka memasang ekspresi wajah penuh permohonan. "Gue pengin banget nonton nih, pengin lihat Raline Shah. Ngertiin gue apa."
"Ha?"
"Please...."
"Gue gak bawa duit tau gak?"
"Siapa juga yang nyuruh lo bayar sendiri?"
"Oh, dibayarin?"
"Iye!"
"Gue mau keluar kalau dibayarin makan juga."
"Iye!"
"Ya udah."
--
Perjalanan waktu tidak pernah kita sadari. Karena, kita sebagai manusia hanya menjalani itu tanpa peduli. Terkadang, takdir membuat manusia merasakan semuanya sangatlah tidak nyata. Seperti pada detik-detik itu. Di mana Fika dan Raka memasuki pintu belakang Mall, melewati toko-toko di dalamnya, menghirup oksigen di dalam gedung besar itu, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan. Langkah mereka seolah menuntun diri mereka sendiri, di luar sepengetahuan keduanya. Tanpa rencana bertemu takdir dan tanpa perasaan yang aneh ataupun mengganjal.
Pintu XXI terbuka dengan adanya satpam yang berdiri di sana. Membiarkan kedua insan itu masuk dengan langkah yang ringan. Raka memesan dua tiket, dan mereka mendapat di teater tiga. Sebelum itu, Fika merengek minta beli popcorn manis.
"Kan nanti makan nasi? Tahan aja dulu."
"Ah, pelit banget, sih. Cowok gak modal."
"Enak aja." Ujar Raka tidak terima dan langsung memberikan selembar uang seratus ribu rupiah pada Fika. "Beliin buat gue juga sana. Gue mau nyari tempat duduk."
"Hm," Fika manggut-manggut sambil tersenyum.
Segalanya, detik demi detik semakin terlihat nyata untuk Fika. Di saat ia sedang tersenyum kecil karena tingkah laku Raka barusan, di saat itulah kedua matanya menangkap sosok yang akhir-akhir ini cukup ia rindukan. Karena, sosok itu adalah seseorang yang selama ini ia butuhkan semenjak hilangannya Kiki di hidupnya. Terutama, karena orang itu adalah satu-satunya manusia yang baru Fika sadari hampir kesempurnaannya. Pandangan laki-laki itu menjelajar ke seantero ruangan, dengan meja dan alat kasir di hadapannya. Berbalut dengan kemeja putih, dan juga pemandangan popcorn di belakangnya.
Fika mengerjap berkali-kali, sampai pandangan mereka bertemu. Sampai pada akhirnya, dunia terasa berhenti setelah Fika dapat dengan jelas membaca nametag di baju laki-laki itu.
FERNANDO ABRAHAM
Begitu juga yang dirasakan oleh laki-laki yang sejak tadi sibuk dengan berbagai pengunjung. Kini, matanya tertuju pada sepasang mata perempuan yang sudah lama ia sukai. Dan juga akhir-akhir ini ia baru sadari, betapa perempuan itu berhasil membuatnya jatuh cinta untuk kali pertama. Setelah seminggu sudah ia sampai di Indonesia, hanya satu hal yang telah menjadi harapan sekaligus mengganggu pikirannya; Afika Syifa. Ia sempat berpikir bahwa untuk bertemu Afika Syifa lagi adalah suatu hal yang sangat mustahil. Kemungkinan yang sangat kecil untuk bertemu lagi dengannya, mengingat ponsel Nando yang rusak akibat tercelup air di bathup. Dan sekarang, Nando tidak akan pernah menyasali keputusannya untuk magang sebagai 'mas-mas popcorn bioskop'.
Tanpa berpikir panjang lagi, Nando bergerak dari tempatnya berdiri, berjalan melalui etalase putih yang menghalanginya. Dari kejauhan, Nando bisa melihat bibir Fika tergagap memanggil namanya.
"Nan—nando,"
Suatu dorongan aneh dari Nando membuat dirinya tanpa ragu memeluk Fika. Memeluk perempuan itu di depan umum, tanpa peduli dengan kepentingan pekerjaannya. Tanpa peduli dengan semua mata yang memandang ke arah mereka berdua. Sayup-sayup, Nando bisa mendengar suara Fika yang begitu pelan. "Nando,"
Iya, ini gue.
Nando melepaskan pelukan itu. Energi di dalam dirinya terasa jauh berbeda dari terakhir kali ia berhadapan dengan Fika.
Tatapan Nando seakan menusuk jauh ke dalam iris mata Fika. Hal itu kembali meyakinkan bahwa, sedang ada Kiki di dalam diri Nando sekarang.
"Bahkan lo gak ngabarin pas mau berangkat pulang." ujar Nando lirih.
"Seenggaknya gue kabarin pas udah sampai. Tapi lo gak ada kabar."
Laki-laki itu mengangguk, "Iya. Hp gue rusak."
"Kenapa kita bisa ketemu di sini, ya, Do?"
Sebuah senyum tipis terukir di wajah Nando. "Gue sekarang kuliah fakultas teknik di UI. Rumah gue di Rawamangun, jadi gue ngekos di sini. Magang deh, iseng."
"Gitu, ya. Gak kerasa ya?"
Nando mengangguk ragu, memerhatikan wajah Fika dengan teliti. Ada yang salah, kemurungan itu datang kembali. "Kenapa?"
"Enggak, kalau Kiki masih--"
"--Fik. Udah, ya? Sekarang kamu beli popcorn."
Kalimat Nando berhasil membuat Fika mendongak. "Apa?"
"Kamu, beli popcorn sekarang. Aku, nanti keburu ketahuan atasan kalau berdiri di sini terus."
"Hah?" Tanda tanya masih bermunculan di kepala Fika. Apaan sih, Nando?
"Ah, kok jadi lemot gini sih?" Nah, barusan adalah Raka di dalam diri Nando. "Sekarang, aku gak mau kasar sama kamu. Jadi gini aja ngomongnya." Nando merengkuh punggung Fika dan mendorong perempuan itu ke depan etalase, kemudian ia pun mengitari etalase itu sendiri agar bisa melayani Fika sebagai pengunjung. "Iya, mba, popcorn nya boleh."
Masih dengan memandang aneh, Fika menjawab. "Gue mau dua ukuran medium. Yang manis."
"Emang kesini sama siapa, mba?" tanya Nando. Tangan kanannya dengan cekatan menuliskan sesuatu di kertas kecil.
"Sama Raka."
"Oke, tunggu sebentar ya, mba." Setelah itu, Nando memberikan dua cup popcorn manis pada Fika. "Ini, mba, nomor hp saya. Kalau-kalau bingung mau ngucapin goodnight ke siapa." ujar Nando ringan, memberikan lipatan kertas kecil di selipan jemarinya.
nah, maaf ya kalo banyak kesalahan kata atau typo. pemborosan kata mungkin banyak banget nihwkkw, abis keburu buru karna cerita ini udah mau berakhir. nanti paling ada revisi:)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com