Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

#57 END

"Do,"

Angin malam dapat dirasakan oleh keduanya, baik Fika ataupun Nando yang sedang duduk berhadapan di pelataran kafe.

"Hm?" suara berat Nando akhirnya terdengar juga. Karena sejak tadi, laki-laki itu hanya berdiam diri, seolah ragu untuk mengutarakan sesuatu.

"Kenapa kita di sini?" tanya Fika.

"Lo udah solat?" Nando malah balik bertanya, mengalihkan pembicaraan. Tapi pertanyaan seperti itu adalah sisi Nando yang seperti Raka.

Mengingat pertemuan mereka yang tidak sengaja beberapa hari yang lalu, Raka pun mengetahui hal tersebut setelah Fika akhirnya memutuskan untuk bercerita. Sejatinya, Raka selalu tahu dan menginginkan yang terbaik untuk Fika. Maka pada hari itu, Raka langsung menjalankan niatnya tanpa aba-aba. Pada hari itu, dengan semangat empat lima, Raka menuntut sesuatu pada Nando agar bagaimanapun caranya bisa mengembalikan kebahagiaan Fika.

Dan sekaranglah, pada malam ini, dengan penuh ambisi sekaligus canggung, Nando harus jantan mengatakan semuanya.

"Do?" ulang Fika lagi, karena tak kunjung mendapat respon.

"I-iya. Sabar, dong." Beberapa kerutan muncul di dahi Nando selagi ia merasakan detak jantungnya yang menjadi-jadi dan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Kebiasaan laki-laki itu tiap kali nervous.

"Sabar apanya?"

Nando seribu persen yakin bahwa rambutnya itu steril dari kutu ataupun kuman lainnya. Tapi malam ini ia menggaruk kepala terus-terusan. Rasanya ia ingin meloncat-loncat jika tidak punya urat malu.

"Ehem." Semburat merah hadir di kedua pipi Nando.

Fika mampu melihat itu. Tapi ia masih butuh beberapa waktu untuk mengartikan apa yang ia lihat.

"Gu-gue-"

"Apa?"

"Mau bawa lo ke Aussie."

"Hah?"

"Iya, ma-maksud gue-"

"Maksud lo apa?"

"Maksud gue nanti kalau lo udah lulus."

"Gue gak ngerti."

Nando menarik napas sedalam mungkin. Seharusnya hal ini dikatakan nanti saja. Salah kaprah jadinya. "Gini. Maksud gue, nanti kalau lo udah lulus. Masih lama, jadi gak usah kaget."

"Kenapa gue harus mau?"

"Karena lo harus mau. Karena-"

Kedua alis Fika bertautan, ia memiringkan kepala, menunggu kelanjutan Nando.

"Karena nanti kita harus nikah, gue mau kita tinggal di sana."

"Waras gak sih lo, Do?"

Nando mengangguk mantap. "Gue ngomong gini atas kesadaran gue sendiri, kok. Bokap gue ngasih proyek di sana dan kehidupan kita akan terjamin. Masa depan gue bisa dibilang baik, dan gue gak mau lo lihat siapa-siapa lagi."

"Do, tapi-"

"Jangan bilang enggak atau lo sakit lagi. Bohongin diri sendiri terus,"

Fika tidak tahu yang ia rasakan sekarang apa. Kepergian Kiki rasanya baru kemarin dan ia tidak ingin menjadi orang jahat.

Namun orang yang sedang ada di hadapannya adalah satu-satunya orang yang kali pertama membuat Fika merasa lengkap. Ketidakadilan semesta yang ia rasakan atas kepergian Kiki maupun sirnanya rasa cinta pada Raka, jawabannya ada di Nando. Segala bahagia yang Fika inginkan ada pada diri Nando. Dan sekarang pun, laki-laki itu seperti membuka pintu seluas-luasnya hanya untuk Fika seorang.

Apakah Fika begitu serakah untuk tidak mensyukuri itu?

Tapi bukankah seharusnya Fika juga perlu waktu?

Cup

Satu kecupan mendarat di pipi kanan Fika. Sekujur tubuhnya membeku saat itu juga.

Balutan jaket kulit yang Nando kenakan, membuat laki-laki itu nampak lebih maskulin. Rambutnya juga dibiarkan sedikit berantakkan, menampilkan sosok yang semakin membuat dada Fika bergemuruh. Harum pula.

Nando kembali duduk dengan tenang. Pandangannya menusuk begitu jauh dan dalam ke manik mata Fika. Saat itu, Fika kembali mengingat bagaimana Raka melakukan hal yang sama sebelumnya. Tatapan itulah yang berhasil memenangkan hati Fika.

"Itu nanti, Fik. Gak usah tegang."

Satu katapun sirna dari benak Fika. Bagaimana tidak? Nando baru saja mengecup pipinya tanpa izin. Dan sekarang Fika tidak ingin tahu apakah rona merah di pipinya muncul atau tidak. Kalau iya, Fika ingin menangis. Menangis karena berarti ia memiliki perasaan lebih pada Nando. Menangis karena ia mencintai tiga lelaki berturut-turut. Ini keterlaluan.

Bibir Fika bergerak hendak menanyakan hal barusan, "Why did you-"

"I'm the hella human you always need to be with." sela Nando dan ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Menangkup kedua tangan Fika dalam kehangatan suhu tubuhnya. Menggenggamnya dengan erat dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Tapi gue gak mau lagi. Gue gak mau untuk kesekian kali, percaya sama orang yang bakal pergi ninggalin gue. Sendiri."

Nando menggeleng pelan. "Gue gak minta lo percaya. Waktu yang bakal jadi bukti seberapa jauh gue berjuang, dan seberapa besar fondasi yang kita bangun. Gak, gue gak minta lo percaya."

Fika menunduk, air matanya menetes dalam hening. Ia jatuh cinta lagi, ini keterlaluan, dan membuatnya benci diri sendiri.

"I'm that two souls in a body. Jadi jangan salahin diri sendiri." Nando begitu peka untuk tahu apa yang Fika rasakan. Tangannya terjulur untuk menggapai wajah Fika dan menghapus air mata itu dengan lembut. "Make me the last one you can ever take, please."

Fika terkekeh dalam tangisnya. "But I won't get married on seventeen."

"Bukan, tadinya gue pikir lebih baik kuliah di sana. Tapi gak ada paksaan, serius."

Kedua tangan Fika menghapus air matanya sendiri dan setelah itu ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ajakan pernikahan dari Nando di masa depan adalah hal yang pernah dilakukan oleh Kiki. Ini benar-benar, two souls in a body.

"Selesaiin dulu kuliahnya. Paling enggak, gue ngembangin proyek dulu sambil kuliah juga. Nanti gue transfer nilai, lanjutin jurusan arsitektur di sana. Biar nanti kita punya investasi ke depannya."

Iya, pokoknya Nando akan menjadi pria yang sematang mungkin dan ingin membahagiakan Fika lahir maupun batin. Pikirannya mungkin terlalu jauh, tapi itu hal yang benar.

Fika mengangguk. Nando tersenyum. Dengan wajah yang masih ditutup kedua tangan, Fika bicara, "Gue mau kuliah di Aussie."

Kedua mata Nando berbinar, rasanya ia ingin menangis terharu. Tapi ia terlalu jantan untuk itu. Sakit perut menghampiri. Bukan karena lapar, tapi karena itu adalah kebiasaannya tiap kali senang ataupun canggung.

"Save me," ujar Fika lirih tanpa sadar. "You're my two souls in a body."

Bahkan, sampai kapanpun juga, Nando akan menerima bahwa Fika menganggap dirinya adalah Raka dan Kiki dalam satu tubuh. Asalkan Fika bahagia. Dan Nando sendiripun jauh lebih bahagia jika bisa hidup berdampingan dengan Fika.

"But now, you are my Nando." ujar Fika lagi setelah membiarkan wajahnya terlihat. Hidungnya merah seperti tomat.

Fika tidak sadar kalau kalimatnya barusan telah membuat Nando menjadi orang paling bahagia di dunia. Laki-laki itu tersenyum lebar seperti bocah yang akan dibelikan es krim. Sulit dideskripsikan, Nando malah tertawa pelan pada dirinya sendiri. Kemudian setelah itu, ia kembali terdiam, memandang kosong meja di hadapannya, dan kembali menatap Fika dengan lekat. "I'm so in love right now."

Menanggapinya, Fika tersenyum, tersipu.

"Jangan senyum."

"Wae?" tanya Fika dengan bahasa Korea itu.

"I can't help to not kiss." Nando menimbang-nimbang sebentar. Lalu bangkit untuk mengecup pipi kiri Fika yang belum ia beri noda. Ia kembali duduk dan memerhatikan rona merah di kedua pipi perempuan itu. "Cuma bakal pipi kok sebelum kita nikah. Gue berharap ada apartment khusus perempuan di Aussie biar bisa nempatin lo di sana. Hehehe."

Malam itu, mereka tertawa setelah sedih. Jiwa mereka bertemu setelah mengenal. Hidup mereka menyatu dan akan terus begitu. Mengisi, berbagi, dan saling menghidupkan.

Sangat benar adanya bahwa cinta perlu waktu. Terkadang proses itu membawa kita untuk merasakan sakit berkali-kali terlebih dahulu. Yang dijalani Fika itu proses cinta namanya.

Sekarang, ditakdirkanlah kehidupan bahagia untuk Fika dan Nando. Mereka akan menjalani manis, pahit, getirnya hidup dengan selalu bersama. Mereka telah dinobatkan menjadi kedua insan yang membuat iri setiap orang. Pasangan yang hanya akan dipisahkan oleh ajal dari Tuhan.
Begitulah, akhir bahagia Afika Syifa.

Bersama Fernando Abraham.

Alhamdulillah, akhirnya ada jugaaa cerita gue yang udah selesaiiiiiiii. Maaf jikalau akhir ceritanya basi, membosankan, klise, atau gak sesuai keinginan kalian. But this is what I want to be the end. Makasih banyak banget untuk siapapun yang udah baca cerita abal ini sampai akhir. I'm so in love right now wkwkwk. Sampai jumpa di cerita-cerita yang lain 😘😘😘😘😘

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com