Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter II

Setelah berhasil memenangkan medali emas, hampir semua orang yang ada di pinggir kolam renang memandang Doyoung dengan takjub. Siapa yang menyangka bahwa ini adalah kali ketiga ia memenangkan kejuaraan yang sama tanpa jeda.

Hampir seluruh warga Korea mengenal Doyoung dari prestasi yang terus ia gapai, dimulai sejak usia sembilan tahun, menjadi satu-satunya peserta dari kelompok umur paling rendah yang berhasil mengalahkan para seniornya.

Sesi latihan yang seharusnya dimulai sejak tadi terpaksa harus diundur karena sang pelatih malah sibuk membanggakan anak didiknya yang justru berdiri tidak nyaman di depan atlet lain.

Sumber traumanya muncul di apartemennya tadi malam dan Doyoung tahu bahwa itu bukan pertanda baik, memandang air biru yang cukup tenang di bawahnya saja sudah mampu membuatnya mual, berlama-lama ada di sana bisa membuatnya muntah kapan saja.

"Sesi latihan bisa kita mulai sekarang."

Ragu-ragu Doyoung berjalan ke arah pelatih yang berdiri di pinggir kolam, ia tahu ini bukan tindak profesional tapi Doyoung tidak mau terlihat lemah di depan banyak orang.

"Coach, saya izin gak ikut latihan ya."

"Kenapa?"

Kenapa... tidak mungkin Doyoung mengatakan hal yang sesungguhnya. Dan kemana Asahi sekarang? Manajernya itu malah tidak menampakkan diri sama sekali setelah kemenangannya tempo hari.

"Saya kurang enak badan."

Jawaban Doyoung tidak sepenuhnya bohong, dan laki-laki itu hampir berteriak saat pelatihnya mengangguk, pertanda setuju dengan permintaannya.

Dengan cepat Doyoung keluar dari sana, berjalan lurus ke arah loker yang menyimpan semua barang-barangnya, ia berniat pulang ke rumah peninggalan Ibunya hari ini juga.

"Doyoung di mana?"

"Kak Asa yang di mana? Aku gak latihan hari ini."

"Kenapa?"

"Semalem aku ketemu dia."

Asahi terdiam di ujung panggilan, sedangkan Doyoung masih sibuk mengemasi barangnya yang ternyata cukup banyak.

"Terus sekarang gimana?" Tanya Asahi lagi.

"Aku mau tinggal di rumah mama."

"Kamu gila?"

"Yang gila dia! Bukan aku." Protes Doyoung tidak terima, karena seingatnya psikiaternya yang sangat tampan waktu itu sudah menyatakan kalau Doyoung sudah sembuh sepenuhnya dari semua penyakit mental yang dulu sempat diidapnya.

Doyoung memutus panggilan secara sepihak, ia membawa tas besarnya keluar dari gedung olahraga ke arah mobil yang ia parkir di basemen. Siapa yang peduli dengan izin Asahi, manajer bodohnya itu malah menghilang saat ia membutuhkannya.

Hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumah peninggalan Ibunya, rumah yang sering disebut sebagai tempat tinggal hantu ini sebenarnya tidak seburuk itu. Doyoung rutin membayar orang untuk membersihkan rumah tiap dua minggu sekali, dan ia juga sering berkunjung jika malas pulang ke apartemen yang ada di pusat kota.

Gerbang besar otomatis terbuka begitu Doyoung menekan tombol di ponselnya, dedaunan kering yang berasal dari pohon besar di sekitarnya seketika berterbangan ke berbagai arah saat sedan Doyoung melintas di atasnya.

Doyoung masih sibuk merapikan beberapa pakaian yang ia bawa, sampai tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Jantungnya berdegup cepat karena di luar matahari hampir terbenam dan ia lupa mengunci gerbang rumahnya tadi, jika orang jahat datang, Doyoung tidak memiliki kesempatan untuk mencari bantuan.

"Kim Doyoung!"

Untungnya itu suara Asahi, Doyoung bergegas turun dan berlari ke pintu depan. Ia sangat-sangat ingin memukul wajah manajernya sekarang juga, tapi dirinya justru menarik laki-laki itu untuk masuk ke dalam pelukan.

"Kamu gapapa?" Tanya Asahi heran, karena biasanya Doyoung sangat tidak menyukai kontak fisik dengan orang lain.

"Aku kira yang dateng penjahat."

"Nah, tuh kamu tau kalo banyak orang yang berpotensi buat jahatin, tapi kenapa malah mau tinggal di sini sih? Harusnya kamu tetep tinggal di apart, at least di sana masih ada satpam yang jaga dua puluh empat jam."

"Semalem dia masuk ke apartemen aku, kak." Dapat Asahi dengar suara Doyoung yang sedikit bergetar, manajer yang sudah lebih dari lima tahun menemaninya itu hanya berdecak kesal sebelum menggiring tubuhnya masuk ke dalam rumah.

"Terus gimana? kamu gak mungkin tinggal di sini sendirian, dan soal trauma, kita coba obatin lagi aja." Tawar Asahi, sebenarnya Doyoung tidak perlu latihan rutin karena setelah ini ia memang tidak diwajibkan untuk mengikuti kejuaraan yang lain, umurnya hampir mencapai batas usia atlet renang kebanyakan.

"Siapa dokter yang nanganin kamu waktu itu? So... So Jung..."

"So Junghwan." Doyoung tertawa saat menyebut nama Dokter yang dulu sempat menanganinya.

"Kenapa?"

"Kakak lupa apa, dulu aku pernah jelek-jelekin dia depan media."

"Ah, gara-gara kamu liat dia ciuman sama ceweknya depan apartemen itu kan?"

Keduanya tertawa, sungguh kejadian konyol yang tanpa Doyoung sadari malah membuat bisnis Junghwan hancur pelan-pelan.

"Aku ada ide." Ucap Doyoung kemudian, yang menjadi awal dari keputusannya untuk membawa Junghwan ikut tinggal di rumah Ibunya, menjadi dokter sekaligus orang yang akan menjaganya dari kemungkinan buruk yang bisa datang kapan saja.


***


"Lo jadi tinggal di rumah pasien baru lo itu?"

Bukannya menjawab, Junghwan justru melempar pajangan yang tadinya ada di atas meja tepat ke arah Jaehyuk, tapi sayang lemparannya berhasil ditangkap oleh mantan asistennya.

"Kenapa, sih?"

"Gara-gara lo anjing."

"Gue gak ngapa-ngapain?"

Jaehyuk benar, ia tidak melakukan kesalahan apapun, emosi Junghwan sepenuhnya berasal dari orang yang kini ia jadikan tumpuan.

Kim Doyoung berani membayar ratusan juta won jika Junghwan mampu menyembuhkannya seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu, dan uang itu lebih dari cukup bagi Junghwan untuk membeli gedung klinik baru.

Junghwan sedikit menyesal karena ia memutuskan untuk menjadi dokter, jika ia berprofesi sebagai atlet mungkin uangnya akan sebanyak yang Doyoung punya.

"Besok bakal ada orang yang dateng buat keluarin barang-barang di sini dan gue minta mereka buat anter itu ke rumah lo." Ucap Junghwan, ia lalu berdiri sambil membawa kardus berisi perlengkapan kerjanya.

"Kenapa ke rumah gue?" Protes Jaehyuk lagi.

"Ya masa ke rumah gue? Bisa disuruh nikah buru-buru sama nyokap kalo ketauan bisnis gue berantakan gini. Gue titip bentar, nanti kalo duit udah cair baru gue ambil lagi."

So Junghwan masih beruntung karena ia memiliki sepupu sebaik Jaehyuk yang siap menerima segala kebodohannya, karena kalau tidak ada Jaehyuk di sampingnya, sudah dipastikan bisnisnya hancur sejak bertahun-tahun lalu.

Jaehyuk pula yang mengenalkan Junghwan pada Doyoung waktu itu, melalui Asahi karena ia dan manajer Doyoung itu memang teman sejak masa kuliah.

"Terus sekarang lo mau balik ke rumah Doyoung?"

Junghwan mengangguk, ia sudah mengambil pakaiannya sebelum ke klinik tadi dan kini ia siap kembali ke istana menyeramkan yang ada di tengah hutan.

Matahari hampir terbenam, Junghwan menyempatkan diri untuk membeli makanan di perjalanan menuju tempat tinggal barunya, tadinya ia ingin makan di tempat sendirian, tapi mengingat bahwa kemungkinan besar bos barunya belum makan apapun sejak siang tadi membuatnya mengurungkan niat dan memilih untuk membawanya pulang.

Junghwan terlalu baik, jelas. Ia tidak akan menjadi psikiater jika kepribadiannya seburuk Doyoung.

"Kamu mau titip sesuatu?" Tanya Junghwan dengan ponsel di telinga.

Doyoung diam sebentar sebelum menjawab kalimatnya, "Nggak deh."

"Makan malam?"

"Aku gak laper."

"Tapi kamu belum makan apa-apa?"

"Dokter tau dari mana?"

"Seingat saya pas lewat dapur, saya gak nemuin makanan apapun di sana."

"Perhatian banget, kamu naksir aku ya?"

Junghwan menghela napas, sepertinya narsistik yang Doyoung idap dulu kembali naik ke permukaan.

"Jadi kamu mau makan atau enggak?"

"Mau."

"Makan apa?"

"Makan kamu."

Habis sudah kesabaran Junghwan, ia memutus panggilan dan membeli apapun yang ia inginkan, terserah Doyoung akan menyukainya atau tidak nanti itu bukan urusannya.


***

Junghwan mengirim pesan singkat agar Doyoung membuka gerbang rumahnya, ucapan Jaehyuk yang berkata bahwa rumah ini bagaikan rumah hantu ternyata salah, rumah yang terlihat seperti istana ini lebih mirip disebut penjara.

Gerbang yang hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki akses, pintu tinggi menjulang yang kelihatan sulit didobrak, dan balkon besar yang terhubung langsung dengan kamar utama tapi malah dibatasi oleh teralis tebal di depannya. Junghwan mendadak teringat dengan menara salah satu karakter animasi; besar, semua barang tersedia, tapi tidak layak untuk disebut rumah tinggal.

Entah kenapa tiap sudutnya terlihat suram, seperti tidak ada kebahagiaan yang pernah tercipta di dalamnya.

Dengan susah payah Junghwan mendorong dua koper di tangan, dan jangan lupakan plastik yang berisi makanan. Ia tidak mungkin meminta Doyoung turun untuk memberikannya bantuan, mari anggap ini sebagai aktivitas pengganti olahraga.

Setelah membawa semua barang-barangnya masuk ke dalam kamar, Junghwan kembali ke dapur yang ada di lantai satu, membereskan makanan yang ia beli lalu menghubungi Doyoung lewat ponselnya.

Namun nihil, ia tidak mendapat jawaban.

Mulai terasa janggal karena saat ia meminta Doyoung untuk membuka gerbang tadi, laki-laki itu juga tidak menanggapi kalimatnya sama sekali, selain membuka gerbang lewat ponsel yang dapat diakses oleh dirinya sendiri.

Dengan ragu ia berjalan menuju kamar utama, berdiri di depannya lalu mengatur napas sebelum mengetuk pintu.

"Doyoung." Panggil Junghwan.

"Kim Doyoung, ayo makan." Ucapnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras.

Junghwan berdecak, tangan kanannya bergerak ke arah kenop, namun belum sempat ia memutarnya, pintu itu terlebih dulu dibuka dari dalam dan langsung menampakkan wajah pemilik rumah yang terlihat sangat tidak baik-baik saja.

Bibir pucat, keringat yang nampak di seluruh bagian wajahnya, tubuhnya bahkan hampir jatuh kalau saja Junghwan tidak menahannya dengan sebelah tangan.

"Kamu gapapa?" Tanya Junghwan, dengan nada panik.

Sedangkan Doyoung malah tertawa, "Keliatannya gimana, Dokter Junghwan?"

Ia hendak menuntun Doyoung untuk kembali masuk ke dalam kamar, namun pemiliknya buru-buru mencegah, "Aku gapapa, ayo makan." Ucapnya kemudian.

Pintu yang ada di hadapan Junghwan kembali tertutup dan Doyoung justru menuntunnya untuk berjalan ke arah tangga dengan langkah terhuyung. Sekuat tenaga Junghwan menahan diri untuk tidak membantunya, namun pertahanannya runtuh karena saat menuruni tangga, tubuh Doyoung berulang kali oleng dan Junghwan tidak mau pasiennya mati begitu saja.

Ia belum mendapat bayaran untuk memperbaiki bisnisnya yang berantakan.

"Ini karena kamu belum makan." Ucap Junghwan begitu merasakan keringat dingin terus keluar dari tubuh yang lebih kecil, dan lagi-lagi Doyoung hanya tertawa pelan.

Mereka akhirnya sampai ke meja makan besar yang ada di dekat dapur, Junghwan sibuk menyiapkan peralatan sedangkan Doyoung menunggunya di salah satu kursi.

"Makan."

Untungnya Junghwan membeli banyak makanan tadi, niatnya ia ingin menyimpan sebagian untuk dimakan saat pagi hari nanti karena dapur Doyoung benar-benar kosong dan tidak ada isi kecuali beberapa kardus air mineral serta minuman keras yang entah kenapa ada di sana.

Doyoung menurut, ia mulai menyantap makanan berkuah yang ada di hadapan, Junghwan juga ikut menikmati makan malamnya karena ia berani sumpah kalau dirinya benar-benar kelaparan.

"Besok kita mulai pengobatan." Ucap Junghwan di sela kunyahan, dan lagi-lagi Doyoung hanya mengangguk sebagai jawaban.

Sebenarnya Junghwan sedikit heran, kenapa tiba-tiba Kim Doyoung yang biasanya selalu dipenuhi tenaga kini justru terlihat lemas dan malah terkesan enggan menanggapi semua ucapan Junghwan. Kemana perginya Doyoung yang arogan?

Tapi biarlah ia mendapat jawabannya nanti karena sekarang masih banyak hal yang harus Junghwan kerjakan, ditambah ia sedikit tidak yakin akan tidur nyenyak di tempat asing malam ini.




















...

ini aku ambil referensi dari kejuaraan renang indo ya, aku cari yang korea gak ketemu soalnya hiks maafin...

terus... maaf kalo minggu ini gak bisa update tiap hari ya tolong maafin lagi oke.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com