Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter VI

"Masih kuat? Kamu gak pusing kan?" Tanya Junghwan dengan nada panik yang sudah tidak dapat lagi ia sembunyikan.

Rumah sakit yang berada di dekat kantor polisi merupakan tempat paling sibuk yang ada di Korea, dan ruang gawat darurat mereka termasuk ke dalam salah satunya.

Wajah Doyoung yang makin pucat membuat rasa khawatir Junghwan kian membesar, sepuluh menit berlalu sejak mereka sampai dan belum ada satupun dokter jaga yang datang juga makin memperkeruh keadaan.

Kain kasa yang Junghwan ambil dari ruang autopsi rasanya sia-sia karena darah terus merembes dari sana, bawahan seragam yang Junghwan kenakan juga mulai basah karena terkena tetesannya.

"Dokter di sini pada kemana, sih?" Protes Junghwan dengan suara yang cukup keras, Doyoung terkesiap dan langsung mengusap paha Junghwan dengan tangannya yang bebas.

"Mereka lagi sibuk. Gak perlu buat keributan." Ucapnya kemudian, Junghwan menghela napas dan hendak melayangkan omelan lainnya, sampai tiba-tiba salah satu Dokter jaga masuk dan berdiri di sebelahnya.

"Kenapa?" Tanyanya langsung.

Junghwan yang merasa bertanggung jawab lalu menjelaskan kondisinya, ia berdiri dan sedikit menjauh saat perawat mulai berdatangan untuk menghentikan darah menggunakan kantong kompres yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana.

Dirinya masih berdiri di sana karena tidak ingin meninggalkan Doyoung sendirian, mengamati proses pengobatan juga berusaha menghapal segalanya diam-diam di dalam kepala.

Sebelah tangan Doyoung yang bebas mulai meremat pinggir brankar ketika salah satu perawat menyuntikkan bius lokal. Junghwan yang melihatnya lalu mendekat, meraih tangan yang lebih kecil untuk dibawa masuk ke dalam genggaman.

Kulit yang dinginnya bukan main seketika bertemu dengan jemari yang terasa hangat, perasaan nyaman langsung singgah ketika Doyoung merasakan Junghwan mulai mengusap tangannya dengan lembut, berusaha menyalurkan ketenangan yang tidak tersisa seberapa karena ia juga sama takutnya.

Ketika darah sudah tidak lagi keluar dari pergelangan tangannya, Dokter mulai menjahit luka yang lumayan lebar. Doyoung melihat jarum dengan perasaan ngeri karena ini adalah kali pertama ia melihat lukanya sendiri dijahit oleh orang lain.

Dan Doyoung lagi-lagi terkesiap saat telapak tangan Junghwan menyentuh sisi wajahnya, menuntunnya agar tidak terus melihat ke bawah dan dipaksa untuk menatap Junghwan yang juga bersikap serupa.

Laki-laki itu sedikit menunduk, memandangnya dengan netra cokelat terang, mata paling indah yang pernah Doyoung lihat seumur hidupnya.

"Everything's gonna be alright, ada saya di sini." Ucap Junghwan, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Doyoung mengangguk, jantung yang sebelumnya berdebar karena takut dengan dengan keadaan, kini berubah menjadi debaran aneh sebab tatapan Junghwan yang seolah siap menenggelamkan.

Butuh waktu hampir satu jam hingga luka Doyoung tertutup sempurna, untungnya tidak terdapat infeksi atau benda asing yang masuk ke dalam karena Junghwan yang dengan sigap menutup luka terbuka itu dengan peralatan yang ada sebelumnya.

Dokter memberi resep obat pada Junghwan sebelum meninggalkan bilik ruang gawat darurat, juga berpesan pada Doyoung agar lebih hati-hati dengan benda tajam karena kondisi medisnya.

"Ayo, saya anter kamu pulang." Ucap Junghwan yang baru saja kembali dari apotek, di tangan kanannya ada paper bag berisi obat yang Doyoung butuhkan.

"Pulang? Kerjaan saya belum selesai." Tolak Doyoung, dengan terburu-buru ia turun dari brankar.

Namun karena terlalu lama duduk, kakinya belum siap untuk menopang tubuhnya sendiri, membuatnya oleng ke depan dan hampir jatuh kalau saja Junghwan tidak dengan sigap mendekat dan menahannya dengan sebelah tangan.

Tangan besar itu melingkar sempurna di sekitar pinggangnya, memberi usapan pelan sebelum ia akhirnya bicara. "Stop being clumsy, luka di tanganmu bahkan belum kering."

Omelan Junghwan berbanding terbalik dengan kehangatan yang ia berikan, Doyoung mendengus lalu menarik diri dan berusaha untuk berdiri tegak dengan kakinya sendiri.

"Stop marah-marah. Kenapa sih emosimu gampang banget meledak?" Protes Doyoung kemudian. Junghwan tidak menjawab karena dirinya sendiri juga tidak tahu apa alasannya.

Mengapa ia begitu merasa bertanggung jawab untuk mengurus Doyoung malam ini, mengapa ia khawatir setengah mati ketika melihat tangan Doyoung berlumuran darah sejak di ruang autopsi tadi. Dan ia juga tidak tahu alasan mengapa dirinya begitu ingin tetap berada di sisi Doyoung akhir-akhir ini.

"Saya mau ke ruang autopsi, Haewon pasti nunggu saya di sana."

Kalimat Doyoung menyadarkan Junghwan dari lamunan, ia mengangguk lalu ikut berjalan di sampingnya menuju ruangan yang sebelumnya mereka tinggalkan.

Dan mereka disambut dengan sosok Haewon yang masih menunggu dengan mata bengkak, ia begitu merasa bersalah karena sudah membuat Doyoung terluka tanpa sengaja.

Proses autopsi akhirnya dilanjutkan, tadinya Junghwan ingin terus menemani Doyoung di dalam ruangan, namun ia masih harus mengurus Jaewon yang ia minta untuk tinggal di ruang penyelidikan.

"Jangan pulang sendirian, saya bakal anter kamu sampai rumah nanti." Titah Junghwan pada Doyoung, laki-laki manis itu hanya mengangguk karena enggan berdebat di depan mayat.

***

"Udah berapa kali saya kasih tau supaya kamu gak ganggu kerjaan Dokter Kim? Itu bukan ranah kita sebagai detektif, biarin dia kerjain semuanya dan kita tinggal tunggu hasilnya. Dokter Kim masih baik karena kasih izin kita buat masuk ke ruang autopsi, Dokter lain gak akan mau diganggu sama pertanyaan aneh padahal mereka lagi bedah mayat."

Jaewon yang kini duduk di kursi terus menunduk, tidak berani menatap Junghwan yang terus mengoceh di depan.

"Untungnya mayat itu gak sampai rusak, kamu tau konsekuensi apa yang harus mereka tanggung kalau mayat terlanjur rusak padahal identitas korban aja belum ketemu?"

Kali ini Jaewon mengangguk lemah, namun matanya masih fokus pada ujung sepatu yang ia kenakan.

Ini merupakan kali pertama Junghwan mengomelinya habis-habisan, biasanya detektif itu hanya memberi arahan atau masukan agar Jaewon memperbaiki sikap. Junghwan bukan tipe atasan yang keras pada bawahan, namun sikap tersebut yang membuat Jaewon segan dan tidak ingin melewati batasan.

"Mulai malam ini, kamu saya larang buat masuk ke ruang autopsi. Kerjain semuanya di kantor, simpen dan serahin ke saya kalau saya dateng, kamu gak perlu nyamperin saya ke rumah sakit." Final Junghwan, ia meraih berkas yang sebelumya Jaewon bawa juga tas kerjanya sebelum keluar dari ruang penyidikan.

Satu-satunya ruangan yang sering kosong di kantor polisi. Junghwan juga tidak sejahat itu untuk memaki bawahannya di depan orang banyak.

Lagi-lagi Jaewon mengangguk, karena ia tahu bahwa protes dan sanggahannya tidak akan Junghwan kabulkan.

***

"Penyebab kematian?"

"Luka bakar."

"Identitas korban?"

"Masih butuh beberapa hari buat cek DNA dari sel korban, jadi belum bisa dipastikan, tapi yang jelas korban bukan warga negara Korea, dari sidik jarinya kita gak bisa nemuin data apa-apa."

"Ada luka lain yang mencurigakan?"

"Luka parah di tenggorokan, korban pasti minum cairan keras sebelum dibakar hidup-hidup. Itu yang bikin dia gak bisa lari atau teriak cari pertolongan."

"Kalau luka kamu gimana? Udah baik-baik aja?"

Doyoung yang tadinya sibuk menunduk dengan catatan yang ada di tangan, seketika mengangkat kepala untuk menatap Junghwan.

"I guess? Buktinya saya bisa bedah mayat sebesar itu barusan." Jawabnya sambil menunjuk mayat di atas brankar yang tengah ditutup lukanya oleh Haewon.

Junghwan mengangguk, kelegaan langsung terpancar di wajahnya saat melihat raut Doyoung yang nampak baik-baik saja.

"Mau pulang jam berapa?" Tanyanya lagi.

Doyoung menatap jam yang tergantung di dinding, "Nanti, masih ada yang harus saya kerjain di sini." Jawabnya asal.

"Kenapa gak kerjain di rumah aja?"

Bukan hanya Doyoung, Haewon yang masih sibuk dengan tubuh korban pun dibuat heran dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Junghwan.

"Karena ini bukan tugas yang bisa saya bawa pulang?" Jawab Doyoung, masih berusaha sabar menjawab semua pertanyaan.

Detektif itu bergerak mendekat, berdiri di samping kursi Doyoung lalu menatap perban yang ada di tangan kiri. "Darahnya gak keluar lagi, kan?" Ia menunduk dan berbisik agar Haewon tidak mendengar percakapan.

Doyoung mengangguk, "Saya udah baik-baik aja, Detective So." Jawabnya dengan suara yang sama pelan, Doyoung juga tidak ingin membuat Haewon makin merasa bersalah atas luka yang ia sebabkan.

Netra Doyoung reflek tertutup ketika tangan besar Junghwan bergerak pelan di atas rambutnya, memberi usapan berulang kali. "I'm sorry for what happened before, saya udah kasih tau Jaewon supaya gak ganggu kerjaan kamu." Bisik Junghwan lagi, tepat di sampingnya.

Suara halus Junghwan menyapa telinganya dengan lembut, memberi sensasi geli seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut.

Tangan yang sejak tadi bergerak di atas kertas juga seketika berhenti, suara debar jantungnya sendiri mengalun dengan keras, mengalahkan suara musik klasik dari speaker kecil yang sengaja diputar agar suasana tidak terlalu sepi.

Ada dorongan yang membuat Doyoung begitu ingin menoleh ke samping,ikut menatap Junghwan yang jaraknya hanya beberapa centi dari depan wajah.

Netra mereka bertemu, Doyoung terus menatap mata Junghwan, sedangkan Junghwan justru kehilangan fokus karena bibir Doyoung yang sesekali bergerak karena perasaan gugup.

Junghwan harap Haewon masih sibuk mengurus mayat di belakang karena tanpa sadar, kepalanya bergerak maju untuk mencuri kecupan singkat di bibir yang lebih kecil.

Dan Doyoung justru berharap agar Haewon keluar dari ruangan karena ia sangat ingin menampar Junghwan sekarang.























...

detektif sebrutal itu berkelahi dengan genre misteri romance tipis-tipis

tapi tenang aja hwan, simpan hasratmu sampe chapter belasan HEHEHE.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com