Chapter VII
Netra Doyoung membulat ketika ia sadar bahwa Junghwan baru saja menciumnya, tepat di bibir.
Di dalam ruang autopsi, lengkap dengan Haewon, juga mayat yang belum dipindahkan ke dalam lemari penyimpanan di belakang mereka. Untungnya Haewon tidak melihat kejadian singkat barusan karena terlalu sibuk menutup kulit terbuka di sekitar leher korban.
Sedangkan Junghwan, laki-laki kurang ajar itu masih berdiri di sebelahnya, bertahan dengan posisi menunduk karena Doyoung memang tengah duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruang autopsi.
Dan hal pertama yang Doyoung lakukan ketika kewarasannya terkumpul sempurna adalah menendang kaki Junghwan.
"Aduh!" Protes Junghwan sembari memegang kakinya yang lumayan nyeri sebab Doyoung memang mengenakan boots berujung tebal jika sedang bekerja.
Suara Junghwan membuat Haewon mengangkat kepala, ia menatap kedua orang yang ada di depannya dengan pandangan heran sebelum memberi kode pada Doyoung bahwa mayatnya sudah selesai dijahit dan siap dipindahkan.
Doyoung bangkit dari tempatnya, tidak memedulikan Junghwan yang masih meringis memegang kakinya sendiri. Ia berjalan ke arah Haewon lalu membantunya mendorong brankar untuk keluar dari ruangan.
Gerak Doyoung sangat terbatas karena perban yang membebat tangan kiri, membuat Junghwan tergerak untuk ikut membantu mereka walau dengan langkah timpang.
Sekuat tenaga Doyoung menahan tawa karena ia tidak menyangka bahwa tendangannya ternyata sekeras itu, berhasil membuat detektif dengan tubuh tinggi besar seperti Junghwan berulang kali meringis kesakitan.
Haewon pamit setelah mereka selesai memindahkan mayat, tidak lupa meminta maaf berulang kali karena tidak sengaja melukai tangan Doyoung malam ini. Sebagai atasan yang baik, Doyoung berusaha memaklumi karena memang itu bukan salah Haewon sepenuhnya.
Kepergian Haewon membuat Doyoung lagi-lagi hanya tinggal berdua dengan Junghwan di ruang autopsi, suasana canggung langsung menghampiri karena mereka mendadak diingatkan dengan kejadian singkat tadi.
Doyoung tidak tahu mengapa Junghwan menciumnya, ia juga tidak ingin tahu karena enggan membahasnya, terlebih raut Junghwan kini jauh berbeda dibanding terakhir kali mereka memeriksa mayat bersama.
Sejak kedatangannya ke rumahnya malam itu, sikap Junghwan yang sudah aneh menjadi semakin aneh, membuat Doyoung sedikit tidak nyaman atas semua perhatian yang ia limpahkan.
"Mau pulang sekarang?" Tanya Junghwan ketika Doyoung duduk di kursi lalu melepas bootsnya untuk diganti dengan sepatu yang lebih nyaman.
"Mhm." Jawab Doyoung singkat, ia menyesal karena tidak langsung melepas snelli yang digunakan, sebab lukanya yang tertutup perban kembali terasa nyeri karena terus bergesekan.
Junghwan yang menyadari raut Doyoung pun berjalan mendekat, ia berjongkok tepat di depan yang lebih kecil, "Biar saya bantu." Ucapnya sambil melepas boots —yang beberapa saat lalu mendarat di tulang keringnya—dengan hati-hati lalu memakaikan sneakers yang memang sudah Doyoung siapkan di sebelahnya.
"Ayo." Ajak Junghwan dengan sebelah tangan yang ia ulurkan di depan wajah Doyoung.
Tadinya Doyoung ingin menyambut uluran tangan itu, namun ia teringat soal insiden ciuman tadi dan langsung menggeleng kuat serta mendorong tangan Junghwan.
"Kenapa?" Tanya Junghwan heran.
"Jangan deket-deket saya." Omel Doyoung, dirinya berjalan keluar ruangan dan tidak memedulikan Junghwan yang masih terus mengikutinya.
"Saya minta maaf." Ucap Junghwan pada akhirnya, "Saya gak sengaja, Doyoung." Lanjutnya lagi, berusaha mencari alasan. "Beneran deh, saya gak sengaja cium—"
"Stop!" Protes Doyoung keras-keras begitu mendengar alasan murahan yang keluar dari mulut Junghwan. "Gak sengaja? Udah jelas-jelas kamu yang maju duluan! Dasar detektif kurang ajar!" Omelnya lagi.
Junghwan terkesiap, tidak menyangka bahwa Doyoung akan semurka ini padanya.
"Doyoung, I'm so sorry, I just can't handle myself when I see your pretty lips right in front of my face." Jelas Junghwan, ia berusaha jujur sebab tidak ingin hubungan mereka renggang karena insiden kecil di ruang autopsi tadi.
Sedangkan Doyoung tidak tahu apakah ia harus senang atau justru makin murka ketika mendengar pujian dari Junghwan.
"Maaf, okay? Sekarang izinin saya buat anter kamu pulang."
Kini mereka berada di depan pintu masuk rumah sakit, untungnya suasana cukup sepi karena waktu menunjukkan hampir tengah malam, yang tersisa hanya beberapa keluarga pasien yang menginap, juga Dokter jaga serta perawat yang tinggal di sekitar ruang gawat darurat.
"Saya bisa pulang sendiri." Tolak Doyoung, ia berjalan lurus ke arah halte yang ada di jalan besar, tidak memedulikan Junghwan yang berulang kali membujuknya untuk pulang bersama.
"Tapi tangan kamu lagi sakit."
"Ya gak ngaruh? Kaki saya masih bisa jalan." Ucap Doyoung tegas, ia tidak menyangka bahwa Junghwan benar-benar seburuk itu dalam mencari alasan.
Dan Doyoung beruntung sebab bus yang biasa ia naiki sedang berhenti di depan halte, membuatnya berjalan lebih cepat agar ia tidak perlu berhadapan lebih lama dengan laki-laki menyebalkan seperti Junghwan.
Tadinya Junghwan mau ikut naik ke dalam bus, tapi ia berubah pikiran dan langsung berlari ke arah kantor polisi untuk menjemput mobil yang ia parkir di sana.
Doyoung memang tidak mengizinkan Junghwan untuk mengantarnya, tapi Junghwan akan memastikan bahwa Doyoung benar-benar selamat sampai tujuan.
***
Masih dari dalam mobil yang ia kendarai, Junghwan bernapas lega ketika melihat Doyoung turun dari bus tepat di halte yang paling dekat dengan huniannya.
Junghwan memarkirkan mobil besarnya di depan minimarket terdekat sebelum ikut berjalan di belakang Doyoung secara diam-diam, ia juga berusaha menjaga jarak agar Doyoung tidak menyadari kehadirannya.
Jarak dari halte menuju kediaman Doyoung cukup jauh, butuh kurang lebih lima belas menit berjalan kaki, dan Doyoung juga harus melewati beberapa lingkungan gelap untuk sampai ke tujuan.
Dan Junghwan baru sadar bahwa sejak Doyoung turun dari bus tadi, dirinya bukan satu-satunya orang yang mengikuti Doyoung malam ini.
Netranya terus mengamati sosok yang berpakaian serba hitam di depannya, gerak gerik yang tidak mencurigakan membuat Junghwan belum memiliki alasan yang cukup untuk berteriak atau menyergapnya.
Namun ketika Doyoung tiba-tiba menunduk untuk mengikat tali sepatu yang lepas, Junghwan langsung berlari saat sosok itu berjalan mendekat ke tempat Doyoung.
"Dokter!" Panggil Junghwan dengan keras, dan berhasil membuat orang aneh itu mengubah tujuan ke arah sebaliknya, melewati Junghwan yang sialnya justru terlalu fokus ke tempat Doyoung dan tidak dapat melihat wajahnya.
Doyoung menoleh, dan ia bernapas lega ketika melihat Junghwan yang berjalan cepat ke tempatnya.
"Detective So..." Ucapnya lirih. Doyoung sadar bahwa sejak tadi dirinya diikuti, ia sangat ingin berlari menuju apartemennya namun takut sesuatu yang buruk justru terjadi di sana.
Dan tali sepatu sialan ini malah lepas ketika Doyoung sibuk berpikir keras, daripada berpotensi terjatuh dan menimbulkan luka baru, ia memilih untuk mengikat tali itu sebelum berjalan menuju keramaian.
Namun rencananya gagal karena suara keras Junghwan di belakang, Doyoung bahkan hampir menangis ketika yang lebih tinggi ikut berjongkok di depannya.
"Are you okay?" Tanya Junghwan sambil memegang bahu yang lebih kecil, bukannya menjawab, air mata justru keluar dari netra bulatnya.
Luka yang beberapa jam lalu dijahit di rumah sakit, sama sekali tidak sebanding dengan perasaan takut ketika diikuti oleh orang asing di daerah gelap sendirian.
Doyoung pikir ia akan mati malam ini, Doyoung pikir dirinya berpotensi menjadi korban keenam belas dari pembunuh berantai yang bisa saja sudah mengikutinya sejak tadi.
"Junghwan..." Panggil Doyoung sambil terisak. Junghwan tidak menjawab, ia memilih untuk menarik tubuh yang lebih kecil masuk ke dalam pelukan.
***
Dan di sinilah mereka sekarang, kembali duduk berhadapan di meja makan apartemen Doyoung, lengkap dengan makanan yang baru sampai beberapa menit lalu setelah Junghwan pesan menggunakan layanan antar.
Doyoung tidak sejahat itu untuk mengusir Junghwan yang sudah berbaik hati mengantarnya pulang, ia juga sangat tidak ingin sendirian setelah kejadian buruk yang terus menimpanya hari ini.
"Makan." Perintah Junghwan setelah membuka bungkus plastik jjajangmyeon dan meletakannya tepat di depan Doyoung.
Pemilik rumah mengangguk lalu meraih sumpit dari sisi lain meja, mulai mengaduk mie hitam itu perlahan dan mulai menyantapnya.
"Kamu kenal sama orang tadi?" Tanya Junghwan, dan Doyoung balas dengan gelengan.
"Ini pertama kalinya saya diikutin orang." Jelas Doyoung singkat. "Padahal biasanya lingkungan ini aman mau semalam apapun saya pulang." Lanjutnya kemudian.
Junghwan mengangguk paham, netranya terus mengamati Doyoung yang nampak malas bergerak, mulutnya bahkan mengunyah makanan dengan sangat pelan.
"Sebenernya saya gak mau makan, tapi tidur dengan perut kosong juga gak baik buat kesehatan, tapi kalau saya gak makan, nanti kamu malah pulang dan saya bakal ditinggal sendirian." Ucap Doyoung panjang lebar sambil menatap jjajangmyeon di hadapan. "Saya bukannya lagi godain kamu dan kasih kode supaya kamu nemenin saya di sini, saya cuma—"
"Saya tau, gak perlu kamu jelasin juga saya paham kalau kamu masih takut karena kejadian tadi." Sanggah Junghwan, berusaha membuat Doyoung nyaman dan tidak berpikir aneh. "Makan sedikit aja, habis itu istirahat. Kamu mau saya temenin sampai kapan?"
Selama Junghwan menghabiskan makanan yang ia pesan, Doyoung sibuk membersihkan tubuh serta berganti pakaian di kamar mandi. Junghwan menyempatkan diri untuk menyiapkan obat yang harus Doyoung konsumsi malam ini.
Dan saat pemilik rumah kembali ke dapur, ia justru menyerahkan satu set pakaian tidur berukuran cukup besar ke arah Junghwan.
"Ini kaos sama celana paling besar yang saya punya."
Junghwan sendiri tidak mengira bahwa Doyoung akan memintanya untuk menginap di rumahnya malam ini. Ia tersenyum canggung sambil menerima pakaian yang Doyoung sodorkan.
"Kamar mandinya di sana, kalau mau ganti baju bisa di dalam atau di kamar saya."
Penjelasan Doyoung membuat senyum Junghwan makin lebar.
"Kenapa?" Tanya Doyoung heran ketika melihat Junghwan yang nampak salah tingkah.
Laki-laki itu menggeleng, "Tangan kamu gak kerasa sakit?" Tanya Junghwan, berusaha mengalihkan topik obrolan.
Doyoung menatap tangannya yang terbalut perban, "Sakit sebenernya, tapi bisa saya tahan."
"Yaudah kalau gitu kamu minum dulu obatnya, saya mau mandi. Gapapa kan ditinggal sendirian? Atau mau ikut nemenin saya di dalam?"
...
mau ngapain tuh kira kira
ketik 1 agar skinship brutal terjadi di chapter depan
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com