••• five

"Hati-hatilah main sama hati." – Lauren

Jarum jam menunjuk tepat enam lewat lima belas sore saat kami beranjak dari kursi restoran. Nggak ada percakapan istimewa tadi, cuma ada basa-basi singkat dan beberapa senyuman halus yang lepas saat kami beradu mata. Mungkin Nolan sama bingungnya dengan gue. Mungkin kita sama-sama nggak tahu harus menertawakan apa, atau menghujat apa.
Mesin mobil menderu, menutupi desiran jantung gue sewaktu Nolan—dari balik kemudi—merentangkan tangannya buat membenarkan sabuk pengaman gue yang rada macet.
"Ups!" katanya spontan saat lengan berotot hasil basket itu mengenai pundak gue.
Nolan kemudian menjelma jadi supir super anteng selama dua puluh menit. Sesekali dia bersenandung. Matanya nggak lepas dari jalanan sekalipun, kecuali saat lampu merah. Dia melemaskan sendi-sendi tangannya sambil teriak nggak keruan.
"Berisik."
"Biarin."
Gue, di sisi lain, membalas chat Aika dan Lauren yang mendadak kepo.
Aika: wassup! kabar-kabarin boleh aja kali!
Lauren: lagi ngobrol manja dia mah.
Kepo dan 'sahabat' memang beda tipis. Sekian.
Sesampainya di rumah, Nolan dan gue mulai bergumul lagi dengan tugas yang ada. Gue dengan buku-buku cetak dan cowok bule aneh itu dengan Wikopedia. 90% percakapan yang kami punya juga sebatas diskusi isi makalah. Yah, meskipun begitu, sampai menit ketiga puluh pun layar laptop masih putih, sih.
Gue nggak berharap banyak hari ini. Tujuannya memang jelas, buat belajar bareng. Tapi, gue nggak menyangka aja, Nolan bisa seserius ini di satu waktu. Gue mulai menemukan lagi sisi Nolan yang hilang. Entah gimana, tapi gue merasa satu ruangan dengan cowok yang tiga tahun lalu menembak gue.
Waktu terus berjalan. Nggak terasa lima menit lagi jam delapan malam. Nolan secara serabutan menaruh laptop dan melempar alat tulisnya ke dalam ransel biru yang dibawanya. Gue pun mengantarnya sampai gerbang, berdiri di depan dengan kaki menggigil saat sesekali angin bertiupan. Selepas cowok itu pergi gue kembali ke dalam rumah, merapikan bagian gue yang dua kali lebih berantakan.
Melakukan perjalanan menuju kandang, gue berhenti sejenak di depan kulkas dan mengambil sekaleng soda yang entah punya siapa. Gue berdiri di sana cukup lama. Sekitar empat menit untuk menghabiskan soda itu sampai tetes terakhir.
Hmm.
Kulkas.
Cool case.
Nolan.
Begitulah kira-kira yang ada di pikiran gue saat memandangi balok elektronik di hadapan gue. Dingin dan kaku. Tepat kayak Nolan. Lo bisa melihat berbagai variasi warna membalut tampilannya, sehingga hangat dan tampak bersahabat. Pas lo melirik ke dalamnya? Well, you just know it all cold and stone.
Perjalanan gue berakhir ketika berhadapan dengan pintu jati berwarna biru pastel yang di baliknya terdapat kamar gue. Dinginnya udara menyeruak, menghantam wajah saat gue menarik daun pintu. Segera suatu pemandangan—buku berserakan di atas kasur—menyambut.
Gue pun menghempaskan tubuh ke atas satu-satunya area kasur yang belum terkena bencana. Menghela napas, gue intip layar ponsel. Nggak banyak yang gue dapati. Hanya sembilan notifikasi media sosial dan nol notifikasi dari Nolan.
Huh.
Memangnya apa yang gue harapkan?
"Apa yang gue harapin?" gue bergumam, "lo sendiri yang minta dia untuk mundur tiga tahun lalu. Inget, Isla." Gue memejam kelopak mata gue yang sedikit penat. Badan ini sudah kangen kasur rupanya.
Setelah tiduran dan berguling ke sana ke mari nggak keruan, gue mendapat ide untuk menghubungi Aika. Yah, sebagai sahabat yang paling menguasai dunia percintaan, bukan ide buruk buat sekadar bercerita dengan cewek yang arti namanya 'cinta' itu. Hah. Memang agak mengelikan, sih, kalau mengetahui nama—yang katanya simbol harapan—berjalan sebagaimana mestinya. Aika bukan pemain baru dalam permainan romansa. Berbeda dengan gue, yang bahkan nggak becus konsisten menolak orang. Sama Nolan, contohnya.
Gue mulai menggulir daftar kontak di ponsel. Seketika menemukan nama Aika di deretan teratas. Jempol gue melesat cepat membuat panggilan.
"Nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi. Mohon ulangi panggilan anda beberapa saat lagi."
Begitulah bunyi sampai pada panggilan kelima sekalipun. Gue berdecak, bibir bersiap mengeluh. Sudah begitu, gue pun menapaki daftar kontak sekali lagi. Kali ini Lauren.
Jemari terus memainkan ujung rambut sambil menunggu nada panggilan berhenti di seberang telepon. Nggak lekas hilang kerutan di jidat gue.
Kenapa orang-orang menghilang sewaktu dibutuhkan? Kenapa?!
Ngomongnya pakai gaya dramatis, ya.
Beberapa detik terlewat sampai suara lemah pun terdengar.
"Halo?"
"Akhirnya diangkat juga," ujar gue lega.
"Kenapa, La? Pasti mau cerita sesuatu."
Gue terkekeh dan mengangguk, meskipun mustahil Lauren melihatnya. Inilah kenapa mereka menjadi sahabat gue. Kami hanya butuh sedikit kata untuk mengerti satu sama lain.
"Iya nih. Eh, tapi nggak ganggu, kan? Lagi tidur ya?"
"Kalo gue bilang gue lagi tidur, lo bakal tutup teleponnya?"
"Nggak juga, sih," celetuk gue, "gue mau minta pendapat nih."
"Iya, iya. Udah cerita aja. Gue dengerin sambil cuci muka," balas Lauren yang diikuti dengan satu helaan napas pendek.
Sejujurnya, gue nggak yakin 100% ini adalah ide yang bagus. Lauren adalah sahabat lo yang nggak pandai memberi dukungan perasaan. Dia bakal lebih memilih logika sebagai resep dasar sarannya. Tapi, dengan cepat gue menampik pikiran itu jauh-jauh. Pasalnya, gue sendiri bingung. Gue nggak tahu, apakah kebutuhan gue yang sebenarnya adalah seseorang yang bisa sekadar ikut merasakan kegundahan ini atau justru pemberi jalan keluar logis yang dingin dan terus-terang?
"Jadi, gini, tadi gue abis kerja kelompok bareng Nolan."
"Dan?"
"Dan ... ermm ... dia ngajak gue makan ke luar."
"Wow! Bagus dong."
"Ini semua gara-gara perut gue bunyi tiba-tiba! Gue malu banget!" rengek gue yang ditanggapi dengan tawa Lauren. "It's just ... I don't know, man! Gue merasa senang, benar-benar ... ermm, apa namanya ya?"
"Excited?" Lauren melengkapi.
"Super!" Pipi gue memanas. "Yah, walaupun nggak ada percakapan spesial. Rasanya aneh. Bercampur aduk. Apa bisa ya perasaan suka dan sebal itu ada di saat yang bersamaan?"
Gue tahu gue mungkin salah, tapi Nolan memiliki sisi sensitif di sana. Setidaknya, dia mengetahui ketika seseorang lapar, maka patutlah dibawa makan. Waktu di kelas juga. Dia meminjami gue bukunya tanpa gue minta. Belasan kali. Belum lagi di saat kami diminta untuk membentuk kelompok kerja. Sepulang sekolah, Aika memberitahu gue kalau bukan tanpa sengaja kursi di sebelah gue kosong, sehingga Nolan bisa duduk di sana. Alih-alih, dia yang mengusir Agus—sang warga asli kursi sebelah—untuk menyingkir dari tempat itu. Itu menjadi masuk akal, mengingat Agus terkenal sebagai 'parasit' kelompok. It's fair to say, that so far, Nolan is helping me.
Dan sekarang, jantung gue menjadi lebih berdebar dari sebelumnya saat bersama dia. Gue rasa ini tanda-tanda bahwa perasaan suka gue sudah berada di tingkat yang lebih tinggi, yang mana justru gue takuti.
Pertama, apa jadinya kalau lo menyukai cowok yang pernah lo tolak? Kedua, Nolan bukan cowok yang mau lo perkenalkan ke bapak dan ibu lo. Okelah sekarang dia tampan, James Dean KW. Tapi, kepribadian usil dan sombongnya itu? Nah-uh. A big fat no.
"Tentu aja, kan? Yang harus lo lakukan cuma memilih. Apa lo mau ngelanjutin menyukai dia atau membenci."
Gue mendesah. "Ugh, Lauren! Tapi, lo tahu, kan, kalau Nolan itu cowok yang pernah gue tolak, lho! Cowok yang pernah gue tolak. Apa hal itu bukan suatu ironi, menjilat ludah sendiri, atau labil namanya?"
"Isla, hei!"
"Ya?"
"Orang berubah, La. Dan begitu pula dengan pendapat mereka. Siapa bilang lo nggak boleh suka sama cowok yang pernah lo tolak?"
"Umm ... ."
"Bener banget, nggak ada! Ibu gue dulu pernah menolak lamaran bapak gue sampai tiga kali, tapi sekarang punya anak tiga, tuh."
Gue tertawa. "Apa lo pikir Nolan bisa kembali suka gue ya? Eh, maksud gue, mungkin itu bakal susah. Maksud gue adalah ... apa mungkin ada kemungkinan dia bakal ... ermm, 'melihat' gue lagi, gitu?"
"Lo mau tahu sesuatu?"
"Apa?"
"Kalau Hermione bisa nikah dengan Ron. Lo juga bisa sama Nolan."
"He-he, maap, tapi apa urusannya yah?" tanya gue sambil menggaruk dahi.
"Nggak ada, sih. Tapi, lo tahu kan maksud gue." Gue pun mengiyakan perkataan Lauren sebelum penggila Harry Potter itu bisa berbicara lebih banyak lagi tentang bagaimana Hermione nggak seharusnya berakhir dengan Ron. "Kalaupun lo nggak berakhir dengan Nolan, gue bersedia kok ngebuatin fan fiction tentang lo dan dia. Kayak alternate ending gitu, cie ilah," lanjutnya sambil tertawa.
"Hah? Ngaco."
"Nih, gue kasih analoginya. Durian itu ibarat hati dan kulitnya itu ibarat perjuangan di awal, berduri dan nyakitin, keras dan bikin capek. Tapi, kalo lo tau cara buka 'durian'-nya dengan bener. Lo bakal dapet isinya yang manis dan menggiurkan."
Gue bergeleng, terkagum dengan demo unjuk kebolehan Lauren barusan. "Gila. Banget. Wow. Tapi, gimana caranya, ya?"
"Cuma ada satu jalan. Lo yang memulai gerak."
"M-Mulai gerak? Maksud lo, gue yang mendekati dia? Lo tahu, kan, gue nggak bisa melakukan itu?"
"Itu, sih, jawabannya, kalau lo memang serius penasaran sama dia. Otherwise, forget it and be a pussy."
"Well, biarpun teknisnya gue memang cewek, tapi I'm not a pussy."
Lauren menepuk tangannya. "Nah, itu dia semangatnya!"
"Apa ini berarti gue juga yang harus nembak dia? Gue ragu," kata gue yang tengah nyengir meringis.
"Siapa bilang begitu? Lo akan buat dia nembak lo untuk yang kedua kalinya!" gelegar Lauren di seberang sana.
"Oke, oke. I'll do it. Mungkin. Semoga." Gue mengangguk, menatap ke langit-langit.
"Tapi, ingat, cinta itu juga ibarat durian yang kalo dimakan kebanyakan bisa jadi penyakit. Pokoknya, lo hati-hatilah main sama hati."
Dan malam itu, menelepon Lauren ternyata adalah keputusan yang nggak gue sesali sama sekali.

a/n
yellow! apa kabar? sok komentar di bawah ya :D btw, gue bakal meng-update revisian chapter 1-29 (chapter terakhir nolan) setiap hari (amin!) mari berdoa semoga tidak ada kendala. boleh banget kalian komentar apapun tentang gue maupun buku ini. saran dan kritik sangat diapresiasi! woohoo! sudah lama wattpad tidak sehidup "dulu". just saying haha.
i love y'all <3
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com