••• six

"Go big or go home lah!" – Aika

"T-Tunggu," ucap gue, "kalian mau gue apa?"
Aika dan Lauren mengangguk, tahu kalau gue nggak budeg dan mengerti maksud apa maksud mereka. Ini cuma gue yang lagi memberi kesempatan buat merevisi ucapan yang kurang dari lima detik lalu mereka katakan.
"Ayolah, apanya yang susah!" Aika melempar tangannya ke udara.
"Gue nggak ngerti apa yang lo maksud dengan 'kejar matanya'. Like, literally?"
Aika menghela napas. "Supaya Nolan bisa 'mengetahui keberadaan' lo"—dia menggerakkan dua jarinya menyerupai tanda kutip—"lo harus ... ?" Cewek yang duduk di sebelah gue ini terbelalak dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Tatapannya masih tertahan di muka gue. Gue pikir dia sedang menunggu gue buat meneruskan kalimatnya. "Gosh! Denger ya, Isla, yang pinter tapi bego juga, kadang," katanya, lagi, tertekan oleh gue yang nggak nyambung, "supaya Nolan bisa melihat lo lagi sebagai cewek, yang mana memungkinkan bagi dia untuk kembali suka sama lo, lo harus sering-sering muncul di depan dia dan ngehabisin waktu sama dia."
"Karena, bagi kebanyakan cowok, perasaan mereka dipengaruhi logikanya. Kalo lo bisa ada di pikirannya, ya ... congratulations, lo pasti ada di hatinya juga." Kali ini Lauren berbicara dengan bibir dipenuhi bumbu jajanannya.
"Ta-da," sambung Aika sembari membenarkan ujung rok kotak-kotaknya dan duduk lebih tegak.
Oh, sial. Apa ini benar-benar keputusan yang adil buat gue? Bagaimana bisa gue harus membuat perhatiannya jadi full-time tertuju ke gue, sementara gue aja deg-degan setiap mencium wangi parfumnya doang, setiap hari! Dan kalau ngomong tentang moral, gue nggak akan pernah mau melakukan hal itu sama siapapun, cowok manapun. Bukan gaya gue buat berlenggak-lenggok, mengibas rambut, dan mengerlingkan mata demi menjadi pusat perhatian seseorang. Itu pekerjaan Clara. Bukan gue.
Dan omong-omong tentang Clara, dia tepat duduk dua baris kursi di belakang gue. Dia barangkali lagi melototin gue dengan dua buah bola api yang dia sebut mata. Gue rasa kepala gue bakal bolong beberapa menit lagi kalau dia nggak berhenti melakukannya.
Gue mengerjap. "Wow! Kalian mau gue jadi Clara di sana?" Gue berkata, setengah teriak setengah berbisik, penuh ketidakpercayaan.
Lauren berhenti mengunyah jajanan seribuannya sesaat dan menggulirkan matanya. "Nggak lah! Kita nggak mau ngerubah lo jadi ... some sort of, murah."
"Kita cuma mau lo punya lebih banyak waktu berdua dan bersenang-senang sama Nolan. Cuma hal-hal biasa kok. Lo masih bisa pakai celana lo," tambah Aika. Selera humor dan sarkasnya melebihi yang sudah-sudah hari ini.
Gue nggak bisa berkomentar kalau ini adalah ide yang baik. Tapi, sejujurnya, ini bukan juga ide buruk. Gue bisa melihat keseriusan buat menolong teman di muka dua wanita cerdik ini. Well, minus bumbu jajanan di bibir Lauren yang mengganggu pemandangan itu.
"Tapi, lo pada tahu apa yang bakal jadi taruhannya, kan? Perasaan gue bakal ikut kena efeknya. Gue nggak mau ketika hasilnya buruk, gue jadi ngehabisin dua kotak tisu dan sekotak cokelat sambil nonton Titanic. Belum lagi gue berarti harus berhadapan sama penggemarnya yang seantero sekolah ini. C-Clara, Clara. Lo liat di belakang, kan? Dia kelihatan kayak mau ngebunuh gue, hiy! Ini tahun terakhir dan gue nggak ma—"
"Shhh!" Telapak Aika menghalangi kata-kata selanjutnya. "Ya ampun, Isla. Lo udah kayak emak-emak! Jangan kebanyakan mikir deh. Go big or go home lah!"
Seketika otot muka gue mengendur. Sesuatu yang dibilang Aika membuat gue menyerah buat kebanyakan berpikir. Mungkin dia benar. Tangan gue pun menjemput tangannya yang masih membekap mulut gue. Gue mendesah, bukan karena tangan Aika bau ayam, tapi karena gue akhirnya sadar.
"Oke, oke. Gue bakal ngikutin apa kata kalian. Tapi, dengan satu syarat!" pekik gue sambil menaik-turunkan alis.
"Apa?" Lauren dan Aika menjawab hampir serempak.
"Lo berdua harus selalu back-up gue."
"Kayak nggak pernah aja," balas mereka, tertawa.
***
Setelah rapat dengan Aika dan Lauren di kantin tadi, kami berpisah jalan, melanjutkan sisa hari di sekolah dengan kesukaran masing-masing. Gue dan si cewek Jepang ke ruang XII-IPSA dan Lauren ke ruang XI-IPAB.
Yeah, bagi kalian yang ketinggalan berita, Lauren adalah adik kelas gue dan Aika. Kami dipersatukan oleh toilet sekolah yang maha ajaib pas kebetulan bolos di waktu yang sama.
Girls. Di mana lagi memangnya tempat bolos kami?
Ini adalah Kamis siang yang berangin dan sedikit mendung. Awan mencumbu langit, sementara gue didera kesukaran. Namanya, matematika, lagi.
Kenapa 'matematika' nggak mati aja, sih?
Gue menghela napas.
"Huh."
Tapi, itu bukan suara gue.
Itu Nolan.
Gue tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Well, seenggaknya berdasarkan rencana Aika dan Lauren. Gue bakal memutar kepala 90 derajat ke selatan dan tersenyum kecil, nothing creepy. Mungkin bilang 'hai' atau apapun itu dan Nolan bakal membalasnya, sama-sama tersenyum, dengan deretan giginya yang semulus arena ice skate itu. Lalu, kita bakal bercakap-cakap dengan romantis dan unyu sampai Bu Ima, guru matematika, melempar kepala gue atau Nolan dengan penghapus papan tulis. Gue tahu hal itu yang—Aika bilang dan gue mengutip—harus terjadi. Tapi, nyatanya itu bukan sesuatu yang gampang!
Cewek butuh napas yang wangi, jidat yang nggak ada jerawat, dan pastinya butuh nyali besar untuk melakukan 'pergerakan' ke cowok yang disukainya.
Dan dari ketiga hal barusan, yang nggak dimiliki gue saat ini adalah hal terakhir itu.
Ah, sial.
Tapi, gue tetap harus melakukannya.
Maka dengan segala ide-ide absurd penunjang modus yang berserakan di benak ini, gue pun sedikit demi sedikit menjalankan misi. Parahnya sekarang kerongkongan gue mengering. Dengan susah payah gue menelan ludah.
Lima menit berlalu, gue menarik dan menghela napas. Berputarlah kepala gue perlahan ke belakang diikuti oleh badan gue yang kaku, tapi tidak berdaya. Baiklah, gue akan memutuskan untuk pura-pura minjem pen.
Dengan mata memejam, gue menghadap Nolan. Tunggu, kenapa gue merem?
"Kenapa?" tanya Nolan.
Gue langsung membuka mata dan memaksakan senyuman. Tampak muka bosan Nolan dengan bibir setengah terbuka, tangan menopang rahang sebelah kirinya.
Baru saja maju sedikit, sesuatu sudah menambat langkah gue. Perasaan itu seketika muncul. Perasaan geli di perut yang mirip sewaktu lo bergerak melawan gravitasi. Ketika Nolan menatap lo, semuanya terasa hening dan lo nggak bisa meredam rasa geli tangan lo buat menyentuh wajahnya. Tapi, kemudian kenyataan menarik lo. Bahwa lo berada di luar radius seribu kilometer dari hak yang membuat lo bisa melakukannya.
Tiba-tiba, Nolan menjentikkan jarinya di depan gue. "Papannya di depan. Shoo!"
Gue sedikit tersentak, begitu pula dua atau tiga orang di sebelah tempat duduk kami. Mereka langsung memalingkan lagi perhatian mereka. Nggak perlu hiraukan Nolan, pikir mereka.
"E-Eh ... anu," ucap gue terbata-bata, "gue mau minjem bolpen." Gue pun memalsukan batuk dan mengambil kesempatan sekali lagi supaya terdengar lebih meyakinkan. "Tinta bolpen gue abis."
Dahi Nolan berkerut. Rasa terbakar itu muncul lagi. Kali ini lebih singkat, tapi desirannya terasa membelah jantung. Tangan gue bergetar sepersekian detik sebagai efeknya.
"Beli lah," Nolan membalas. Matanya nggak berkedip.
Gue pun memasang mimik lo-bercanda-hah. "Yeah, kayak gue bisa keluar kelas buat ke koperasi gitu ya?"
Sebenarnya, bisa aja. Tapi, kan, gue lagi modus!
"Gue aja pinjem lo kemarin. Masa lo pinjem ke gue sekarang?"
Gue berpikir. Hmm ... iya juga ya. Peraturan dasar di kelas: jangan pergi meminjam bolpen, tip-x, atau penghapus ke anak cowok kalau nggak mau pulang tangan kosong.
"Bener juga." Gue sedikit menunduk.
Beberapa detik kemudian, tanpa banyak bicara, tahu-tahu Nolan memanggil cewek yang duduk di sebelahnya.
"Sher, woy!" panggilnya pada cewek berbandana ungu itu, "pinjem pen."
Sang cewek buru-buru mengaduk tempat pensilnya yang sama-sama ungu dan mengeluarkan sebatang pen berwarna ungu. Dia merentangkan tangannya untuk menyerahkan pen itu ke tangan Nolan. Gue nyaris tertawa dibuat Nolan. Dia meminjam dari orang lain cuma untuk meminjamkannya gue.
Nolan pun memberikan pen itu. "Nih."
"Oke." Ayo, senyum yang cantik Isla! Gue melebarkan bibir ke samping, berusaha terlihat manis dan nggak justru mengerikan.
Nolan, sebaliknya, cuma menaikkan ujung bibirnya sedikit. Sedikit banget, gue sampai mesti melihatnya pakai mikroskop. Gue pun kembali menghadap ke depan sambil menggulirkan mata dan bergeleng. Gue rasa dia sedang berhadapan dengan suasana hati yang nggak baik.
Gue harap itu bukan karena gue.
Wait.
Memang kenapa karena gue?
Jeez! Rasa suka terkadang menyebalkan. Rasa suka membuat lo khawatir berlebih.
Gue menghela napas dan mulai mengerjakan soal di papan tulis sebelum Bu Ima kembali memarahi gue kayak kemarin. Kelas kembali ramai setelah tadi cukup hening. Beberapa orang sudah selesai mengerjakan sementara gue semakin panik.
Kursi di belakang gue berderit, mengindikasikan pemiliknya bergerak. Saat itu juga, gue merasakan seorang mencolek pundak gue.
"Apa?" tanya gue tanpa repot-repot menoleh.
Seketika gue merasakan hangatnya napas di telinga kiri gue. Saking dekatnya dengan sang pelaku, gue yakin muka kami akan saling bersentuhan kalau gue bergerak sesenti saja.
"Hari ini gue ke rumah lo lagi. Tunggu ya," bisik Nolan dingin yang membuat telinga memanas sedetik kemudian.
Di sana punggung Nolan meninggalkan gue, melangkah ke depan kelas.

a/n
haiii! ini dia first move isla! how cute and berlebihan ya isla haha. kalian (yang cewek) pernahkah ada di posisi isla yang harus 'make a move' ke cowok yang kalian suka? btw, frasa yang aika di atas itu, kutipan favorit gue. artinya, yah, lo maju atau mundur aja sekalian. itu kayak jadi penambah semangat gitu kalo lagi ngerjain sesuatu sih.
oh, dan kalian juga harus dengerin lagu Youngblood nya 5SOS. sumpah enak banget! gue dengerin lagu ini diulang-ulang terus pas lagi revisi chapter ini haha.
jangan lupa komentar yaa (dan vote juga bagi yang belum hehe) ceritain pas kalian baca pcn dulu atau yang baru sekarang kayak gimana sih first impressionnya?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com