••• one

"Isla, gue suka sama lo."
" ... "
" ... "
"Sejak kapan?"
"Sejak kita duduk sebelahan waktu kelas tujuh."
"Ermm ... jadi?"
"Jadi, maukah lo jadi pacar gue?"
"Maaf, tapi gue nggak bisa jadi pacar lo."
"Kenapa?"
"Gue belum suka lo."
"Isla! Bengong mulu deh!" tegur Aika, sahabat gue, sembari menjentik-jentikkan jari tepat di depan wajah gue. Mata gue pun spontan berkedip beberapa kali, hingga gue benar-benar kembali pulih dari situasi zoned out.
"Apaan?" jawab gue sepotong dengan raut polos bocah lima tahun.
"Gue udah dua puluh empat jam cerita, tanpa jeda, tanpa iklan, dan selama itu juga lo nggak dengerin gue. Lagi mikirin apa sih?" tanya Aika dengan keingintahuan yang melanda wajah korea-koreannya itu. Dia pun segera menyenggol Lauren, another bestfriend of mine, yang diam-diam cuma belagak nyimak sambil main Canny Crush daritadi.
"Iya nih, bengong kenapa lo?" sambung Lauren, menatap gue dengan antusiasme palsu.
Gue mengembuskan napas keras-keras. "Gak ada apa-apa. Cuma ... ."
"Cuma?" Aika dan Lauren menyahut hampir bersamaan, memancing senyuman geli di wajah gue. Keseriusan mereka tertanda lewat kerutan-kerutan di dahi yang semakin melengkung.
Gue merapikan seuntai rambut hitam gue ke belakang, lalu menopang dagu dengan tangan, ancang-ancang curhat, menyebut nama dan mulai berkisah. Nahas, baru aja mulut hendak dibuka, gangguan datang nggak terelakkan. Pandangan dua gadis di depan gue ini cepat-cepat beralih ke samping ruangan, dimana dua daun pintu kantin sekarang terbuka lebar. Sontak gue pun melakukan hal yang sama. Di situ, saat itu juga, muncul cowok itu.
Nolan dan teman-teman gengnya, berjalan sambil membawa tawa besar mereka ke dalam ruang kantin. Mereka ramai-ramai melewati meja yang kami duduki. Aneh, tapi mereka seakan menyerap perhatian semua orang. Nggak terkecuali ibu-ibu kantin yang sekarang geleng-geleng melihat kericuhan yang dibuat mereka. Kalau pemandangannya digeser sedikit, ada cewek-cewek, junior khususnya, yang bengong melihat gerombolan bau keringet itu. Bagai serigala, mata mereka menukik tajam, seolah-olah lagi mempatenkan cowok taksirannya. Mungkin lain kali gue bakal ngebuat hukum sendiri, yang mana jumlah keberadaan kakak kelas yang ganteng akan berbanding lurus dengan tingkat kekhilafan adik kelas.
Pikiran gue pun terhempas ke jaman tiga tahun lalu. Kejadian itu masih menyangkut di kepala gue layaknya permen karet menempel di sepatu. Saat itu, di taman sekolah, persis di belakang laboratorium bahasa, Nolan menyatakan perasaannya kepada gue. Gue menolak Nolan, dengan alasan super universal 'gue nggak suka sama lo', ta-da! Tapi, kemudian, ternyata cerita nggak sampai di situ.
Nolan yang dulu itu kulitnya dekil, berkacamata minus tebal, dan cungkring. Wajah Jerman-nya tergusur oleh gen Jawa-nya yang saat itu mendominasi. Sekarang? Pubertas nggak main-main bermain dengan hormon testosteron dalam badannya. Nolan berubah 180 derajat! Oh, boy. Naif namanya, kalau ada gadis yang gak mau berlama-lama menatap sepasang mata biru keabu-abuan itu. Bohong namanya, kalau ada gadis yang bakal nolak—lagi—kalau ditembak dia.
Penyesalan memang datangnya di belakang. Karena kalau di depan, namanya pendaftaran.
Balik ke topik. Sayangnya, perubahan itu nggak terjadi pada bungkus luarnya aja. Gue nggak bakal pernah lupa gimana dia sudah menolak puluhan gadis yang nekad PDKT tanpa diundang. Atau, gimana bangganya dia sesudah jadi ikon sekolah dengan embel-embel 'cowok tereksis' tahun ini. Nolan berubah, luar-dalam. Hanya aja, ketika yang luar membaik, yang dalam malah membusuk. Bagi gue, ini mulai terasa kayak makan ayam A&W. Lo suka kulitnya, lo benci dagingnya. Setiap dia membuka mulut atau mulai bertingkah dengan gengnya, berbuat sesuatu yang oh-look-at-me-imma-bad-boi itu, ugh!
Rupanya gerombolan cowok-cowok itu haus. Sehabis beli minum, mereka langsung kabur, mengingatkan gue sama kawanan ternak itu. Tentram pun kembali mengisi ruang kantin. Akhirnya ... gue sudah bisa denger suara gue sendiri.
"Wow," gue bilang.
Aika dan Lauren nggak kunjung juga memalingkan mata mereka. Senyum jail membingkai wajah keduanya. Gue nggak sabar mendengar apa komentar mereka abis ini.
Itu sarkas ya.
"Eh, Lala." Aika menggerak-gerakkan tangan gue tanpa melepas pandangannya dari punggung cowok itu yang sudah menjauh. Kalau aja Aika punya kekuatan mata laser, gue rasa Nolan sudah bolong daritadi.
"Kenapa?"
"Dia?"
" ... "
"Uh-oh, demi kebaikan lo, sebaiknya nggak."
Gue mengernyit, lalu mengangkat bahu. "I can't help it."

Dedication | buat temen gue, pembaca tersayang gue @mimaraya yang sering nanyain mana nolan mana sawyer :) ily!

a/n
so this is the better version of the infamous nolan. how is it? silakan kalian tulis pendapat di kolom komentar ya :) the old one or the new one (kalo masih inget hehe)?
kalo kalian pembaca baru, jangan megernyitkan dahi thdp buku ini ya. maklum cerita ini ditulis jaman tiga tahun lalu yang mana hal ini belum menjadi super cheesy. but i'll make sure this book will be your cool, light love quest! jadi jangan lupa untung memberi komentar ya :) i'd love to talk with you, guys!
- addy
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com