••• two

"Lo bareng gue." – Nolan

Gue nggak bilang kalau gue si anak itu, yang super-duper pintar, atau si anak satunya, yang super-duper blo'on. Gue cukup sebagai orang biasa dengan kepandaian biasa-biasa aja. Kalau ada satu mata pelajaran yang bisa menjatuhkan nilai rapor gue barang secuil, itu cuma matematika.
Sekarang gue duduk di baris kedua dari depan, mata terkunci ke arah rumus-rumus matematika mematikan yang beterbaran di papan tulis. Keadaan sekitar gue sunyi. Beberapa orang di barisan belakang satu per satu kehilangan pertahanannya dan mulai menguap. Nggak terkecuali, gue, sih.
Kelas ini mati. Hanya ada degupan-degupan para murid yang mulai mencemaskan jam istirahat yang nggak kunjung datang.
"Sudah selesai mencatat rumusnya?" suara Bu Ima memecah kesunyian dari balik meja guru di pojok depan kelas.
Beberapa anggukan dari segelintir murid mewakili jawaban kelas. Melihat pemandangan itu Bu Ima berkata lagi, "Kalau begitu yang piket tolong hapus papannya, ya. Kita mulai soal latihan."
Gue yang notabene daritadi melamun mendadak tersedak. Kesadaran gue melejit seketika mendengar suara wanita paruh baya itu. Terlebih ketika melirik halaman buku gue yang masih bersih polos. Shit.
Salah seorang murid yang hendak menjalankan tugas piketnya berhenti melangkah begitu mendengar perkataan gue. "Bu! Tunggu dulu, bu, saya belum selesai," pekik gue yang dibalasnya dengan tatapan khas itu. Tajam dan dingin.
"Isla, kamu daritadi ngapain aja? Udah dikasih waktu lima belas menit mencatat, lho," ucapnya, menuntut tanggung jawab.
Aika—yang duduk di baris seberang gue—mengantarkan tangannya untuk menutupi wajahnya. Uh-oh! Not supportive, not supportive.
"Maaf. Saya dikit lagi selesai kok," ujar gue. Tapi, lo tahu apa? Tentu aja permintaan gue nggak digubris Bu Ima. Rumus-rumus itu tetap terhapus dan dia segera melenggang untuk mengoreskan spidolnya di papan tulis. Gue pun mendesis.
Nggak butuh waktu lama, sebuah buku melesat indah di atas meja gue. Tercatat semua rumus matematika yang gue perlukan dengan indah di atas lembar putihnya. Biar gue tebak: Nolan.
"Butuh bantuan?" tanya Nolan tanpa melihat ke arah gue. Gue mengangkat alis. Gimana bisa dia menawarkan bantuan, duduk persis di belakang gue, dan nggak melihat ke arah di waktu yang bersamaan.
Oh, iya, ini Nolan.
"Nggak apa-apa. Gue bisa pinjem yang lain," balas gue, menunggingkan salah satu ujung bibir gue.
Nolan berkedip bosan beberapa kali, sampai akhirnya menatap gue. "Memang ada bedanya catetan gue sama yang lain?"
"Nggak, sih."
"Ya udah. Terima dong."
Gue menghirup napas dalam-dalam, lalu menghelanya pelan-pelan. Terkadang Nolan, dengan anehnya, bakal terasa sangat keras kepala. Dan yang gue maksud dengan aneh adalah ... ya, ini.
"Terima"—gue mengangkat bukunya di udara—"kasih."
Gue segera membalikkan badan dan menghempaskan berat tubuh gue ke senderan kursi. Udara panas menyertai wajah dan punggung gue. He's a weird kid.
Nolan membalas, "Sama-sama, Isla."
Gue lagi-lagi menghela napas. "Oh, dan lo nggak nawarin bantuan ke orang setelah lo kasih 'bantuan' lo itu. Lo tanya mereka sebelumnya."
Nolan pun tersenyum. Tapi, gue tahu, itu tipe senyuman yang nggak memuat arti baik di baliknya. "Gue tahu lo butuh dan nggak akan nolak."
Gue memicingkan mata, mencari tanda-tanda virus yang membuat dirinya menyebalkan. Tapi, eh, gue sadar, dia 'virus'-nya.
"Serius? Gue kira lo nggak mikirin orang lain."
Nolan pun ketawa kecil. "Itulah, Isla. Lo nggak mengenal gue, sih."
***
Bel sekolah pada akhirnya berbunyi, tanda pergantian jam pelajaran. Kali ini adalah pelajaran yang bisa dibilang berada di daftar 'owkay' gue. Artinya, gue masih bisa menikmatinya dengan mata tertutup. Literally.
Sang guru sejarah melangkah masuk sambil menenteng beberapa buku yang gue tebak sudah melintasi beberapa generasi. Terbukti dari sampulnya yang kumal dan lusuh akibat ditempeli jutaan sidik jari.
Sang guru tiba-tiba membuka mulut dan berkata sesuatu. Gue nggak cukup mendengar apa yang dia bilang selanjutnya karena gue sedang sibuk membenahi dasi gue. Sampai ketika dia berbicara mengenai sesuatu tentang 'tugas' dan 'rekan kerja'. Dalam hitungan detik, orang-orang pun saling bertukar kursi, duduk berdampingan dengan teman pilihannya. Belum sempat giliran gue angkat pantat, Nolan menyentuh bahu gue. Dia segera menghempaskan berat tubuhnya ke kursi di sebelah kanan gue yang telah kosong ditinggal pemiliknya. Gue menatap heran cowok berambut coklat kekuningan itu. Sekaligus agak ... malu. Kenapa? Gue nggak tahu.
"Permisi, gue mau barengan sama Aika," kata gue, mencoba mengusirnya.
"Lo bareng gue."
" ... "
"End of conversation."
Gue memicingkan mata ke arahnya. Dia bilang apa tadi?
"Apa?"
"Kita sekarang satu kelompok," ucapnya, lagi-lagi nggak melihat gue. Ada apa dengan Nolan dan kebiasaannya ini?
Bak mendengar keluhan hati gue, Nolan—dengan senyum khas bulenya—memalingkan tubuh ke arah gue. Bersamaan dengan hal itu, entah dengan motivasi apa, Aika tengah mengacungkan jempolnya di kejauhan sana, dari balik bahu Nolan.
Gue pun mengumpat dalam hati.
"Apa lagi, nih? Kenapa bossy banget hari ini?"
Itu bener. Dia nggak pernah semena-mena sebelumnya. Well, mungkin sering dengan yang lain, tapi ke gue? Belum. Sekarang inilah dia, ngomong semaunya dengan wajah berpoleskan senyuman jail.
"Bukan lo kok. Otak lo." Nolan mengangguk. "Gue mau kita win-win solution aja. Kita semua tahu lo bisa sejarah dan gue bisa sejarah. Nggak akan percuma kalo kita bareng," sambungnya.
"Tapi, gimana kalo gue nggak mau sama lo?" tegas gue.
Hmm, rasanya ... kata-kata itu familiar, bahkan buat gue.
Untuk beberapa detik pertama, gue mengira Nolan akan terpaku, mati kutu atau membeku dalam nostalgia pahit.
"Pfft! Ayolah, santai aja. Ini cuma kerja kelompok, kan?" kata Nolan, menepis perkataan gue dengan lambaian tangannya di udara.
Dan, yep! Dia sudah move on rupanya.
Gue mengerucutkan bibir gue ke samping. Mata gue mengintai keadaan sekitar dan nggak menemukan siapapun lagi yang masih sendiri. Bahkan, nggak juga Aika. Sial. Dia membuat gue nggak ada pilihan. "Fine. Tapi, satu hal yang perlu lo tahu saat kerja kelompok sama gue. Lo nggak boleh males-malesan dan nggak akan nyuruh-nyuruh gue. Kita kerja, bareng! Dan kalo lo sampai melanggar kedua hal itu, nama lo bakal gue tulis pake tinta putih."
Nolan tertawa kecil. "Apapun itu bakal gue turutin," katanya sambil mangut-mangut.
Gue mendengus. Badan kembali ke posisi normal menghadap papan tulis besar di depan kelas. Sang guru berceloteh tentang sesuatu yang gue rasa tentang sejarah eropa. Entah deh. Gue terlalu sibuk ngebayangin gimana acara kerja kelompok gue dengan 'rekan' baru gue ini.
Di lain sisi, Nolan melipat tangannya di depan dada sambil santai menyimak. Punggung bidangnya sedikit merosot dari kursi dan kaki jenjangnya agak melebar. Gue bersumpah gue masih bisa merasakan dia tersenyum sesekali. Hati gue jadi nggak keruan. Dengan jarak kurang dari tiga puluh senti, bahu gue yang rasanya memanas ini dengan gampangnya bisa bergesekan dengannya.
"Nah, kalo begini gue bakal ke rumah lo setiap hari selama lima hari ke depan." Pernyataan dadakan Nolan membuat gue terbelalak.
"Apa? Ngapain?"
"Lo denger nggak tuh? Deadline-nya satu minggu lagi," jawab Nolan santai seraya menyisir rambut dengan kelima jemari panjangnya. Curang. Belum lagi aroma wewangian dari kerah putih seragam sekolahnya yang menginvasi indera penciuman gue. Otak gue jadi nggak terstimulasikan dengan lancar.
"Oh. Tentang apa tugasnya?"
"Revolusi Prancis dan yang lainnya. Presentasi dan juga makalah lima halaman."
"Well, bagus dong. K-Kita bisa bagi tugas dan kerjaan kelar tanpa lo harus dateng ke rumah gue, iya, kan?" ucap gue, menalari langkah yang harus diambil karena sejujurnya gue nggak menangkap apa maksud Nolan.
Dia pun menatap gue, dengan ekspresi kayak gue baru aja mengaku kalau gue punya tiga kepala. "Gue pikir kita bakal 'kerja bareng'. Inget itu?"
Gue membalas tatapannya. Dengan jarak sedekat ini gue bisa meyakinkan diri gue kalau warna kelabu dengan sejumput biru di kedua pupil itu ternyata nggak jelek juga. Malah cenderung menyenangkan buat dipandangi sepanjang hari. Belum lagi fitur lainnya juga menunjang banget buat dijadikan objek penyegaran mata. Maksud gue, hidung mancungnya, bibirnya yang merona alami, alisnya yang beraksen tegas, dan juga rambutnya yang simpel kekinian.
Eh, tunggu, tunggu. Kok gue jadi ... .
"Bukan itu maksud gue tadi," tegas gue, memalingkan pandangan darinya sebelum dia bisa melakukan sesuatu yang aneh dengan pikiran gue.
Nolan menghela napas. "Kalo begitu, mulailah dengan maksud yang itu. Gue ke rumah lo sore ini. Tunggu," balas Nolan sambil bangkit dari tempat duduk. Tanpa gue sadari bel istirahat sudah berbunyi. Dan tanpa gue sadari pula, debaran jantung gue mengencang seiring satu kata terakhir itu terucap.
Tunggu.

a/n
how is it? jangan lupa tuangkan komentar lo ya :) would love to hear it from you!
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com