Chào các bạn! Truyen4U chính thức đã quay trở lại rồi đây!^^. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền Truyen4U.Com này nhé! Mãi yêu... ♥

••• three

"Gue suka simpel." – Nolan

Phiew! 

Kalau aja ada satu hal yang gue segani selain Mam (ibu gue); kentutnya Mario (kakak gue); dan kecoak, itu adalah sengatan matahari di bumi Jakarta yang panas membahana. Di kala hari siang bolong, matahari menghunuskan lidah-lidah api ke ubun-ubun gue.

Keterlaluan aja kalau ada orang yang masih mau menganggu gue di tengah bencana yang menimpa gue ini. Bejat itu namanya. Lo nggak boleh mengganggu orang yang lagi berjuang untuk tetap hidup di panasnya kemarau kota Jakarta. Big no!

Di satu titik kecil kota ini, berdiri dengan gagah sebuah gerbang milik sekolah SMA Esa Airlangga yang tengah terbuka. Orang-orang lalu-lalang melewati gerbang itu. Mereka bergegas pulang, gatal buat segera menyalakan AC di rumah.

Sementara itu, gue berdiri di pinggir sana, dekat pos jaga satpam sekolah. Di sini keperluan gue sebenarnya nggak ada kalau bukan karena dua sahabat terbaik gue, Aika dan Lauren. Mereka meninggalkan gue setelah drama singkat tentang bayar denda perpustakaan yang tertunda hampir sebulan. Dan karena nggak mau menambah banyak utang (karena utang dibawa sampai ke liang kubur) mereka berdua berlarian ke arah gedung perpustakaan dan meninggalkan gue di sini.

Gue menengok layar ponsel gue, hanya untuk mengetahui bahwa matahari terlalu terik. Alhasil, gue nggak bisa melihat apa-apa.

"Hei!" sapa seseorang disertai dengan tepukan di bahu kiri gue, yang rasanya lebih kayak sebuah tabokan.

Inget perkataan gue kalau lo nggak boleh ganggu orang yang lagi kepanasan? Ini orang jelas-jelas melakukan hal sebaliknya.

Memutarkan kepala 180 derajat, gue mendapati Clara plus senyuman lebar khas yang menempel di batu nisan bulat yang dia sebut dengan 'kepala' itu. Senyumannya kayak soal USBN. Mengundang tafsiran ganda.

"Wow"—gue memijat bahu gue—"Clara! Apa kabar?" Gue basa-basi, berniat ramah.

"Lo gak pulang, La? Udah sepi, lho, sekolah. Nungguin siapa?" ucap Clara seraya menyibakkan rambut pendeknya ke belakang.

"Nungguin Aika dan Lauren. Lo sendiri?" balas gue.

Clara bukan tipe cewek yang bisa diajak berteman baik-baik, gue nggak bohong. Nggak bisa kalau lo saingannya dalam hal kepopuleran, dalam hal menyukai cowok yang sama, atau kalau lo—simpelnya—seseorang yang ingin berdamai dengan semua orang di sekolah. Kalau itu tujuan lo, dia bakal otomatis jadi deretan terbawah yang berhasil lo centang di daftar. Sekadar informasi, Clara bakal kelihatan baik dan teladan, idola deh, tapi itu cuma di depan guru-guru. Bagi teman-teman lain, dia lebih kayak ... ermm, seorang monster bermaskara dan ber-lipgloss. Terutama bagi orang-orang yang masuk ke dalam daftar persaingannya.

"Oh?" Clara mengangkat satu alisnya sambil mengambil langkah mendekat. "Kalo begitu, ada yang pengen gue bicarain sama lo," umbarnya tanpa menjawab pertanyaan gue yang tadi.

Gue pun mengernyitkan dahi, menagih informasi lebih lanjut.

Sorotan mata Clara mendadak menajam. Seketika dia berhasil menambah panas yang sudah ada. "Gue bakal to the point. Gue liat di kelas hari ini lo sekelompok sejarah dengan Nolan."

Gue cuma mengangguk pelan, mengiyakan pernyataanya. Sementara, Clara menengok ke kanan-kiri, layaknya maling hendak menyeberang. Here we go.

"Gue bareng si Josh, dan katanya, sih, dia suka sama lo, lho. Surprise, kan?" cecar Clara sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Dan?"

"Gimana kalau kita tukeran? Jadi nanti gue sama Nolan dan lo sama Josh." Bibir tipis merah muda Clara kembali melebar, memampangkan barisan giginya yang berkawat.

Gosh, really, Clara?

"T-Tunggu, tunggu, tunggu." Gue spontan ketawa sambil membeli waktu buat memproses kata-kata yang harus gue lontarkan. "Josh suka sama gue? Lo mau tukeran sama gue?"

Clara menghela napas dan menggenggam tangan gue tiba-tiba. Spontan, gue yang geli pun menyentakkan tangannya. "Begini ... gue suka sama Nolan, La. Kenapa lo nggak bantu gue, La? Gue bakal bantu lo buat deket sama Josh."

Gue mengerutkan dahi gue sambil menggaruk belakang leher gue yang nggak gatal. Sejujurnya, gue nggak mau bermasalah dengan Clara. Tapi, apa yang baru aja dia bilang nggak masuk akal sama sekali. Siapa bilang gue mau mendekati Josh? Heck, gue nggak peduli sama Josh (maaf, Josh!). Semua yang gue tahu adalah Clara berpikir gue bakal menjawab 'iya'.

"Nolan sendiri yang mau dan memaksa buat jadi partner gue," elak gue.

"Gue yakin Nolan nggak bakal masalah kok. Gue janji, sumpah!" kata Clara yang mulai kelihatan kesal.

Gue pun mendengus. Cewek ini nggak bakal menerima penolakan begitu aja dan mungkin belom pernah mendapatkan hal itu. Tapi, kali ini, entah kenapa, gue mau jadi orang pertama yang melakukannya.

"Maaf, nggak bisa. Nolan sendiri yang maksa. Dan lagi gue udah terlanjur janji buat kerja bareng sore ini." Gue tersenyum iba penuh sarkasme. "Mungkin lain kali."

Mendengar kata-kata gue, mulut cewek di hadapan gue ini mengatup dan membuka. Kedua matanya melebar nggak percaya. Gue cuma bisa membayangkan gimana susahnya melotot di saat cuaca terik begini. Ayo, tepuk tangan untuk Clara. Ha-ha.

"A-Apa? Jadi, nggak?"

"Lo denger gue."

"Hei, gu—"

"Oit, Clara! Kenapa?"

Seruan Lauren dari belakang memotong ujaran kebencian yang mungkin aja bakal meluap dari mulut Clara sepersekian detik yang lalu. Mimik garang ingin menyantap orang sudah terpasang jelas di muka Aika dan Lauren. Gue cuma menghela napas disertai ucapan syukur saat keduanya mendekat. Sementara itu, Clara menepis bahu gue dengan bahunya sambil berlalu. Sepatah kata sebelum dia pergi: kita belum selesai.

Oh, iya, tadi gue informasi gue yang semula rasanya kurang lengkap. Clara bukan lone wolf. Dia nggak bisa apa-apa tanpa para cecunguknya.

"Baru ditinggal lima belas menit, lo udah digangguin aja sama 'penunggu'," ledek Aika yang sedang membetulkan ikat rambutnya.

"Biarin aja. Namanya juga Clara. Wajar," jawab gue enteng. Pesannya adalah maklumi Clara. Kalau bukan penganggu, bukan Clara namanya. Gue sekelas dengan dia selama tiga tahun dan bisa selamat karena cara berpikir itu.

"Dia bilang apa tadi? Jangan bilang itu tentang cowok," selidik Lauren.

Gue belagak kaget, membuat Lauren manyun. Nggak biasanya Lauren kepo. "Gue satu kelompok sama Nolan dan dia minta tukeran," terang gue. "Atau lebih tepatnya, maksa tukeran."

"Beneran?"

"Yep."

"Creepy."

"Gue tahu. Clara memang begitu."

"Bukan, maksud gue ... aneh, lo bisa sekelompok bareng cowok itu."

Uhuk, uhuk!

"Ugh, yeah. Mau gimana lagi?"

Aika tertawa kecil sambil menepuk kepala gue. Gue pun melirik ponsel gue. Kali ini, langit berubah jadi sedikit berawan. Gue bisa melihat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore kurang empat belas menit.

"Gue harus cepet pulang nih. Sebentar lagi jam tiga dan gue harus siap-siap kerja kelompok sama Nolan. Belom gue ma—"

Aika bersiul manja. "Iya, sabar dong, neng. Abang juga kangen."

Gue pun bergeleng dan ikut tertawa bersama mereka.

***

"Isla! Temen kamu dateng!" teriak Mario, abang 'kesayangan' gue dari ujung kamar.

"Yaelah, nyantai aja teriaknya, napa," balas gue sambil loncat dari atas kasur yang dipenuhi komik dan novel yang bertebaran.

"Kamu, kan, budi. Budeg dikit!" ledek Mario yang sekarang hilang di balik pintu kamarnya.

"Cih!" Memang Mario adalah manusia pilihan. Di antara miliaran manusia, dia terpilih sebagai salah satu yang susah dewasa.

Di tengah langkah yang tergesa-gesa ditambah jantung yang semakin kencang berdegup gue mencoba untuk rileks. Tapi, sial, lantai keramik ini justru mengalirkan sengatan dingin yang membuat sensasi tegang menjalar sampai ke lengan dan tulang punggung gue. Gue semakin was-was kalau aja nanti gugup nggak jelas. Ini cuma Nolan, kan?

Gue berlari kecil menghampiri si tamu yang sudah duduk di sofa. Dengan santainya, dia menyender sambil cetak-cetik layar ponsel. Tanpa pikir panjang gue keluar dari dinding persembunyian untuk menyapa dia. Tapi, karena nggak pakai ancang-ancang, Nolan pun sedikit mengerjap kaget, membuatnya langsung beranjak dari sofa dan berdiri tegap.

"Isla," Nolan menyapa.

Mata gue seketika melakukan pemindaian otomatis. Nolan memakai topi beanie warna merah maroon yang membungkus hampir seluruh bagian kepalanya. Di dada bidangnya terpampang 'Metallica'. Nggak lupa dia menggunakan jaket letterman dan jeans slim-fit yang kelihatan bagus di kaki atletisnya. Wow. Dia lumayan berusaha untuk sebuah acara kerja kelompok. Did he?

Kepala gue memutar ke arah jam dinding besar yang persis ada di seberang tempat kami berdiri. Jam baru menunjukkan pukul setengah lima sore dan di sini Nolan sudah berdiri di dalam rumah gue, tepat seperti janjinya.

"Bukannya lo mau dateng jam lima?" tanya gue.

Okay, not a good starter, Isla. Not a good starter.

"Eh, maaf, lo lagi sibuk?" Muka Nolan mendadak cemas. Yah, lo tahu lah, salah satu ekspresi itu yang bikin tangan gatal buat meraih wajahnya dan berkata semua baik-baik aja. Shit.

"E-Engga juga sih. Nggak apa-apa kok dateng jam segini," terang gue sambil menahan senyum. "Kalo gitu, gue ambil buku gue dulu ya."

Sekejap gue berbalik arah menuju tangga. Tapi, belum sempat gue berlari menjauh, tangan Nolan sudah duluan membatalkan langkah gue. Dengan susah payah gue mengelola napas gue supaya nggak kelihatan grogi dan awkward. Gue rasa kali ini gagal.

Nolan buru-buru menyingkirkan tangannya dari lengan gue. Mukanya sumringah dengan dua lesung kecil menghiasi muka kebarat-baratan itu. Gue nggak pernah tahu dia punya lesung pipi sampai hari ini.

"Sebentar."

"Hmm?" Mata Nolan menyelusuri tubuh gue dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu naik lagi dan berhenti tepat di kedua mata gue. Dada gue serasa dipukul rotan. Sesak dan berdenyut, seirama dengan gerakan napas gue yang jadi lebih cepat setiap detiknya. "Apa?" ucap gue lagi.

"Simpel." Nolan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

Dahi gue berkerut. "Sederhana?"

Nolan mengangguk. "Ya. Penampilan lo konsisten. Sama sederhananya kayak waktu di sekolah."

"Maksud lo, gue jelek?" Gue menggulirkan bola mata dengan malas. Apa dia benar-benar lagi menilai gue sekarang? Gue rasa bukan saat yang tepat.

"Nggak kok. Justru sebaliknya."

Napas gue seketika kayak tertahan. Apa dia baru aja bilang gue kelihatan nggak jelek? Yang artinya ... cantik? Pfft!

Maaf. Tapi ...

Apa?!

"Y-Ya, pokoknya lo tunggu sini dulu. Gue berbenah buat kerja kelompok sebentar. Tiga menit!" seru gue. Sudah nggak tahu mau merespon lagi, gue pun berbalik arah dan berlari secepatnya menuju tangga. Kali ini, tanpa Nolan yang menghentikan gue.

Lalu, samar-samar gue dengar, "gue suka simpel."

a/n

love this chapter? tell me about your day and what you think about this chapter! i'd love to hear stories about you :)

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen4U.Com